Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Catatan

Bukit Argobelah: Tempat Terbaik Melihat Pemandangan Gunung Merapi dari Dekat, Tak Sampai Satu Jam dari Jogja Bisa Dapat Ketenangan Batin

Aisyah Amira Wakang oleh Aisyah Amira Wakang
5 Juni 2025
A A
Pemandangan Gunung Merapi dilihat dari Bukit Argobelah, Deles Indah. MOJOK.CO

ilustrasi - Pemandangan Gunung Merapi dilihat dari bukit. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Sampai saat ini pun saya masih takjub mengingat keindahan Gunung Merapi dari atas Bukit Argobelah di wilayah Deles Indah, Desa Sidorejo, Kecamatan Kemalang, Klaten. Walaupun medan dan pemandangannya tak jauh berbeda dengan ekowisata Kalitalang, tapi ada suasana baru yang bisa kamu dapatkan saat mendaki di Bukit Argobelah.

***

Akhir bulan Mei 2025 lalu, saya pergi mendaki ke Bukit Argobelah, Klaten. Saya menempuh perjalanan sekitar 45 menit dari Jalan Kaliurang KM 14, Ngaglik, Sleman menggunakan sepeda motor butut Mio.

Saya sarankan memakai jaket kalau kalian berangkat dari jam 06.00 WIB. Kebetulan, saya yang dibonceng teman saat itu sudah siap sejak pukul 04.00 WIB. Sebagai anak Surabaya yang terbiasa dengan hawa panas, kami mengaku sedikit menggigil di jalan.

“Untu ku gemeter Cak, kupingku loro, uadeeemm! (Gigiku gemetar, Cak. Telingaku sakit, dingin!),” keluh Andrea yang menyetir motor dengan kecepatan 60 km/jam. Ia tak berani ngebut karena motor saya pernah digas terus sampai tiba-tiba mati di jalan.

Dengan segala daya dan upaya motor untuk melewati jalan menanjak, kami akhirnya tiba di utara jalur hiking Bukit Argobelah, sebuah kawasan perkampungan di daerah Gumuk Mbangan. Sebelum menuju ke loket yang tak jauh dari gapura bukit, kami bisa memarkirkan motor di samping warung warga.

Ketinggian Bukit Argobelah masih cocok untuk pendaki pemula

Sejujurnya, saya bukan orang yang sering atau mafhum mendaki. Terakhir kali saya mendaki pada September 2024 lalu, di Gunung Lorokan yang memiliki ketinggian sekitar 1.100 meter di atas permukaan laut (mdpl).

Saat itu saya mengaku fear of missing out (fomo) alias ikut-ikutan mendaki karena sumpek dengan kehidupan. Jadi sedikit-sedikit butuh healing. Itu juga yang bikin saya mau-mau saja diajak mendaki oleh teman.

“Melok a? Aku wes daftar. (Ikutkah? Aku sudah daftar),” pesan chat Adrea kepada saya usai mengirim gambar semacam brosur Open Trip: Fun Hiking Agro Belas Deles Indah. 

Spot foto di Pos 3. MOJOK.CO
Salah satu spot foto di Bukit Argobelah, Deles Indah. (Aisyah Amira Wakang/Mojok.co)

Biayanya hanya Rp55 ribu, sudah termasuk parkir, makanan berat dan ringan, air mineral, jasa tour guide, dokumentasi foto dengan kamera, sampai tiket masuk. 

Mulanya, saya masih pikir-pikir, bukan karena tidak ada uang tapi malas saja mendaki. Namun, esok paginya saya mendapat informasi buruk perkara masalah pribadi dan harus mencari cara menyembuhkan hati. Pada akhirnya, tanpa babibu lagi, saya langsung mendaftar open trip yang dikirim teman saya itu. 

Toh, ketinggian Bukit Argobelah masih terbilang “mudah” bagi saya. Setidaknya lebih kecil dari Gunung Lorokan yang pernah saya naiki, yakni 1.229 mdpl. Walaupun saya masih ragu karena belum tahu medannya seperti apa, tapi saya jadi tenang karena ada tour guide dan tidak sendirian.

Tak bosan melewati 5 pos pendakian

Sebetulnya, kalau tidak mau menyewa tour guide pun tidak masalah sebab pengelola Bukit Argobelah sudah memasang penanda berupa papan penunjuk arah. Papan itu cukup jelas dan bisa menjadi hiburan tersendiri untuk pengunjung.

Setiap papan juga bertuliskan kalimat penyemangat ampuh, yang tampak nyeleneh untuk dibaca kala kami beristirahat. Misalnya, “Mungkin kita sampai, mungkin saja tidak. Tugas kita hanyalah berjalan”, “Sambut yang datang. Ikhlaskan yang pergi. Hargai yang berjuang. Tinggalkan yang menyakiti”, “Setiap langkah adalah perjalanan hati”, dan seterusnya.

Iklan
Kalimat motivasi di atas bukit. MOJOK.CO
Kalimat motivasi, “setiap langkah adalah perjalanan hati”. (Aisyah Amira Wakang/Mojok.co)

Bukit Argobelah sendiri memiliki total 5 pos. Tari, seorang tour guide kami bilang panjang jalur untuk perjalanan pulang-pergi Bukit Argobelah adalah 3 kilometer. Biasanya, rata-rata waktu yang dibutuhkan adalah dua jam dari titik awal sampai pos 3.

“Tapi bisa lebih lama lagi kalau kita foto-foto di atas. Di Bukit Argobelah, Deles Indah ini ada tiga spot bagus untuk foto dan harus antri dengan pendaki lain,” ujar Tari yang juga merupakan mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM).

Pemandangan indah dari atas Bukit Argobelah

Keindahan alam di Bukit Argobelah, Deles Indah memang tidak perlu diragukan. Layaknya pengalaman mendaki di luar alam, sejauh mata memandang, saya bisa melihat tumbuhan hijau dan beberapa hewan seperti monyet di pos 3 Bukit Argobelah. 

Banyak juga lumut hutan yang menempel pada dinding tebing, batang kayu pohon yang tumbang dan bisa dijadikan spot foto, serta bunga calliandra berwarna putih yang banyak bermekaran di sepanjang jalan. 

Beberapa serangga juga sering terbang di sekeliling kami, tapi Tari bilang lebah tersebut tak menggigit. Ketakutan itu pun teralihkan dengan pemandangan Gunung Merapi yang dikelilingi tebing berwarna putih dengan guratan alami. 

Pemandangan Gunung Merapi dilihat dari Bukit Argobelah. MOJOK.CO
Pemandangan Gunung Merapi dilihat dari bukit. (Aisyah Amira Wakang/Mojok.co)

Apalagi, kami tiba saat cuaca sedang cerah. Puncak Merapi pun terlihat jelas dan gagah. Namun, sembari menikmati panorama tersebut, pengunjung sebaiknya tetap memperhatikan langkah karena ada beberapa lokasi yang sudah dipatok tanda “rawan longsor” dan curam. 

Warga lokal yang ramah 

Kebetulan lagi, rombongan saya dan teman-teman tiba di Bukit Argobelah saat pengunjung tak terlalu ramai, meski saat itu bertepatan dengan long weekend. Saya sempat mengobrol dengan pedagang bakso yang sehari-hari mangkal di depan loket. 

“Kemarin waktu hari Kamis (29/5/2025) malah penuh pengunjung Mbak. Kata petugasnya sampai 700 pengunjung,” ujar pedagang bakso tersebut.

Maklum, bukit ini juga baru di buka pada 2024 lalu. Dan menjadi salah satu opsi lain untuk pendaki yang “sudah pernah” ke Kalitang, tapi ingin menikmati pemandangan Gunung Merapi dari sudut yang berbeda.

Tak hanya menikmati pemandangan alam, saya juga sering melihat warga lokal yang bekerja di Bukit Argobelah sedang ngarit rumput, baik ibu-ibu maupun bapak-bapak. Setiap kali melewati mereka, kami tak lupa untuk menyapa atau sekadar pamit. Dan mereka pun akan membalas dengan wajah sumringah: “Monggo-monggo”.

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Lahirnya Bukit Nusantara di Wonogiri dan Pohon Pusaka yang Membuka Siklus 500 Tahunan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 10 Juni 2025 oleh

Tags: Bukit Argobelahbukit di Klatendeles indahgunung merapiklatenrekomendasi tempat wisata
Aisyah Amira Wakang

Aisyah Amira Wakang

Jurnalis Mojok.co asal Surabaya. Pernah menempuh pendidikan di S1 Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Menaruh perhatian pada isu pendidikan, sosial, perkotaan, dan kelompok-kelompok marjinal. Di luar rutinitas liputan mengisi waktu dengan berlari dan menjelajah alam.

Artikel Terkait

Tangan-tanga pembuat apem ya qowiyyu: alasan kue tradisional khas Jatinom, Klaten, tak lekang waktu MOJOK.CO
Eksplor

Tangan-tangan Pembuat Apem Ya Qowiyyu: Alasan Kue Tradisional Jatinom Klaten Tak Lekang Waktu

4 Agustus 2026
Pengelolaan sampah di TPA Troketon oleh Pemkab Klaten. MOJOK.CO
Eksplor

Geliat TPA Troketon: Berpacu dengan Waktu Menjinakkan Bau Sampah dan Air Lindi Jadi Tempat yang Ramah Lingkungan

29 Juli 2026
Dalang cilik perempuan asal Klaten yang menyukai wayang. MOJOK.CO
Eksplor

Jadi Perempuan Satu-satunya di Lomba Dalang Anak Klaten, Bocah 13 Tahun Ini Buktikan Wayang Tak Kenal Gender

22 Juli 2026
KOMSAH: Sejahterakan petani di Klaten. MOJOK.CO
Eksplor

Tinggalkan Profesi Dokter untuk Jadi Penasihat Kelompok Tani, Optimalkan Anugerah Tanah Klaten yang Subur

20 Juli 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kemiskinan DIY menurun. MOJOK.CO

Jumlah Orang Miskin di Yogyakarta Berkurang, Penurunannya Jadi yang Tertinggi di Jawa pada Maret 2026

6 Agustus 2026
Nasirun, pelukis-seniman maestro berpulang dengan meninggalkan ingatan kebaikan MOJOK.CO

Hadiah Lukisan Topeng dari Membetulkan Antena TV dan Laku Hidup Seorang Nasirun

1 Agustus 2026
Derita jadi topping tongkrongan: niat bergaul biar tidak dicap nolep, tapi sering tidak dianggap saat nongkrong MOJOK.CO

Serba-serbi Jadi Topping Tongkrongan: Ikut Nongkrong biar Tak Dicap Nolep, Cuma Jadi Pelengkap dan Tak Dianggap

4 Agustus 2026
Ngenesnya Jadi Dosen di Rezim Formalistik: Ikut Menyusun Regulasi Negara, Malah Dianggap Tak Bekerja MOJOK.CO

Ngenesnya Jadi Dosen di Rezim Formalistik: Ikut Menyusun Regulasi Negara, Malah Dianggap Tak Bekerja

5 Agustus 2026
Pengamen di Jalan Malioboro Jogja kayak orang malak MOJOK.CO

Saya Jauh Lebih Rispek ke Pengamen Lampu Merah di Jogja daripada Pengamen Malioboro karena Dua Alasan

6 Agustus 2026
Mie Gacoan, desa. MOJOK.CO

Mie Gacoan Oleh-Oleh Wajib Saat Pulang Kampung: Tak Peduli Sudah Dingin dan Keras, Tetap Dinikmati demi Gengsi dan Validasi

5 Agustus 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.