Tinggal di kos yang memiliki rooftop memang riskan blangkrah (semrawut) oleh sampah dan jemuran baju. Akan tetapi, rooftop menjelma menjadi ruang healing anak kos untuk kabur dari kenyataan yang acap kali tidak menyenangkan.
***
Semasa merantau di Surabaya, amat mudah bagi saya menemukan kos berlantai dua hingga tiga. Bangunan kos memang sengaja dibangun meninggi alih-laih melebar karena keterbatasan ruang di belantara perkotaan.
Kos-kos model seperti itu seringkali dilengkapi dengan rooftop, sebagai alternatif pengganti halaman depan yang benar-benar terbatas.
Untungnya, di kos yang saya tempati, rooftop tidak dihitung sebagai bagian dari jenis fasilitas yang punya harga tersendiri. Sehingga, dengan harga Rp350 ribu, saya sudah bisa menempati kos tersebut (Karena setelah saya cek di aplikasi pencari kos, kos dengan rooftop umumnya punya harga yang lebih mahal).
Rooftop kos riskan jadi ruang blangkrah
Rooftop kos memang riskan menjadi ruang blangkrah dan bahkan kumuh. Setidaknya begitu yang terjadi di kos yang saya tempati.
Pasalnya, karena ketiadaan halaman depan, para penghuni kos akhirnya memanfaatkan bagian atap tersebut untuk menjemur pakaian. Alhasil, kondisi rooftop kos pun nyaris selalu becek.
Akan tetapi, situasi tersebut tidak lebih parah dari kebiasaan para penghuni kos yang kemproh. Sebab, seringkali ada penghuni kos yang sehabis merokok atau nyemil di atas, sampahnya dibiarkan berserakan: tidak dibawa turun untuk dimasukkan ke tempat sampah.
Sampah-sampah tersebut tidak pelak mengundang beragam jenis hewan. Tidak hanya semut, nyamuk, dan lalat, ulat pun akhirnya muncul karena sampah-sampah yang membusuk.
Sebenarnya, akhirnya pernah dicari solusi untuk mengatasinya. Ada satu tempat sampah yang kemudian disediakan di atas. Hanya saja, ketika sampah sudah meluber, tidak ada yang berinisiatif membawanya turun. Malah, kalau sudah tahu tempat sampahnya penuh, sampah baru dibuang begitu saja di sebelahnya.
Kendati begitu, keberadaan rooftop di kos benar-benar memberi banyak arti…
Rooftop di kos: spot healing terbaik anak kos biar tidak gila di kamar
Pada mulanya saya tidak terlalu tertarik untuk sering-sering naik ke rooftop kos. Alasannya, pertama, saya ogah naik-turun tangga. Kedua, saya agak kurang nyaman dengan situasi blangkrah dan kemproh di sana.
Selepas kerja, jika tidak ada urusan di luar, saya lebih banyak menghabiskan waktu di kamar. Namun, jika situasi batin dan pikiran sedang sumpek karena overthinking dengan masa depan, terlalu lama di dalam kamar ternyata malah bikin makin stres.
Oleh karena itu, suatu ketika saya pun iseng naik ke rooftop kos. Awalnya saya hanya sekadar duduk melamun. Namun, tiba-tiba saya menemukan ketenangan tersendiri dari pemandangan dari atas rooftop di malam hari.
Dari atas, saya bisa melihat gemerlap lampu kota, hiruk-pikuk Surabaya di malam hari, dan yang paling berpengaruh dengan situasi batin saya adalah semilir angin dan langit lapang berhias bulan-bintang.
Setelah itu, saya menjadi lebih sering naik rooftop kos, terutama di jam-jam menjelang tengah malam atau dini hari. Terutama ketika overthinking sudah sangat mengganggu.
Di atas, saya menggelar matras, lalu duduk menatap lampu-lampu kota di kejauhan sembari nyebat dan menyeruput kopi. Adegan berikutnya adalah merebahkan badan sambil menatap langit. Di momen itu, saya mencoba melapangkan hati dan pikiran, melepaskan segala beban di hadapan hamparan langit kelabu. Ah, rasanya ternyata melegakan.
Agar tangis anak kos tidak terlihat
“Ritual” semacam itu akhirnya sering saya ulangi. Bahkan tidak hanya melepaskan beban pikiran, tapi juga menjadi ruang menumpahkan rasa sakit dan kekecewaan.
Ada banyak situasi menyakitkan dan mengecewakan. Misalnya, rekan kerja yang toksik, ucapan orang lain yang merendahkan, mimpi-mimpi yang tidak kunjung terwujud, pekerjaan dan gaji yang tidak ke mana-mana, hingga buruk sangka pada takdir Tuhan yang seolah menempatkan saya pada posisi sebagai orang kalahan.
Jika sudah berhadapan dengan situasi demikian, berlari ke rooftop menjadi jalan yang saya pilih. Di atas, dalam kesendirian dan di balik gelap malam, saya bisa menumpahkan tangis dengan leluasa tanpa ada orang yang menyadari kalau mata saya memerah karena tangisan.
Entah kenapa, menangis dan meluapkan rasa sakit sekaligus kekecewaan hidup di rooftop, membuat saya merasa puas dan lega. Sebab, saya melakukannya di hadapan langit, dengan asumsi Tuhan benar-benar melihatnya tanpa “penghalang”. Semata agara Tuhan menyaksikan kalau saya sudah amat kesulitan dan butuh pertolongan.
Ternyata jadi ruang deep talk terbaik
Seiring waktu, rooftop kos saya kemudian tidak hanya menjadi tempat menyendiri. Beberapa teman yang main atau menginap di kos saya seringkali saya bawa ke atas.
Mulanya untuk sekadar menikmati suasana Surabaya malam hari sembari ngopi. Namun, lama-lama, rooftop tersebut justru menjadi ruang deep talk satu sama lain.
Ada sensasi berbeda dari deep talk yang sering kami lakukan di kedai kopi. Di rooftop, deep talk bisa berlangsung dengan nuansa amat jujur, karena didukung oleh suasana remang dan sunyi.
Tidak terasa, saya dan seorang teman bisa melakukan deep talk dari selepas isya hingga menjelang jam 2 pagi. Lagu-lagu sendu yang mengalun lirih dari aplikasi pemutar musik menjadi pengiring yang membuat suasana di rooftop kos tersebut terasa magis sekali.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Kos Kamar Mandi Luar Memang Lebih Murah, Tapi bikin Repot Sendiri karena Dipakai Bareng Penghuni Lain Tak Tahu Diri (Kemproh dan Pemalas) atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan













