Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Kilas

Rahasia Kuliner Masyarakat Adat, Minim Bumbu tapi Kaya Rasa

Kuliner yang perlu dilestarikan.

Kenia Intan oleh Kenia Intan
7 September 2022
A A
kuliner masyarakat adat mojok.co

La Ode, alumni Masterchef Indonesia (MCI) musim delapan, memasak 'Manok Pansoh' yang merupakan kuliner masyrakat adat dari Kalimantan Barat. (ANTARA/HO)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Kuliner masyarakat adat memiliki kekayaan rasa yang otentik. Padahal proses pembuatannya tidak memerlukan banyak bumbu maupun bahan-bahan yang mahal. 

Silvy Motoh dari Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN)  menganggap, kuliner masyarakat adat adalah pengetahuan berharga yang perlu dilestarikan. Silvy menjelaskan, ada dua kategori kuliner masyarakat adat, yaitu masakan yang biasa disajikan ketika ritual atau upacara adat (seperti kedukaan, pernikahan, kelahiran), dan masakan untuk konsumsi sehari-hari.

Sajian yang dimasak khusus untuk ritual biasanya memiliki makna tersendiri. Memasak daging sapi, misalnya, hanya daging bagian-bagian tertentu yang dipilih, kemudian disajikan kepada para tetua adat. Berbeda dari masakan harian yang kerap menjadi santapan warga. Penggunaannya sebagai masakan sehari-hari, maka bahan dan proses memasaknya pun cenderung mudah.

Hanya saja, komunitas adat kerap kali tidak percaya diri akan kekayaan kuliner mereka. Mereka berpikir bahwa makanan sehari-hari mereka terlalu sederhana untuk disajikan bagi tamu yang datang dari kota. 

“Ketika kami mengadakan acara di kampung mereka, mereka berusaha keras untuk memasak makanan modern untuk kami,” jelas Silvy. Oleh karenanya, AMAN berupaya memastikan komunitas adat tetap memasak makanan yang biasa dimasak, sehingga mereka merasa dihargai. 

Bahan-bahan mudah diperoleh dan terjangkau

Kuliner masyarakat adat untuk keperluan sehari-hari kebanyakan terbuat dari bahan-bahan yang berada di sekitar mereka tinggal. Tidak jarang bahan-bahan itu diperoleh dengan memetik dari kebun sendiri. Salah satunya, bahan-bahan untuk memasak Rumpu Rampe, makanan adat dari NTT. 

Rumpu Rampe memiliki arti banyak dan beragam. Nama ini cerminan dari bahan-bahan pembuatanya yang memang banyak sekali. Mama Siti, warga asli NTT, menambahkan, tidak ada bahan sayuran yang wajib digunakan untuk memasak Rumpu Rampe. Apa saja yang ada di kebun boleh ditambahkan. 

“Karena itu, mencari bahannya tidak susah. Tinggal petik saja dari kebun sendiri. Tapi, yang umum digunakan adalah campuran dari daun pepaya, bunga pepaya, jantung pisang, dan daun ubi atau daun singkong. Semua tinggal direbus, lalu diiris-iris dan diberi bumbu,” jelas Mama Siti.  

Kuliner adat yang berasal dari Sulawesi Tengah, Uta Kelo, juga terdiri dari bahan yang mudah diperoleh dan ramah di kantong. Panganan yang mirip sayur lodeh itu sama-sama menggunakan terong dan santan. Uniknya, Uta Kelo menggunakan daun kelor dan daun pisang mentah. 

Silvy menjelaskan, kuliner adat kebanyakan memang menggunakan bahan-bahan yang ada di sekitar mereka. Sehingga lebih sederhana dan ramah lingkungan. Dalam memasaknya pun tidak memerlukan minyak goreng maupun peralatan mewah. Cukup kayu bakar dan pembungkus alami, seperti bambu dan daun pisang. 

Kuliner masyarakat adat yang minim bumbu tapi kaya rasa

Rata-rata kuliner masyarakat adat dimasak dengan bumbu minimalis. Silvy yang berasal dari Sulawesi Tengah bercerita, di kampungnya hanya ada tiga bumbu andalan yaitu garam, daun jeruk purut, dan cabai rawit, termasuk untuk memasak daging sapi. 

“Masakan terasa sangat enak, karena menonjolkan rasa alami dari bahan segar,” jelas dia. Bahkan, masyarakat di daerahnya dulu tidak mengenal bawang. Baru beberapa waktu terakhir, banyak modifikasi makanan dengan menambahkan bumbu bawang. 

Silvy juga mencontohkan bumbu ulat sagu di Halmahera, Maluku, yang hanya menggunakan bawang merah, garam, dan cabai rawit. Bahkan terkadang dimakan tanpa bumbu, hanya dibakar begitu saja. Hal serupa juga dilakukan oleh warga Kalimantan atau Sulawesi ketika memasak ular sawah. 

Untuk Uta Kelo, walaupun masakannya mirip dengan sayur lodeh, bumbu-bumbu yang digunakan jauh lebih sederhana. Hanya perlu bawang merah dan cabai rawit. Cita rasa yang dihasilkan pun cenderung gurih dan pedas. Rasa manis alami didapat dari daun kelor. Yang menarik, tekstur dan rasa pisang mentah yang ketika matang jadi seperti kentang. 

Iklan

Memasak Rumpu Rampe tidak kalah simpel. Cukup menggunakan garam, bawang merah, bawang putih, dan cabai yang dihaluskan. Kemudian, ditumis dengan daun jeruk. Walau penggunaan bumbunya sederhana, Rumpu Rampe memiliki cita rasa pahit, asin, manis, pedas yang menyatu. Campuran rasa ini mencerminkan Rumpu Rampe yang sering kali disajikan ketika ada acara kumpul-kumpul, seperti kumpul keluarga besar, arisan, atau saat menyambut tahun baru. 

“Rumpu rampe berfungsi sebagai pelengkap makanan saat acara, disajikan dengan berbagai hidangan lain. Kami meyakini makanan ini juga berperan sebagai obat herbal yang dipercaya mencegah malaria,” Mama Siti menambahkan.

Cara memasak yang unik

Kuliner adat memiliki cara memasak yang unik dan sulit diterapkan di tengah masyarakat urban. Seperti memasak makanan adat Kalimantan Barat, Manok Pansoh. Makanan yang satu ini memerlukan bambu. Aroma bambu bakar menjadi salah satu ciri khasnya.

Penduduk urban mungkin agak sulit mereplika Manok Pansoh karena kini tidak mudah lagi mendapatkan bambu. Ditambah lagi, bagi yang tidak terbiasa, membuat perapian dari kayu bakar bisa menjadi hal menantang. Menjaga api tetap stabil pun juga memerlukan trik. Api harus terus ditiup agar tidak mati.

Sementara untuk Rumpu Rampe, tantangannya adalah mengurangi rasa getir daun dan bunga pepaya, tapi tidak sampai hilang sama sekali. Sebab, kalau pahitnya benar-benar hilang, rasanya justru menjadi kurang sedap. Salah satu caranya, bisa diterapkan dengan meremasnya dengan garam agar getahnya jauh berkurang. Setelah itu, direndam dalam air mendidih selama tiga hingga lima menit.

Begitu pula dengan memasak Uta Kelo, memasak daun kelor untuk Uta Kelo perlu benar-benar pas. Kalau terlalu matang, daunnya akan terasa pahit.

Sehat tanpa penyedap

Kuliner adat yang kebanyakan dibungkus daun, seperti daun jati, daun jagung, dan daun pisang memberi aroma khas pada masakan. Ini tidak tergantikan oleh pembungkus makanan lain. Oleh karenanya, makanan masyarakat adat tidak memerlukan aroma sintetis untuk menggoda selera. 

Begitu juga dengan penggunaan perasa alami. Silvy bercerita, warga di kampungnya kerap menggunakan daun kedondong untuk menambahkan rasa asam pada masakan. Fungsinya berbeda dari daun jeruk purut yang hanya sebagai penambah aroma, tapi tidak menambahkan rasa asam. Daun kedondong terasa segar karena tidak perlu melewati pemrosesan apa pun.

“Di samping itu, kuliner masyarakat adat cenderung jarang menggunakan minyak, apalagi dalam jumlah banyak. Misalnya, jika memasak dengan bambu, kita tidak perlu menggunakan tambahan minyak. Minyak yang digunakan adalah minyak alami dari bahan protein, misalnya ayam,” jelas Silvy. 

Memasak dengan cepat juga membuat kandungan vitamin tetap terjaga. Misalnya, memasak Manok Pansoh tak perlu waktu lama karena ayamnya sudah dipotong kecil-kecil. Dengan begitu, sari alami ayam tidak hilang, tapi ayam tetap empuk dan lezat. Sementara daun kelor yang mampu memperbaiki kondisi gizi buruk di NTT juga hanya perlu dimasak sebentar saja.

Pengetahuan kuliner adat tidak boleh dikesampingkan

Kuliner adat merupakan warisan dari nenek moyang yang diharapkan tidak berhenti sampai di generasi tertentu dan perlu dilestarikan. Silvy melihat, selain melalui festival kuliner, maraknya reality show kompetisi memasak bisa menjadi kendaraan yang tepat untuk mempromosikan makanan komunitas adat.

“Misalnya, peserta diminta membuat makanan dari daun kelor. Jangan melulu diminta membuat sesuatu dari bahan impor. Dengan begitu, peserta bisa bantu mempromosikan daun kelor, sekaligus mendorong mereka untuk menggali kembali identitas dirinya yang berasal dari daerah,”terangnya. 

Yang perlu diperhatikan, makanan komunitas adat boleh saja dikomersialkan, asal pemilik pengetahuan akan kuliner tersebut, yaitu Masyarakat Adat, tidak dikesampingkan dan tetap mendapatkan keuntungan.

 “Ini kan pengetahuan mereka. Jangan sampai makanan kaya budaya seperti ini diklaim sebagai menu khas mereka oleh orang yang punya modal besar. Padahal, cara memasaknya sudah dimodifikasi mengikuti selera pasar, sehingga cita rasa aslinya tidak lagi terjaga,” tutupnya. 

Sumber: Rilis Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN)
Penulis: Kenia Intan

BACA JUGA Warung Es Puter Pak Sumijan Lasem: Kemewahan di Balik Uang Rp5 Ribu

Terakhir diperbarui pada 9 September 2022 oleh

Tags: KulinerMasakanmasyarakat adatresep masakantips memasak
Kenia Intan

Kenia Intan

Content Writer Mojok.co

Artikel Terkait

Pegawai Bank Jualan Mie Ayam Malam Hari, Istri Bahagia dan Rumah Idaman jadi Tujuan MOJOK.CO
Kuliner

Kisah Pegawai Bank Jualan Mie Ayam Malam Hari, demi Istri Bahagia dan Rumah Idaman

21 Mei 2026
Seni Bertahan Hidup Penjual Mie Ayam Menghadapi Pindah Harga dan Tangisan di Hari Senin MOJK.CO
Esai

Seni Bertahan Hidup Penjual Mie Ayam Menghadapi Pindah Harga dan Tangisan di Hari Senin

8 Mei 2026
usaha mie ayam wonogiri.MOJOK.CO
Kuliner

Buka Usaha di Luar Pulau Jawa Kerap Gagal Bukan karena Klenik “Dikerjain” Akamsi, Ada Faktor Lain yang Lebih Masuk Akal

6 Mei 2026
5 Kuliner Dekat Stasiun Tugu Jogja yang Sudah Teruji Lidah Warlok, Layak Dicoba Sebelum atau Sesudah Naik Kereta, Mojok.co
Pojokan

5 Kuliner Sekitar Stasiun Tugu Jogja yang Sudah Teruji Lidah Warlok, Layak Dicoba Sebelum atau Sesudah Naik Kereta

27 Maret 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Tempat kerja, Standard Good Looking dan Berpenampilan Menarik yang Diskriminatif dan Merugikan Pekerja Perempuan

Standard Good Looking dan Berpenampilan Menarik yang Diskriminatif dan Merugikan Pekerja Perempuan

3 Juni 2026
Instruksi Belajar Bahasa Prancis: Taktik Genius Mengenal Perjuangan Rakyat Prancis MOJOK,CO

Instruksi Belajar Bahasa Prancis: Taktik Genius untuk Mengenal Perlawanan Rakyat Prancis

1 Juni 2026
Pesona Gerabah Lukis Khas Klaten di Festival Sepeda Internasional, Sukseskan Misi Kebudayaan yang Memukau Bule.MOJOK.CO

Pesona Gerabah Lukis Khas Klaten di Festival Sepeda Internasional, Sukseskan Misi Kebudayaan yang Memukau Bule

4 Juni 2026
Rasyiid, mahasiswa penerima Beasiswa KIP Kuliah UMSURA yang sisihkan uang untuk modal usaha MOJOK.CO

Sisihkan Uang Beasiswa KIP Kuliah buat Modal Usaha, Kuliah Sambil Topang Ekonomi Keluarga hingga bikin Ibu Bangga

2 Juni 2026
Kenapa Hidup di Jogja Membuat Saya Terlalu Santai Menghadapi Tagihan yang Seharusnya Bikin Panik MOJOK.CO

Kenapa Hidup di Jogja Membuat Saya Terlalu Santai Menghadapi Tagihan yang Seharusnya Bikin Panik

3 Juni 2026
Ilustrasi hidup.MOJOK.CO

Sejatinya Manusia Hidup untuk Mengakali Kematian

2 Juni 2026

Video Terbaru

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026
Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

17 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.