Arisan keluarga tempatnya orang toksik bergunjing
Kalau yang menang arisan keluarga saja menderita, apalagi yang cuma “peserta”. Jebakan finansial yang dialami Elham, nyatanya belum seberapa dibandingkan dengan tekanan mental yang dialami anak muda lain.
Salah satunya, hal ini sangat dirasakan oleh Aji, seorang suami dari pasangan muda yang baru setahun menikah.
Aji dan istrinya baru saja memutuskan untuk pindah lebih dekat dengan keluarga besar mereka setelah bertahun-tahun hidup di kota. Tentu saja, cara buat membaur kembali dengan kerabat adalah dengan ikut arisan keluarga. Namun, kalcersok yang mereka alami sungguh di luar dugaan.
“Ini penilaianku, ya. Arisan keluarga itu bukan tempat buat ngobrol santai dari hati ke hati. Arisan itu malah kayak tempat ajang flexing terselubung bagi kerabat yang sudah mapan,” katanya, Senin (13/4/2026).
Misalnya, ia harus siap mendengarkan seorang saudara yang dengan sengaja memamerkan gelang emas barunya. Atau saudara lain yang berbicara dengan volume keras tentang mobil barunya. Atau sepupu yang memamerkan jabatan dan gaji anaknya.
Bagi anggota keluarga yang ekonominya sedang sulit, berada di ruangan itu rasanya seperti direndahkan pelan-pelan.
“Nggak ada itu yang namanya tali persaudaraan. Silaturahmi. Orang-orang hidup di dunianya sendiri yang haus validasi.”
Ikut campur urusan rahim orang dengan dalih basa-basi
Puncak kekesalan Aji terjadi ketika sesi makan siang selesai. Ia bercerita, arisan keluarga tiba-tiba berubah menjadi “meja interogasi”. Sasaran tembaknya, tentu saja adalah istrinya. Pertanyaan-pertanyaan yang melanggar batas privasi mulai dilontarkan.
“Kok belum isi juga? Jangan ditunda-tunda dong, nanti keburu tua susah lho. Coba periksa ke dokter itu, siapa tahu ada masalah.”
Kata-kata itulah yang diingat Aji.
Bagi Aji dan istrinya, pertanyaan-pertanyaan ini bukanlah bentuk kepedulian, tetapi sikap ikut campur yang berlebihan. Urusan rahim, kesehatan reproduksi, dan keputusan memiliki anak adalah hal yang sangat privat antara suami dan istri.
Namun, di acara arisan keluarga, urusan paling pribadi itu diumbar dan dikomentari secara bebas oleh orang-orang yang bahkan tidak pernah tahu apa saja yang sudah mereka perjuangkan. Dalihnya, tentu “sekadar basa-basi”.
Mental istri Aji pun terkuras habis setiap kali arisan selesai. Pertemuan yang katanya untuk merekatkan keluarga justru menciptakan luka dan ketidaknyamanan.
“Fuck lah silaturahmi. Nggak ada kayak gituan di arisan keluarga.”
Bagi Aji, mulai sekarang orang-orang harus berani mendefinisikan ulang makna silaturahmi. Menjaga hubungan baik dengan keluarga besar memang penting, tapi tidak seharusnya dilakukan dengan cara-cara yang toksik.
Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: 4 Tipe Orang yang Tak Cocok Slow Living di Desa: Kalau Kamu Introvert apalagi Usia Produktif, Pikirkan Lagi Sebelum Menyesal atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














