Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Sehari-hari

Arisan Keluarga, Tradisi Toksik yang Dipertahankan Atas Nama Silaturahmi: Cuma Ajang Pamer dan Penghakiman, Bikin Anak Muda Rugi Mental dan Materi

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
14 April 2026
A A
Ilustrasi pamer pencapaian, keluarga, arisan keluarga, lebaran.MOJOK.CO

ilustrasi - keluarga pamer pencapaian saat kumpul keluarga (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Arisan keluarga sejatinya adalah tradisi toksik yang masih dipertahankan karena dalih “silaturahmi” alias menjaga tali persaudaraan. Harusnya tradisi ini dihapuskan saja.

***

Di Indonesia, kata “silaturahmi” ibarat sebuah mantra suci. Kata ini sering kali menjadi alasan utama di balik berbagai acara kumpul-kumpul. Tujuannya tentu baik, yakni untuk mempererat tali persaudaraan, menjaga kedekatan antarkerabat, dan saling bertukar kabar. 

Namun, sadar atau tidak, kata silaturahmi belakangan ini sering dipakai sebagai tameng untuk menormalisasi sebuah tradisi yang diam-diam menguras dompet dan mental. Tradisi itu bernama arisan keluarga besar.

Bagi generasi kakek-nenek kita dulu, arisan keluarga mungkin murni sekadar ajang melepas rindu. Namun, bagi banyak pekerja kelas menengah, anak muda, dan pasangan yang baru menikah di zaman sekarang, acara bulanan ini perlahan berubah wujud. 

Arisan keluarga tidak lagi terasa seperti ruang yang hangat. Ia menjelma menjadi kewajiban yang membebani, menyandera, bahkan menuntut banyak hal yang tidak masuk akal.

Kalaupun dapat kocokan arisan keluarga, bukannya untung malah buntung

Mari kita mulai dari urusan yang paling sensitif: uang. Arisan sejatinya adalah ajang menabung bersama yang digilir. Logikanya, saat nama kita keluar sebagai pemenang, kita akan mendapat tambahan uang segar. Sayangnya, logika ini sering kali hancur lebur.

Ambil contoh salah satu narasumber Mojok bernama Elham (23), seorang pekerja Jogja yang kebetulan masuk dalam kategori generasi sandwich. Sebagai anak yang sudah berpenghasilan, ia diwajibkan oleh orang tuanya untuk ikut arisan keluarga besar dari pihak ibu. 

“Iurannya besar, ratusan ribu rupiah per bulan. Bagi buruh ber-UMR Jogja, itu sih lumayan banget,” kata Elham, Senin (13/4/2026) malam. 

Suatu hari, nama Elham keluar sebagai pemenang arisan. Uang yang cair dari kocokan itu sebesar Rp5 juta. Apakah kemudian dia senang dan bisa menggunakan uang itu untuk menabung atau membayar cicilan? Tentu tidak. 

Karena bulan berikutnya giliran rumahnya yang menjadi tuan rumah arisan, Elham harus memutar otak menyiapkan jamuan.

Di sinilah “jebakan finansial” itu bekerja. Di dalam keluarga besar, ada standard gengsi yang tidak tertulis tapi wajib dipatuhi. Elham tidak mungkin menyuguhkan air mineral gelas, teh manis, dan makanan seadanya kepada puluhan kerabatnya. 

“Kalau nekat kayak gitu, siap-siap keluarga pasti bakal jadi bahan gunjingan di grup WhatsApp keluarga. Mau ditaruh di mana muka ibu,” kata dia.

Demi menjaga nama baik, Elham harus menyewa kursi lipat, memesan katering makanan berat yang pantas, hingga membeli berbagai macam kue basah dan buah-buahan. 

Iklan

Setelah dihitung, total biaya yang dikeluarkan untuk menjadi tuan rumah ternyata mencapai Rp6 juta. Alih-alih untung, Elham justru nombok satu juta rupiah. 

“Menang arisan bukannya jadi rezeki, malah jadi tai.”

Merasa “disandera”, berani keluar bakal dianggap sombong 

Saya sendiri pernah terjebak dalam situasi yang persis seperti Elham. Momen menang arisan yang seharusnya membahagiakan malah berubah menjadi beban pikiran berminggu-minggu setelahnya.

Lalu, muncul pertanyaan yang sangat masuk akal: “Kalau memang memberatkan dan bikin nombok, kenapa tidak keluar saja dari arisan itu?”

Jawabannya adalah karena kita disandera oleh “pajak sosial”. Di lingkungan keluarga besar, mengundurkan diri dari arisan sering kali dianggap sebagai “kejahatan yang tidak termaafkan”. 

Begitu kita menyatakan niat untuk berhenti, rentetan penghakiman akan langsung diarahkan kepada kita. Kita akan dicap sebagai anak yang sombong, pelit, tidak tahu diri, dan tuduhan paling berat: dianggap memutus tali persaudaraan. 

Tekanan sosial inilah yang memaksa banyak orang, termasuk saya dan Elham, untuk tetap bertahan membayar iuran yang menyiksa demi menghindari konflik. Kita patuh bukan karena ikhlas, tapi karena rasa tidak enakan.

Arisan keluarga tempatnya orang toksik bergunjing

Kalau yang menang arisan keluarga saja menderita, apalagi yang cuma “peserta”. Jebakan finansial yang dialami Elham, nyatanya belum seberapa dibandingkan dengan tekanan mental yang dialami anak muda lain. 

Salah satunya, hal ini sangat dirasakan oleh Aji, seorang suami dari pasangan muda yang baru setahun menikah.

Aji dan istrinya baru saja memutuskan untuk pindah lebih dekat dengan keluarga besar mereka setelah bertahun-tahun hidup di kota. Tentu saja, cara buat membaur kembali dengan kerabat adalah dengan ikut arisan keluarga. Namun, kalcersok yang mereka alami sungguh di luar dugaan.

“Ini penilaianku, ya. Arisan keluarga itu bukan tempat buat ngobrol santai dari hati ke hati. Arisan itu malah kayak tempat ajang flexing terselubung bagi kerabat yang sudah mapan,” katanya, Senin (13/4/2026).

Misalnya, ia harus siap mendengarkan seorang saudara yang dengan sengaja memamerkan gelang emas barunya. Atau saudara lain yang berbicara dengan volume keras tentang mobil barunya. Atau sepupu yang memamerkan jabatan dan gaji anaknya. 

Bagi anggota keluarga yang ekonominya sedang sulit, berada di ruangan itu rasanya seperti direndahkan pelan-pelan.

“Nggak ada itu yang namanya tali persaudaraan. Silaturahmi. Orang-orang hidup di dunianya sendiri yang haus validasi.”

Ikut campur urusan rahim orang dengan dalih basa-basi

Puncak kekesalan Aji terjadi ketika sesi makan siang selesai. Ia bercerita, arisan keluarga tiba-tiba berubah menjadi “meja interogasi”. Sasaran tembaknya, tentu saja adalah istrinya. Pertanyaan-pertanyaan yang melanggar batas privasi mulai dilontarkan.

“Kok belum isi juga? Jangan ditunda-tunda dong, nanti keburu tua susah lho. Coba periksa ke dokter itu, siapa tahu ada masalah.”

Kata-kata itulah yang diingat Aji.

Bagi Aji dan istrinya, pertanyaan-pertanyaan ini bukanlah bentuk kepedulian, tetapi sikap ikut campur yang berlebihan. Urusan rahim, kesehatan reproduksi, dan keputusan memiliki anak adalah hal yang sangat privat antara suami dan istri. 

Namun, di acara arisan keluarga, urusan paling pribadi itu diumbar dan dikomentari secara bebas oleh orang-orang yang bahkan tidak pernah tahu apa saja yang sudah mereka perjuangkan. Dalihnya, tentu “sekadar basa-basi”.

Mental istri Aji pun terkuras habis setiap kali arisan selesai. Pertemuan yang katanya untuk merekatkan keluarga justru menciptakan luka dan ketidaknyamanan.

“Fuck lah silaturahmi. Nggak ada kayak gituan di arisan keluarga.”

Bagi Aji, mulai sekarang orang-orang harus berani mendefinisikan ulang makna silaturahmi. Menjaga hubungan baik dengan keluarga besar memang penting, tapi tidak seharusnya dilakukan dengan cara-cara yang toksik.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: 4 Tipe Orang yang Tak Cocok Slow Living di Desa: Kalau Kamu Introvert apalagi Usia Produktif, Pikirkan Lagi Sebelum Menyesal atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 14 April 2026 oleh

Tags: arisanarisan keluargaGen Zkeluarga besarkeluarga besar di desapilihan redaksisandwich generationsilaturahmitradisi arisantradisi keluargatradisi toksiktradisi toxic
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Pasang WiFi di rumah desa. Niat untuk kenyamanan dan efisiensi pengeluaran keluarga malah dipalak tetangga MOJOK.CO
Sehari-hari

Pasang WiFi di Rumah Desa Boncos: Password Dipalak-Dicolong Tetangga, Masih Dicap Egois kalau Mati Disuruh Gali Kubur Sendiri

14 April 2026
Punya hard skill yang laku buat kerja di kota tapi tidak berguna buat slow living di desa MOJOK.CO
Catatan

Punya Skill yang Laku buat Kerja di Kota tapi Ternyata Tak Berguna di Desa, Gagal Slow Living Malah Kebingungan Nol Pemasukan

13 April 2026
Lolos seleksi CPNS dalam sekali coba tanpa bimbel. Setelah jadi PNS ASN malah tersandera stigma MOJOK.CO
Urban

Lolos Seleksi CPNS dalam Sekali Coba, Aman Finansial tapi Hidup “Tersandera” karena Leha-leha Dapat Gaji Buta

13 April 2026
slow living, jawa tengah, perumahan, desa.MOJOK.CO
Catatan

4 Tipe Orang yang Tak Cocok Slow Living di Desa: Kalau Kamu Introvert apalagi Usia Produktif, Pikirkan Lagi Sebelum Menyesal

13 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Tabiat penumpang KA Sri Tanjung yang bikin jengkel KA Sancaka. MOJOK.CO

User Kereta Eksekutif Jengkel dengan Tingkah Random User Kereta Ekonomi, Turun di Stasiun Langsung Dibikin “Prengat-prengut”

14 April 2026
Ironi WNI Kerja di Arab Saudi: Melihat Teman Senasib yang “Pekok” Nggak Mau Pulang ke Tanah Air dan Nekat Melanggar Visa MOJOK.CO

Ironi WNI Kerja di Arab Saudi: Melihat Teman Senasib yang “Pekok” Nggak Mau Pulang ke Tanah Air dan Nekat Melanggar Visa

9 April 2026
Buka Usaha dan Niat Slow Living di Desa Malah Dibikin Muak dengan Etos Kerja Pemudanya, Bersikap Semaunya Atas Nama “Kekeluargaan” MOJOK.CO

Buka Usaha dan Niat Slow Living di Desa Malah Dibikin Muak dengan Etos Kerja Pemudanya, Bersikap Semaunya Atas Nama “Kekeluargaan”

10 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Derita Pedagang Es Teh Jumbo: Miskin, Disiksa Israel dan Amerika MOJOK.CO

Semakin Berat Perjuangan Pedagang Es Teh Jumbo: Sudah Margin Keuntungan Sangat Tipis Sekarang Terancam Makin Merana karena Kenaikan Harga

9 April 2026
slow living, jawa tengah, perumahan, desa.MOJOK.CO

4 Tipe Orang yang Tak Cocok Slow Living di Desa: Kalau Kamu Introvert apalagi Usia Produktif, Pikirkan Lagi Sebelum Menyesal

13 April 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.