Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Sehari-hari

Dua Kali Gagal Tes CPNS Meski Nilai Tertinggi, Kini Malah Temukan Jalan Terang Modal Ijazah SMA

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
8 Maret 2026
A A
seleksi CPNS. CPNS Jogja, PNS.MOJOK.CO

Ilustrasi - Nestapa CPNS (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Bagi banyak orang di daerah Sumatra, menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) adalah kasta tertinggi dalam mencari pekerjaan. Begitu juga yang ada di pikiran Utama (bukan nama sebenarnya). Pria berusia 28 tahun ini sudah kenyang merasakan asam garam dunia seleksi CPNS. Harapannya sederhana: punya pekerjaan tetap, gaji stabil tiap bulan, dan bisa membahagiakan ayahnya yang sudah tua.

Utama bukan pemuda sembarangan. Ia lulusan Diploma IV (D-IV) Teknik Informatika dengan kemampuan yang mumpuni. Jago komputer, fasih berbahasa Inggris, dan punya kepercayaan diri tinggi saat berbicara di depan umum. 

Namun, di kampung halamannya yang jauh dari kota besar, kemampuan otak sering kali kalah dengan otot atau “orang dalam”.

Nilai tertinggi CPNS, gagal gara-gara berat badan

Perjalanan Utama mengejar NIP (Nomor Induk Pegawai) penuh dengan drama yang menyakitkan. Pada tahun 2017, ia pernah ikut tes untuk formasi Penjaga Tahanan. Saat itu, Utama tampil luar biasa di tes tulis (SKD). Skornya 386, tertinggi di provinsinya untuk formasi tersebut.

Namun, keberuntungan belum berpihak. Di tengah jalan, aturan berubah. Utama yang saat itu memiliki berat badan berlebih (obesitas) harus rontok di tes fisik. Ia kalah lari dan ketangkasan dari peserta lain yang nilainya jauh di bawahnya, tapi badannya lebih atletis. 

“Jujur kecewa berat waktu itu. Merasa tidak adil saja,” akunya yang berhasil Mojok hubungi, Minggu (8/3/2026) siang.

Tahun 2019, kesempatan emas itu datang lagi. Utama melamar CPNS untuk formasi Analis Sistem Informasi di salah satu pemerintah kabupaten. Saingannya berat, satu kursi diperebutkan 69 orang. Ia mengaku kembali membuktikan kecerdasannya dengan meraih skor tertinggi lagi di tahap awal.

Setelah menunggu berbulan-bulan karena pandemi Covid-19, Utama akhirnya menyelesaikan tahap akhir seleksi. Saat pengumuman keluar, namanya berada di urutan pertama. 

“Langsung sujud syukur saat itu juga,” kata dia.

Ayahnya yang seorang tukang listrik tua hampir menangis karena bangga. Rencana ayahnya untuk merantau cari kerja di luar daerah pun dibatalkan. Mereka merasa masa depan sudah di depan mata.

Kesalahan syarat administrasi

Namun, kebahagiaan itu hanya bertahan seminggu. Saat masuk tahap pemberkasan, “badai” datang dari meja administrasi. Pihak verifikator pusat menyatakan bahwa ijazah D-IV Teknik Informatika milik Utama tidak sesuai dengan kualifikasi “S-1” yang diminta untuk jabatan tersebut.

Utama mencoba protes. Baginya, D-IV dan S-1 itu setara secara jenjang pendidikan. Namun, birokrasi berkata lain. Nama Utama dicoret dan dinyatakan Tidak Memenuhi Syarat (TMS). “Kemenangannya” dalam seleksi CPNS dianulir karena urusan ijazah yang dianggap tidak sama.

“Rasanya seperti sudah sampai di depan pintu, tapi tiba-tiba pintunya dikunci begitu saja,” kenangnya dengan pahit.

Ia mengaku sempat jatuh dalam depresi. Utama mengurung diri di kamar, malu bertemu tetangga, dan merasa pendidikannya selama ini sia-sia karena ia gagal jadi PNS. Ijazah yang ia perjuangkan dengan biaya mahal itu kini hanya teronggok di lemari, tidak bisa menolongnya saat ia sangat membutuhkan pekerjaan.

“Terpukul sekali. Jujur kalau diingat lagi masih ada perasaan trauma.”

Baca halaman selanjutnya…

Mendapatkan jalan terang cuma modal ijazah SMA. Dapur tetap ngebul.

Halaman 1 dari 2
12Next

Terakhir diperbarui pada 9 Maret 2026 oleh

Tags: calon pegawai negeri sipilCpnsPegawai Negeri Sipilpengumuman cpnspilihan redaksiPNSseleksi CPNStes CPNS
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Nasib rentan warga pesisir Kabupaten Batang karena ancaman abrasi dan PLTU MOJOK.CO

Nasib Rentan Warga Pesisir Kabupaten Batang: Rumah Terancam Abrasi Sewaktu-waktu, Nafkah “Tersumbat” PLTU

19 Agustus 2026
Ta'awun, Takaful, dan Masjid Al Muharram Brajan yang Menebar Manfaat dari Sampah Sisa Warga.MOJOK.CO

Taawun, Takaful, dan Masjid Al Muharram Brajan yang Menebar Manfaat dari Sampah Sisa Warga

19 Agustus 2026
gaya rambut pria, barbershop, potong rambut mojok.co

Alasan Potongan Rambut Jadi “Jelek” setelah Pulang dari Barbershop, Tukang Cukur Sering Disalahkan meski Problemnya Ada di Pelanggan

18 Agustus 2026
Cuaca ekstrem, memanen air hujan.MOJOK.CO

Memanen Air Hujan Seperti Orang Desa Dianggap Budaya Jorok dan Terbelakang, padahal Bisa Menjadi Penyelamat Saat Kekeringan 

17 Agustus 2026
Kebisingan-kebisingan di desa yang sebenarnya wajar tapi kini dipermasalahkan karena narasi desa sebagai tempat slow living ideal MOJOK.CO

Hal-hal Wajar di Desa Jadi Dianggap Mengganggu Gara-gara Narasi Slow Living, Padahal Jadi Bumbu Kehidupan

14 Agustus 2026
Makrab, Budaya senioritas dan bullying di kampus.MOJOK.CO

Setelah 4 Kali Ikut Makrab di Kampus, Saya Percaya Budaya Ini Lebih Baik Dihapus Saja: Bukan Bikin Akrab, Malah Meruncingkan Konflik “Senior” dan “Junior”

13 Agustus 2026
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

JPPI, MBG, buku siswa sekolah.MOJOK.CO

RAPBN 2027: Anggaran Pendidikan Tersandera Rp240 Triliun demi Program yang Tak Penting

17 Agustus 2026
Agustusan momen bikin mahasiswa KKN kelihatan jadi orang bingung, kalah pamor dengan anak muda Karang Taruna desa MOJOK.CO

Momen Agustusan bikin Mahasiswa KKN di Desa Jadi Orang Bingung, Lebih Sigap Karang Taruna

17 Agustus 2026
Saat adik saya jadi korban bullying (perundungan) di sekolah, pihak guru malah menganggapnya masalah biasa MOJOK.CO

Melabrak Guru usai Adik Jadi Korban Bullying di Sekolah hingga Cedera: Saya Justru Menerima Jawaban Memuakkan

18 Agustus 2026
UMKM, UKM.MOJOK.CO

Pemkot Jogja Buru “DNA” 18.000 Usaha Kecil untuk Basis Data Tunggal 2026 demi Kebijakan Tepat Sasaran

20 Agustus 2026
No Na, Klakson Telolet, dan Nasionalisme yang Nggak Harus Serius MOJOK.CO

No Na, Klakson Telolet, dan Nasionalisme yang Nggak Harus Serius

17 Agustus 2026
ilustrasi ketua pemuda

Jabatan Ketua Pemuda di Kampung itu Gagah, Tapi Ngenes Karena Dianggap Bisa Menyelesaikan Semua Masalah

20 Agustus 2026

Video Terbaru

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.