Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Catatan

Membangun Rumah Megah demi Penuhi Standard Kesuksesan di Desa Malah Bikin Ibu Tersiksa: Terasa Sepi, Cuma “Memuaskan” Mata Tetangga

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
21 April 2026
A A
Ilustrasi punya rumah megah di desa.MOJOK.CO

Ilustrasi punya rumah megah di desa. (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Bagi para perantau di kota, membangun rumah megah di kampung halaman memang membanggakan. Paling tidak, bisa memenuhi standard kesuksesan di desa. Namun, bagi narasumber Mojok, langkah ini malah bikin ibu kesepian dan menderita.

***

Sebagai orang yang lahir, tumbuh, dan besar di Wonogiri, saya hafal betul ritme kehidupan dan standard sosial di sini. Wonogiri, sama seperti kota tetangga, Pacitan atau Gunungkidul, adalah gudangnya kaum perantau. 

Setiap tahun, ribuan pemuda desa berangkat ke kota besar dengan satu tujuan: mengubah nasib.

Menderita di perantauan, jadi kebanggan di desa

Kalau kita melihat kehidupan para perantau ini di kota, sebenarnya gaya hidup mereka sangat standard, biasa-biasa saja. Ada yang sudah sukses, yang masih struggle pun banyak. Tak jarang teman-teman perantau di kota chat meminjam uang karena di hari itu ia kesusahan buat makan.

Di kota, kehidupan mereka terlihat “kasihan”. Tinggal di kos sederhana, makan di warung murah, kendaraan pun tak mewah-mewah amat. Paling mentok Yamaha NMAX atau Honda PCX, yang dianggap sebagai motor standard kesuksesan di desa.

Pendeknya, hidup mereka realistis, sesuai “porsi” pekerja kelas menengah.

Namun, semua stigma “kasihan” itu akan langsung lenyap ketika kita melihat aset yang mereka bangun di kampung halaman. 

Di desa-desa kantong perantau ini, ada sebuah aturan main tidak tertulis yang sudah mendarah daging. Kesuksesan seorang pemuda tidak diukur dari apa jabatan di kota. Tolok ukur mutlak kesuksesan seorang perantau adalah seberapa besar, megah, dan mentereng rumah yang bisa ia bangun di tanah kelahirannya.

Rumah megah ala sinetron SCTV di tengah desa

Karena tuntutan standard kesuksesan itulah, bentuk fisik rumah yang dibangun para perantau seringkali terlihat memaksakan diri. 

Alih-alih merenovasi rumah menjadi lebih nyaman, mereka lebih suka membawa gaya rumah cluster pinggiran Jakarta atau rumah gedongan ala sinetron di televisi langsung ke tengah desa.

Desainnya seragam. Bangunannya megah, kadang berlantai dua, menggunakan jendela kaca besar. Umumnya beratap datar.

Di kota besar dengan tata letak yang padat, desain seperti ini mungkin terlihat modern dan elegan. Namun, saat dibangun di tengah desa yang dikelilingi hamparan sawah dan ladang, desain ini sebenarnya nggak banget.

Saya melihat tren ini dengan mata kepala saya sendiri setiap kali pulang ke desa. Satu per satu rumah tradisional berbentuk limasan atau joglo yang berbahan kayu dibongkar habis. Padahal, kalau kita membaca banyak literatur, rumah tradisional itu dirancang dengan sirkulasi udara yang sangat baik dan sejuk. 

Iklan

Sebagai gantinya, berdirilah rumah berdinding bata dan beton. Yang, kalau tak dipasang AC, kadang malah bikin gerah.

Namun, semua ketidaknyamanan itu rela dikorbankan. Sebab, rumah-rumah megah ini menjadi standard kesuksesan yang paling cepat diakui. Semakin mirip dengan rumah orang kaya di sinetron SCTV, semakin puas mata tetangga yang melihatnya.

Bikin rumah megah di desa demi memuaskan ego tetangga

Dulu, saya mengira teman-teman perantau yang berhasil membangun rumah gedongan ini hidupnya sangat bahagia di kota. Sampai saat masa libur Lebaran lalu, saya ngopi dengan Wahyu (28), salah satu teman akrab semasa SMA.

Wahyu sekarang bekerja sebagai staf di kawasan industri Cikarang. Saat mudik, ia membawa motor NMAX kebanggaannya. Di desa, ia baru saja selesai membangun rumah dua lantai senilai ratusan juta rupiah.

Namun, saat nongkrong malam itu, Wahyu curhat. Dia mengaku rumah megah itu awalnya murni dibangun karena dorongan gengsi. 

Di desa kami, pangkat atau gaji besar di kota tidak ada artinya kalau rumah orang tua di kampung masih berdinding papan. Namun, setelah rumah itu berdiri megah, Wahyu tidak merasa bangga. 

Dia justru dihantui rasa penyesalan yang mendalam.

“Padahal bisa lho renov yang biasa-biasa aja, tapi yang namanya gengsi kan, apalagi udah bertahun-tahun kerja di kota,” kata dia, Senin (23/3/2026) lalu.

Bikin ibu tersiksa

Bahkan, Wahyu sadar bahwa ia baru saja membangun sebuah rumah yang malah menyiksa ibunya sendiri. Sang ibu kini tinggal sendirian di rumah raksasa tersebut karena Wahyu harus kembali bekerja di Cikarang. 

Setiap pagi, ibunya kelelahan karena harus menyapu dan mengepel lantai yang sangat luas. Tenaga orang tua jelas tidak sebanding dengan ukuran rumahnya.

“Kadang kasihan juga ngebayangin ibu kudu bersih-bersih tiap hari, nggak ada anak-anaknya yang bantuin,” kata dia. “Kadang juga khawatir ibu kenapa-kenapa di tangga.”

Puncak kesedihan Wahyu adalah saat ia menyadari seberapa sepi rumah tersebut di malam hari. Wahyu mendesain ruang keluarga yang sangat luas untuk menampung banyak orang. 

Namun, realitasnya, hanya ibunya yang duduk di sana. Wahyu pun tersadar: rumahnya memang megah, dipuji oleh tetangga, tapi anak dan cucunya tidak ada di sana.

“Too much aja sih kelihatannya. Rumah gede gitu cuma satu orang aja,” ungkapnya. “Yang ada fungsi cuma lantai bawah, ibu sama sekali nggak pernah pakai lantai atas karena buat apa juga?”

Rumah megah yang cuma “berfungsi” lima hari

Obrolan dengan Wahyu membuka mata saya tentang siklus sebenarnya dari rumah-rumah megah perantau di desa. Rumah-rumah bernilai ratusan juta rupiah itu sebenarnya memiliki nasib yang tragis.

Selama kurang lebih 360 hari dalam setahun, rumah-rumah tersebut sepi seperti kuburan. Rumah-rumah raksasa itu baru benar-benar berfungsi sesuai dengan desainnya selama lima hari libur Lebaran. 

Saat Wahyu kembali ke perantaun, ia kembali sepi.

“Bangganya cuma pas Lebaran. Abis itu, ya, hambar aja punya rumah besar.”

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Bersih Desa, Tradisi Sakral yang Kini Cuma Jadi Ajang Gengsi: Bikin Perantau dan Pemudanya Sengsara, Buang-Buang Waktu dan Uang atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

 

Terakhir diperbarui pada 21 April 2026 oleh

Tags: Desakehidupan di desakehidupan warga desaperantaupilihan redaksirumahrumah ala sinetronrumah di desarumah mewah
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Sesal pernah kasar ke bapak karena miskin. Kini sadar setelah ditampar perantauan karena ternyata cari duit sendiri tidak gampang MOJOK.CO
Sehari-hari

Sesal Dulu Kasar dan Hina Bapak karena Miskin, Kini Sadar Cari Duit Sendiri dan Berkorban untuk Keluarga Ternyata Tak Gampang!

21 April 2026
Ilustrasi tinggal di desa.MOJOK.CO
Sehari-hari

Bersih Desa, Tradisi Sakral yang Kini Cuma Jadi Ajang Gengsi: Bikin Perantau dan Pemudanya Sengsara, Buang-Buang Waktu dan Uang

20 April 2026
PNS di desa lebih menyenangkan. MOJOK.CO
Urban

Jadi PNS di Desa Luar Jawa Lebih Sejahtera daripada di Kota, Ilmu Nggak Sia-sia dan Nggak Makan Gaji Buta

20 April 2026
Deep talk dengan bapak setelah 25 tahun merasa fatherless, akhirnya tahu kalau selama ini bapak juga sangat kesepian MOJOK.CO
Catatan

Baru Deep Talk dengan Bapak di Usia 25, Bikin Sadar kalau Selama Ini Dia Sangat Kesepian dan Pikul Beban Sendirian

20 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Derita tak punya motor dan tidak bisa naik motor di tongkrongan laki-laki MOJOK.CO

Derita Tak Punya Motor Sendiri dan Tak Bisa Nyetir di Tongkrongan Laki-laki: Dianggap Beban hingga Ditinggal Diam-diam

16 April 2026
Orang Desa Nggak Cocok Jadi PNS Jika Tak Punya Ilmu Menjilat Atasan. MOJOK.CO

PNS Tinggalkan Suasana Slow Living di Desa karena Muak dengan Teman Kantor yang Suka Menjilat Atasan, Ujungnya Malah Bernasib Lebih Buruk

17 April 2026
Kebusukan Mahasiswa FH UI Membuka Luka Lama Para Penyintas, Tak Ada yang Lebih Aman dari “Rahim” seorang Ibu bagi Korban Kekerasan Seksual MOJOK.CO

Bayangkan Kalau Korban adalah Ibumu, Itu Nasihat Paling Nggak Guna bagi Pelaku Kekerasan Seksual

19 April 2026
Musisi Tak Lagi Punya Nyali: Saat Lagu Indonesia Kehilangan The Mercy’s, Slank, dan Iwan Fals MOJOK.CO

Musisi Tak Lagi Punya Nyali: Saat Lagu Indonesia Kehilangan The Mercy’s, Slank, dan Iwan Fals 

15 April 2026
Ribetnya punya mobil di desa. Bisa menjadi musuh masyarakat perkara parkir. Rawan jadi korban iseng bocil-bocil nakal MOJOK.CO

Repotnya Punya Mobil di Desa: Bisa Jadi “Musuh Masyarakat” Perkara Parkir dan Garasi, Masih Rawan Jadi Korban Kenakalan Bocil-bocil

15 April 2026
Habis Doa Langsung Goyang- Cara Orang Indonesia Menjalani Agama yang Bikin Orang Pakistan Iri MOJOK.CO

Habis Doa Langsung Goyang: Cara Orang Indonesia Menjalani Agama yang Bikin Orang Pakistan Iri

17 April 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.