Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Catatan

Nasib Petani dan Burung Kuntul yang Sama-sama Terpinggirkan karena Perampasan Lahan di Jogja

Aisyah Amira Wakang oleh Aisyah Amira Wakang
7 Februari 2025
A A
Petani dan Burung Kuntul di Minggir, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. MOJOK.CO

ilustrasi - burung kuntul kecil mengerubungi tanah yang dibajak. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Petani dan burung kuntul di Kecamatan Minggir, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta hidup saling berdampingan, karena sama-sama terpinggirkan. Burung kuntul kehilangan habitatnya, sementara petani kehilangan permukiman dan sawahnya.

***

Saat menikmati sore di pinggiran sawah, Jalan Ngabei Djiwoto, Desa Sendangrejo, Kecamatan Minggir, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), saya melihat segerombolan kuntul kecil berbaris menemani para petani yang sedang membajak sawah. 

Saya pakai kata “menemani” karena para petani sama sekali tak terganggu dengan kehadiran kuntul tersebut. Padahal, meski namanya kuntul kecil, bentuk tubuh burung tersebut besar dan ramping seperti bangau.

Beberapa ada yang berpencar, terbang kecil-kecil untuk melemaskan sayap. Ada pula yang terbang mengitari bajakan sawah kemudian kembali lagi ke gerombolan. Ada kalanya, burung-burung berwarna putih itu terbang ke angkasa dengan membentuk formasi huruf “V”, lalu pindah dari petak sawah satu ke petak sawah lainnya.

Burung kuntul dan petani. MOJOK.CO
Burung Kuntul menemani petani yang membajak sawah di Kecamatan Minggir, Sleman. (Aisyah Amira Wakang/Mojok.co)

Setelah lima menit mengamati burung kuntul tersebut, salah satu petani yang akhirnya selesai mengarit, duduk tak jauh dari tempat saya memotret. Ia menawarkan minuman yang ada di dalam teko aluminium.

“Minum, Mbak,” ucapnya, sambil menyodorkan gelas kaca berisi teh panas di pinggiran sawah, Minggu (2/2/2025).

“Nggak usah sungkan, warga sini selalu guyub,” lanjutnya.

Saya pun menerima minuman tersebut, hingga mengalirlah obrolan kami soal burung-burung kuntul dan kehidupan petani di sana.

Burung kuntul yang bermigrasi dari Ketingan ke Minggir, Sleman

Petani tersebut memperkenalkan diri dengan nama Suroto (70). Sejak remaja, ia sudah membantu orang tuanya di sawah, tepatnya di Kecamatan Minggir, Sleman–sekaligus tempat kelahirannya. Selama bertani, ia sudah terbiasa dengan kehadiran kuntul.

“Kalau sore seperti ini, mereka (burung kuntul) sering sekali ke sini,” ucap Suroto sembari membuka bingkisan plastik yang berisi pisang dan gorengan.

Lagi-lagi, ia menawarkan hidangan istirahatnya kepada saya. Saya pun menerimanya sembari mengucapkan terima kasih. Wajah petani Minggir itu semakin sumringah.

“Setahu saya,” kata dia melanjutkan percakapan, “burung kuntul ini asalnya dari Ketingan, tapi kan daerah sana sudah jarang sawah. Dibuat jalan tol,” lanjutnya.

Petani Minggir, Sleman. MOJOK.CO
Suroto, petani Minggir, Sleman usai ngarit di sawah. (Aisyah Amira Wakang/Mojok.co)

Mojok pernah meliput pembabatan lahan pertanian di Dusun Ketingan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) untuk pembangunan jalan tol. Lebih dari itu, ribuan burung kuntul yang bersarang di kawasan desa wisata tersebut jadi kehilangan habitatnya. Padahal, burung kuntul termasuk satwa yang dilindungi. Liputan selengkapnya bisa dibaca di sini.

Iklan

Sementara itu, jika melihat dari Google Maps jarak Kecamatan Minggir ke Dusun Ketingan berkisar 15 kilometer. Kalau menggunakan sepeda motor bisa menghabiskan waktu tempuh 27 menit. Entah, harus berapa lama kuntul-kuntul itu mengepakkan sayapnya.

Yang jelas, kata Suroto, gerombolan burung kuntul akan datang saat pagi dan sore. Menurut penelitian yang berjudul Aktivitas Harian Burung Kuntul Kecil (Egretta garzetta) di Pulau Serangan, Bali, pagi dan sore memang waktu yang tepat bagi burung kuntul mencari makan.

“Ya kalau pas kita lagi membajak sawah, mereka cari ikan, kodok, serangga, belalang, macam-macam,” ucap Suroto. 

Belajar dari perilaku kuntul baris

Mulanya, warga merasa resah karena keberadaan burung kuntul. Mereka merasa terganggu, takut burung-burung itu menyerang. Apalagi saat membajak sawah. Namun, lama-kelamaan petani menganggap burung itu sebagai sahabat.

Menurut Suroto, adanya burung kuntul justru membawa berkah, karena panen mereka jadi melimpah. Suroto dan para petani lainnya percaya bahwa burung kuntul cocok sebagai predator yang menyerang hama tanaman. 

Lebih dari itu, burung kuntul ternyata punya filosofis yang mendalam. Makanya, jalanan di pinggir sawah Kecamatan Minggir, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang kami duduki saat itu sampai dinamai Jalan Kuntul Baris.

Jalan Kuntul Baris. MOJOK.CO
Jalan Kuntul Baris di Kecamatan Minggir, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. (Aisyah Amira Wakang/Mojok.co)

“Kuntul Baris itu artinya bebarengan, kompak, gotong-royong dalam satu barisan, seperti kuntul,” ucap Suroto.

Mendengar penjelasan Suroto, saya jadi teringat dengan istilah “holopis kuntul baris” yang dipopulerkan oleh Presiden Soekarno dalam pidatonya. Bung Karno mengatakan gotong royong adalah pembantingan tulang bersama, pemerasan keringat bersama, perjuangan bantu-membantu bersama.

“Amal semua buat kepentingan semua. Keringat semua buat kebahagiaan semua. Holopis kuntul baris buat kepentingan bersama. Itulah syarat utama untuk maju menjadi pemenang, yaitu gotong royong,” dikutip dari sambutan presiden RI peringatan 1 Juni sebagai hari lahir Pancasila tahun 2016, Jumat (7/2/2016).

Burung kuntul, sahabat petani di Minggir, Sleman

Namun, Suroto jadi sedih jika mengingat makna kuntul baris. Sebab, pada kenyataannya, semangat gotong royong itu belum terwujudkan sampai sekarang. Khususnya di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Menjadi petani Minggir, Sleman tak semudah yang dibayangkannya. Seumur hidupnya, ia harus bekerja di ladang orang. 

“Tahun 2017 lalu, harga satu petak sawah sudah Rp60 juta Mbak, saya mau beli bagaimana? Belum mengurus sidang-sidangnya,” kata Suroto.

“Orang panen saja tiap 4 bulan sekali. Syukur-syukur bisa makan. Anak bisa sekolah,” lanjutnya.

Lebih dari itu, menurut data Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA), petani menjadi kelompok paling rentan terdampak konflik agraria sepanjang tahun 2024. 

Proses pengadaan tanah merampas tanah masyarakat, permukiman dan lahan tani tempat mereka terancam. Barangkali, itu yang menjadikan para petani di Minggir, Sleman dan burung kuntul merasa senasib. Sama-sama kehilangan “rumah” mereka.

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Temuan Padi BTI yang Hidupi Petani Gunungkidul Jogja, Bibit Padi yang Bisa Ditanam di Lahan Kering  atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan.

Terakhir diperbarui pada 7 Februari 2025 oleh

Tags: burung kuntulKecamatan Minggirkuntul barismasalah petani slemanperampasan lahan
Aisyah Amira Wakang

Aisyah Amira Wakang

Jurnalis Mojok.co asal Surabaya. Pernah menempuh pendidikan di S1 Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Menaruh perhatian pada isu pendidikan, sosial, perkotaan, dan kelompok-kelompok marjinal. Di luar rutinitas liputan mengisi waktu dengan berlari dan menjelajah alam.

Artikel Terkait

Bersepeda di Kapanewon Minggir, Sleman. MOJOK.CO
Catatan

Hidup Terasa “Mudah” sebagai WNI asal Ada Orang-orang Seperti Warga Minggir yang Baik Hatinya

22 Juli 2025
Pensiun dari Guru, Raup Puluhan Juta dari Mengayam Bambu di Minggir Jogja. MOJOK.CO
Sosok

Pensiun dari Guru, Raup Puluhan Juta dengan Menganyam Bambu di Minggir Jogja

7 Februari 2025
Dwi Susilowati, Petani Hebat Sleman yang Dipinggirkan Pemkab Sleman MOJOK.CO
Sosok

Dwi Susilowati, Petani Hebat Sleman Pencipta Bibit Unggul dan Kritiknya untuk Pemkab yang “Sok Peduli” Petani

28 September 2024
Burung Kuntul dan Cerita Sedihnya di Dusun Ketingan karena Kena Jalan Tol MOJOK.CO
Liputan

Cerita Sedih Burung Kuntul di Dusun Ketingan karena Kena Jalan Tol

25 Agustus 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Usul Menteri PPPA soal pindah gerbong perempuan di KRL hanya solusi instan, tak menyentuh akar persoalan MOJOK.CO

Usulan Menteri PPPA Pindah Gerbong Perempuan di KRL Solusi Instan: Laki-laki Merasa Jadi Tumbal, Tak Sentuh Akar Persoalan

29 April 2026
Kerja di Jakarta naik transum kereta KRL

KRL adalah “Arena Perjuangan” Pekerja Jakarta: Tak Semua Orang Sanggup, Hanya Manusia Kuat yang Bisa

29 April 2026
undangan pernikahan versi cetak atau digital jadi perdebatan di desa. MOJOK.CO

Nikah di Desa Meresahkan, Perkara Undangan Cetak atau Digital Saja Jadi Masalah tapi Kemudian Sadar Nggak Semua Orang Melek Teknologi

30 April 2026
Tidak install game online seperti Mobile Legend (ML) buat mbar di tongkrongan dianggap tidak asyik dan tidak punya hiburan MOJOK.CO

Tak Install Mobile Legend untuk Mabar di Tongkrongan: Dicap “Tak Gaul” dan Kosong Hiburan, Padahal Hiburan Orang Beda-beda

25 April 2026
Kos dekat kampus lebih baik bagi mahasiswa

Kos Dekat Kampus: Akal-akalan Mahasiswa “Malas” agar Tak Perlu Bangun Pagi dan Bisa Berangkat Mepet

29 April 2026
Minyak wangi cap lang lebih bagus dari FreshCare. MOJOK.CO

Anak Usia 30-an Tak Ingin FOMO Pakai FreshCare, Setia Pakai Minyak Angin Cap Lang meski Diejek “Bau Lansia”

27 April 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.