Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Catatan

Tukang Parkir di Desa Lebih Amanah Ketimbang Jukir di Kota, Tak Ada Drama Getok Harga apalagi Makan Gaji Buta

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
14 April 2026
A A
Tukang parkir coffe shop di Jogja, parkir liar, desa.MOJOK.CO

Ilustrasi - Tukang parkir di Jogja (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Harus diakui, tukang parkir di desa jauh lebih amanah daripada jukir di kota. Mereka bekerja sepenuh hati, penuh dedikasi, dan yang paling penting: tak pernah asal getok harga. Kerja pun ada SOP-nya.

***

Sebagai orang yang sudah bertahun-tahun merantau di kota, urusan parkir seringkali menjadi momok yang menguras emosi. Di kota besar, khususnya Jogja dan Jakarta, isu ini seperti tak ada habisnya.

Tukang parkir liar ini tak cuma bikin kesal pengguna kendaraan. Pemilik usaha pun juga dibikin dongkol karena keberadaan mereka bikin jualan sepi. Sampai muncul goyonan, “warung ramai dikit muncul bapak-bapak bawa peluit dan pakai rompi”.

Namun, semua kemuakan terhadap tukang parkir kota mendadak luntur saat saya pulang kampung libur Lebaran lalu. Siang itu, saya diajak adik ipar untuk datang ke acara rasulan, mirip-mirip pesta rakyat, di lapangan desa tetangga. Kami berangkat menggunakan motor.

Tukang parkir di desa kerja tanpa banyak drama

Sejujurnya, saat mendekati lokasi yang sudah sangat ramai itu, saya sudah membayangkan betapa susahnya mencari tempat parkir. Belum lagi saat pulang harus adu urat dulu karena ditarik tarif nuthuk alias asal-asalan. Tapi apa yang saya temui justru sebuah anomali yang sangat jarang dijumpai di Jogja.

Sejak dari mulut gang menuju lapangan, para pemuda desa sudah menyambut dengan sapaan ramah. “Mari, Mas, lurus saja, parkirnya di sebelah sana,” ujar salah satu pemuda.

Kejutan sesungguhnya terjadi saat saya turun dari motor. Di area parkir yang sangat luas itu, motor-motor ditata dengan sangat presisi. Dan, yang paling bikin saya takjub: hampir setiap jok motor yang terparkir ditutupi dengan potongan kardus bekas agar tidak panas tersengat matahari. 

Bukan cuma itu, saya melihat beberapa pemuda sibuk membungkus helm-helm yang tergantung di spion dengan plastik kresek karena langit mulai terlihat mendung.

“Sering begini, Mas, di sini,” celetuk suami adik saya dengan santai, seolah itu adalah hal paling lumrah di dunia. Bagi saya? Itu adalah pelayanan “bintang lima” yang tarifnya hanya dua ribu perak.

Di kota, jukirnya bikin resah dan naik darah

Ingatan saya langsung melayang balik ke realitas pahit di kota besar. Sebagaimana sering dibahas dalam berbagai liputan di Mojok, tukang parkir di kota, terutama di Jogja, punya reputasi yang bikin banyak orang mengelus dada. 

Bisa dibaca di sini: Jogja Pantas Menyandang Julukan ‘Kota Tukang Parkir’, Ada Warung Ramai Dikit Saja Langsung Muncul Bapak-Bapak Pakai Rompi

Mereka sering kali beroperasi seperti siluman. Saat kita datang dan butuh bantuan untuk memarkir motor di antara barisan yang berjejalan, sosok mereka seringkali tidak terlihat. Entah sedang duduk-duduk di warung atau asyik mengobrol dengan sesama rekannya. Namun, mereka tiba-tiba muncul saat kita hendak pulang. 

Begitu mesin motor dinyalakan, mendadak terdengar suara peluit. Entah datang dari mana, mereka menengadahkan tangan lalu hanya menarik motor kita sekadarnya lalu menunggu uang diberikan.

Iklan

Fenomena “tukang parkir siluman” di kota ini sudah menjadi keresahan publik. Kalau kita buka media sosial seperti X (Twitter) atau TikTok, keluhan netizen soal parkir liar dan perilaku jukir kota seolah tidak ada habisnya. 

Dari masalah tarif Indomaret dan Alfamart yang jelas-jelas bertuliskan “Parkir Gratis” tapi tetap ditarik uang. Hingga yang terbaru, aksi tukang parkir yang marah-marah, menolak sistem parkir elektronik di retail Mie Gacoan Pekalongan.

 

View this post on Instagram

 

A post shared by PEKALONGAN INFO (@pekalonganinfo)

Keresahan netizen ini divalidasi oleh data resmi. Aduan masyarakat terkait pungli berkedok parkir, premanisme tukang parkir, hingga masalah “nuthuk” atau getok harga selalu menjadi langganan di daftar teratas laporan yang masuk ke Dinas Perhubungan tiap tahunnya. 

Di kota wisata seperti Jogja, masalah ini bahkan sudah menjadi isu menahun yang mencoreng citra kota, tapi solusinya sering kali hanya jalan di tempat.

Tukang parkir di desa punya SOP yang wajib dipatuhi

Kontras antara tukang parkir di desa dan jukir kota ini membuat saya merenung. Mengapa jukir di desa bisa sangat amanah?

Jawabannya ternyata sederhana: ada “SOP Kultural” yang dipegang teguh. Saya memahami hal ini karena saya punya pengalaman pribadi. Dulu, saat masih duduk di bangku SMA di desa, saya pernah ditugaskan oleh Karang Taruna untuk menjadi petugas parkir di acara wayangan semalam suntuk di balai desa.

Di desa, menjadi petugas parkir sebuah acara bukan sekadar soal mencari duit jajan tambahan, tapi soal menjaga harga diri dan nama baik desa. Sebelum acara dimulai, ketua Karang Taruna atau panitia desa biasanya memberikan briefing singkat yang sangat tegas.

Aturannya cuma dua, tapi berat dijalankan kalau tidak punya integritas. Pertama, tarif harus “dikunci mati”. Jika disepakati dua ribu rupiah untuk motor, maka pantang bagi kami menarik lebih, meskipun acaranya sangat ramai atau tamunya terlihat kaya. Getok harga atau “nuthuk” dianggap aib yang memalukan satu desa.

Kedua, urusan pelayanan adalah harga mati. Menutupi jok motor dengan kardus dan mengamankan helm bukan sekadar inisiatif, tapi prosedur standard agar tamu merasa dihargai. 

Kami sadar, orang yang datang ke acara desa kami adalah tamu. Kalau ada motor yang lecet, helm yang hilang, atau sekadar jok yang terlalu panas untuk diduduki, yang malu bukan cuma saya pribadi, tapi Karang Taruna dan seluruh warga desa.

Jukir di kota tak punya rasa malu

Asas tanggung jawab kolektif dan rasa malu inilah yang sering kali hilang dari tukang parkir di kota. Di kota besar, lahan parkir seringkali dianggap sebagai “tambang emas” yang bisa diperas semaunya. 

Sistemnya seringkali dikuasai oleh kelompok atau bekingan tertentu yang hanya peduli pada setoran, bukan pada kenyamanan atau keamanan pemilik kendaraan. Jukir kota sering merasa tidak punya ikatan emosional dengan lingkungannya; mereka bekerja mengejar angka, bukan menjaga nama baik.

Kemuliaan tata krama desa ini makin terlihat jelas saat kita bicara soal acara hajatan. Di kota, parkir di pinggir jalan dekat gedung resepsi sering kali jadi ajang “pesta pora” tukang parkir dadakan. 

Mereka bisa mematok tarif lima ribu sampai sepuluh ribu rupiah dengan dalih “mumpung ramai” atau “biaya pengamanan”. 

Bandingkan dengan di desa. Menarik uang parkir dari tamu hajatan itu haram hukumnya. Para petugas parkir di acara pernikahan desa biasanya bekerja dengan semangat rewang alias gotong royong membantu tetangga yang punya hajat. 

Tamu adalah orang yang diundang secara terhormat, jadi sangatlah tidak sopan jika saat mau pulang mereka justru “ditagih” uang parkir. Kalaupun ada kotak parkir di pintu keluar, sifatnya benar-benar sukarela. Tidak ada paksaan untuk memberi.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Punya Skill yang Laku buat Kerja di Kota tapi Ternyata Tak Berguna di Desa, Gagal Slow Living Malah Kebingungan Nol Pemasukan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 14 April 2026 oleh

Tags: DesaJogjajukirjuru parkirparkir liartukang parkirtukang parkir di desatukang parkir di jogjatukang parkir liar
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Orang Jogja Syok Merantau ke Jakarta karena Nggak Bisa Sarapan Soto Bening yang Enak Mojok.co
Pojokan

Orang Jogja Syok Nggak Bisa Sarapan Soto Bening yang Enak di Jakarta

16 April 2026
kos eksklusif, jakarta, desa, kos.MOJOK.CO
Urban

Kabur dari Desa dan Memilih Tinggal di Kos Eksklusif Jakarta demi Ketenangan Batin, Malah Makin Kena Mental karena “Bahagia” di Kota Cuma Ilusi

15 April 2026
kuliah, wisua, sarjana di desa.MOJOK.CO
Edumojok

Jadi Sarjana di Desa, Bangga sekaligus Menderita: Dituntut Bisa Segalanya, tapi Juga Tak Dihargai Tetangga dan Dicap “Beban Keluarga”

15 April 2026
slow living, jawa tengah, perumahan, desa.MOJOK.CO
Catatan

4 Tipe Orang yang Tak Cocok Slow Living di Desa: Kalau Kamu Introvert apalagi Usia Produktif, Pikirkan Lagi Sebelum Menyesal

13 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Ezra, alumnus UGM umur 25 tahun, yang lanjut kuliah S2 dan ikut ekspedisi ke Antartika, nggak peduli quarter-life crisis

Umur 25 Tahun Nggak “Level” dengan Quarter-Life Crisis, Alumnus UGM Kuliah S2 di Australia dan Ekspedisi Ilmiah di Antartika

17 April 2026
Lolos seleksi CPNS dalam sekali coba tanpa bimbel. Setelah jadi PNS ASN malah tersandera stigma MOJOK.CO

Lolos Seleksi CPNS dalam Sekali Coba, Aman Finansial tapi Hidup “Tersandera” karena Leha-leha Dapat Gaji Buta

13 April 2026
Tukang parkir coffe shop di Jogja, parkir liar, desa.MOJOK.CO

Tukang Parkir di Desa Lebih Amanah Ketimbang Jukir di Kota, Tak Ada Drama Getok Harga apalagi Makan Gaji Buta

14 April 2026
Habis Doa Langsung Goyang- Cara Orang Indonesia Menjalani Agama yang Bikin Orang Pakistan Iri MOJOK.CO

Habis Doa Langsung Goyang: Cara Orang Indonesia Menjalani Agama yang Bikin Orang Pakistan Iri

17 April 2026
Cuci baju di laundry konvensional bikin kapok MOJOK.CO

Cuci Baju di Laundry Konvensional Lama-lama bikin Kapok, Bikin “Boncos” karena Baju Rusak dan Hilang Satu Persatu

15 April 2026
Gaji Jakarta 12 Juta Bikin Gila, 3 Juta di Magelang Hidup Waras MOJOK.CO

Daripada Menyiksa Diri Hidup di Jakarta dengan Gaji 12 Juta Sampai Setengah Gila, Pindah ke Magelang dan Hidup Waras Cukup dengan Gaji 3 Juta

16 April 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.