Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Menanti Polisi Tidur versi Gus Dur Ikut Bersuara soal Prosedur

Polisi tidur adalah polisi unik. Secara fungsi, bisa masuk jajaran Korps Lalu Lintas Kepolisian, namun citranya agak beda sama teman-temannya yang bangun.

Suandri Ansah oleh Suandri Ansah
18 Oktober 2021
A A
Menanti Polisi Tidur versi Gus Dur Ikut Bersuara soal Prosedur Brigadir Sony yang Dipukul Kapolres Nunukan Minta Maaf kepada Pelaku mojok.co
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Dari tiga polisi jujur versi Gus Dur, masih ada satu yang layak dikomentari panjang lebar karena kadang menyebalkan, yakni polisi tidur.

Ada anekdot terkenal dari almarhum K.H. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur yang menyentil perilaku institusi kepolisian, yakni polisi baik itu cuma tiga. Pak Hoegeng almarhum bekas Kapolri, patung polisi, dan polisi tidur.

Saat Gus Dur melontarkan guyonan tersebut pada 2008, negara sedang mengalami sengkarut kasus besar korupsi BLBI dan Bank Century yang belum tuntas hingga kini.

Anekdot polisi tidur ini muncul ketika Muhammad AS Hikam, penulis buku Gus Durku, Gus Dur Anda, Gus Dur Kita (2013) sowan ke kediaman Gus Dur. Keduanya berbincang soal dinamika penegakan hukum yang sedang digerumuti praktik korupsi.

Di tengah-tengah perbincangan, Gus Dur yang terkenal nakal tapi banyak akal itu menyelipkan sebuah guyonan yang direfleksikan dari perilaku institusi penegak hukum berseragam sejak Orde Baru.

“Nah, Polri memang sudah lama menjadi praktik kurang bener itu, sampai guyonan-nya kan hanya ada tiga polisi yang jujur: Pak Hoegeng, patung polisi, dan polisi tidur…,” kata Gus Dur saat itu.

Nah, dari tiga polisi yang disebut Gus Dur itu, saya pikir masih ada satu polisi yang masih menyebalkan dan layak dikomentari meski ia masuk kategori jujur, yakni polisi tidur.

Meski kerja polisi tidur cuma tidur (ya iya laaah, menurut ngana?), tapi tak bisa diabaikan bahwa polisi ini tetaplah pranata umum sipil yang amat penting dalam menjaga ketertiban dan keamanan masyarakat.

Polisi tidur adalah polisi yang paling unik. Secara fungsi, polisi ini bisa masuk jajaran Korps Lalu Lintas Kepolisian. Namun, struktur kepangkatan dan garis komandonya barangkali berada di bawah prajurit pertahanan sipil alias Hansip yang merupakan ujung tombak Hankamrata di lingkungan masyarakat terkecil.

Sudah jadi kesepakatan umum bahwa Korps Lalu Lintas merupakan polisi yang paling menyebalkan. Korps ini dikenal sebagai aparat yang gemar mencari-cari kesalahan pengendara. Berkas berkendara komplit, helm SNI, spion sempurna sepasang, lampu nyala, eh ya tetap ditilang… karena tutup pentil hilang satu—misalnya.

Saking sebalnya, ada mural paling terkenal bergambar polisi lalu lintas memegang pilok dan menulis “Damai itu indah Rp20.000”.

Tentu saja Kepolisian terus berbenah dan memperbaiki layanan institusi agar semakin dipercaya publik. Misalnya saja dengan menerapkan sistem tilang elektronik berbasis kamera CCTV untuk meminimalisir pungli. Pembukaan gerai-gerai Samsat untuk memudahkan pengurusan dokumen kendaraan.

Namun, betapa hebatnya reformasi birokrasi di kepolisian tetap saja tidak menghilangkan praktik nakal dari polisi jujur versi Gus Dur ini. Fisiknya ada dan jumlahnya terus berlipat ganda seiring meningkatnya jumlah kendaraan bermotor di Indonesia. Bila dulu satu kompleks atau gang hanya tiga, sekarang satu gang bisa ada satu regu polisi.

Mending kalau kerjanya individu, tak jarang polisi tidur bertugas secara kelompok beranggotakan tiga sampai lima petugas. Saking luasnya wilayah kerja mereka, bisa saja satu RW ada satu pleton polisi.

Iklan

Keberadaan polisi beregu ini terpaksa membuat pengendara mengalami grunjalan berkali-kali. Misuh berkali-kali. Seolah-olah kejutan pertama kurang melegakan lalu ditambahi kejutan kedua, ketiga, dan seterusnya.

Walaupun niatnya baik untuk menindak pengendara ugal-ugalan, tapi tak jarang pula keberadaan polisi tidur malah jadi sumber penderitaan.

Asal Anda tahu, polisi yang sempat dipuji Gus Dur ini adalah musuh utama penggemar Scoopy, Mio dan Beat. Sesantai-santainya gas diputar tetaplah gesrek jua. Baku hantam tak bisa dielakkan sehingga kadang perlu memakan korban onderdil.

Kalau tragedi sudah terjadi korban hanya bisa pasrah. Sebab, sampai sekarang tak ada lembaga peradilan yang bisa menghakimi polisi tidur. Mau mengadu ke Propam pun hanya akan ditertawakan.

Sudah begitu, kalaupun mau ada pencopotan jabatan atau sanksi untuk polisi tidur, baru bisa dilakukan bila jumlah korban yang berjatuhan makin menakutkan. Itu juga bergantung pada kebijakan otoritas setempat, Pak RT misalnya.

Seyogyanya, cukuplah satu gang dua atau tiga saja. Agar kerja polisi tidur efektif, lengkapilah dengan perangkat visual bertuliskan “Awas Ngebut, Kepala Benjut” atau “Gas Digeber, Siap-Siap Tulang Rusuk Geser”.

Bacalah panduan dari Kementerian Perhubungan supaya perekrutan (baca: desain) dan penugasan (penerapan) polisi tidur tidak sembarangan.

Hal semacam ini penting karena polisi tidur yang ramah kendaraan akan menambah tingkat kepercayaan publik terhadap institusi kepolisian, ya setidaknya pada karakter (((POLISI))) itu sendiri.

Apalagi saat ini kepolisian sedang mengalami krisis kepercayaan dengan maraknya tagar #PercumaLaporPolisi dan kasus #Smackdown mahasiswa. Polisi jujur versi Gus Dur ini, meskipun mereka nonkesatuan, namun mereka bisa membalikkan keadaan, menumbuhkan kembali kepercayaan publik.

Saya pikir polisi tidur layak membela rekan-rekannya yang pada bangun itu. Sudah saatnya polisi tidur ikut bersuara, tidak hanya lewat aksi-aksi nyata tapi juga lewat postingan dan tagar-tagaran di media sosial.

Ya karena, kita tahu, betapapun menyebalkannya polisi tidur, ia tak pernah melakukan pelanggaran HAM, tak pernah menembakkan gas air mata, tak punya kendaraan taktis semacam water cannon, tak mentung apalagi membanting—kalau menyebabkan orang terbanting iya.

Polisi tidur juga tak pernah salah tangkap, tak pernah keliru menindak pelanggar, tak pernah menyalahgunakan jabatan, dan tak pernah sekalipun nyerang akun pribadi netizen yang banding-bandingin kinerja kepolisian sama satpam BCA.

Cuma satu saja masalah laten polisi tidur: tak pernah mau minta maaf kalau misalnya jadi penyebab kecelakaan.

Oleh sebab itu, dari semua jenis matra tagar di media sosial, sebenarnya hanya polisi tidurlah yang paling memungkinkan menggemakan tagar #PolriSesuaiProsedur. Sebab walaupun mereka tidak sempurna-sempurna amat, tapi setidaknya kesalahan yang dilakukan korps polisi ini memang betul-betul dilakukan oleh oknum, bukan mayoritas.

Meski ya sebaiknya bukan #PolriSesuaiProsedur sih tagar yang diviralkan, tapi #PolisiTidurSesuaiProsedur.

BACA JUGA 3 Alasan Polisi Tidur Dihapuskan Saja dari Muka Bumi atau tulisan Suandri Ansah lainnya.

Terakhir diperbarui pada 18 Oktober 2021 oleh

Tags: Gus DurHamMahasiswaPolisipolisi tidurprosedursatpam BCAtagarviral
Suandri Ansah

Suandri Ansah

Asli Boyolali, tinggal di Jakarta.

Artikel Terkait

Mahasiswa gen Z kuliah malas baca jadi brain rot
Sekolahan

Mahasiswa Gen Z Bukan Tak Bisa Membaca, tapi “Brain Rot” karena Sering Disuapi dan Kecanduan AI

23 April 2026
Alasan Gelar Sarjana Tak Lagi Jadi Jaminan Mudah Dapat Kerja MOJOK.CO
Esai

Alasan Gelar Sarjana Tak Lagi Jadi Jaminan Mudah Dapat Kerja

20 April 2026
Meminta Dosen-Mahasiswa Jalan Kaki ke Kampus ala Eropa: Antara Visi Elit dan Realitas yang Sulit MOJOK.CO
Esai

Meminta Dosen-Mahasiswa Jalan Kaki ke Kampus ala Eropa: Antara Visi Elite dan Realitas yang Sulit

10 April 2026
Kerja di Pabrik, Kuliah S2, dan Dihajar Asam Lambung MOJOK.CO
Esai

Kerja di Pabrik, Kuliah S2, dan Dihajar Asam Lambung

6 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

pasar wiguna.MOJOK.CO

Pasar Wiguna Sukaria Edisi 102 Padati Vrata Hotel Kalasan, Usung Semangat “Wellness” dan Produk Lokal

26 April 2026
Semifinal Kompetisi Basket Campus League musim perdana Regional Surabaya hujan skor. Universitas Surabaya (Ubaya) jadi raja Jawa Timur MOJOK.CO

Basket Campus League 2026: Jadi Pembuktian Kesolidan Tim Timur dan Label Ubaya sebagai “Raja Basket Jawa Timur”

29 April 2026
Pelatihan skill digital IndonesiaNEXT Telkomsel berdampak bagi kesiapan kompetensi untuk terjun industri MOJOK.CO

Pelatihan SKill Digital IndonesiaNEXT Ubah Mahasiswa Insecure Jadi Skillfull, Bisnis Digital pun Tak Kalah Saing

1 Mei 2026
Dugaan penganiayaan anak di daycare Little Aresha, Sorosutan, Umbulharjo, Kota Jogja MOJOK.CO

Hancur Hati Ibu: Amat Percaya ke Daycare LA Jogja dan Suka Kasih Tip ke Pengasuh, Anak Saya Justru Dibuat Trauma Serius

25 April 2026
UU PPRT Menyelamatkan Manusia dari Perbudakan Modern: Harus Kita Rayakan, Meski Jalan Kemenangan Masih Panjang.MOJOK.CO

UU PPRT Menyelamatkan Manusia dari Perbudakan Modern: Harus Kita Rayakan, Meski Jalan Kemenangan Masih Panjang

27 April 2026
Hidup mati pekerja Jakarta harus tetap masuk, menerjang arus dari Bekasi

Menjadi Guru Honorer di Jakarta Tetap Sama Susahnya dengan di Daerah: Gajinya Cuma Seperempat UMR, Biaya Hidupnya 2 Kali Pendapatan

29 April 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.