Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Sehari-hari

Kehangatan dan Pelajaran Hidup di Kereta Api (KA) Ekonomi yang Sulit Ditemukan di KA Eksekutif

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
13 Maret 2026
A A
Ada kehangatan dan banyak pelajaran hidup di dalam kereta api (KA) ekonomi yang sulit didapatkan user KA eksekutif kalau terlalu eksklusif MOJOK.CO

Ilustrasi - Ada kehangatan dan banyak pelajaran hidup di dalam kereta api (KA) ekonomi yang sulit didapatkan user KA eksekutif kalau terlalu eksklusif. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Naik kereta api (KA) kelas eksekutif memang memberi kenyamanan. Ini tidak terbantahkan. Namun, pengguna  KA eksekutif tidak akan menemukan kehangatan dan pelajaran hidup sebagaimana yang didapat para penumpang KA ekonomi.

***

Kereta api (KA) ekonomi memang kerap dikeluhkan, setidaknya untuk dua hal. Satu, kursi duduknya yang tegak lurus 90 derajat. Membuat punggung dan dengkul tersiksa sepanjang perjalanan. Apalagi jika dalam kursi dua kursi berkapasitas enam orang yang saling berhadapan itu penuh penumpang. 

Dua, sering kali ada drama menyebalkan dari penumpang lain. Misalnya, penumpang yang kalau tidur bokongnya nyerong hingga mengganggu penumpang di sebelahnya. Atau kepalanya ndlosor ke samping kiri dan kanan. Belum lagi penumpang yang “buta maps”: nomor kursinya di mana, eh duduknya di mana. 

Tapi begitulah gambaran realitas hidup—khususnya bagi kalangan kelas menengah ke bawah. Kalau pakai istilah Jawa: wong-wong kalahan (orang yang lebih sering kalah dengan nasib). Penuh dinamika, tapi harus dihadapi dan dijalani. 

Terlepas dari itu, bagi beberapa orang (users kereta api ekonomi), di dalam gerbong yang pendingin udaranya kembang kempis dan kursi 90 derajat itu, ada beberapa situasi yang menghangatkan batin. 

Leluasa berbagi cerita dan didengar di kereta api (KA) ekonomi ketimbang di eksekutif

Sebagai users bus ekonomi, saya terbilang baru-baru ini menggunakan moda transportasi lokomotif. 1,5 tahun terakhir ini lah. Untuk rute perjalanan Jogja-daerah Jawa Timuran. 

Beberapa kali saya terlibat dengan perbincangan hangat dan deep dengan penumpang sebelah saya. Rata-rata justru yang berusia lebih tua: 30-an tahun ke atas. 

Awalnya sebenarnya dimulai dengan basa-basi biasa: bertanya ke mana tujuan saya? Pulang kampung kah? Atau kerja apa dan di mana? Tapi obrolan tidak berhenti di situ. Sebab, penumpang sebelah saya kemudian menjadi lebih leluasa berbagi cerita. 

Tentang situasi-situasi tak menyenangkan yang mereka hadapi di perantauan. Kesedihan karena belum bisa menetap di kampung halaman bersama orang tua karena harus mencari rezeki di kota orang, dan macam-macam. 

Saya menyimaknya dengan serius. Sesekali mengajukan pertanyaan balik. Dan itu membuat penumpang di sebelah saya makin leluasa bercerita. Kadang dengan semangat dan antusias, kadang dengan menyiratkan kegetiran. 

Apakah saya tidak terganggu? Seharusnya iya. Karena jika tidak diajak berbincang, saya bisa gunakan waktu untuk sekadar memejamkan mata atau nonton film di OTT. Tapi, beberapa kali mengalami hal yang sama (mendengar orang bercerita di kereta api ekonomi) membuat saya menyadari satu hal: mereka hanya perlu bercerita dan didengar. Karena itu bisa sedikit banyak meloloskan beban-beban yang mereka pendam dalam batin. 

Bagi saya, apa salahnya “membantunya”? Sebagai orang yang, lebih sering memendam sendiri kesulitan hidup yang saya hadapi, saya memahami betapa didengarkan itu sangat berpengaruh bagi kondisi batin.

Situasi tersebut tidak saya dapatkan ketika empat kali naik kereta api eksekutif (untuk urusan pekerjaan). Sebab, di dalam kereta super nyaman nan mahal untuk ukuran user bus ekonomi seperti saya, suasana di dalam kereta api eksekutif lebih mengesankan ekslusivitas. Nyaris semua penumpang membatasi interaksi pada orang-orang baru yang mereka temui di dalam kereta.

Iklan

Nasihat-nasihat kehidupan yang konkret dan tidak banyak teori ala content creator

Jujur. Saya nyaris selalu menutup telinga tiap kali ada nasihat atau motivasi dari content creator yang banyak muncul di setiap platform media sosial. Terlalu banyak teori. Dan, lagi pula, mereka berada di realitas yang berjarak dengan kondisi saya. 

Tapi saya pastikan, saya akan membuka telinga saya lebar-lebar dan memegang betul setiap nasihat kehidupan dari orang-orang yang saya temui di jalan—termasuk di kereta api ekonomi. Konkret dan realistis. 

Sesekali, ketika dalam keruwetan isi kepala karena kecemasan berlebihan terhadap hari esok, saya tidak hanya berposisi sebagai pendengar. Tapi juga giliran membagi cerita kepada penumpang di sebelah saya. 

Dan sering kali saya mendapat nasihat-nasihat tak terduga. Salah satunya: orang-orang yang tak punya banyak pilihan seperti kita, yang mungkin adalah menciptakan bahagia versi diri sendiri. Misalnya, jika kita cukup bisa bahagia dengan sebatang rokok dan segelas kopi, makan nasi pecel di warung pinggiran, kenapa kita harus merasa tidak bahagia hanya karena tidak bisa jajan di mall atau restoran mewah? 

Di kereta api (KA) ekonomi berbagi tidak harus saling mengenali, belum nemu begini di eksekutif

Sadiqa (22) setuju. Perempuan yang kerap melakukan perjalanan dengan kereta api ekonomi rute Surabaya-Madiun itu bahkan nyaris tidak mengeluhkan ketidaknyaman kursi tegak. Karena ia sadar, itulah yang bisa ia dapat dari harga Rp80 ribuan. 

“Kalau mau kursi nyaman, ya kan harus berani bayar mahal buat tiket KA eksekutif, to,” ucapnya melalui pesan singkat. Orang kelas menengah ke bawah seperti dirinya tidak punya keberanian untuk itu. Hanya menyisihkan opsi paling realistis: tiket murah kereta api ekonomi. Yang penting sampai ke tujuan dengan selamat, itu kenyamanan utamanya. 

Tapi ketidaknyamanan itu bukan berarti tidak menyisakan hal-hal baik secuil pun. Di kereta api ekonomi, Sadiqa mengaku kerap menerima perlakuan-perlakuan hangat. 

“Sering aku nemu penumpang lain berbagi makanan atau camilan yang dia bawa. Nggak sekadar basa-basi menawari. Tapi bener-bener ngasih,” ungkap Sadiqa.

Tentu tidak setiap tawaran makanan harus diterima. Sadiqa sendiri, biasanya akan menolak halus jika si pemberi adalah laki-laki. Tapi jika sesama perempuan, Sadiqa mempertimbangkan untuk menerima. 

“Apalagi kalau ibu-ibu. Pernah aku duduk sama ibu-ibu. Di mengeluarkan bekal kayak jajanan pasar. Aku dikasih, ya aku terima. Demi melegakan hati si ibu-ibu itu,” ucapnya. 

Kadang hanya sebatas saling berbagi. Tapi tak jarang pula, sebuah pemberian itu menjadi pintu masuk untuk saling berbincang. 

Berbagi bantuan pun amat sering ia dapati di kereta api ekonomi. Misalnya, ada perempuan (muda atau ibu-ibu) kesulitan menaikkan barang bawaan ke rak kabin. Situasi itu tidak mengharuskan seorang perempuan memanggil petugas atau porter. Ada laki-laki yang berinisiatif memberi bantuan menaikkan. Kalau tidak, menjawil orang untuk minta bantuan pun rasa-rasanya kecil kemungkinannya untuk diabaikan. 

Suasana semacam itu juga kerap saya dapati. Saya berkali-kali menerima cuilan roti dari penumpang di sebelah saya. Padahal kami tidak saling mengenal sebelumnya. Baru bertemu di dalam kereta hari itu.

Di dalam kereta api eksekutif, sejauh empat kali pengalaman saya, saya kok belum pernah mengalami hal serupa. Kalau ada orang yang membuka makanan, fokusnya adalah memasukkannya ke dalam mulutnya sendiri (kalau kebetulan sedang duduk bersebelahan dengan orang tidak dikenal).

Kalau toh berinteraksi, paling hanya sebatas “mohon izin”. Misalnya, “Makan dulu, Mas.” Hanya sebatas itu.

Turun dengan rasa syukur yang berlipat ganda

Mirip dengan kasus saya, Dapin (24) mengaku kerap menemukan nasihat atau pelajaran hidup di kereta api ekonomi rute Jogja-Sidoarjo (Krian). 

Dapin mengaku sisi emosionalnya masing sering terombang-ambing. Kecenderungan Gen Z katanya. Atau kalau dalam fenomena psikologi usia awal 20-an: sedang di fase quarter life crisis. 

Kecemasan berlebihan sering Dapin hadapi di malam-malam lengang kamar indekosnya. Merasa gagal dan belum menjadi apa-apa. Merasa paling tidak beruntung karena nominal gaji yang diterima, dan seterusnya. 

“Di kereta KA ekonomi, aku bertemu dengan oran-orang yang bahkan hidupnya jauh lebih struggle dari hidupku. Mereka ngeluh, manusiawi. Tapi mereka memilih tetap tatag menjalani hidup sebagai sesuatu yang memang sudah semestinya dijalani,” ucap Dapin. 

Ya ada banyak lah cara pandang-cara pandang baru yang kemudian mempengaruhi Dapin dalam memandang hidup. Disampaikan dengan cara sederhana, tanpa kiasan-kiasan puitis, melankolis, atau nada meledak-ledak ala motivator.

Setiap turun di stasiun tujuan, Dapin lalu merasa jauh lebih bersyukur dari sebelumnya. Memang, labilitas Dapin masih tinggi. Sekejap bersyukur, tapi di titik tertentu juga gampang terdistraksi untuk overthinking kembali. 

Tapi, setidaknya, setiap hal yang ia cemaskan, selalu akan luruh dengan belajar dari cara hidup orang lain—sesama wong kalahan—-yang ia temui di sepanjang perjalanan dengan moda transportasi kereta api ekonomi. 

Karena di kereta api eksekutif minim terjadi interaksi, alhasil minim pula terjadi pertukaran energi positif sebagaimana dialami Dapin. Walaupun kemungkinan interaksi itu tetap ada.

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Orang Desa Pertama Kali Naik Kereta Api Ekonomi: Banyak Gaya karena Bosan Naik Bus Ekonomi, Berujung Nelangsa Beli Nasgor di KAI atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 12 Maret 2026 oleh

Tags: ka ekonomikereta apikereta api ekonomikereta ekonomikursi tegak keretapelajaran hiduppelajaran hidup dari kereta api
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

KA bengawan, KA Airlangga, KA Taksaka, Pengalaman 22 Jam Naik Kereta Api Membelah Pulau Jawa MOJOK.CO
Catatan

User KA Bengawan Merasa Kesepian Saat Beralih ke Kereta Eksekutif KA Taksaka, “Kereta Gaib” Harga Rp74 Ribu Tetap Juara Meski Bikin Badan Pegal

9 Maret 2026
Kereta api ekonomi (KA) Ambarawa Ekspres menjadi saksi "kegilaan" Bonek di rute Grobogan - Stasiun Pasarturi demi Persebaya Surabaya di Stadion GBT MOJOK.CO
Urban

KA Ambarawa Ekspres Andalan Bonek Tempuh “Jalan Kegilaan” di Rute Grobogan – Pasarturi, Demi Ziarah ke Rumah Kedua

6 Maret 2026
User kereta api (KA) ekonomi Sri Tanjung pertama kali naik bus Eka PATAS ketimbang Sumber Selamat. Dari keterpaksaan menjadi ketagihan meski tetap tidak tenang MOJOK.CO
Sehari-hari

User KA Sri Tanjung Nyoba Bus Eka: Tak Seburuk Naik Kereta Ekonomi, Tapi Pikiran Dibuat Tak Tenang Meski di Kursi Nyaman

2 Maret 2026
User bus ekonomi Sumber selamat pertama kali makan di kantin kereta api. Termakan ekspektasi sendiri MOJOK.CO
Sehari-hari

User Bus Sumber Selamat Pertama Kali Makan di Kantin Kereta, Niat buat Gaya dan Berekspektasi Tinggi malah Berakhir Meratapi

25 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

KA bengawan, KA Airlangga, KA Taksaka, Pengalaman 22 Jam Naik Kereta Api Membelah Pulau Jawa MOJOK.CO

User KA Bengawan Merasa Kesepian Saat Beralih ke Kereta Eksekutif KA Taksaka, “Kereta Gaib” Harga Rp74 Ribu Tetap Juara Meski Bikin Badan Pegal

9 Maret 2026
SPBU Diserbu Jadi Bukti Buruknya Komunikasi Pemerintah MOJOK.CO

SPBU Diserbu: Isu Stok BBM 20 Hari Bikin Panik Menjadi Wujud Buruknya Komunikasi Pemerintah dan Publik Sulit untuk Percaya

9 Maret 2026
Anak pulang ke rumah dari perantauan ditunggu, tapi justru sakiti dan beri duka karena sepelekan masakan ibu MOJOK.CO

Anak Pulang Justru Lukai Hati Ibu: Pilih Makan di Luar dan Sepelekan Masakan Ibu karena Lidah Sok Kota-Banyak Gaya

11 Maret 2026
Pemuda Kediri Nekat kerja di luar negeri (Selandia Baru) sebagai Tukang Cukur. MOJOK.CO

Pemuda Kediri Nekat ke Selandia Baru sebagai Tukang Cukur usai Putus Cinta dan Ditolak Ratusan Lamaran Kerja

10 Maret 2026
Dosa-dosa kecil yang kerap dilakukan hingga memicu masalah keuangan: uang atau gaji berapa pun terasa kurang MOJOK.CO

“Dosa Kecil” Pemicu Masalah Keuangan tapi Kerap Dilakukan, Bikin Uang atau Gaji Berapa pun Terasa Kurang

10 Maret 2026
Pertunjukan stand-up comedy Pertigapuluhan Priska Baru Segu akan hadir di Yogyakarta MOJOK.CO

Menertawakan Usia 30 Tahun Bersama Priska Baru Segu Lewat “Pertigapuluhan” di Yogyakarta

6 Maret 2026

Video Terbaru

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity)

9 Maret 2026
Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

8 Maret 2026
Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

4 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.