Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Catatan

Motoran di Jatim: Dibuat Sadar kalau Plat S Jadi Motor “Paling Rusuh” di Jalan

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
23 Maret 2026
A A
Pengendara motor plat S di jalanan Jombang tidak kalah ngawur dari plat K MOJOK.CO

Ilustrasi - Pengendara motor plat S di jalanan Jombang tidak kalah ngawur dari plat K. (ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Sebagai orang dari rumpun plat K (Rembang), selama ini saya sangat kenyang dengan beragam stereotip miring: pengendara paling ngawur di jalan raya. Namun, di Jombang, Jawa Timur, saya mendapati bahwa ternyata pengendara motor yang tidak kalah ngawur, yakni pengendara motor plat S. 

***

Iklan

Beberapa kali pulang ke Jombang, Jawa Timur, saya pikir saya akan mendapati jalanan yang tidak sebrutal di kampung saya, Rembang. Kalau berkendara di jalanan Rembang dan sekitarnya (Pantura), memang perlu sabar dan waswas betul dengan cara berkendara pengendara motor plat K. 

Namun, setelah saya rasa-rasakan, ternyata kondisinya tidak jauh berbeda. Beberapa kali saya motoran menikmati Jombang Selatan yang hijau, saya berkali-kali menghadapi oknum pengendara motor plat S yang amat grasak-grusuk. Yang paling baru, saya bahkan nyaris diajak gelut oleh seorang pengendara motor itu. 

Rusuh dengan pengendara motor plat S di jalan

Saya sedang mencari takjil di jalanan Jombang selatan pada suatu sore di hari-hari menjelang lebaran. 

Jalanan Jombang selatan tengah padat sore itu. Apalagi jam menunjukkan pukul 17.21. Setelah berburu takjil, banyak orang tentu ingin buru-buru pulang. Karena sudah amat tergiur membasuh tenggorokan kering dengan es blewah dan mengisi perut dengan takjil hasil buruan. 

Namun, jalanan sore itu teramat padat. Karena selain kerumunan manusia yang sedang berburu takjil di pasar sore, juga bersamaan dengan para pengendara yang tengah dalam perjalanan mudik. 

Ditambah lagi dengan lampu merah dengan durasi tidak seimbang (merah lebih lama, tapi hijau lebih singkat), membuat laju kendaraan semakin terhambat. 

Di momen itu, persis ketika motor saya berhenti di baris depan lampu merah, seorang pengendara motor plat S di belakang saya berkali-kali membunyikan klakson sembari berteriak nggatheli, “Isok cepet ora?! (Bisa cepat, nggak?!).”

Saya lalu membuka jalan, membiarkan si pengendara itu lewat. Tapi saya balas orang itu dengan teriakan, “Lampu merah Cak! Nek gupuh budalo wingi! Lampu merah, Cak! Kalau buru-buru berangkat kemarin!).” 

Setelah melewati lampu merah. Orang itu berhenti. Berniat menghampiri saya. Saya memelototinya balik. “Ngerti merah nggak?”. Tapi keributan sore itu tidak terjadi karena orang itu keburu melanjutkan jalan usai disoraki pengendara-pengendara lain yang masih taat rambu lalu lintas. 

Pengendara motor plat S tidak sabaran, nyeberang jalan suka-suka

Dua orang pengendara plat S Jombang lain yang saya tanya ternyata mengamini keresahan saya: bahwa memang ada oknum pengendara motor plat S yang tidak sabaran. Grasak-grusuk di jalan. Tidak kalah ngawur lah dari plat K. 

Di antara yang mereka resahkan dari ketidaksabaran pengendara motor plat S adalah: suka tiba-tiba motong jalan. 

Contoh kasusnya begini: plat S adalah salah satu nomor kendaraan yang banyak melintas di jalan raya Jombang-Surabaya. Model rute tersebut adalah jalan dua arah dengan pembatas jalan di tengah dan masing-masing arah beruas lebar (enak buat kebut-kebutan). 

Iklan

Nah, tidak sepanjang jalan ada pembatasnya di tengah. Ada pula bagian yang “lhos” tanpa pembatas: digunakan untuk putar balik atau nyeberang ke sisi jalan lain. 

Di sinilah letak masalahnya. Kerap kali, ada pengendara motor plat S yang kalau nyeberang jalan cenderung tidak hati-hati. Tapi asal serobot. Alhasil, membuat pengendara dari arah lain yang memacu kendaraan dengan kecepatan tinggi harus berkali-kali memencet klakson sekaligus ngerem mendadak karena takut terjadi tabrakan. Dan situasi tersebut ternyata menjadi pemandangan normal. 

Tidak hanya itu, ada juga oknum yang asal-asalan kalau keluar gang. Di rute Jombang ada banyak gang/gapura kampung yang langsung terhubung ke jalan raya. 

Nah, sering kali ada pengendara motor plat S yang kalau keluar gang tidak lihat kanan-kiri dulu dan berhenti terlebih dulu sebelum masuk jalan raya. Yang ada: keluar gang langsung masuk jalan raya, membuat pengendara kaget karena tidak menduga. 

Itu kalau jarak antara pengendara di belakang dengan pengendara motor yang keluar dadakan di gang depan terlalu dekat, bisa jadi tubrukan. 

Serobat-serobot tidak tahu fungsi klakson

Ketidaksabaran oknum pengendara motor plat S juga tergambar dari betapa grasak-grusuknya mereka saat melaju di jalan raya. Hobinya serobat-serobot. Seolah menjadi orang paling buru-buru di dunia. 

Contoh dari dua orang yang saya tanya tadi: misalnya ingin menyalip, ada saja pengendara motor plat S yang “malas” memberi tanda lain kalau ia hendak menyalip. 

Masalahnya, ternyata sama saja dengan pengendara motor plat K, ada pengendara motor plat S—terutama di jalanan Jombang—yang hobi nyalip dari kiri. 

Pokoknya tiba-tiba nyerobot dari sisi kiri. Membuat pengendara yang disalip kaget dan gedandapan. Karena kalau saja pengendara yang disalip itu jalan ke kiri sedikit saja persis ketika pengendara di belakang menyalip dari kiri, maka tabrakan tidak akan terhindarkan. 

Saya sendiri beberapa kali mengalaminya. Kalau disalip mak bedunduk seperti itu, saya langsung merinding. Kalau saja saya tidak punya kebiasaan ngecek spion kalau mau pindah-pindah jalur, bisa-bisa saya oleng diseruduk. 

Tak paham sein dan tanda orang mau nyeberang, tak suka ngalah

Kecenderungan grasak-grusuk, buru-buru, dan serobat-serobot itu dilengkapi dengan cara berkendara yang seolah tidak paham lampu sein dan tanda orang mau nyeberang. 

Ini saya alami sendiri. Beberapa kali, padahal sudah menyalakan lampu sein tanda akan ke seberang sejak beberapa meter (tidak dadakan), ada saja yang tetap nyerobot dengan kecepatan tinggi. Membahayakan sekali. Maka beberapa kali saya mencoba menepi dulu saja, menunggu jalan sepi, lalu baru menyeberang. 

Tapi persoalannya tidak berhenti di situ. Sebab, setelah menepi dulu, untuk nyeberang jalan justru akan semakin sulit. Karena pengendara-pengendara motor plat S di jalanan Jombang ini—karena kecenderungan buru-buru dan tidak sabarannya—seperti tidak paham tanda orang mau nyeberang. 

Jadi, alih-alih memberi kesempatan orang nyeberang, banyak dari mereka yang justru tetap melaju kencang-kencang. Maka, saya kerap nekat langsung memotong jalan sembari memberi tanda. Namun, itu artinya saya harus siap menerima berondongan klakson. Hash. Plat K memang ngawur, tapi ini sih tidak kalah ngawur. 

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Pengendara Plat K Tak Paham Fungsi Zebra Cross-Spion, Cuma Jadi Pajangan dan Abaikan Keselamatan Orang saat Bawa Kendaraan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 23 Maret 2026 oleh

Tags: Jombangmotor plat spengendara motorplat s
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Pengamen di kampung Jombang bisa datang 4-5 kali dalam sehari MOJOK.CO
Catatan

Tinggal di Jombang Selatan: Tiap Hari Rumah Didatangi 4-5 Pengamen Keras Kepala dari Pagi-Malam karena Terlanjur Tuman

22 Juni 2026
4 jenis pengendara motor di pantura seperti Rembang yang harus dilarang nyetir motor di jalan raya MOJOK.CO
Catatan

4 Jenis Pengendara Motor di Pantura yang Harus Diwaspadai di Jalan Raya: Top Level Ngawur dan Tak Tahu Aturan!

23 April 2026
Orang Jombang iri dengan Tuban, daerah tetangga sesama plat S yang semakin gemerlap dan banyak wisata alam buat healing MOJOK.CO
Urban

Sebagai Orang Jombang Saya Iri sama Kehidupan di Tuban, Padahal Tetangga tapi Terasa Jomplang

12 Maret 2026
Jombang itu kota serba nanggung MOJOK.CO
Catatan

Jombang Kota Serba Nanggung yang Bikin Perantau Bingung: Menggoda karena Tenteram, Tapi Terlalu Seret buat Hidup

12 Januari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

penyakit, cuci darah.MOJOK.CO

‘Gaji Habis buat Cuci Darah’ – Yang Perlu Kamu Ketahui soal “Tren” Penyakit Lansia yang Menyerang Generasi Muda

19 Juni 2026
Angkringan di Stasiun Lempuyangan Jogja jadi tempat meleram kegelisahan MOJOK.CO

Angkringan Lempuyangan Jogja Berisi Rindu, Kegagalan, dan Beban Finansial Para Pejuang Perantauan

22 Juni 2026
Gotong Royong ala Serigala Putih: Napas Kultural Uzbekistan di Pentas Piala Dunia.MOJOK.CO

Sepak Bola Gotong Royong Bernama Mahalla, Senjata Taktis Uzbekistan di Piala Dunia

17 Juni 2026
Mas Uceng sebagai narasumber Festival Melawan-Melawan. Ia menyampaikan perlawanan masyarakat sipil perlahan telah terbunuh oleh rezim.

Zainal Arifin Mochtar: Perlawanan Masyarakat Sipil Perlahan Telah Dibunuh

18 Juni 2026
siswa sekolah.MOJOK.CO

Sisi Lain AI yang Melemahkan Nalar Siswa: Kesulitan Calistung, Tak Bisa Membaca Jam, hingga Sulit Mengingat Materi Pelajaran

17 Juni 2026
Parenting ala orang tua desa sering ngawur di mata orang tua Gen Z MOJOK.CO

Salah Kaprah Parenting Ala Orang Tua Desa di Mata Ortu Gen Z: Malah Hambat Tumbuh Kembang Bayi, Cium Sana-Sini Tanpa Tahu Konsekuensi

16 Juni 2026

Video Terbaru

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026
Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

17 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.