Nyatanya, merayakan lebaran di perumahan kota lebih enak daripada mudik ke desa. Privasi lebih terjaga, energi tak habis, kantong pun aman.
***
Ada pemandangan yang selalu sama setiap kali musim mudik lebaran tiba: antrean panjang kendaraan di jalan tol, rest area yang penuh sesak, dan linimasa media sosial yang isinya foto kumpul keluarga besar di kampung halaman.
Mudik seolah jadi kewajiban mutlak. Namun, di balik senyum seragam keluarga itu, ada realitas yang jarang diakui, meski dirasakan banyak orang.
Mulai dari badan yang pegal linu dihajar kemacetan belasan jam, rumah yang mendadak jadi “asrama dadakan”, hingga energi yang habis terkuras untuk menjawab pertanyaan berulang, “Kapan nikah?, “Kapan lulus?, “Kapan nambah anak?”, atau “Gajinya berapa sekarang?”.
Dulu, saya selalu mendapat tatapan iba dari teman-teman setiap kali berkata, “Tahun ini aku lebaran di kota saja, pulang paling H+3”. Mereka mengira saya akan menangis kesepian menatap tembok kos yang sepi.
Padahal, yang tidak mereka sadari, berdiam diri di kos saat kota sedang kosong melompong adalah sebuah kemewahan. Ini bukan soal kesepian, tapi menjaga kewarasan.
Lebaran di desa nggak ada privasi
Pengalaman ini diamini oleh Rias (27). Sejak menikah, Rias dan suaminya tinggal di sebuah perumahan di kawasan Tangerang. Awalnya, ia adalah penganut tradisi mudik yang rutin. Tiap tahun, ia selalu pulang ke kampung halamannya di Solo.
Namun, titik baliknya terjadi menjelang Lebaran tahun 2025 lalu. Saat itu, Rias baru saja punya bayi. Membayangkan bayinya harus terjebak di dalam mobil selama lebih dari delapan jam dalam perjalanan membuat Rias memutar otak.
“Aku begitu kasihan kalau harus melihat bayi kami kelelahan di jalan,” ungkapnya, Rabu (11/3/2026) sore.
Akhirnya, ia memutuskan untuk tidak mudik. Sebagai gantinya, ia membiayai perjalanan keluarganya dari Solo untuk datang ke rumahnya di Tangerang.
Dari keputusan terpaksa itu, Rias justru menemukan kenyamanan yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Jika di desa rumah orang tua biasanya akan penuh sesak oleh kerabat yang datang silih berganti, di perumahannya sendiri Rias memegang kendali penuh.
“Sesederhana punya privasi saja sudah senang,” kata dia. “Di sini, saya bebas menyusui bayi tanpa harus mencari kamar kosong. Kalau di desa mana bisa, tetangga bisa keluar masuk tanpa ada privasi.”
Bahkan, ia bisa dengan santai memakai daster seharian dari pagi sampai malam tanpa takut dihakimi oleh keluarga jauh yang tiba-tiba masuk ke ruang tamu. Rumahnya benar-benar menjadi wilayah tempatnya berkuasa penuh.
Energi habis buat basa-basi
Selain privasi yang terjaga, Rias juga merasakan keuntungan lain dari kultur perumahan: energi sosialnya tetap utuh.
Di kampung halamannya, Lebaran identik dengan tradisi keliling dari satu rumah ke rumah lain. Menutup pintu rumah saat hari raya bisa dianggap sombong atau tidak mau bersilaturahmi.
“Kalau gitu ya mau nggak mau harus siap mental ketemu dengan puluhan orang, meladeni basa-basi tetangga. Belum lagi jika ada yang mulai kepo bertanya soal hal-hal pribadi,” ujarnya.
Kondisi ini berbanding terbalik dengan kehidupan di perumahan kota. Karakter warga perumahan yang cenderung individualis dan menjaga batas justru menjadi pelindung tersendiri saat Lebaran tiba.
Karena antar tetangga seringkali hanya kenal sekadarnya, tidak ada kewajiban atau beban moral untuk menggelar open house besar-besaran.
Silaturahmi di perumahan terasa sangat “praktis”. Kata dia, mengirim ucapan maaf lewat stiker di grup WhatsApp RT sudah dianggap cukup. Kalaupun kebetulan bertemu fisik, paling hanya saat berpapasan sebentar. Tinggal tersenyum, mengangguk sopan, dan selesai.
“Karena di perumahan saya merasa nggak ada gangguan, saya dan keluarga inti yang datang ke Jakarta malah benar-benar menikmati waktu bersama dengan obrolan yang jauh lebih berkualitas dan intim.”
Mudik di musim lebaran bikin boncos
Kenyamanan Lebaran di perumahan tidak hanya soal mental, tapi juga soal hitung-hitungan uang. Hal ini sangat dirasakan oleh Jonathan (26).
Perjalanan Jonathan memutuskan “pensiun” dari rutinitas mudik berawal dari tuntutan hidup. Pada Lebaran tahun 2022, ia baru saja lulus kuliah dan diterima kerja. Karena statusnya masih karyawan baru, ia tidak bisa seenaknya mudik di hari raya.
Waktu itu, Jonathan mengaku sempat menangis di kamar karena rindu rumah. Ia baru bisa pulang ke kampung halamannya sekitar H+7 setelah Lebaran demi menyelesaikan pekerjaannya.
“Tapi setelah bertahun-tahun menjalani ritme kayak gitu, malah terbiasa. Ternyata mudik di luar musim libur Lebaran itu jauh lebih santai dan murah,” kata lelaki asal Makassar ini, Rabu (11/3/2026) sore.
Puncaknya pada Lebaran 2025 lalu, ia memutuskan untuk benar-benar menetap di perumahan bersama istrinya dan resmi menepi dari arus mudik tahunan.
Bagi Jonathan, mudik saat hari raya seringkali bergeser menjadi “panggung gengsi” yang menghamburkan banyak uang. Di perumahan, karena tetangga tidak saling pamer kesuksesan, ia merasa terbebas dari tuntutan finansial tersebut. Tidak perlu beli baju seragam keluarga yang mahal, dan tidak ada keharusan membagi-bagikan uang (THR) ke belasan anak tetangga demi menjaga nama baik sebagai anak rantau yang sukses.
Dua kali lebih hemat
Jonathan bahkan membuat simulasi hitung-hitungan kasar yang membandingkan pengeluaran mudik dengan berdiam diri di perumahan.
Jika memaksakan mudik di puncak Lebaran, inilah bayangan biayanya:
- Tiket pesawat untuk dua orang: Rp3.500.000
- Uang THR untuk belasan keponakan dan sepupu: Rp2.500.000
- Beli baju seragam keluarga dan hampers: Rp1.500.000
- Dana darurat selama di jalan: Rp1.000.000
- Total Pengeluaran Mudik: Rp8.500.000
Sementara selama Lebaran di perumahan, ia paling-paling hanya perlu belanja stok makanan ringan dan transfer uang THR khusus untuk orang tua inti di kampung. Tiket pesawat di luar masa libur mudik lebaran pun bisa setengah lebih murah.
“Dengan memilih bertahan di perumahan, saya bisa menghemat lebih dari separuh pengeluaran,” kata dia. “Intinya kan pulang, mau kapan pun. Soal maaf-maafan, kan nggak selalu harus pas hari H lebaran.”
Pada akhirnya, mudik ke desa memang tradisi mulia yang akan terus hidup. Bertemu orang tua, mencium tangan mereka di hari yang fitri, dan bernostalgia di tanah kelahiran adalah momen berharga yang tak bisa digantikan oleh apa pun.
Namun, memilih untuk menghabiskan hari raya di perumahan kota bukanlah sebuah nasib buruk yang patut dikasihani. Seperti yang dialami Rias dan Jonathan, di balik sunyinya jalanan kompleks dan pagar rumah yang tertutup rapat, ada kenikmatan yang luput dari perhatian banyak orang.
Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Mudik Lebaran Jadi Ajang Sepupu Minta Kerjaan, tapi Sadar Tak Semua Orang Layak Ditolong atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan













