Salah satu keheranan saya dalam satu tahun terakhir—setelah sering pulang ke rumah istri di Jombang (sebuah kampung paling ujung selatan menuju perbatasan Kediri dan Batu)—adalah intensitas para pengamen yang masuk kampung. Barangkali akan terasa sangat mengganggu bagi orang-orang yang mendambakan hari yang tenang di rumah.
Pengamen di kampung Jombang selatan sehari 4-5 kali datang, dari pagi-malam
Sebenarnya saya sudah sering bersinggungan dengan model pengamen yang sampai mblusuk-mblusuk di rumah warga. Hanya saja, hal itu saya dapati ketika masih tinggal di perkampungan Surabaya.
Agak wajar karena memang model perkampungan di kota besar memungkinkan para pengamen menjangkaunya. Sementara dalam konteks kampung di kabupaten—seperti desa saya di Rembang—dalam sebulan bisa dihitung jari lah berapa kali ada pengamen yang nekat masuk ke desa.
Ketika akhirnya sering pulang ke Jombang, awalnya saya juga masih mewajari ketika ada pengamen yang sampai masuk kampung. Pikir saya, paling tidak jauh berbeda dengan di Rembang: pengamen masuk ya hanya sesekali karena kampung kami di Jombang ada di daerah sepi.
Ternyata tidak begitu. Sehari bisa masuk 4-5 kali pengamen. Itu yang bergitar atau bawa sound system kecil. Belum jenis pengamen lain seperti topeng monyet.
Lama-lama saya pun mulai hapal jam operasinya. Dimulai dari jam 10 pagi, lalu setelah Zuhur, kemudian menjelang Asar, bakda Magrib, lalu terakhir ada jam-jam setelah Isya.
Memang polanya tidak selalu persis demikian. Karena kadang kala pengamen yang masuk hanya 3 kali. Tetapi, satu hal yang bisa saya pastikan, nyaris setiap hari pasti ada pengamen yang masuk: menggenjreng gitar dari rumah ke rumah.
Saya sendiri pernah mengalami seperti ini: selepas Magrib, bahkan ketika orang-orang belum pulang dari masjid atau musala, sudah ada pengamen (dua orang) yang menghampiri rumah istri, karena kebetulan saya memang sedang ngerokok di luar. Tidak lama kemudian, ketika azan Isya baru selesai berkumandang, saya yang sedang rebahan di ruang tengah harus berhadapan dengan pengamen lain yang sudah berdiri di depan pintu.
Dan ternyata, bagi warga setempat, kemunculan pengamen dengan intensitas tinggi tersebut sudah menjadi suguhan sehari-hari sejak dulu.
Tidak akan pergi sebelum diberi
Rumah kami nyaris selalu memberi. Ya Rp500, Rp500, lah. Kadang juga Rp1000 atau Rp2000. Bahkan, istri saya sampai punya stok uang recehan untuk jaga-jaga diberikan ke pengamen. Beberapa rumah yang saya perhatikan pun tampak kerap memberi.
Sebab, masalahnya, para pengamen yang masuk ke kampung kami di Jombang itu jenis pengamen yang “keras kepala”. Mereka akan tetap menggenjreng gitar atau mengarahkan sound system yang tergantung di leher ke dalam rumah. Tidak hanya itu, mereka juga akan gigih berdiri di depan pintu sepanjang tuan rumah belum menampakkan batang hidung dan menyorongkan recehan.
Bahkan, mereka juga bisa mengeraskan nyanyian untuk memancing agar si tuan rumah keluar. Karena nyata-nyata pintu rumah terbuka, kalau malam ya nyata-nyata lampunya menyala, berarti si pemilik rumah ada di dalam.
Saya pernah punya siasat iseng. Ketika terdengar suara genjrengan dari rumah sebelah, saya lalu menutup pintu. Lah wong sudah ada 3 pengamen, Pak, yang menghampiri rumah.
Hanya karena pintu tidak tertutup rapat, ditambah motor saya jelas-jelas terparkir di luar, maka mungkin saja si pengamen berpikir sederhana: kalau motornya ada, berarti orangnya ada. Alhasil, saya harus membuka pintu untuk keempat kali.
Rumah yang kerap jadi incaran pengamen di kampung Jombang selatan
Selain tolok ukur pintu terbuka, lampu menyala, atau motor di luar, saya membaca satu pola: jenis rumah seperti apa yang pasti didatangi oleh para pengamen di Jombang tersebut.
Yakni rumah yang selama ini memang sering memberi. Pola itu saya baca dari kecenderungan mereka yang tidak akan pernah melewati rumah istri dan rumah tetangga-tetangga yang memang gemar memberi. Bisa dibilang sudah terlanjur tuman. Sementara saya perhatikan, ada rumah orang yang nyaris tidak pernah memberi, nyatanya tidak didatangi.
Kenapa bisa hapal: mana rumah yang gemar memberi/mana yang tidak? Ya karena pengamennya itu-itu saja. Orang yang sama setiap hari. Paling hanya berubah-ubah jam datangnya saja.
Cara mengusir jika enggan memberi
Setelah cukup sering bersinggungan dengan pengamen di kampung istri di Jombang, saya pun akhirnya belajar bagaimana cara “mengusir” mereka jika memang sedang enggan memberi.
Kuncinya satu: keras kepala. Melawan keras kepalanya para pengamen dengan menjadi keras kepala juga.
Memangnya kenapa ada rumah yang dilewati? Karena berkali-kali didatangi, si tuan rumah bergeming. Tidak peduli meski suara genjrengan atau sound system mengganggu telinga dan bahkan waktu bersantai.
Masalahnya memang ada model orang yang tidak tahan risih. Ketika dibiarkan, si pengamen tetap mematung di depan pintu. Selain bernyanyi, mereka juga akan mengulang-ulang kata “permisi”.
Lama-lama si tuan rumah ngalah juga karena risih sekali. Pengin agar si pengamen cepat-cepat pergi. Alhasil, si tuan rumah pun memilih keluar untuk memberi recehan.
Kalau mau cara yang agak berani, bilang saja “Lewati, Cak” atau “Nggak dulu, Cak”. Tidak serta merta bisa membuat mereka pergi. Tapi mengulangi kalimat tersebut, sebagaimana mereka kerap mengulangi kata “permisi” ternyata cukup ampuh untuk membuat mereka beranjak pergi, meski dengan wajah masam dan gerutuan kesal.
Tapi memang, keberadaan mereka hampir setiap hari dari pagi-malam, tidak begitu dianggap sebagai gangguan besar. Pandangan orang ke mereka; ya mereka cari uang, itu pekerjaan mereka.
Kalau itu terjadi di desa saya di Rembang: wah, lama-lama bisa diusir permanen. Di gapura desa dan beberapa titik di dusun saya saja sampai dipasang banner bertuliskan: “Pengamen dan Penjual Kalender Dilarang Masuk.” Hasilnya ternyata ampuh.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Jombang Kota Serba Nanggung yang Bikin Perantau Bingung: Menggoda karena Tenteram, Tapi Terlalu Seret buat Hidup atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














