Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Catatan

Jombang Kota Serba Nanggung yang Bikin Perantau Bingung: Menggoda karena Tenteram, Tapi Terlalu Seret buat Hidup

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
12 Januari 2026
A A
Jombang itu kota serba nanggung MOJOK.CO

Ilustrasi - Jombang itu kota serba nanggung. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Istri saya orang Jombang. Saya juga punya beberapa teman dari kabupaten berjuluk “Kota Beriman” tersebut.

Baik istri saya maupun teman-teman saya—yang saat ini masih harus merantau meninggalkan Jombang—kerap kali mengatakan ingin kembali ke Jombang, menghabiskan sisa hidup di sana. Satu-dua bahkan sudah memutuskan kembali ke sana.

Iklan

Namun, Jombang memberi perasaan dilematis bagi mereka. Satu sisi, kabupaten ini amat-amat nyaman untuk ditinggali. Ideal untuk pensiun. Sayangnya, kabupaten ini terasa nanggung.

Kehidupan di Jombang: tak terburu-buru, tapi tidak juga lamban

Kata mereka, hari-hari di Jombang berjalan dengan ritme standar. Tidak terlalu lamban, tapi juga tidak terburu-buru.

Saya sendiri kerap menyaksikannya. Tiap kali pulang ke rumah mertua, saya biasanya mengisi pagi dan sore dengan keluar rumah. Lalu mendapati banyak pemandangan hangat.

Di luar, tetangga-tetangga tampak siap beraktivitas secara semestinya. Anak-anak berangkat sekolah dengan riang. Para pemuda bersiap-siap kerja tanpa tergesa. Ibu-ibu belanja ke pasar dengan menyapa hampir setiap bertemu sesama ibu-ibu di jalan.

Saya paling suka pemandangan di ladang. Sepagi itu mereka sudah merawat sayur atau buah yang ditanam, sembari sesekali membalas sapaan orang-orang yang melintas.

Sementara menjelang petang, di jam-jam pulang kerja, jalanan kota dipenuhi oleh orang-orang yang hendak pulang ke rumah masing-masing. Tapi tidak ada jalanan macet, apalagi saling klakson. Normal saja. Menyenangkan.

Ketenangan spiritual

Jombang Kota Santri. Ada puluhan pesantren—dari yang terkenal hingga yang hidden gem—tersebar di setiap sudut kabupaten ini.

Tidak semua teman saya yang asal Jombang adalah santri. Namun, mereka mengakui, salah satu yang mereka rindukan dari suasana Jombang adalah ketenangan spiritualnya.

Sering kali ketika di perantauan mereka merindukan pemandangan para santri/santriwati menenteng kitab suci dan kitab kuning berjalan menyisir jalan. Entah hendak atau baru saja selesai mengaji bersama ustaz atau kiai.

Lantunan ayat suci dan salawat Nabi juga amat gampang didengar dari pagi hingga sore hari. Di pusat kabupaten hingga pelosok-pelosok desa. Rasanya menenangkan sekali.

Cara pandang keagamaan pun menjadi pegangan hidup penuh bagi warga desa. Misalnya, ada orang yang dari tampilan luar—jika pakai cara pandang materiil-kapital—hidupnya jauh dari kemewahan. Akan tetapi, hidupnya justru terasa cukup dan tenteram karena ia mensyukuri apa yang ia jalani dan yakin bahwa hidupnya akan diatur Allah sebaik-baiknya.

Pagi-sore kerja sebagaimana kemampuannya bekerja. Sore-malam fokus kumpul keluarga dan ibadah. Dan hidupnya sudah terasa selesai. Seperti tidak ada yang dikejar lagi.

Iklan

Sayangnya, Jombang terasa serba nanggung?

Lantas, kenapa teman-teman saya itu masih mikir-mikir sekian kali untuk kembali—dan menetap—di Jombang? Alasan mereka, Jombang terasa serba nanggung.

Jombang sebenarnya bukan kabupaten yang kecil dan tertinggal-tertinggal amat. Ia bergerak mengikuti modernitas.

Ritel brand ternama atau gerai waralaba besar menjamur di kabupaten ini. Walaupun memang tidak punya mall untuk ukuran kabupaten yang “gemerlap”. Secara, tetangganya (Tuban) saja punya.

Namun, setidaknya ada gerai-gerai modern yang mendekatkan para perantau asal Jombang dengan nuansa ala kota tempatnya merantau. Sehingga saat pulang ke kampung halaman, rasanya tidak sedang berada di peradaban lain.

Kabupaten ini pun terasa sangat aksesibel. Selain jadi perlintasan utama bus-bus besar AKAP, juga menjadi perlintasan kereta api. Itu memudahkan para perantau untuk beranjak ke manapun.

Lalu apa yang membuatnya terasa serba nanggung?

UMK menggiurkan tapi susah cari kerjaan

Teman-teman saya selalu ingin bisa bekerja di Jombang. Sehingga tak perlu jauh-jauh dari orang tua.

Mereka kerap tergiur dengan data UMK Jombang yang menunjukkan kenaikan dari tahun ke tahun. Tahun 2026 ini ada di angka Rp3,3 juta.

Pertanyaannya, uang itu bisa didapat dari mana? Sebab, sepengalaman teman-teman saya, amat susah mencari pekerjaan di Jombang. Secara kabupaten ini tidak menjadi titik sentral industri seperti tetangganya: Mojokerto.

Kalau toh ada pekerjaan, paling-paling di sektor informal dengan gaji di bawahnya, bahkan tak menentu.

Profesi guru (honorer) sebenarnya menjadi posisi formal yang paling banyak diambil oleh para sarjana baru. Akan tetapi, teman-teman pembaca sudah tahu sendiri berapa standar gaji honorer yang berlaku.

Alhasil, dari pengakuan mereka, hingga saat ini masih banyak anak-anak muda Jombang yang memilih merantau. Meski sebenarnya agak berat juga meninggalkan kabupaten tersebut. Mau bagaimana lagi, karena kalau dalam candaan mereka: “Ditinggal ngangeni, ditunggui nggak bikin kaya.”

Bertani dan usaha tak segampang itu

Bertani rasa-rasanya hanya untuk orang-orang yang sudah berada di maqam tak peduli dunia sama sekali.

Para petani di Jombang dan sekitarnya mungkin terlihat amat tenang dan menikmati hidup. Namun, bagi anak-anak muda yang hendak terjun ke ranah tersebut, mestinya akan berpikir sekian kali.

Menimbang, harga sayur dan buah tidak selalu stabil. Bahkan cenderung lebih sering turun. Kalau sedang naik, naiknya tak seberapa. Tapi kalau sudah turun, turun harganya tak kira-kira.

Sementara untuk berwirausaha—sebagaimana bayangan banyak anak muda kalau ingin slow living di kampung halaman—rasanya tidak mudah juga.

Mau bisnis kuliner? Saingannya buanyak. Itu pun masih dibayangi dengan banting-bantingan harga. Sementara bagi mereka yang sudah lama di kota, standar murah kota sebenarnya adalah standar mahal di desa. Sehingga kalau bikin usaha kuliner, harus rela banting harga sedibanting-bantingnya kalau mau dapat pelanggan.

Mau bisnis sesuatu yang belum ada di Jombang? Belum tentu ada peminatnya. Sering kali ramai di awal, lalu perlahan-lahan akan tumbang. Benar-benar butuh ketahanan.

Profesi sejuta umat yang kelabakan di kabupaten ini

Seorang teman pernah mencoba mengundi nasib di Jombang, sebelum akhirnya memilih kembali ke perantauan.

Ia pernah menjajal menjadi drivel ojol. Mengikuti temannya yang menjadi driver untuk jasa pesan-antar makanan.

Di kota, profesi ini memang menjadi profesi “sejuta umat”. Biarpun pemainnya banyak, tapi potensi rezeki yang didapat masih bisa diterima akal.

Berbeda dengan di Jombang. Mau ngojolin siapa? Saat ngetem di stasiun, ternyata banyak penumpang yang sudah dijemput sanak saudara. Negetem di kampus, ternyata mahasiswanya kebanyakan dari dalam pesantren yang satu atap dengan kampus tersebut. Nungguin pekerja, hanya satu-dua yang nyantol dalam sehari.

Jasa pesan-antar makanan pun tak lancar juga walaupun gerai-gerai kuliner banyak bertebaran. Itu pun kalau dapat, dapatnya mengantar ke daerah yang jauh dari gerai kuliner yang dibeli. Hasilnya tidak cucuk untuk bensin.

Pada akhirnya, menua dan hidup tenteram di Jombang masih menjadi sebatas angan-angan bagi sebagian banyak anak-anak muda asal Jombang di perantauan.

Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Ngerinya Kehidupan Desa di Jombang, Harta-Nyawa Bisa Lenyap Kapan Saja atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

 

 

 

Terakhir diperbarui pada 12 Januari 2026 oleh

Tags: Jombangpilihan redaksislow livingslow living di jombangumk jombang
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Apem ya qowiyyu: kue apem khas Jatinom Klaten berusia 400 tahun. Bukan sekadar warisan kuliner tradisional tapi simbol kesalehan sosial MOJOK.CO
Eksplor

Apem Ya Qowiyyu: Kue Khas Jatinom Klaten Berusia 400 Tahun, Bukan Semata Warisan Kuliner tapi Kesalehan Sosial

10 Agustus 2026
Pengamen di Jalan Malioboro Jogja kayak orang malak MOJOK.CO
Catatan

Saya Jauh Lebih Rispek ke Pengamen Lampu Merah di Jogja daripada Pengamen Malioboro karena Dua Alasan

6 Agustus 2026
Tangan-tanga pembuat apem ya qowiyyu: alasan kue tradisional khas Jatinom, Klaten, tak lekang waktu MOJOK.CO
Eksplor

Tangan-tangan Pembuat Apem Ya Qowiyyu: Alasan Kue Tradisional Jatinom Klaten Tak Lekang Waktu

4 Agustus 2026
Karnaval sound horeg getarkan Jawa Timur tiap Agustusan. Dosa jariah di balik gengsi antardesa, dalih selawatan, hingga perputaran ekonomi di bawah MOJOK.CO
Sehari-hari

Jatim Bergetar Tiap Agustusan: Dosa Jariah Sound Horeg di Balik Gengsi Antardesa hingga Selawatan Sambil Berjoget Seksi

3 Agustus 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Mie Gacoan, desa. MOJOK.CO

Mie Gacoan Oleh-Oleh Wajib Saat Pulang Kampung: Tak Peduli Sudah Dingin dan Keras, Tetap Dinikmati demi Gengsi dan Validasi

5 Agustus 2026
Ngenesnya Jadi Dosen di Rezim Formalistik: Ikut Menyusun Regulasi Negara, Malah Dianggap Tak Bekerja MOJOK.CO

Ngenesnya Jadi Dosen di Rezim Formalistik: Ikut Menyusun Regulasi Negara, Malah Dianggap Tak Bekerja

5 Agustus 2026
Daerah Istimewa Yogyakarta godok aturan pelarangan perdagangan HPR. MOJOK.CO

Yogyakarta bakal Susul Korea Selatan, Larang Perdagangan Daging Anjing demi Cegah Penyakit Menular

4 Agustus 2026
77 persen lulusan sekolah vokasi (sarjana terapan) tembus dunia kerja. Lebih dari dari lulusan S1 MOJOK.CO

Lulusan Sekolah Vokasi (Sarjana Terapan) Lebih Laris di Dunia Kerja dari S1, Industri Butuh yang Berketerampilan

7 Agustus 2026
Hadapi 777 cv lamaran kerja untuk 1 posisi. IPK dan nama besar kampus tak penting lagi di mata HR MOJOK.CO

Hadapi 777 CV Lamaran Kerja untuk 1 Posisi, HR Tak Peduli IPK-Asal Kampus karena Urusan di Atas Kertas Bukan Jaminan Etos Kerja

8 Agustus 2026
Cinta yang Tak Berbalas Bikin Perempuan Crush Recession hingga Belum Menikah. MOJOK.CO

Crush Recession: Jatuh Cinta Terasa Melelahkan, bikin Perempuan Malas Pacaran

4 Agustus 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.