Setelah dua tahun terakhir menggunakan jasa laundry konvensional, Harsa (27) kini tengah menimbang untuk beralih ke laundry self service—yang memang tengah banyak diminati.
Sejak kuliah di Jogja, Haryo sebenarnya tidak terbiasa menggunakan jasa laundry. Sesibuk-sibuknya, ia masih sempat untuk mencuci pakaian sendiri. Minimal seminggu sekali masih sempat lah.
Motif ekonomi tentu jadi pertimbangannya. Ia masih bisa mencuci. Maka, daripada uang digunakan untuk membayar jasa laundry, mending bukan kebutuhan yang lebih primer: makan, bensin, dan rokok.
Ketagihan cuci baju di laundry karena kehabisan waktu dan energi
Sejak awal bekerja di Jogja pun, Harsa sebenarnya masih sanggup untuk mencuci pakaian sendiri. Akan tetapi, dalam dua tahun terakhir, ia memutuskan untuk cuci baju di laundry konvensional.
Kepadatan kerja menjadi alasannya. Ia merasa sudah tidak punya waktu dan energi lagi untuk cuci baju sendiri.
“Kalau hari Minggu jatuhnya cuma pengin males-malesan. Jadi tetap nggak sempet nyuci sendiri,” kata Harsa, Selasa (13/4/2026).
Sejak pertama kali mencoba jasa laundry konvensional, Harsa memang sudah langsung ketagihan. Karena ia bisa secara leluasa menumpuk pakaian kotor tanpa kepikiran: duh bakal effort kalau mencucinya.
Karena sudah terbiasa laundry, jika pakaian kotor sudah menumpuk, Harsa langsung bawa saja ke tempat laundry.
Ongkosnya sebenarnya kerasa, tapi…
Harsa akan melaundry pakaian setiap seminggu sekali. Sekali laundry, rata-rata ia mengeluarkan ongkos sebesar Rp25 ribu-Rp35 ribu.
Sejujurnya, ongkos tersebut cukup kerasa di kantong pekerja Jogja sepertinya. Tapi… karena tidak cukup waktu dan energi, ya sudah lah. Laundry terus tidak masalah.
Karena cukup bawa pakaian kotor, lalu tiga hari kemudian pakaian tersebut sudah bersih, rapi, dan wangi. Berbeda dengan kalau nyuci sendiri yang sering kali lecek bahkan apek.
Akan tetapi, lama-lama, ada hal-hal menyebalkan—karena merugikan—dari laundry konvensional yang membuatnya berpikir berhenti. Karena sekian kali ia coba maklumi, tapi ternyata situasi menyebalkan itu terus berulang, seperti:
Kapok cuci baju di laundry konvensional karena sablon rusak
Harsa mengaku, di tempat laundry langganan pertamanya, dua kali sablon kaosnya rusak karena setrika. Itu membuat Harsa merasa sangat kesal.
“Karena kan nggak setiap bajuku ditangani orang yang sama. Kadang beda orang. Dan ternyata nggak setiap orang paham mana yang bisa disetrika dan mana yang nggak kan,” tutur Harsa.
Pada kasus baju pertamanya, ia memilih memendam rasa kesalnya. Tapi ia masih berlangganan di sana karena memang dekat dari kos. Lalu saat kejadian serupa terjadi kedua kali, ia akhirnya memutuskan untuk pindah ke tempat lain yang agak jauh dari kosnya.
Merasa boncos karena kehilangan baju berkali-kali
Pindah ke tempat lain pun tidak menyelesaikan masalah. Berkali-kali ia pindah, ia terus mengalami kejadian yang sama: ada saja pakaian yang hilang. Kaos hilang, celana hilang, kaos kaki hilang.
Polanya selalu sama. Ketika ia mengadu ada yang hilang, bilangnya pasti akan dicarikan. Tapi entah dicari atau tidak, karena ujung-ujungnya selalu dibilang: nggak ketemu, Mas.
Mungkin ia yang salah pilih tempat laundry. Karena setelah dinyatakan hilang, ya hilang begitu saja. Tidak ada itikad dari si pekerja laundry tersebut untuk mengganti rugi.
Tidak pelak jika Harsa merasa kapok. Ia merasa boncos. Sudah keluar uang untuk bayar jasa, kehilangan “uang” juga dari pakaian yang rusak atau raib entah ke mana.
Mending laundry self service?
Beberapa teman menyarankan agar Harsa menggunakan jasa laundry self service saja. Memang agak effort: karena ia harus mencuci sendiri untuk harga yang hanya selisih tipis dari laundry konvensional.
Tapi setidaknya, ia hanya perlu memasukkan pakaian ke dalam mesin cuci, menunggu, mengeringkan, lalu menyetrika. Setidaknya tidak perlu repot-repot mencuci pakai tangan satu persatu. Dengan hasil yang lecek dan tidak wangi pula.
Hanya saja, effort itu juga agak malas kalau Harsa bayangkan. Pilihannya masih berkutat pada pilihan antara kembali mencuci sendiri pakaiannya atau tetap di konvensional—asal bisa nemu langganan yang benar-benar bisa dipercaya.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Rintis Bisnis Laundry Sepatu, Dari Sepi Peminat Kini Beromzet Puluhan Juta Perbulan di Usia 20-an atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














