Mendengar kabar itu, Rofi teringat pada janji Lebarannya. Karena merasa punya utang omongan, dan merasa syarat OB itu cocok untuk sepupunya di kampung, Rofi pun merekomendasikan sepupunya itu kepada temannya. Sang sepupu dipanggil ke Jakarta. Gayung pun bersambut, sepupunya langsung diterima bekerja.
“Wah, itu gembar-gembar ibu makin-makin aja,” jelasnya.
Di minggu-minggu pertama, semua tampak baik-baik saja. Rofi merasa lega karena sudah menunaikan janjinya dan menyelamatkan muka sang ibu. Namun, kedamaian itu tidak berlangsung lama.
Belum genap satu bulan sepupunya bekerja, teman Rofi menelepon dengan nada marah sekaligus kecewa. Ada kasus besar di kantornya. Sepupu Rofi terekam kamera CCTV sedang mencuri barang dan sejumlah uang tunai di kantor.
Setelah diusut lebih jauh, ternyata selama di kota, sang sepupu punya kebiasaan buruk yang tidak pernah diketahui keluarga di kampung: dia kecanduan judi online. Uang hasil curiannya ternyata dipakai untuk menutupi utang dan modal berjudi.
Reputasi hancur karena “nggak enakan”
Kejadian itu membuat Rofi hancur lebur. Temannya memang pada akhirnya tidak memperpanjang masalah ke polisi dan hanya memecat sepupunya. Temannya itu juga bilang bahwa ini sudah jadi risiko menerima karyawan, dan tidak menyalahkan Rofi sepenuhnya.
Namun, tetap saja, bagi Rofi, trauma itu membekas sangat dalam. Rasa tidak enaknya berubah menjadi rasa malu yang luar biasa. Bagaimana tidak? Dia yang merekomendasikan, dia yang menjamin, tapi orang yang dibawa malah bikin masalah kriminal.
Di mata teman sekantornya, nama baik Rofi pasti ikut tercoreng. Sindiran batin seperti, “Bisa-bisanya kamu ngajak orang yang kelakuannya begini,” terngiang-ngiang di kepalanya.
Dari pengalamannya tersebut, Rofi memetik satu pelajaran penting, tapi sering diabaikan banyak orang: “Tidak semua keluarga atau kerabat layak untuk kita tolong, apalagi untuk urusan pekerjaan profesional.”
“Jadi, untuk Lebaran nanti, nggak perlu lagi merasa bersalah saat menolak permintaan sepupu yang ngode ingin ikut ke kota. Menjadi orang yang serba ‘nggak enakan’ dalam urusan pekerjaan itu sangat berbahaya,” jelasnya.
Rofi bahkan punya prinsip, lebih baik dicap pelit dan sombong oleh keluarga di kampung karena tidak mau berbagi lowongan, daripada kita harus menanggung malu, kehilangan kepercayaan di tempat kerja, dan mempertaruhkan reputasi yang sudah kita bangun susah payah. Toh, di akhir hari, yang membayar tagihan hidup kita di kota adalah keringat kita sendiri, bukan validasi dari keluarga besar saat sungkeman.
Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: “Bohong” ke Keluarga Saat Mudik Lebaran: Rela Habiskan Uang Berjuta-juta agar Dicap Sukses padahal Cuma Karjimut di Jogja atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














