Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Catatan

Hidup Terasa “Mudah” sebagai WNI asal Ada Orang-orang Seperti Warga Minggir yang Baik Hatinya

Aisyah Amira Wakang oleh Aisyah Amira Wakang
22 Juli 2025
A A
Bersepeda di Kapanewon Minggir, Sleman. MOJOK.CO

Bersepeda dari Sukahorjo ke Minggir, Sleman. (Audina Syafira/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Kecamatan Minggir, Kabupaten Sleman selalu memberikan kenangan baik untuk saya. Sejujurnya, saya memang baru dua kali bertandang ke sana, tapi banyak hal yang membuat saya terenyuh, baik dari alamnya yang asri maupun warganya yang baik hati.

***

Akhir-akhir ini berita soal politik bikin saya geleng-geleng kepala. Kebijakan pemerintah yang di luar nurul, pernyataan pejabat-pejabatnya yang bikin kesal, keputusan hukum yang makin nyeleneh, sampai isu lapangan kerja yang tak kunjung redam.

Tak ayal, situasi ini menghadirkan pernyataan humor di media sosial yang menertawakan nasib sebagai Warga Negara Indonesia (WNI). Namun, alih-alih pusing dengan kondisi negeri saya lebih memilih menyegarkan otak dengan bersepeda di Kecamatan Minggir, Kabupaten Sleman bersama Bahagia Cycling Comedy.

Walaupun namanya Minggir atau pinggir dalam bahasa Indonesia, tapi letak kecamatan tersebut tidak pinggir-pinggir amat. Sebab masih ada Kecamatan Tempel yang sedikit lebih barat di pinggiran Sleman. 

Meski begitu, kalau jaraknya diukur dari Kaliurang KM 12, tetap saja jauh. Setidak-tidaknya butuh waktu sekitar 40 menit dengan menggunakan sepeda motor. Pakai motor saja sudah pegal, apalagi menggunakan sepeda ontel. 

Bersepada di sawah. MOJOK.CO
Komunitas Akademi Bahagia bersepeda di jalur Luna Maya. (Audina Syafira/Mojok.co)

Namun, itulah yang dilakukan oleh teman-teman Akademi Bahagia di Sabtu pagi (19/7/2025) kemarin. Saya hanya bisa mendukung mereka, meski hanya membuntuti rombongan dari belakang menggunakan sepeda motor. Tapi tidak apalah ya, lain kali saja coba goes betulan. 

Sebab ternyata, jalan-jalan di Minggir bikin hati tenang. Saya merasa seperti memasuki dunia lain. Dari Lapangan Denggung, Sleman di tengah “jalanan kota”, perlahan saya melihat pemandangan petak-petak sawah, burung kuntul, hutan hijau, irigasi dengan air mengalir, sampai Bukit Menoreh.

Pemandangan itu seolah tanda, bahwa kami hampir tiba di Kecamatan Minggir. Kurang dari 20 menit setelah rombongan kami tiba di Kecamatan Minggir, saya sudah mendapat kebaikan hati bertubi-tubi dari warga.

#1 Disambut keluarga yang murah hati

Tempat istirahat yang kami sambangi adalah rumah Mas Seno–panggilan akrab saya kepada salah satu senior di Mojok. Saat kami tiba di pelataran rumahnya, Mas Seno sudah menyambut kami di depan pintu. 

“Koyok gawe hajatan ae rek, yo opo lak beber kloso, (seperti mau buat acara khusus saja, bagaimana kalau sekalian menggelar tikar?)” kelakarnya dengan tangan sibuk mengeluarkan tumpukan kursi.

Tak lama kemudian, istri Mas Seno keluar dan menawarkan sejumlah bungkusan daun pisang berisi makanan yang diletakkan dalam plastik putih. Bungkusan itu berisi bakmi goreng yang ia beli dari pasar. Rupanya, ia sudah menyiapkan makan siang untuk “sarapan” kami di rumahnya Minggir, Sleman.

“Kamu tahu nggak ini harganya berapa?” tanya istri Mas Seno di sela-sela saya menyantap bakmi goreng dari pasar.

“Rp7 ribu?” jawab saya mengira-ira.

rumah pemberhentian. MOJOK.CO
rombongan pesepeda tiba di salah satu rumah kru Mojok. (Audina Syafira/Mojok.co)

“Nggak sampai, cuman Rp3 ribu,” ucapnya memberitahu. Saya pun hanya melongo, karena jujur saja satu porsi bungkusan itu sudah membuat perut saya kembung. Bisa habis setengahnya saja sudah untung.

#2 Bonus dari pedagang es teh jumbo

Selain menambah energi dengan karbohidrat, kami juga butuh minuman untuk melepas dahaga. Saat itu, rombongan ingin membeli es teh Jumbo. Karena saya membawa motor, saya pun ditugaskan membeli es teh Jumbo bersama seorang teman.

Tak jauh dari rumah Mas Seno tadi, saya memesan 15 gelas es teh Jumbo. Pedagang yang mendengar itu cukup kaget karena barang dagangannya sudah laris sejak pagi. Ia sampai harus menyetok ulang es batu dalam termos rice bucket.

“Kok banyak sekali, ada acara apa, Mbak?” tanya pedagang tersebut sembari meracik es teh.

Iklan

“Habis bersepada, Bu” jawab saya.

“Oh, kalau gitu saya kasih bonus ya Mbak,” ucapnya bersemangat.

Mendengar itu, saya dan teman saya langsung saling tatap. Pasalnya, porsi 15 tadi sudah kami lebihkan karena rombongan hanya berjumlah sekitar 12 orang. Entah kenapa waktu itu saya tidak bisa menolak, dan hanya membalas kebaikan pedagang tadi dengan mengiyakan.

“Eh, terima kasih Bu tapi nggak usah banyak-banyak bonusnya,” kata saya.

“Ah nggak banyak kok, saya lebihkan empat,” ujarnya.

“Eh, eh, jangan Bu. Anu tiga saja,” celetuk saya gelagapan.

Si ibu hanya tertawa dan malah menawarkan saya agar berlangganan di tempatnya.

“Besok-besok kalau ke sini, bakal saya kasih bonus lagi. Nanti saya ingat wajah mbaknya,” ujarnya.

Sementara saya hanya bisa geleng-geleng kepala sepulang dari sana. Antara malu dengan tingkah saya tadi, atau tidak habis pikir dengan kebaikan hati warga Minggir.

#3 Keramahan perajin besek di Minggir, Sleman

perajin besek. MOJOK.CO
Perajin besek di Minggir, Sleman. (Aisyah Amira Wakang/Mojok.co)

Sebetulnya, sebelum mengikuti rombongan sepeda ke Minggir, Sleman, saya pernah lebih dulu pergi ke Dusun Klepu Lor, Kecamatan Minggir pada Minggu siang (2/2/2025). Saat asyik berjalan-jalan, saya berjumpa dengan ibu-ibu perajin besek yang sedang mengobrol di pelataran rumah.

Salah satunya adalah Maria Magdalena Tukilah (61). Ia bercerita kalau kegiatan mengirat dan menganyam bambu merupakan hal yang lumrah di Minggir. Sebab sejak kecil, ibu-ibu di sana sudah ikut menganyam bersama orang tua mereka saban sore.

“Orang tua kami pegangannya dari dulu ya ini (bambu), mau tidak mau kan kami jadi mengikuti. Apalagi, zaman dulu itu kan hidup susah Mbak, jadi anak harus kerja biar bisa sekolah,” ujar Maria yang tetap sibuk dengan irat bambunya.

Di tengah-tengah kesibukan mereka menganyam bambu, kedua anak perempuan dan dua anak laki-laki sibuk bermain dengan kucing-kucing milik si Mbah yang juga duduk-duduk di batang pohon besar. Saya pun meminta izin untuk memotret seluruh aktivitas mereka di Minggir. 

“Monggo-monggo Mbak, kalau mau kucingnya juga boleh dibawa,” gurau salah satu ibu perajin diiringi dengan tawa yang lain. Saya hanya tersenyum malu, karena ketahuan ikut bermain dengan kucing-kucing dan anak-anak di sana.

#4 Obrolan petani di kala senja

Karena hari semakin sore, saya pun pamit ke perkumpulan perajin bambu tadi untuk melanjutkan perjalanan ke Jalan Kuntul Baris. Sekadar untuk menikmati aktivitas petani yang membajak sawah, burung kuntul, serta senja. Tak lupa, saya pun mengabadikannya lewat kamera.

Di sela-sela saya memfoto, seorang petani dari petak sebelah langsung memarkirkan sepeda ontelnya di dekat saya. Tampaknya ia baru selesai mengarit dan ingin beristirahat di pinggir sawah. Tiba-tiba, ia menawarkan minuman yang ada di dalam teko aluminium miliknya.

petani baik hati. MOJOK.CO
Suroto usai mengarit sawah. (Aisyah Amira Wakang/Mojok.co)

“Minum, Mbak,” ucapnya, sambil menyodorkan gelas kaca berisi teh panas di pinggiran sawah, Minggu (2/2/2025).

“Nggak usah sungkan, warga sini selalu guyub,” lanjutnya.

Saya pun menerima minuman tersebut, hingga mengalirlah obrolan kami soal burung-burung kuntul dan kehidupan petani di sana. Petani tersebut memperkenalkan diri dengan nama Suroto (70). Sejak remaja, ia sudah membantu orang tuanya di sawah, tepatnya di Kecamatan Minggir, Sleman–sekaligus tempat kelahirannya.

“Kalau sore seperti ini, mereka (burung kuntul) sering sekali ke sini,” ucap Suroto sembari membuka bingkisan plastik yang berisi pisang dan gorengan.

Lagi-lagi, ia menawarkan hidangan istirahatnya kepada saya. Saya pun menerimanya sembari mengucapkan terima kasih. Wajah petani Minggir itu makin sumringah.

Warga Minggir yang hidup bersama alam

Hingga pukul 15.15 WIB, saya masih mengobrol dengan Suroto. Ia bercerita kalau kebanyakan warga di Minggir, Sleman bekerja sebagai petani. Maka tak heran jika mereka bersahabat dengan burung kuntul. Dulu, kata dia, burung kuntul yang sekarang ada di daerah Minggir berasal dari Ketingan.

“Tapi kan daerah sana sudah jarang sawah. Dibuat jalan tol,” ucapnya.

Suroto mengaku sedih saat mengingatkan kejadian itu, sebab menurutnya, adanya burung kuntul justru membawa berkah, karena panen mereka jadi melimpah. Suroto dan para petani lainnya percaya bahwa burung kuntul cocok sebagai predator yang menyerang hama tanaman. 

Obrolan itu pun menyadarkan saya kembali, soal kebijakan pemerintah yang tak mudah dipahami. Bahkan untuk para petani. Lagi-lagi kami hanya bisa menertawakan nasib sebagai WNI. Dan harus tetap bersyukur kalau “saya WNI”.

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Merelakan Gaji Besar dari Perusahaan di Dubai daripada Mental Rusak karena Tekanan Hidup dan Pilih Slow Living di Gunungkidul atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan.

Terakhir diperbarui pada 23 Juli 2025 oleh

Tags: Kecamatan Minggirsaya WNIslemanslow livingtinggal di Jogja
Aisyah Amira Wakang

Aisyah Amira Wakang

Jurnalis Mojok.co asal Surabaya. Pernah menempuh pendidikan di S1 Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Menaruh perhatian pada isu pendidikan, sosial, perkotaan, dan kelompok-kelompok marjinal. Di luar rutinitas liputan mengisi waktu dengan berlari dan menjelajah alam.

Artikel Terkait

ilustrasi MBG

Kisah Pilu Pegawai SPPG: Sering Dicap Ikut Korupsi Anggaran MBG, Padahal Niat Bekerja Sepenuh Hati

21 Agustus 2026

Punya 30 Kamar Kost Putri Ternyata Tidak Seindah yang Dibayangkan

19 Agustus 2026
Kebisingan-kebisingan di desa yang sebenarnya wajar tapi kini dipermasalahkan karena narasi desa sebagai tempat slow living ideal MOJOK.CO

Hal-hal Wajar di Desa Jadi Dianggap Mengganggu Gara-gara Narasi Slow Living, Padahal Jadi Bumbu Kehidupan

14 Agustus 2026
Slow living boleh kalau tabunganmu nambah 1 miliar tiap bulan (Unsplash)

Slow living itu sekarang jatuhnya kemewahan tapi gaya hidup, yang hanya bisa dinikmati oleh mereka yang tabungannya nambah 1 miliar tiap bulan

13 Agustus 2026
Slow living, Cara Beli Rumah di Desa Tanpa Dihantui KPR Puluhan Tahun MOJOK.CO

Tanpa Punya Rumah di Desa Tetap Bisa Slow Living Asalkan Memegang 3 Prinsip Ini

12 Agustus 2026
Dinas Pendidikan Kabupaten Sleman meluncurkan aplikasi Gandheng ATS untuk atasi masalah anak putus sekolah MOJOK.CO

Sleman Punya Aplikasi Pencegahan Dini Anak Tidak Sekolah

5 Agustus 2026
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Grup WhatsApp keluarga, tempat menghakimi hidup orang lain (Unsplash)

Grup WhatsApp keluarga bukan tempat silaturahmi, tapi sumber stres baru ketika berubah menjadi ruang sidang untuk menghakimi hidup orang lain

18 Agustus 2026
InJourney Bangun Rumah Layak Huni bagi Warga Kalasan, Wujud Kepedulian kepada Warga di Sekitar Destinasi Wisata.MOJOK.CO

InJourney Bangun Rumah Layak Huni bagi Warga Kalasan, Wujud Kepedulian kepada Warga di Sekitar Destinasi Wisata

18 Agustus 2026
Pameran foto dalam Pesta Rakyat Jogja guna memeriahkan acara HUT ke-81 RI. MOJOK.CO

Potret Warga Jogja: Asyik “Pesta” Saat Pejabat sedang Upacara HUT ke-81 RI di Gedung Agung

17 Agustus 2026
Festival Sastra Yogyakarta (FSY) 2026 MOJOK.CO

Memaknai “LAKU” dalam Festival Sastra Yogyakarta (FSY) 2026: Sejauh Mana Bermanfaat dalam Ekosistem Sastra

19 Agustus 2026
UMKM, UKM.MOJOK.CO

Pemkot Jogja Buru “DNA” 18.000 Usaha Kecil untuk Basis Data Tunggal 2026 demi Kebijakan Tepat Sasaran

20 Agustus 2026
Magang pemerintah, rencana mendirikan Universitas Republik Indonesia (URI) dinilai belum bisa jadi solusi fenomena pengangguran dari lulusan perguruan tinggi (sarjana). Apalagi selama ini kuliah cuma dibekali teori MOJOK.CO

Magang Pemerintah Belum Jadi Solusi Pengangguran dari Lulusan Perguruan Tinggi, Apalagi Kuliah cuma Dibekali Teori

18 Agustus 2026

Video Terbaru

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.