Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Kilas

Skor Seri: Jokowi Salah Sebut Al-Fatihah, Prabowo Salah Sebut Gelar Kanjeng Nabi

Redaksi oleh Redaksi
5 Desember 2018
A A
Skor Seri: Jokowi Salah Sebut Al-Fatihah, Prabowo Salah Sebut Gelar Kanjeng Nabi

Skor Seri: Jokowi Salah Sebut Al-Fatihah, Prabowo Salah Sebut Gelar Kanjeng Nabi

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Rasanya kita masih ingat betul dengan bagaimana dunia sosial media riuh rendah dengan berbagai argumen dukungan ataupun cemoohan terhadap Jokowi yang salah menyebut Al-Fatihah sebagai Al-Fatekah ketika membuka acara MTQ Nasional ke-27 di Medan pada awal Oktober lalu.

Banyak orang-orang yang tak suka dengan Jokowi, atau setidaknya, orang-orang yang punya preferensi politik untuk mendukung Prabowo, mengolok-olok Jokowi habis-habisan.

“Presiden nggak paham agama.”

“Pantes saja sembarangan mengucap nama surat Quran, maklum, temennya penista agama.”

Dan banyak hinaan-hinaan lainnya.

Para pendukung Jokowi pun tak tinggal diam. Mereka berlomba-lomba memberikan argumen untuk membela Jokowi. Dari mulai argumen tentang aksen lidah, sampai kebiasaan pengucapan bahasa arab sesuai dengan daerah.

Wis, pokoknya seru lah.

Kini, perdebatan seperti itu muncul lagi. Kali ini bukan karena Jokowi, melainkan karena Prabowo.

Saat berpidato dalam acara reuni akbar alumni 212 beberapa hari yang lalu, Prabowo salah mengucapkan gelar Kanjeng Nabi Muhammad saw.

Harusnya Rasulullah Sallaallahu Alaihi Wassalam, namun oleh Prabowo diucapkan menjadi “Sallaallahu hulaihi wassalam.”

“Saudara-saudara sekalian, salawat dan salam kita tujukan kepada junjungan kita, baginda nabi besar Muhammad Rasulullah hullaihi wassalam, yang telah memberi kita agama dan peradaban,” begitu ujar Prabowo.

Kesalahan trsebut tentu saja langsung menjadi bulan-bulanan utamanya oleh para pendukung Jokowi.

“Kelompok yang katanya islami, tapi presidennya kayak gini.”

“Berdiri di hadapan banyak orang islam, berpidato, tapi tidak becus menyebut gelar nabi junjungan umat Islam.”

Iklan

Dan olok-olok lainnya.

Sama seperti saat Jokowi salah mengucapkan Al-Fatihah menjadi Al-Fatekah, para pendukung Prabowo pun kemudian berlomba-lomba memberikan pembelaan.

Juru bicara Badan Pemenangan Nasional Prabowo Subianto – Sandiaga Uno, Andre Rosiade, misalnya, mengatakan bahwa apa yang dikatakan oleh Prabowo itu wajar. Andre menyebut Prabowo terselalu bersemangat sehingga sampai salah mengucapkan gelar nabi.

Yah, dia kesalahan ucap yang dilakukan oleh dua calon presiden ini seharusnya menjadi pelajaran yang berharga. Bahwa sejatinya, dua calon presiden tidak ada yang jauh lebih islami dibandingkan yang lain. Keduanya sama-sama pernah berada dalam titik tidak becus menyebut istilah penting dalam Islam.

Jokowi tidak lebih Islami dari Prabowo walaupun calon wakil presiden yang mendampingi dirinya adalah seorang kiai. Begitu pula dengan Prabowo yang tidak lebih Islami dari Jokowi walaupun ia didukung oleh banyak ulama dan habaib.

Maka, betapa bodohnya orang yang sampai berdebat dengan orang lain demi mengklaim bahwa Jokowi atau Prabowo jauh lebih islami.

Sampai di sini paham?

jokowi prabowo

Terakhir diperbarui pada 11 Desember 2018 oleh

Tags: jokowiprabowo
Redaksi

Redaksi

Artikel Terkait

Museum Ibu Marsinah jangan berhenti sebagai simbol, tapi negara harus serius pikirkan kesejahteraan kaum buruh MOJOK.CO
Tajuk

Museum Ibu Marsinah Jangan Berhenti sebagai Simbol, Tapi Kesejahteraan Buruh Harus Benar-benar Dipikirkan

18 Mei 2026
Mens Rea, Panji Pragiwaksono sebagai Anak Abah, dan Bahaya Logika Fanatisme MOJOK.CO
Esai

Mens Rea, Pandji Pragiwaksono sebagai Anak Abah, dan Bahaya Logika Fanatisme

12 Januari 2026
kapitalisme terpimpin.MOJOK.CO
Ragam

Bahaya Laten “Kapitalisme Terpimpin” ala Prabowonomics

21 Oktober 2025
Kereta Cepat Whoosh DOSA Jokowi Paling Besar Tak Termaafkan MOJOK.CO
Esai

Whoosh Adalah Proyek Kereta Cepat yang Sudah Busuk Sebelum Mulai, Jadi Dosa Besar Jokowi yang Tidak Bisa Saya Maafkan

17 Oktober 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

buku remy sylado.MOJOK.CO

Mendobrak Fiksi Sejarah Jawa-sentris lewat Inani Keke dan Trabar Batalla, Harta Karun yang Sempat dianggap “Budaya Rendah”

15 Mei 2026
Pemuda desa 19 tahun lulusan SMK nekat kerja jadi housekeeping di Dubai demi gaji 2 digit karena menyerah dengan rupiah MOJOK.CO

Pemuda Desa 19 Tahun Nekat Kerja di Hotel Dubai: Jaminan Gaji 2 Digit usai Nyerah dengan Rupiah dan 19 Juta Lapangan Kerja

18 Mei 2026
Pekerja Jakarta, WFH, kerja sesuai hobi.MOJOK.CO

Kerja Sesuai Hobi Bikin Menderita: Kita Jadi Tak Lagi Punya Tempat Menenangkan Pikiran Saat Muak dengan Pekerjaan

18 Mei 2026
Narasi optimisme pemerintah berjarak lebar dengan kenyataan kondisi tekanan ekonomi di bawah MOJOK.CO

Jarak Lebar Narasi Optimisme Pemerintah dengan Kondisi Riil Masyarakat: Katanya Ekonomi Baik-baik Saja, Padahal Sebaliknya

20 Mei 2026
Nikah di KUA dianggap murahan. MOJOK.CO

Nikah di KUA adalah Solusi bagi Karjimut karena Gratis, tapi Keluarga Menentang Hanya karena Gengsi dan Dicap Nggak Niat

20 Mei 2026
Penjual Makanan Laris Dikit Dituduh Pesugihan, Kebodohan yang Kita Pelihara dan Rayakan

Penjual Makanan Laris Dikit Dituduh Pesugihan, Kebodohan yang Kita Pelihara dan Rayakan

18 Mei 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.