MOJOK.COKalau punya uang, silakan kasih utang dengan mengitung semua risiko. Kalau kamu memang mampu dan terutama iklas, jadilah seperti kasih ibu yang “tak harap kembali”. Niscaya….

Sahabat Celenger yang dicintai para peminjam uang karena tidak tega menagih.

Banyak orang yang sejatinya akan tertawa pahit kalau ada yang mengatakan, “Valentine bukan budaya kita. Budaya kita adalah santun saat ngutang, tapi galak saat ditagih.”

Orang yang menertawakan hal tersebut kemungkinannya hanya dua, kalau bukan korban ya pelaku. Sialnya, yang sering terjadi kemudian, orang yang memberi utang malah lebih sering dirundung malu.

“Halah, cuma setengah juta doang. Ikhlasin aja uang segitu. Harta nggak dibawa mati kok….”

Ngeselin banget!

Disebut bukan uang gede, kok ya inget kerasa banget kalau pas tidak punya uang dan pengin jajan mahalan dikit. Kalau ditagih dan diingatkan lagi dan lagi kok malah kesannya kita yang mata duitan dan tidak ikhlas. Ngenesss bet. Kalian yang pernah berada di situasi tersebut pasti pengin teriak dalam hati: “Bajingan!”

(yahh… kok dalam hati sih. Nanggung, nggak ada yang denger)

Sialnya, kita kerap berada dalam situasi yang sungguh pelik. Teman yang sekian tahun tidak bertukar kabar, tiba-tiba menelepon. Seneng sih seneng, tapi begitu dia menanyakan kabar, kita sudah deg-degan. Kalian sering mengalami situasi seperti ini? Media sosial semakin memudahkan peristiwa seperti itu terjadi.

“Bro, nggak enak nih sebenarnya mau ngomong. Tapi bagaimana lagi….”

Kalimat seperti itu, secara statistic, derajat keyakinannya sebesar 95% kalau si penelepon hendak utang. Berikutnya tinggal kemampuan kita untuk mengelak, menolak, atau malah mengabulkan. Itu sungguh berat!

Apalagi kalau sambil sambat utang buat orang tuanya yang sakit, anaknya yang memerlukan makanan tambahan, atau hal-hal menyentuh hati lainnya. Hati nurani kalian sebagai manusia akan digempur habis-habisan. Perasaan seperti dibenturkan dengan kalimat, “Kalau menolak memberi pinjaman sementara ada dan mampu, alangkah kejamnya kamu sebagai manusia.”

Dalam soal utang piutang, menolak atau mengabulkan sebenarnya sama baiknya. Tinggal pertimbangan apa yang akan kita gunakan. Mau menggunakan pertimbangan ilmu agama, psikologi, atau ekonomi sebenarnya sama baiknya. Semua menuntut pemahaman lebih dan mensyaratkan kemampuan mengelola risiko. Apalagi jika sudah mulai timbul perselisihan.

Orang yang memahami agama dengan baik bisa jadi malah akan mengatakan, “Menagih utang itu wajib, karena ada unsur mengingatkan seseorang agar tidak khilaf. Tetapi harus diingat juga itu dapat mengurangi rezeki jika dilakukan dengan cara-cara yang kurang baik.”

Baca juga:  Utang Luar Negeri Indonesia Tembus Rp 5.542 Triliun, Rizal Ramli Sebut Menkeu "Ratu Utang"

Nah lho. Urusannya jadi ribet banget, kan, sebagai pihak yang meminjamkan. Tolong dicatat, agama di sini bukan membicarakan Islam semata ya!

Mengamati dari tinjauan agama, psikologi, hukum, juga ekonomi, seorang pemberi pinjaman posisinya mulia, tapi sebenarnya sungguh mengkhawatirkan. Ini ngomongin tantangannya dulu. Ada hal-hal yang memang harus dipikirkan dan dikelola dengan baik sebelum kita memutuskan menjadi “kreditur”. Karena tidak jarang, derajat si pemberi pinjaman kerap berakhir jadi “donatur”.

Risiko yang terjadi karena adanya utang piutang itu sebenarnya cuma dua: kalau tidak macet, ya pengutangnya ngemplang! Akibatnya yang banyak; silaturahmi rusak, mudah curiga dengan orang yang membutuhkan, konsekuensi hukum, stres, dan merusak rencana keuangan kita.

Mengelola risiko jadi pemberi utang

Pemberi pinjaman harus taat pada prinsip ilmu ekonomi lawas bab utang piutang yang masih saja lestari, yaitu 5C (character, capacity, capital, collateral, dan condition). Itu semua untuk mengelola risiko.

Ringkasnya begini, kita perlu mengetahui keseluruhan kemampuan si peminjam dari informasi yang ada. Itu yang akan menjadi dasar bahwa si pengutang memang layak dipercaya dan mampu mengembalikan utang. Jangan karena 5C yang lain; cinta, cantik, cakep, caem, dan cihuy, semua bisa dianggap lunas, sebulan kemudian diputusin!

Tahu dari mana seseorang memiliki kemampuan membayar utang? Ini agak naif tapi memang harus disebutkan. Kita dapat mengetahui dari cara mengungkapkan dan bagaimana dia hendak menjalankan rencana keuangannya melalui presentasi atau wawancara.

Itu saja? Kok gampang banget kita percaya orang?

Tentu tidak semudah itu, karena kalau melihat dari kemampuan verbal saja banyak orang jadi meninggalkan prinsip kehati-hatian. Idealnya tetap seperti kalau pihak bank mau memberikan kredit. Paham kemampuan calon debitur mengelola perusahaan, yakin setelah mengecek laporan keuangannya, menghitung jaminannya di atas nilai utangnya, dan memahami kondisi bidang usaha yang dijalankan calon debiturnya.

Hubungan utang piutang perseorangan tentu bisa dibuat lebih sederhana lagi. Pinjamkan seandainya kita meyakini utang tersebut bakal jadi “utang produktif”. Jangan sungkan menolak kalau memang kita tidak menguasai bidang yang dimaksud oleh si peminjam.

Contoh kasus. Urusan utang piutang bakal lebih mudah kalau kita pelaku industri kuliner, sementara si peminjam juga meniatkan utangnya untuk usaha kuliner. Mudah dalam arti kita tahu risiko dan potensinya.

Baca juga:  Surat Terbuka untuk Tukang Utang yang Malah Ngegas pas Ditagih

Untuk orang yang memang membutuhkan dan kita tidak sanggup menyebutnya sebagai piutang karena khawatir merusak silaturahmi, berikan di angka yang kita sanggup dan ikhlas seandainya tidak dikembalikan. Itu jauh lebih baik. Bagi yang orang yang religiusitasnya tinggi, ini sudah memenuhi unsur tolong-menolong.

Pendek kata, tidak perlu antipati dengan utang. Banyak kisah sukses orang membangun usahanya berawal dari utang. Orang-orang sukses tersebut membangun usahanya dengan modal kepercayaan dan membayarnya dengan kerja keras.

Itu kalau membicarakan utang produktif. Di keseharian kita, banyak orang yang awalnya ngaku utang untuk usaha, cuma berakhir untuk konsumsi. Sepet betul mendapati kenyataan uang kita digunakan pelesir ke tempat-tempat yang bahkan si pemberi pinjaman belum pernah mengunjunginya atau mencicipi makanan-makanannya.

Itu terjadi betul pada dua teman saya sealmamater yang terlibat dalam utang piutang. Satu memberikan pinjaman uang sekian miliar untuk pengembangan usaha. Lainnya menerima pinjaman untuk kemudian dihabiskan, salah satunya di Amerika Serikat selama sekian minggu.

Sudah bikin kesel, silaturahmi rusak, masih harus meluangkan waktu nagih dan berurusan dengan aparat hukum. Bagaimana seumpama mengenakan bunga rendah di bawah bank, atas nama time value of money, masih tetap dianggap makan uang riba? Risiko seperti itu nyata! Tak jarang pula si pemberi pinjaman masih dikatakan zalim terhadap orang yang membutuhkan, tidak memahami penderitaan, dan tidak mementingkan tolong menolong.

Sahabat Celenger yang kalau ingat uangnya tak kembali ingin misuh tapi berhenti di kerongkongan.

Kejadian-kejadian tak mengenakkan saat memberikan utang itu sungguh…. Heh, jangan misuh, anjing. Kasihan, anjing terus yang digunakan untuk misuh. Sekarang giliran wedhus. Selain tone-nya lebih lembut, dagingnya bisa dikonsumsi secara teratur. Dengan catatan kalian sedang tidak punya utang memperbaiki angka kolesterol yang mengambang tak terkendali.

Ini penting untuk dicatat. Berikan pinjaman hanya saat kita memang punya uang. Kalau tidak punya? Ya berarti giliran kita yang ngutang hahaha…. Hidup tanpa utang piutang kok rasanya seperti langit cerah di waktu malam, tapi tanpa bintang gemintang.

Ya begitulah. Kalau punya uang, silakan berikan pinjaman dengan mengitung semua risiko. Kalau kamu memang mampu dan terutama iklas, jadilah seperti kasih ibu yang “tak harap kembali”. Niscaya….

BACA JUGA Rekening Bersama Itu Bikin Repot, Apalagi Buat yang Masih Pacaran Manggilnya Papah-Mamah atau tulisan Om Haryo lainnya di rubrik pundi-pundi bernama CELENGAN.