Jogja itu Terbuat dari Rindu, Angkringan, dan Mie Ayam

JOKO Pinurbo boleh saja menuliskan Jogja itu terbuat dari rindu, pulang dan angkringan, tapi hipotesis saya tetap tak bisa lepas dari Jogja itu terbut dari rindu, pulang, angkringan dan mie ayam! Apa yang simpulkan ini bukan mengada-ada. Saya mencoba melakukan liputan untuk membuktikan kesimpulan saya ini.

Mungkin tak banyak pelancong yang mengenal Jogja dengan kekhasan mie ayamnya. Tapi perlu diketahui,  Jogja adalah basis pecinta fanatik jenis mie yang dikenal merakyat dan murah ini.

Saya berjumpa dengan Bayu Anggita (22), salah seorang penikmat sejati Mie Ayam. Ia mengaku pernah seminggu penuh menyantap mie ayam di setiap jadwal makan siangnya. Ia sudah menjadi penikmat dan rutin menjelajahi kazanah mie ayam di Jogja sejak duduk di bangku SMA.

Di bawah rindangnya pepohonan daerah Kota Baru sambil menyantap seporsi Mie Ayam Tunggal Rasa Kobar Jaya dengan lahap, ia bercerita banyak hal, mulai dari rekomendasi mie ayam terbaik hingga detail-detail cita rasanya. Hal yang susah keluar dari mulut orang yang jam terbang di dunia mie ayam belum tinggi.

“Aku ki paling seneng kalo nemu mie ayam yang loncangnya bisa nambah, kuah kaldu kuentel, dan tekstur mienya itu lembut, ukurannya sedang, dan kenyal,” jelasnya tanpa keraguan. Untuk perkara rasa, Bayu lebih cenderung suka mie ayam yang asin gurih ketimbang manis.

“Pokoknya Mie Ayam Om Karman dan Mie Ayam Pakdhe Wo itu yang gurihnya pas, topingnya oke, plus kuah kaldunya enak,” tambahnya.

Bayu adalah satu dari ribuan pecinta mie ayam di Jogja. Antusiasme warga Jogja yang tinggi pada mie ayam sepertinya dapat divalidasi dengan menengok grup Facebook “Info Mie Ayam Jogja” yang memiliki lebih dari 108 ribu anggota. Belum lagi akun Twitter “Info Mie Ayam YK” yang hingga awal 2021 sudah memiliki belasan ribu pengikut. Bayu pun mengaku banyak mengetahui rekomendasi mie ayam dari sosial media tersebut.

Baca Juga :

Mengakhiri Perdebatan tentang Mi Ayam, Yamie, dan Mi Bangka di Antara Pemburu Kuliner Yogyakarta

Menariknya, tak ada jejaring virtual pecinta mie ayam serupa sebesar yang ada di Jogja. Di Facebook misal, memang ada sejumlah grup mie ayam dari daerah lain. Tapi jumlah anggotanya jauh jika dibandingkan Info Mie Ayam Jogja. Tak ada grup penggemar yang spesifik daerahnya dan anggotanya lebih dari 10 ribu, kecuali di kota pelajar ini.

Ada nama Veta Perdana Putra di balik grup Facebook dan akun Twitter Info Mie Ayam Jogja. Pria ini  sudah lama menjadi penikmati setia mie ayam. Seperti Bayu, ia juga hafal rekomendasi mie ayam top di Jogja beserta detail-detail cita rasanya. Mana yang cenderung gurih dan asin, yang manis, topingya banyak, hingga yang paling ekonomis.

Pengetahuan dan intensitasnya berbagi informasi di grup Facebook yang berdiri sejak 2015 itu membuat Veta didapuk jadi admin. Merasa ingin lebih jauh mewadahi para pecinta mie ayam Jogja, Veta kemudian membuat akun twitter Info Mie Ayam YK pada 2016.

“Kalau di Facebook kan bukan saya inisiatornya, nah Twitter ini saya yang buat dan kelola sendiri. Kalau di Twitter ini lebih banyak penggembar mie ayam dari kalangan anak muda,” jelas Veta lewat sambungan telefon.

Sebagai penggemar berat mie ayam, Veta pun mengaku pernah mengalami masa di mana hampir setiap hari menyantap mie ayam. Namun usia yang sudah kepala tiga dan berat badan yang mulai menanjak membuatnya sedikit khilaf.

“Dulu tu ya mas, setiap istirahat makan siang pas kerja larinya ke mie ayam, sekarang udah ngontrol sedikit biar badan gak melar banget. Pas akhir pekan aja lah,” tuturnya sambil sedikit tertawa.

Meski jadi orang yang memiliki andil besar dalam perkembangan jejaring virtual penikmat mie ayam di Jogja, Veta mengaku bingung kenapa bisa banyak sekali yang antusias. Sebab pengelolaan media sosialnya hanya seadanya dan tak berlandaskan profit. “Bukan buzzer makanan,” ia menyebutnya.

Veta dan pengelola grup Facebook melakukan hal ini berlandaskan hobi saja. Konten yang dibagikan pun banyak yang dari para warganet. Kendati begitu, arus pertukaran informasi tentang mie ayam sangat tinggi.

Walaupun sebenarnya Jogja bukanlah daerah yang dikenal dengan corak menu mie ayam yang khas. Seperti yang dimiliki Wonogiri, Solo, maupun daerah lain yang dikenal memiliki corak khusus pada mie ayamnya. Veta memiliki satu hipotesis mengenai banyaknya penikmat mie ayam di Jogja, yang justru karena keberagaman ciri khas dari masing-masing penjual yang ada.

Baca Juga : Pemburu Mie Ayam Sejati Tidak Akan Pilih-pilih Soal Mie Ayam

Jika ditelusuri lebih lanjut, ada satu daerah yang memiliki kekhasan mie ayam di Jogja yakni Jati Ayu, Gunung Kidul. Dari sanalah muncul berbagai penjual mie ayam dengan embel-embel Jati Ayu di belakang nama brand mereka. Salah satu yang paling populer dengan ratusan porsi terjual tiap harinya adalah Mie Ayam Bu Tumini Sari Rasa Jati Ayu yang dikenal khas kuah kental dan cita rasa manisnya.

Kalau menurut pengamat kuliner sekaligus dosen Tata Boga Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Dr Minta Harsana, mie ayam itu ekonomis dengan porsi yang cukup untuk mengganjal perut. Hal itu sesuai dengan kultur Jogja yang sederhana. Lebih tepatnya butuh hemat, karena UMR nya rendah hahaha.

Sebab ada tiga hal yang memengaruhi kecenderungan seseorang untuk menentukan destinasi kulineran. Yakni harga, porsi, dan rasa. Ditambah faktor penentu lain yaitu aksebilitas tempat makan yang dituju.

Beliau menambahkan bahwa menu kuliner yang akarnya berasal dari Tiongkok ini di Indonesia dikenal merakyat. Bahkan menurutnya, warna biru yang identik dengan gerobak mie ayam memiliki arti tersendiri yang melekat pada budaya makan mie ayam.

“Warna biru memiliki panjang gelombang yang pendek sekitar 450 sampai 490 nanometer. Artinya, warna biru memiliki kemampuan untuk meminimalisir partikel angin dan debu sehingga tidak mudah kotor.”

Tidak mudah kotor di situ menjadi penting dikarenakan gerobak mie ayam kerap berkeliling di jalanan. Ataupun mangkal di pinggir jalan sehingga memang perlu warna yang tidak mudah terlihat kusam.

Identitasnya yang dekat dengan kerasnya jalanan inilah yang mungkin membuat mie ayam lebih merakyat. Meski begitu, kalau ditanyakan langsung pada penjual mie ayam rata-rata alasan menggunakan warna biru karena kebiasaan yang sudah ada turun temurun.

Apapun itu alasan yang menjadikan mie ayam begitu digemari di Jogja, yang jelas membuat roda perekonomian semakin baik. Terlebih bagi para penjual mie ayam. Mie Ayam Tunggal Rasa, tempat saya mewawancarai Bayu saja sehari bisa habis 300 porsi.

“Antusiasme orang Jogja besar sekali kalau makan mie ayam,” jelas Sugiono sang pemilik warung. Belum lagi Mie Ayam Bu Tumini, yang nyaris tak pernah sepi sepanjang hari.

Saya iseng mencari di grup facebook informasi tentang angkringan menggunakan kata kunci “Angkringan Jogja”. Salah satu yang muncul dengan anggota paling banyak adalah Info Angkringan Jogja.

Anggotanya sekitar 19 ribu anggota. Jauh dari jumlah anggota di grup facebook Info Mie Ayam Jogja yang ketika tulisan ini dibuat berjumlah 108.000 anggota. Kiranya tak salah jika saya merevisi sedikit istilah populer, “Jogja Itu Terbuat dari Rindu, Pulang, dan Angkringan” dengan menambahkan Mie Ayam!

Baca Juga : Rekomendasi Mie Ayam di Jogja Versi Info Mie Ayam YK