Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Sehari-hari

Jadi PNS Tak Bahagia Malah Menderita, Dipaksa Keluarga Gadai SK Demi Puaskan Tetangga dan Hal-hal Tak Guna

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
16 Maret 2026
A A
Ambisi jadi PNS di usia 25 demi hidup sejahtera. Malah menderita karena perkara gadai SK MOJOK.CO

Ilustrasi - Ambisi jadi PNS di usia 25 demi hidup sejahtera. Malah menderita karena perkara gadai SK. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Mobil terbeli, tapi paksaan gadai SK PNS tidak berhenti

Karena desakan demi desakan, Sunni tidak bisa menolak permintaan gadai SK PNS untuk membeli mobil (walaupun bekas dan cari yang benar-benar murah). Apalagi setelah ia kemakan omongan sang kakak: dulu Sunni dikuliahkan juga dengan pengorbanan uang dari orang tua. Masa sekarang setelah punya uang, malah perhitungan sama orang tua? Enggan menyenangkan orang tua?

Di tengah obrolan, Sunni menghela napas berat, setelah bicara dengan nada suara bergetar. Bercerita panjang lebar tentang hal ini, selain membuatnya lebih lega, ternyata juga cukup menguras energi. 

Sebab, mobil bukan satu-satunya permintaan keluarga Sunni setelah ia menjadi seorang PNS. Setelah cicilan mobil selesai dalam tenggat empat tahun (dan sepenuhnya ditanggung Sunni), kakak Sunni giliran meminjam uang untuk merintis bisnis pakan burung (sebagaimana hobinya sebagai “kicau mania”). 

“Dia itu memang dari dulu nggak beres. Setelah lulus SMA belum pernah dapat kerjaan yang bener. Lebih sering nganggur daripada kerjanya. Jadi beban orang tua karena masih sering minta uang di toko kelontong kecil ortu di desa, yang pemasukannya sebenarnya nggak seberapa,” beber Sunni. Sunni sendiri sampai mumet, ini sebenarnya keluarga macam apa sih?

Modus yang digunakan sang kakak saat memaksa Sunni gadai SK PNS waktu itu adalah: kalau usaha ini berhasil, nanti sang kakak akan mengembalikan uang yang ia pinjam. Bahkan ia bisa juga membantu kebutuhan sehari-hari orang tua jika pemasukan toko memang sudah tidak mencukupi. 

Untuk kedua kalinya, Sunni akhirnya merelakan SK PNS miliknya disekolahkan di bank lagi. Hanya saja untuk pinjaman kecil dengan tenor dua tahun. Bodoh sekali memang, kalau kata Sunni penuh sesal. 

Leher seperti tercekik karena tanggung cicilan bank sendirian

Selama masa gadai SK PNS di bank, Sunni merasa lehernya tercekik. Sebab, setiap bulan, ia harus membagi uangnya ke dalam beberapa bagian. Satu bagian untuk cicilan bank, bagian lain untuk diri sendiri, dan bagian lainnya lagi untuk jaga-jaga kalau orang tua butuh tambahan uang untuk kebutuhan. 

“Aku kan nggak bawa mobil di daerah tugasku. Mobil di rumah. Sesekali yang pakai ya kakak. Bensinnya dari mana? Pasti dari orang tua. Orang tua kalau nggak ada uang ke siapa? Ya ke aku lah. Belum lagi urusan pajak,” gerutu Sunni. 

Sementara di daerah tugasnya, Sunni hidup sehemat mungkin. Bahkan banyak keinginannya yang belum bisa terpenuhi. Sesederhana ganti hp baru pun belum sempat karena teringat cicilan. 

Begitu juga ketika sang kakak utang buat bangun usaha. Usaha tersebut tidak ada hasilnya. Tutup sebelum berkembang, karena memang sang kakak tidak serius menjalankannya. 

“Karena nggak berhasil, nggak ada uangnya dong. Artinya ya nggak ada upaya bayar utangnya ke aku. Dengan kata lain, ya aku korban gaji lagi lah karena usaha itu modalnya dari gadai SK PNS-ku,” ujar Sunni. 

Bahkan, saat cicilan untuk modal usaha itu belum tuntas, sang kakak pernah menyatakan keinginan meminjam SK PNS lagi untuk membeli motor baru. Alasannya untuk mobilitas sehari-hari biar lebih efisien. 

Sunni sebenarnya tidak sudi. Apalagi saat itu Sunni masih harus membayar sejumlah cicilan dari modal usaha sang kakak yang tidak ada hasilnya sebelumnya. Masalahnya, bapak Sunni dengan ringan memberi sejumlah uang ke sang kakak. 

Bapak bilang ke Sunni, uangnya kurang sedikit. Maksudnya, Sunni tinggal nambahi sisanya. Sementara Sunni, lagi-lagi karena perasaan “dulu ia kuliah dibiayai penuh orang tua”, tidak bisa menolak jika bapak minta bantuan. Akhirnya ia meminjamkan uang yang ia punya di rekening. 

Iklan

“Hasilnya apa? Tetep aja nganggur. Malas cari kerja. Aku kalau lagi sadar, pasti bilang ke orang tua, jangan apa-apa diturutin. Kalau begitu, kakak nggak akan berubah. Tapi jawaban bapak-ibu selalu gini: begitu-begitu juga anak kandung bapak-ibu. Haduh susah,” keluh Sunni. 

Masa mau nikah aja sampai pinjam bank?

Sunni merencanakan pernikahan pada usia 30 tahun nanti. Orang bilang memang sangat terlambat. Tapi ya bagaimana lagi, selama ini ia sibuk mengurus cicilan-cicilan nggak guna. Ia takut jika menikah dalam kondisi cicilan belum tuntas, justru membuat suaminya ikut terbebani. 

Untuk pernikahan ini, Sunni dan calon suami sepakat untuk membuat acara sederhana. Akan tetapi, karena takut jadi omongan tetangga, orang tua Sunni berharap pernikahan Sunni bisa berlangsung meriah dan besar-besaran. 

“Pas aku bilang, nggak ada uangnya, Pak, dengan harapan keluar statement bakal bapak bantu. Eh beliau bilang: Kan kamu punya SK. Aku langsung batin, Astaghfirullah,” ucap Sunni. 

Sunni akan tetap melangsungkan pernikahan dengan sederhana. Ia pun ingin mengikuti pesan-pesan dari calon suami: memutus rantai penderitaan akibat gadai SK PNS itu. Dengan berani berhitung: tidak setiap keinginan keluarganya di rumah bisa diselesaikan dengan pinjam uang di bank. Apalagi kalau yang menanggung cicilan pada akhirnya Sunni sendirian dengan modus “balas budi”. 

“Habis ini aku mau mengejar bahagiaku sendiri kalau kata Ardhito Pramono,” tutup Sunni. 

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Dua Kali Gagal Tes CPNS Meski Nilai Tertinggi, Kini Malah Temukan Jalan Terang Modal Ijazah SMA atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Halaman 2 dari 2
Prev12

Terakhir diperbarui pada 16 Maret 2026 oleh

Tags: cicilan bankCpnsgadai sk pnspilihan redaksipinjam uang bankPNSSK PNS
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

merantau, karet tengsin, jakarta. apartemen, kpr MOJOK.CO
Urban

Kebahagiaan Semu Gaji 5 Juta di Jakarta: Dianggap “Sultan” di Desa, Padahal Kelaparan dan Menderita di Kota

15 Maret 2026
Orang Jawa desa pertama kali coba menu aneh (gulai tunjang) di warung makan nasi padang (naspad). Lidah menjerit dan langsung merasa goblok MOJOK.CO
Catatan

Orang Jawa Desa Nyoba “Menu Aneh” Warung Nasi Padang, Lidah Menjerit dan Langsung Merasa Goblok Seketika

15 Maret 2026
iphone 11, jasa sewa iphone jogja.MOJOK.CO
Sehari-hari

User iPhone 11 Dicap Kuno dan Aneh karena Tak Mau Upgrade, Pilih Dihina Miskin daripada Pusing Dikejar Pinjol

14 Maret 2026
Nasib selalu kalah kalau adu pencapaian untuk kejar standar sukses keluarga besar. Orientasinya karier mentereng dan gaji besar, usaha dan kerja mati-matian tidak dihargai MOJOK.CO
Urban

Nasib Selalu Kalah kalau Adu Pencapaian: Malu Gini-gini Aja, Sialnya Punya Keluarga Bajingan yang Tak Bakal Apresiasi Usaha

14 Maret 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Pedagang sate kere di Kampung Ramadan Masjid Mlinjon Klaten. MOJOK.CO

Sate Kere Merbung di Klaten: Warisan Terakhir Ibu yang Menyelamatkan Saya dan Keluarga dari Jurang PHK

16 Maret 2026
Naik Travel dari Jogja ke Surabaya Penuh Derita, Nyawa Terancam (Unsplash)

Naik Travel dari Jogja ke Surabaya, Niatnya Ingin Tenang Berakhir Penuh Derita dan Nyawa Terancam

13 Maret 2026
Ada kehangatan dan banyak pelajaran hidup di dalam kereta api (KA) ekonomi yang sulit didapatkan user KA eksekutif kalau terlalu eksklusif MOJOK.CO

Kehangatan dan Pelajaran Hidup di Kereta Api (KA) Ekonomi yang Sulit Ditemukan di KA Eksekutif

13 Maret 2026
Sate Klatak Kasta Tertinggi Makanan Khas Jogja, Jauh Mengungguli Gudeg dan Bakmi Jawa yang Sering Dikeluhkan Manis Itu Mojok.co

Sate Klatak Kasta Tertinggi Makanan Khas Jogja, Jauh Mengungguli Gudeg dan Bakmi Jawa yang Sering Dikeluhkan Manis

12 Maret 2026
Ambisi jadi PNS di usia 25 demi hidup sejahtera. Malah menderita karena perkara gadai SK MOJOK.CO

Jadi PNS Tak Bahagia Malah Menderita, Dipaksa Keluarga Gadai SK Demi Puaskan Tetangga dan Hal-hal Tak Guna

16 Maret 2026
Makanan Khas Jawa Timur Obat Rindu Kala Mudik ke Surabaya (Aly Reza/Mojok.co)

Makanan Khas Jawa Timur di Jogja yang Paling Bikin Perantau Surabaya Menderita: Kalau Nggak Niat Mending Nggak Usah Jualan, Bikin Kecewa

14 Maret 2026

Video Terbaru

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity)

9 Maret 2026
Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

8 Maret 2026
Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

4 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.