Percakapan soal pengalaman masyarakat mengikuti seleksi CPNS sedang ramai di media sosial, mengingat pendaftaran tahun ini akan segera dibuka. Kabarnya, Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (KemenPAN-RB) telah memberi sinyal rekrutmen CPNS 2026 untuk calon ASN.
Namun, mereka belum menetapkan jadwal pelaksanaan secara resmi, termasuk soal rincian kebutuhan formasi PNS. Sebab, kata Menteri MenPAN-RB Rini Widyantini, pihaknya masih menghitung anggaran yang dibutuhkan.
“Kami sudah mengajukan kepada Menteri Keuangan mengenai kesiapan anggarannya. Nggak bisa ujug-ujug kami umumkan, nggak bisa. Harus tahu kompetensinya,” kata Rini, Selasa (24/2/2026) dikutip dari detikNews.
Meski belum ada pengumuman resmi, warganet mengaku tengah mempersiapkan diri sebelum hari pendaftaran tiba. Sebagian dari mereka bahkan membagikan tipsnya agar lolos seleksi CPNS berdasarkan pengalaman mereka di tahun-tahun sebelumnya.
Salah satunya Gilang Prendayasa, seorang ASN yang lolos seleksi CPNS tahun 2019. Gilang mengaku untuk lolos seleksi harus mempersiapkan diri, walaupun banyak dari orang-orang di sekitarnya yang menganggap dirinya tak pernah belajar.
“Sebenarnya bukan tidak belajar sama sekali, tapi saya memanfaatkan waktu dengan efisien,” ucapnya saat dikonfirmasi Mojok, Selasa (10/3/2026).
Mustahil lolos seleksi CPNS tanpa persiapan belajar
Sebelum mengikuti seleksi CPNS 2019, Gilang bekerja di Sistem Administrasi Manunggal Satu Atap (SAMSAT). Sebagai orang yang bertugas melayani masyarakat, sudah pasti tidak mungkin Gilang belajar di kantor.
“Jadi kesempatan belajar saya di malam hari,” ucapnya.
Di malam-malam itu, Gilang belajar Seleksi Kompetensi Dasar (SKD) yang mencakup Tes Karakteristik Pribadi (TKP), Tes Wawasan Kebangsaan (TWK), dan Tes Intelegensi Umum (TIU), serta Seleksi Kompetensi Bidang (SKB).
“Strateginya cukup belajar 30-45 menit tapi buatlah rutin setiap hari. Sebab jujur saja, belajar di malam hari pun tidak terlalu efisien untuk saya, karena harus menjaga anak,” jelas Gilang.
Meski menerapkan sistem belajar tak sampai satu jam, Gilang berhasil konsisten selama 4 bulan dan memanfaatkan waktu tersebut dengan fokus. Hasilnya, kata dia, badan jadi terbiasa melihat soal-soal.
“Dengan begitu, kita jadi nggak panik saat tes dan lebih tenang,” ujarnya yang sekarang kerja di Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
Lolos seleksi CPNS padahal nyaris kena DO kampus top
Gilang percaya, hasil itu ia peroleh dengan kerja keras, bukan tanpa persiapan belajar seperti yang orang-orang sekitarnya bilang. Begitu pula yang dirasakan Hendri, PNS yang lolos seleksi tahun 2024.
Mulanya Hendri sendiri tidak menyangka bisa berhasil pada percobaan pertama, padahal dulu ia sempat minder karena nyaris kena DO oleh kampus top di Jogja, bahkan beasiswanya sampai dicabut.
“Aku daftar CPNS mendekati batas akhir penutupan, karena harus menunggu ijazah yang baru diterbitkan setelah wisuda,” ujar Hendri yang akhirnya berhasil lulus kuliah pada Agustus 2024.
Sembari menunggu ijazah yang belum keluar saat itu, Hendri tetap mempersiapkan diri sebab ia sadar harus mengalahkan banyak pesaing di tengah kuota yang terbatas. Setidaknya, Hendri melakukan analisa dengan menghitung segala kemungkinan berbasis data.
“Misalnya, berapa kuota formasi yang dibutuhkan? Berapa jumlah jurusan yang available atau linear? Berapa jumlah universitas di sekitar instansi yang membuka jurusan tersebut? Baru kemudian kita bandingkan data tersebut dan memantapkan pilihan,” jelasnya.
Setelah skripsi, kegiatan Hendri pun disibukkan dengan bekerja sebagai pedagang kaki lima. Tak lama kemudian, ia bekerja sebagai freelancer desain grafis. Hendri berujar sebagian upahnya itu ia tabung untuk persiapan CPNS, termasuk membeli buku-buku untuk belajar.
Perjuangan Hendri pun tidak sia-sia karena ia berhasil lolos di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata di Bangka. Tugas yang linear dengan jurusan di kuliahnya dulu.
Pernah ditolak Unair dan buktikan bisa PNS
Tak hanya Hendri, perjuangan mengikuti seleksi CPNS tahun 2024 juga dirasakan oleh Alfian. Sarjana tunanetra pertama yang mendapat gelar S2 di Universitas Airlangga (Unair) ini dulu sempat ditolak Unair karena keterbatasan fisiknya.
“Aku berjumpa dengan salah satu dosen di Unair, beliau cerita ‘Mas, bukan apa-apa, kami itu bingung kalau menerima (difabel),” kata Alfian saat mengonfirmasi penolakannya masuk S1 Unair.
Alfian memahami kebingungan tersebut karena memang banyak kampus yang belum menerapkan sistem ramah difabel sehingga fasilitas yang mereka miliki kurang memadai.
Namun, alih-alih menyerah, Alfian justru membantu pihak kampus untuk membuat sistem belajar yang ramah difabel khususnya penyandang tunanetra, seperti mempresentasikan cara menggunakan laptop, membaca buku, serta mendengarkan perkuliahan.
“Akhirnya aku harus konfirmasi ke sana kemari. Sampai sekarang aku ingat banget dengan dosen-dosen Unair yang membantuku,” lanjut Alfian yang diterima di Unair bahkan mendapat gelar S2 Jurusan Kebijakan Publik dari kampus top di Surabaya tersebut.
Debat dengan petugas karena dipersulit saat tes
Namun, perjuangan Alfian tak berhenti sampai di situ. Siapa sangka momen untuk mengedukasi soal pendidikan yang ramah difabel itu terulang kembali saat dirinya mengikuti tes CPNS tahun 2024.
“Sistem atau teknologi yang dipakai oleh pemerintah tidak membantu kami yang tunanetra. Jangan kan kami, orang-orang yang tidak menyandang disabilitas saja kesulitan,” ucapnya.
“Jadi kami nggak bisa baca soalnya. Ada sih jenis aplikasi pembaca layar yang dipasang di situ, tapi ketika itu dinyalakan yang dibaca hanya soal, jawabannya tidak dibacakan,” lanjut PNS itu kini.
Alfian pun sempat berdebat dengan petugas jaga agar bisa menggunakan laptop pribadinya saat tes CPNS. Sebab, ia merasa tidak nyaman mengerjakan soal lewat komputer yang disediakan dengan aplikasi yang tidak aksesibel.
Namun, petugas tetap berkelit agar Alfian tetap menggunakan komputer yang disediakan. Barangkali dia takut Alfian bermain “tidak jujur” saat menggunakan laptop pribadinya. Pada akhirnya petugas menawarkan bantuan untuk membacakan soal di layar.
Alfian tetap tak mau kalah berargumen. Dia merasa tidak nyaman jika petugas membacakan soal di ruangan besar. Belum lagi, kata dia, tidak semua orang bisa membaca dengan lugas.
“Kadang-kadang kan orang baca nggak ngerti titik komanya. Nah itu menyulitkan kami. Masalahnya kami dikejar waktu, meskipun penyandang disabilitas punya extra time,” kata dia.
Maka dari itu, jalan terakhir adalah memasang aplikasi pembantu dari laptopnya ke komputer yang disediakan untuk tes. Petugas pun menyetujui hal itu dengan syarat dirinya ikut mendengarkan soal yang dibacakan di earphone.
Setelah melewati huru-hara tersebut, Alfian mengaku puas karena dinyatakan lolos menjadi PNS di Kementerian Desa yang berlokasi di Jakarta. Meski begitu, ia tetap mengkritik pelaksanaan seleksi CPNS yang kurang aksesibel.
Penulis: Aisyah Amira Wakang
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Dua Kali Gagal Tes CPNS Meski Nilai Tertinggi, Kini Malah Temukan Jalan Terang Modal Ijazah SMA atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














