Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Selain Minum Starbucks, Harusnya yang Suka Membandingkan Anak Juga Masuk Neraka

Diana Nurwidiastuti oleh Diana Nurwidiastuti
29 April 2018
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Pernah ketemu ortu yang suka membandingkan anak orang lain dengan anaknya? Ini cara selaw untuk menghadapinya.

“Anaknya umur berapa? Udah bisa ngapain aja?”

Rasa-rasanya, tak ada orangtua yang luput dari pertanyaan basa-basi macam ini. Pertanyaan yag biasa dan wajar ditemui, tetapi tetap bisa bikin sensi. Apalagi kalau ketemunya sama orang yang sama-sama bawa anak, pasti pertanyaannya akan merambat pada pernyataan-pernyataan pedes banget sampai karetnya tiga.

“Oh, anakku dulu umur 10 bulan udah bisa jalan,” sambut seorang ibu.

“Oh ya? Anakku umur setahun udah bisa nyanyi ‘Bojo Galak’,” yang lain menyahut.

“Anak pertamaku umur dua tahun udah bisa bikin meme jidat bakpao.”

“Anak keduaku umur tiga tahun dua bulan empat belas hari malah udah punya Youtube channel dengan ribuan followers, Instagram dengan tarif endorse 3 juta per post, dan semuanya dia sendiri yang ngerjain!”

Terusin aja. Terusiiin.

Kalau ada di posisi itu, rasanya kuingin meratap pilu sambil bilang, “Baeklaaa~ Anak kalian semua hebaaaat, sedang anakku hanya rakyat jelata tak berbakat, ia kelak tak bisa ikut kalian ke neraka karena nggak minum setarbak dan hanya sanggup ngopi sasetan. Puas kalian? Puaaas??!11!”.

Punya anak memang jadi momen yang wow magic sekali buat banyak pasangan. Nggak heran lah kalau kemudian semua postingan isinya soal anak melulu. Setiap hal yang dilakukan anak bisa jadi cerita tersendiri. Anak pup di kasur, sebel. Giliran anaknya seharian nggak pup, bingung. Dilongokin terus deh itu bokong, berharap ada segumpal ampas bau yang dalam kondisi tertentu terasa begitu melegakan.

Nggak heran juga kalau kebanggaan punya anak itu kadang berubah menjadi sesuatu yang sangat menyebalkan. Salah satunya dengan membanding-bandingkan.

Sebenarnya, boleh nggak sih membanding-bandingkan anak?

Boleh, boleh banget malah.

Eh, serius?

Iklan

Iya, serius. Yang penting, membandingkannya bukan dengan anak lain, tapi dengan diri si anak itu sendiri. Bandingkan anak saat ini dengan seminggu lalu, sebulan lalu. Pasti ada bedanya. Mungkin sebulan lalu anaknya cuma bisa bilang “maem”, tapi ternyata sore tadi udah bisa berkomentar “Mamaku kerjanya main hape mulu” ketika ditanya tetangga “Mama mana?”.

Dulu saya sempat berada dalam fase krisis kepercayaan diri saat anak saya yang sudah lewat usia setahun belum mau jalan. Sempat agak malas ketemu orang banyak karena pasti nanti dikomentari macam-macam, mulai dari disuruh pakai baby walker sampai anjuran untuk disabet belut biar lekas jalan.

Namun, saya beruntung dikelilingi banyak ibu suportif dan informatif yang menenangkan saya dengan menunjukkan informasi perkembangan anak menurut IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia). Informasi ini menyatakan bahwa ambang batas (red flag) anak belum bisa jalan itu 18 bulan. Artinya, jika sampai usia 18 bulan si anak belum menunjukkan keinginan atau usaha untuk berjalan, baru boleh waspada dan segera konsultasikan ke tenaga kesehatan.

Eh ternyata, anak saya baru mau jalan di usia 16 bulan. Setelah itu kemajuannya pesat sekali. Kini, ia sudah bisa mengejar tukang jualan sambil berteriak “umbaaas” (beli) dan tampaknya sebentar lagi ia akan mengejar hati perempuan.

Saya membayangkan, bagaimana seandainya dalam kurun waktu tersebut saya terus-terusan mengkhawatirkan dan membanding-bandingkan anak saya dengan anak lain seusianya yang lebih maju (harus yang lebih maju ya, namanya juga saingan)? Mungkin dalam masa-masa itu saya akan merasa frustrasi dan uring-uringan. Mungkin juga saya akan merasa dikaruniai anak yang tidak sempurna, meski selama ini ia begitu sehat dan penuh tawa. Mungkin hari-hari saya akan dipenuhi gerutuan, dan sikap saya ke anak serta keluarga akan jadi buruk dan bad mood berkepanjangan.

Belum lagi gempuran teori parenting berbagai aliran dengan contoh anak-anak pintar, cakap, berbakat, dan multitalenta yang ditampilkan. Rasa-rasanya ingin semua teori itu kita terapkan pada anak kita, tapi ternyata pas dicoba justru menimbulkan kecewa karena hasilnya tak seindah harapan. Seperti memimpikan Lee Min Ho tapi yang hadir adalah Vicky Prasetyo. Adek kecewa~

Terus gimana dong caranya menghadapi pertanyaan basa-basi yang bikin sensi itu? Apakah boleh kita curhat no-mention di Facebook disertai hashtag #buatyangmerasaaja?

Gampang. Dengerin aja. Senyumin aja. Iya-iyain aja. Biar cepet kelar. Wkwkwk.

Etapi serius, soalnya kalau orang tipe-tipe kompetitif gitu, makin dijawab dia akan makin merasa tersaingi. “Enak aja kau menang, tak bisaaa…,” gitu pikirnya. Maka ia akan mengerahkan segala daya dan upaya untuk menjadi yang terdepan seperti Komeng dan Yamaha. Makanya, iya-iyain aja. Itu sudah paling aman.

Setelah itu, lanjutkan hidup seperti tidak terjadi apa-apa. Maraton drakor seperti biasa dan belanjalah di warung tetangga. Anggap semua pertanyaan tadi hal yang wajar dan b ajah. Hidupmu udah terlalu pusing mikirin cicilan dan kapan cebong-onta akan baikan. Btw, masa mereka kalah ya ama Korut-Korsel yang udah salaman? Hih.

Ya begitulah, hidup memang akan terasa melelahkan kalau semua hal dikompetisikan. Kompetitif boleh, tapi jika harus menyeret orang lain untuk ikut kompetisi dalam segala hal, kok ya sedih betul hidup ini. Toh sejatinya hidup ini seperti bercinta. Kalau digas terus, keseleo yang ada. Jadi, kapan mau ena-enanya, Cinta?

Terakhir diperbarui pada 29 April 2018 oleh

Tags: anak mulai jalan di usiamembandingkan anaknerakaparentingstarbucks
Diana Nurwidiastuti

Diana Nurwidiastuti

Artikel Terkait

Sisi Gelap Orang Tua Hebat: Hasilkan Generasi Rapuh yang Lembek Hadapi Kerasnya Dunia MOJOK.CO
Esai

Sisi Gelap Orang Tua Hebat: Hasilkan Generasi Rapuh yang Lembek Hadapi Kerasnya Dunia

8 Juni 2026
Anak Tantrum di Kereta Ekonomi bikin Saya Iba ke Ortu. MOJOK.CO
Catatan

Tangisan Anak Kecil di Kereta Ekonomi Bikin Saya Sadar di Usia 25, Betapa Kasih Ibu Diuji Lewat Rasa Lelah

11 Mei 2026
orang tua, ortu temani anak utbk ugm.MOJOK.CO
Sehari-hari

Jangan Minder Kalau Kamu Belum “Jadi Orang” di Usia 30-an, Itu Masuk Akal Secara Biologis dan Sosial

11 Februari 2026
kecanduan gadget pada anak. MOJOK.CO
Ragam

Petaka yang Terjadi Saat Orang Tua Sibuk Mengejar Dunia dan Anak yang Terlalu Sering Menggunakan Gawai hingga Candu

7 Januari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

pekerja kantoran.MOJOK.CO

Akal-akalan “Kantor adalah Keluarga”, Menguras Mental dan Menggerogoti Karier

4 Juni 2026
Nestapa Anjing di Jogja: Dibuang Sarjana yang Baru Wisuda atau Jadi Sengsu di Atas Meja MOJOK.CO

Nestapa Anjing di Jogja: Dibuang Sarjana yang Baru Wisuda atau Jadi Sengsu di Atas Meja

8 Juni 2026
Para Jagal Anjing di Jogja dan Mitos yang Terus Dipelihara.MOJOK.CO

Para Jagal Anjing di Jogja dan Mitos yang Terus Dipelihara

8 Juni 2026
Curhat dan ziarah di makam ibu, tempat terbaik pulang tanpa penghakiman MOJOK.CO

Curhat di Makam Ibu Dianggap Lebay dan Sia-sia, Tapi Jadi Tempat Pulang Terbaik yang Penuh Makna dan Rasa Lega

5 Juni 2026
Pengalaman Kuliah di Polandia, Eropa Sambil Jadi Tour Guide. MOJOK.CO

Pengalaman Kuliah di Eropa Sambil Jadi Tour Guide bikin Enggan Kembali ke Tanah Air, tapi Tak Ada Jalan Lain Selain Pulang

4 Juni 2026
Peserta nyentrik gowes ke Klaten untuk ikut KLIC Fest 2026. MOJOK.CO

“Onthelis” dari Nusantara Rela Gowes Berhari-hari dengan Sepeda Tua Guna Misi Kebudayaan yang Memukau Para Bule

3 Juni 2026

Video Terbaru

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026
Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

17 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.