Skripsi modal copas, ternyata bisa lulus tepat waktu dari PTN tanpa hambatan
Maka, sebagaimana kebiasaannya mengerjakan tugas dengan model copas, Dori pun nekat mengerjakan skripsi modal copas. Apa itu mencari sumber di Mendeley? Apa itu pinjam buku di perpustakaan? Bab demi bab ia ambil dari skripsi-skripsi lama mahasiswa jurusannya yang berserak di internet.
“Tentu saja parafrase tipis-tipis,” tutur Dori.
Sebenarnya Dori sempat waswas ketahuan. Bisa kelar kalau sampai itu terjadi. Tapi, sepanjang masa bimbingan, dosen pembimbingnya nyatanya tidak menaruh curiga.
Momen paling deg-degan tentu saja ketika mengecek Turnitin. Apalagi saat pengecekan pertama, tingkat plagiarisme skripsi Dori melebih batas maksimal yang ditetapkan jurusan (20%).
“Tapi ujungnya ya cuma revisi aja. Nggak yang gimana-gimana. Kurevisi tipis-tipis lagi, dan berikutnya lolos sampai sidang dan lulus dari PTN itu,” beber Dori. “Kalau aku jadi mahasiswa di era sekarang, pasti pakai AI.”
Sebenarnya Dori lulus di semester 9. Tidak tepat waktu-tepat waktu amat. Tapi paling tidak, ia tidak harus molor hingga belasan semester seperti yang kemudian terjadi di kalangan teman-temannya di organisasi mahasiswa ekstra (ormek).
Berakhir susah kerja, jejaring organisasi mahasiswa (ormek) nggak berguna
Dori memang lulus dari PTN itu tepat waktu. Ia bisa pamer foto wisuda bareng keluarga lebih cepat dari teman-temannya yang masih sibuk di ormek. Namun, skripsi modal copas tersebut ternyata punya dampak panjang bagi hidup Dori.
Dori kini menyadari, praktik copas tersebut adalah bentuk ketidakjujuran dan kecurangan. Alhasil, imbasnya benar-benar buruk bagi hidupnya.
Pasalnya, sejak lulus kuliah, Dori amat kesulitan mencari pekerjaan. Hidupnya terasa seperti terlunta-lunta. Ijazahnya seperti tidak laku di mana-mana. Sampai sekarang, pekerjaannya pun masih serabutan.
“Ironisnya, jejaring dari ormek juga nggak berguna selain cuma buat info-info ngopi. Bisa diitung jari siapa yang kariernya bagus. Sisanya ada yang akhirnya DO, lulus molor, tapi setelah itu ya nasibnya nggak jauh berbeda denganku: susah nyari kerja,” papar Dori. Sementara yang punya karier bagus pun tidak bisa menolong.
Tak pelak jika akhirnya Dori merenung: jangan-jangan ini semua adalah karma dari menyepelekan kuliah dan lulus dengan skripsi modal copas. Walaupun beberapa teman ormeknya selalu bilang: sarjana kesulitan mencari kerja adalah salah negara karena absen menyediakan lapangan kerja.
“Yawis apa jaremu wae, Cok (Ya sudah terserah apa katamu aja, Cok),” begitu respons Dori.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Kuliah di Jurusan Paling Dicari di PTN, Setelah Lulus bikin Ortu Kecewa karena Kerja Tak Sesuai Harapan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan













