Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Sehari-hari

Serba-serbi Jadi Topping Tongkrongan: Ikut Nongkrong biar Tak Dicap Nolep, Cuma Jadi Pelengkap dan Tak Dianggap

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
4 Agustus 2026
A A
Derita jadi topping tongkrongan: niat bergaul biar tidak dicap nolep, tapi sering tidak dianggap saat nongkrong MOJOK.CO

Ilustrasi - Derita jadi topping tongkrongan: niat bergaul biar tidak dicap nolep, tapi sering tidak dianggap saat nongkrong. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Dorongan untuk punya relasi sosial (punya banyak teman) membuat seseorang berusaha keras untuk masuk ke sebuah sirkel tongkrongan. Bahkan bagi orang yang awalnya tidak suka nongkrong sekalipun. Namun, tidak setiap orang punya bakat nongkrong dan berbaur, sehingga harus berakhir menjadi “topping tongkrongan”. 

***

Iklan

Istilah topping tongkrongan belakangan populer melalui konten-konten Farhan Frisia. Menggambarkan seseorang yang keberadaannya dianggap tidak penting-penting amat di dalam sebuah sirkel dengan beragam sikap tidak menyenangkan yang harus diterima. 

 

Lihat postingan ini di Instagram

 

Sebuah kiriman dibagikan oleh Gusti Farhan Farisi (@farhanfrisia)

Fenomena topping tongkrongan memang ada secara nyata. Misalnya yang diungkapkan oleh Dafid (24), pekerja di bidang kreatif di Surabaya, Jawa Timur.

Dafid menyadari kalau ia sebenarnya bukan tipikal orang yang mudah berbaur. Meski begitu, bukannya ia tidak pernah mencoba untuk bergaul. Ia pernah mencoba dan berakhir tidak menyenangkan dengan sebatas menjadi topping tongkrongan. 

Cap nolep hanya karena suka anime

Dafid sebenarnya lebih nyaman dengan sirkel-sirkel kecil. Di masa kuliahnya dulu, untung ia menemukan sejumlah teman yang sama-sama menyukai anime. Hanya memang, teman-teman “anime”-nya ini tidak ada yang punya habit nongkrong. Interaksi hanya berlangsung saat bertemu di kampus atau WhatsApp. 

Dorongan untuk memperluas pertemanan salah satunya terjadi karena Dafid lama-lama merasa malu dengan cap “nolep” yang disematkan padanya. 

“Aku itu suka anime, tapi masih wajar lah. Nah, kalau temen-temenku ini kan memang sudah di tahap yang kayak suka datang ke event-event cosplay. Nah, kalau di mata kebanyakan laki-laki di jurusanku, yang seperti itu dicap nolep,” jelas Dafid. 

Karena memang, dalam sirkel Dafid, para penyuka anime itu cenderung menutup diri: enggan berbaur dengan orang lain yang tidak sefrekuensi. Selain juga karena tidak begitu suka nongkrong. Alhasil, tersematlah julukan nolep. 

Dafid agak terganggu dengan cap tersebut. Karena sebenarnya dia juga bisa kok nyambung dengan orang lain meski tidak sefrekuensi. Maka ia berusaha berbaur dengan orang-orang yang hobi nongkrong. Meski pada akhirnya, keberadaannya di tongkrongan hanya sebatas menjadi topping—-yang sering kali disisihkan. Kondisi itu terbawa sampai kemudian ia bertemu dengan sirkel baru di tempat kerja. 

Iklan

Derita jadi topping tongkrongan: jarang diajak bicara, cuma dibutuhkan saat mabar 

Derita paling kentara dari menjadi topping tongkrongan yang Dafid rasakan sejak kuliah hingga sekarang adalah: meski ikut nongkrong, tapi jarang mendapat porsi bicara. 

Kalau Dafid bicara, obrolan tongkrongan yang semula seru tiba-tiba berubah menjadi hening. Kalau melempar jokes, pasti kesannya garing. 

“Apalagi misalnya janjian nongkrong ramai-ramai. Terus aku jadi orang kedua yang datang setelah orang pertama. Itu kan kami cuma berdua tuh, pasti awkward. Dan temanku itu pasti sibuk main hp, Nggak ngajak ngobrol,” ujar Dafid. 

“Tapi mungkin karena aku juga nggak bisa yang aktif interaktif buat memulai obrolan. Jadi aku lebih sering bicara kalau diminta bicara atau ditanya. Kalau nggak, aku memang lebih suka jadi penyimak,” sambungnya.

Dafid pun menyadari, kesan itulah yang kemudian membuat teman tongkrongannya juga sama-sama awkward. Alhasil, dalam tongkrongan teman-teman kerja maupun teman kuliahnya dulu, Dafid merasa tidak benar-benar akrab dengan satu pun dari mereka. 

Dafid relatif baru bisa merasakan sensasi interaksi seru dan dianggap dalam tongkrongan hanya ketika sedang mabar. Karena dia menjadi salah satu orang yang skill-nya diperhitungkan. Tapi kalau mabar selesai, maka situasinya akan kembali seperti semula. 

Jadi topping tongkrongan: sering ditinggal nongkrong secara terang-terangan, tidak ada pun tidak dicari

Yang lebih tidak enak dari topping tongkrongan: keberadaannya tidak dianggap penting-penting amat. Bahkan sering secara terang-terangan tidak ajak nongkrong. 

Dafid kerap mengalami situasi seperti ini: Di menjelang jam kerja berakhir, beberapa teman kerja yang tergabung dalam sirkel janjian untuk nongkrong di sebuah kedai kopi. Janjian itu dibuat di saat Dafid ada sana. Dafid mendengarnya. Tapi tidak ada satu pun yang menawarinya untuk join. 

“Itu sudah menjelaskan kalau keberadaanku sebenarnya nggak penting-penting amat. Jadi nggak diajak. Kalau sudah nggak diajak, ya sudah, masa aku nawarin diri mau ikut?” Kata Dafid. 

Pernah juga seperti ini: Saat sedang nongkrong lalu ada anggota sirkel yang belum datang karena belum terinfo, pasti akan langsung di-WhatsApp di grup untuk segera nyusul. Beda cerita kalau yang belum datang adalah Dafid. 

“Di medsos salah satu dari mereka kan ada yang update lagi nongkrong di mana. Tapi di grup, ya sepi-sepi aja, aku nggak di-tag buat nyusul. Ya itu makananku sehari-hari sebagai topping tongkrongan, hahaha,” tutur Dafid. 

Semakin insecure bergaul

Pada akhirnya Dafid menyerah untuk berusaha bergaul. Ia merasa, barangkali memang takdirnya diciptakan sebagai orang yang susah membaur. Meski kadang terselip rasa iri dengan orang-orang yang bisa berteman dengan siapa saja sehingga punya banyak teman. 

Pengalaman menjadi topping tongkrongan juga membuatnya semakin insecure untuk bergaul. Setiap berkenalan dengan orang baru, Dafid langsung membatasi dirinya agar tidak berusaha mengakrabkan diri. Karena ia merasa sudah tahu ujungnya akan bagaimana: setelah akrab sesaat, selebihnya adalah relasi normatif dan cenderung awkward. 

“Sekarang lebih nerima aja, aku bisa akrab memang sama sesama penyuka anime. Konsekuensi dianggap wibu nolep ya suda lah, yang penting masih punya teman daripada mencoba ikut sebuah tongkrongan tapi baru dianggap pas mabar doang,” tutupnya. 

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Seporsi Kekalahan Anak Laki-laki: Kerja Ngoyo tapi Masih Begini-begini Saja, Tak Sanggup Ringankan Beban Ortu di Masa Tua atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

 

Terakhir diperbarui pada 4 Agustus 2026 oleh

Tags: Nongkrongtongkrongantongkrongan kerjatopping tongkrongan
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Tongkrongan bapak-bapak, nongkrong.MOJOK.CO
Catatan

Tongkrongan Bapak-Bapak di Desa: Obrolan Sering Ngawur, Kadang Nggak Berfaedah, tapi Saya Harus Gabung demi “Harga Diri” Keluarga

11 Mei 2026
bapak-bapak nongkrong.MOJOK.CO
Sehari-hari

Setelah Punya Anak Sadar “Nongkrong Basi-Basi” Itu Nggak Guna: Rela Dicap Suami Takut Istri, karena Urusan Keluarga Memang di Atas Segalanya

11 Mei 2026
pertemanan di usia 30.MOJOK.CO
Sehari-hari

Pertemanan di Usia 30 Memuakkan: Transaksional dan Isinya Cuma Adu Nasib, tapi Paling Mengajarkan Arti Ketulusan

7 Mei 2026
Tidak install game online seperti Mobile Legend (ML) buat mbar di tongkrongan dianggap tidak asyik dan tidak punya hiburan MOJOK.CO
Catatan

Tak Install Mobile Legend untuk Mabar di Tongkrongan: Dicap “Tak Gaul” dan Kosong Hiburan, Padahal Hiburan Orang Beda-beda

25 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Dugaan Korupsi Bupati Sukoharjo: Warisan Bernama Korupsi MOJOK.CO

Bupati Pemalang Kena OTT KPK, Mengapa Kasus Korupsi Kepala Daerah Terus Berulang?

29 Juli 2026
Sombongkan IPK dan gelar sarjana cumlaude dari PTS Jogja. Optimis pikat HRD perusahaan incaran tapi ujungnya lontang-lantung bawa lamaran pekerjaan MOJOK.CO

Dulu “Sombongkan” IPK dan Gelar Sarjana Cumlaude, Kini Malu Lontang-lantung Cari Kerja karena Tren HRD Tak Terpikat IPK

29 Juli 2026
Di Balik Lanyard Startup Jaksel: Digembleng Target Tinggi, Digaji Pas-pasan MOJOK.CO

Di Balik Lanyard Startup Jaksel: Digembleng Target Tinggi, Digaji Pas-pasan

3 Agustus 2026
Lolos SBM Institut Teknologi Bandung (ITB) dengan jual Tiramisu. MOJOK.CO

Seporsi Kemenangan usai Ayah Tiada: Jualan Tiramisu di Saparua sejak Remaja agar Bisa Sekolah hingga Tembus SBM ITB

3 Agustus 2026
Selamat Jalan Nasirun: Kisah di Balik Sang Maestro Nggak Mau Punya HP MOJOK.CO

Selamat Jalan Nasirun: Kisah di Balik Sang Maestro Nggak Mau Punya HP

1 Agustus 2026
Penggagalan perdagangan ilegal burung di Tanjung Perak Surabaya. Satwa dilindungi dimasukkan boks sampai ada yang mati MOJOK.CO

Penggagalan Perdagangan Ilegal Burung di Tanjung Perak Surabaya, Satwa Dilindungi Dimasukkan Boks sampai Ada yang Mati

30 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.