Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Mengasihani Orang yang Tidak Tahu bahwa Dia Tidak Tahu

Siti Maryamah oleh Siti Maryamah
14 Agustus 2017
A A
gaya-makan-mojok

gaya-makan-mojok

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Mari kita bayangkan detail keseharian ibu beranak satu.

Mengikuti dan diikuti bocil ke mana pun pergi karena si bocil nggak punya sejawat lain. Tak ada pengawal pribadi yang lebih setia daripada bocil ini. Termasuk setia ngintil sampai ke kamar mandi.

Drama kamar mandi adalah drama yang setia menemani si ibu tiap hari. Memenuhi panggilan alam paling darurat disaksikan pandangan mata berkaca-kaca setelah tangisan membahana dari sang pengawal setia adalah hal biasa. Yang belum pernah ngerasain, silakan membayangkan, hahaha.

Menyusui anak serasa nggak pernah selesai. Segala hajat diri harus ditunda demi urusan satu ini. Haus, lapar, keringatan butuh mandi, terima paket dari kurir, belanja di satu-satunya tukang sayur yang pas lewat, kebelet pipis, kebelet pup, semua ditunda sampai batas waktu yang tak bisa ditentukan. Inilah horor yang tak pernah difilmkan.

Kalau si bocil sudah mulai makan, telapak tangan sering jadi kanebo kering karena sisa nasi yang menempel. Kaku. Acara makan ini sering juga jadi ajang adu ketangkasan si ibu masukin sendok ke mulut bocil versus ketangkasan si bocil menepisnya.

Kalau si ibu lagi ada nggak seimbang hormonnya, acara itu kadang diakhiri dengan nangis bareng. Oleh sebab yang berbeda, tentu saja.

Kalau si bocil mulai bisa pecicilan, segala kerjaan hanya bisa dilakukan menunggu dia tidur. Soalnya, meleng sedikit, si bocah bisa masuk parit.

Maka, sambil menyusui, si ibu mendata semua pekerjaan yang akan dihajar setelah si bocil lelap. Mandi, cuci baju, cuci piring, beberes, nyapu, masak, ngepel, angkat jemuran, jemur cucian, nyeterika, ngurus orderan, dandan, dan fesbukan. Semua itu akan dilaksanakan dengan cara saksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Rencananya.

Tapi rencana sering tinggal rencana. Yang terjadi kemudian, si bocil terlelap sementara, ibunya terlelap sementahun.

Atau: si ibu tepar kelaparan, si bocil yang telah kenyang punya stamina tambahan buat pecicilan maksimal.

Atau yang mendingan: si bocil tidur, si ibu nyetatus, minta pertimbangan pada dunia, mana kiranya pekerjaan yang harus diselesaikan duluan. Lalu seluruh dunia gegap gempita memberikan saran, dan si ibu berbalas komen sampai keasyikan, lalu si bocil bangun dan mulai lagi pecicilan. Sip.

Semua kerjaan masih utuh, waktu yang terbuang tak bisa kembali, perut sendiri minta diisi, dan si bocil full batery buat pecicilan lagi. Asoy sekali.

Atau begitu si bocil tidur, si ibu dengan sigap membereskan segala keruwetan sampai titik iler penghabisan. Lalu semua prestasi itu di-upload di medsos, dan komen pertama ternyata berbunyi, “Gitu doang kok pamer. Biasa aja keles. Anak baru satu juga, apa susahnya?”

Si ibu jadi pengin meremas hape seorang-orangnya.

Iklan

Pada beberapa orang, kadang ada horor tambahan. Bagaimana mungkin setelah semua kelelahan yang so much, so hard, and so constantly macam begini, badan malah melebar segede metromini? Bagaimana bisa? Eta terangkanlah ….

Pengalaman ibu beranak satu yang demikian memang nyata, konkret, dan empiris. Akurat, valid, dan sahih. Memang begitu adanya. Begitu memang adanya. Adanya memang begitu.

Tapi, jika validitas dan kesahihan pengalaman itu mengungkung begitu rupa, sampai si ibu berpikir, tak mungkin terjadi yang selain itu, ketika lagi mainan Facebook, lalu si ibu menemukan cerita-cerita yang berkebalikan, si ibu akan meragukannya dan membantahnya ….

***

Kisah itu adalah ilustrasi bagaimana seseorang bisa membantah pendapat dan pengalaman orang lain berdasarkan pengalamannya sendiri. Pengalamannya yang empiris, sahih, valid dijadikan tolok ukur menilai pengalaman orang lain yang juga valid, sahih, empiris. Hanya karena dunianya begitu-begitu saja, dia pikir pasti semua orang dunianya begitu juga.

Cara menilai seperti ini termasuk sesat pikir (logical fallacy). Ia juga jamak ditemukan dalam kasus-kasus seperti berikut.

Punya anak satu aja repot. Anak dua, tiga dan seterusnyanya pasti lebih repot. (Hanya karena punya anak satu repot itu nyata, bukan berarti punya banyak anak tanpa rasa repot itu nggak nyata kan?)

Ibu yang baby blues itu pasti mengada-ada. (Hanya karena udah punya lima bayi selalu happy, tak berarti ibu depresi dengan satu bayi itu ilusi.)

Ibu yang melahirkan dengan cara caesar itu pasti karena manja. (Hanya karena melahirkan sepuluh anak dengan mudah itu nyata, bukan berarti melahirkan sekali aja susah itu mengada-ada.)

Ibu yang melahirkan secara caesar pasti karena gangguan jin. (Orang kalau mau operasi, jin pasti udah dilepas di luar, ganti pake baju operasi yang komprang-komprang itu. Jadi nggak mungkinlah jinnya ganggu.)

Perempuan yang pakai cadar itu pasti teroris. (Hanya karena teroris memakai cadar itu ada, bukan berarti muslimah bercadar yang membaktikan hidupnya tanpa pamrih untuk sesama lintas agama itu tak ada.)

Jomblo itu pasti ngenes. (Hanya karena menikah lalu bahagia setelahnya itu beneran, bukan berarti tak menikah dan tetap berbahagia itu bohongan.)

Perempuan lulusan S-3 itu pasti sombong, sengak, dan kemaki. (Hanya karena kau lulusan D-3, tak perlulah bilang begitu.)

Yang muji-muji pemerintah itu pasti buzzer bayaran. (Hanya karena kau memuji orang setelah dibayar, bukan berarti semua orang begitu, Tong.)

Yang suka ngritik Jokowi pasti hater. (Buset dah. Nggak ada statement yang lebih mentah lagi?)

Yang lolos tantangan aylaview pasti suami romantis. (Itu suami yang update, Jeng.)

Begitulah. Contoh lain, silahkan cari sendiri. Bisa nggak selesai-selesai artikel ini kalau diteruskan.

Disinyalir, para pengidap sesat pikir seperti itu merupakan kontributor terbesar segala silang sengkarut kesalahpahaman yang memicu war di dunia maya. Kalau world war sudah seabad ini baru sampai jilid dua, war yang ini ditinggal meleng dikit udah beda jilidnya. War yang topik-topiknya semakin hari semakin nggilani karena nggak penting sekaligus penting.

Begitulah. Kalau kau ketemu netizen yang jadi hakim tanpa toga, jadi tukang stempel tanpa diorder, tukang cap asal mangap, dan tukang vonis yang nggak logis, bisa jadi dialah penderita sesat pikir berjenis fallacy of dramatic instance. Kasihanilah dia. Mungkin dia hanya belum punya kesempatan untuk melihat dunia yang lebih beragam. Dan tidak ada yang lebih menyedihkan dari orang yang tidak tahu bahwa dia tidak tahu.

Terakhir diperbarui pada 18 Agustus 2017 oleh

Tags: anakibumedia sosialnetizenperang
Siti Maryamah

Siti Maryamah

Pecinta tahu, tempe, dan Reza...

Artikel Terkait

Setelah Little Aresha, Mengapa Orang Tua Tetap Harus Percaya pada Daycare? MOJOK.CO
Esai

Setelah Little Aresha, Mengapa Orang Tua Tetap Harus Percaya pada Daycare?

29 April 2026
Keresahan Ibu-Ibu Usai Terbongkarnya Kasus Daycare Little Aresha: Gaji Ortu Semungil itu Harus Berhadapan dengan Absennya Negara dan Sesama WNI Jahat MOJOK.CO
Esai

Keresahan Ibu-Ibu Usai Terbongkarnya Kasus Daycare Little Aresha: Gaji Ortu Semungil itu Harus Berhadapan dengan Absennya Negara dan Sesama WNI Jahat

27 April 2026
Duka merantau lama: nelangsa dengan pertanyaan dan permintaan ibu yang sebenarnya sangat sederhana MOJOK.CO
Catatan

Pertanyaan dan Permintaan Ibu yang Bikin Saya Nelangsa dan Bersalah karena Merantau Lama, Padahal Ia Tak Banyak Menuntut

24 Maret 2026
Lebaran di Keluarga Ibu Lebih Seru Dibanding Keluarga Ayah yang Jaim dan Kaku Mojok,co
Pojokan

Lebaran di Keluarga Ibu Lebih Seru Dibanding Keluarga Ayah yang Jaim dan Kaku

19 Maret 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Menikmati Kenyamanan di Candi Plaosan, Hidden Gem Klaten dengan Nuansa Magis nan Elok untuk Healing Mojok.co

Menikmati Kenyamanan di Candi Plaosan, Hidden Gem Klaten dengan Nuansa Magis nan Elok untuk Healing

24 April 2026
Sebagian pengguna WiFi IndiHome beralih ke Biznet. MOJOK.CO

Ujian Terberat Pengguna IndiHome yang Dikhianati Tawaran Palsu hingga Menggadaikan Kesetiaan ke WiFi yang Lebih “Gacor”

23 April 2026
Tidak Diakui, Harga yang Harus Saya Bayar karena Menolak Keinginan Orang Tua untuk Jadi PNS

Tidak Diakui, Harga yang Harus Saya Bayar karena Menolak Keinginan Orang Tua untuk Jadi PNS

28 April 2026
mabar game online.MOJOK.CO

Nongkrong Makin Membosankan dan Toksik Semenjak Teman Cuma Sibuk Main Game, Saya Dibilang Spaneng dan “Nggak Asyik” karena Tak Ikut Mabar

23 April 2026
Kerja di Jakarta naik transum kereta KRL

KRL adalah “Arena Perjuangan” Pekerja Jakarta: Tak Semua Orang Sanggup, Hanya Manusia Kuat yang Bisa

29 April 2026
Merenungi Tragedi KRL Cikarang usai Peristiwa Daycare Jogja, Potret Nyata Perempuan yang Tetap Berjuang di Tengah Stigma MOJOK.CO

Merenungi Tragedi KRL Cikarang usai Peristiwa Daycare Jogja, Potret Nyata Perempuan yang Tetap Berjuang di Tengah Stigma

28 April 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.