Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Kamu Anak Farmasi Ya? Bisa Bikin Sabu-Sabu Dong?

Alexander Arie oleh Alexander Arie
1 Maret 2018
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Anak Farmasi ditanya soal bikin sabu, anak TI dimintain nge-hack. Ini kenapa deh permintaannya kriminal semua?

Bukan satu dua kali saya mendapat pertanyaan seperti di judul. Ya, kurang lebih jumlah kalinya setara dengan rangking Alexa Mojok. Bagi penanya yang demikian, anak Farmasi itu tidak lebih dari bisa-bikin-reaksi-apa pun tanpa membedakan bahwa urusan mendestilasi senyawa prekursor menjadi sabu-sabu bisa dilakukan juga oleh jurusan lain seperti Teknik Kimia atau bahkan bisa dilakukan oleh yang tidak berpendidikan sekalipun asalkan diajari.

Padahal, rentang pekerjaan yang bisa dilakukan oleh anak Farmasi itu jauh melampaui ekspektasi bikin sabu-sabu. Anak Farmasi seharusnya ada dalam setiap rantai pasokan mulai dari sekadar serbuk hingga sebuah obat ditelan pasien. Nyatanya, saya punya teman yang bekerja di perusahaan importir bahan baku obat, di pabrik obat, hingga punya istri yang juga anak Farmasi, yang kerjanya memastikan bahwa obat yang akan ditelan sama pasien di depan matanya itu benar-benar membawa kebaikan.

Ngomong-ngomong soal asing-aseng dan boikot-boikotan, saya kasih tahu saja, sebenci apa pun kita dengan Tiongkok dan India, kita tidak akan bisa memboikot keduanya dalam urusan bahan baku obat mengingat lebih dari 90% bahan baku obat itu impor dan atas nama harga murah, Tiongkok dan India adalah pemimpin pasarnya. Emangnya budaya doang yang bisa diimpor?

Menjadi anak Farmasi itu juga berarti siap menempuh jalan sunyi. Walaupun di banyak kampus jurusan Farmasi terbilang jurusan elit, akan tetapi hidup sebagai mahasiswa maupun lulusan Farmasi nyatanya jauh dari kata elit.

Mahasiswa Farmasi, misalnya, harus menghadapi tekanan inferioritas sekaligus tekanan dari mayoritas. Mahasiswa Farmasi tidaklah mudah disebut macho apabila disebelahkan dengan mahasiswa Teknik. Pada sisi lain, mahasiswa Farmasi adalah andalan bagi para mahasiswi untuk melakukan aktivitas-aktivitas krusial yang tergolong hina atau geli jika dilakukan oleh mahasiswi, seperti: angkut drum, menyuntik tikus, hingga memberikan sampel pipis guna uji patologi.

Bagian ini paling menyebalkan bagi saya: ketika ada teman wanita yang tidak pernah menyuntik tikus sama sekali memperoleh nilai A untuk mata kuliah Praktikum Farmakologi, sementara saya yang tiap pekan harus berurusan dengan makhluk hidup itu justru dapat C. Pedih, Kak.

Mahasiswa Farmasi harus mendapati fakta bahwa mereka memang berbahagia di antara para wanita dalam proporsi 1:3 hingga 1:25, tetapi para wanita itu lebih memilih lelaki dari jurusan lain. Ataupun kalau jadinya sama-sama Farmasi juga, itu tiada lebih dari keberhasilan mbribik adik kelas maupun tresno jalaran seko ora ono sing liyo, khusus bagian ini biasanya Nomor Induk Mahasiswa sepasang kekasih itu urut-urutan.

Mahasiswi Farmasi? Tidak mudah juga. Perkara kecantikan, jelas kalah ciamik daripada anak Ekonomi maupun Psikologi. Sekarang apa guna dandan kalau ujung-ujungnya berakhir dalam balutan jas laboratorium tengah dikelilingi mencit yang bau eeknya membahana? Begitu sudah kerja pun, kalau kebetulan ketiban di pabrik, gadis-gadis Farmasi malah dilarang pakai make–up, takut menyebabkan kontaminasi pada produk yang dibuatnya.

Meski di perkuliahan tampak elit dengan passing grade nan tinggi, anak Farmasi—terutama di Indonesia—harus berhadapan dengan sederet prahara soal bidang pekerjaan. Dalam bidang kesehatan, kemitraan setara antara dokter dan apoteker masih menjadi pekerjaan rumah. Selain fakta bahwa sebagian anak Farmasi adalah makhluk hidup yang gagal tes di fakultas kedokteran, di dalam pekerjaan juga masih sering ada stigma bahwa lulusan Farmasi itu kerjanya ya hanya mengambilkan obat sesuai resep dokter.

Kalau misalnya anak Farmasi berkarier di pabrik, juga ketabrak dominasi jurusan lain. Mau eksis di perencanaan produksi, ada anak Teknik Industri yang jelas lebih mantap dibandingkan anak farmasi yang hanya menerima 2 SKS teori manajemen logistik. Mau di R&D, ada anak Teknik Kimia yang terang benderang lebih kuat modal reaksi sana-sini. Paling bedanya, anak Farmasi akan fokus di perusahaan-perusahaan farmasi yang jumlahnya tidak sampai 500 se-Indonesia, sedangkan anak Teknik Kimia bisa jauh lebih luas, mulai dari cairan pembersih lantai hingga cairan yang harganya mau disamakan sama Jokowi se-Indonesia, bahan bakar minyak (BBM).

Demikian pula dengan apoteker yang bekerja di apotek, mengerjakan satu siklus kegiatan apotek yang tidak hanya ribet dari sisi perizinan dan pelaporan, tetapi juga aspek bisnisnya. Gaji kecil, utamanya di daerah-daerah yang padat benar jumlah apoteknya, telah menjadi permasalahan menahun. Ini belum termasuk soal apotek yang 10 tahun belakangan hobinya sebelah-menyebelah kayak Alfamart dan Indomaret.

Jadi PNS? Waduh, apa lagi ini. Memilih jurusan Farmasi otomatis mengecilkan peluang untuk menjadi PNS karena lowongan PNS akan terbuka lebar untuk jurusan-jurusan yang umum seperti Hukum atau Akuntansi. Sespesialis apa pun jurusan Hukum, gelarnya tetap S.H. dan nyaris seluruh instansi butuh manusia bergelar S.H. Nyatanya, ada teman saya S.H. hukum agraria yang malah jadi auditor di instansi yang sama sekali tidak mengurusi tanah.

Dengan berkuliah di Farmasi, otomatis ladang pekerjaan tinggal dipersempit ke Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Kementerian Kesehatan dan perangkatnya—termasuk rumah sakit, dinas kesehatan, dan sedikit formasi yang tersedia di Badan Narkotika Nasional (BNN) atau Kementerian Keuangan, sebagaimana yang nongol di rekrutmen terakhir. Lumayan banyak, tapi jelas tidak akan sebanyak kebutuhan seluruh Kementerian/Lembaga/Pemerintah Daerah se-Indonesia pada pemegang gelar S.E. untuk menjadi pengelola keuangan maupun S.H. untuk penyusun perundang-undangan.

Iklan

Walau begitu, sebenarnya jadi manusia bergelar sarjana farmasi itu tidak suram-suram banget kok. Terutama bagi lulusan yang langsung diserahi apotek sama bapaknya begitu dia lulus.

Banyak juga teman saya yang moncer kariernya sebagai manajer di berbagai perusahaan farmasi di Indonesia. Ada beberapa teman saya yang sukses jadi kontraktor. Serta tidak sedikit teman saya yang bekerja di bank.

Terakhir diperbarui pada 1 Maret 2018 oleh

Tags: apotekerbpomcerita lucufarmasikedokteranMahasiswapengalamanstereotipteknik industriteknik kimia
Alexander Arie

Alexander Arie

Universitas Indonesia. Tinggal di Jakarta. Asli Bukittinggi.

Artikel Terkait

Mahasiswa gen Z kuliah malas baca jadi brain rot
Sekolahan

Mahasiswa Gen Z Bukan Tak Bisa Membaca, tapi “Brain Rot” karena Sering Disuapi dan Kecanduan AI

23 April 2026
Alasan Gelar Sarjana Tak Lagi Jadi Jaminan Mudah Dapat Kerja MOJOK.CO
Esai

Alasan Gelar Sarjana Tak Lagi Jadi Jaminan Mudah Dapat Kerja

20 April 2026
Meminta Dosen-Mahasiswa Jalan Kaki ke Kampus ala Eropa: Antara Visi Elit dan Realitas yang Sulit MOJOK.CO
Esai

Meminta Dosen-Mahasiswa Jalan Kaki ke Kampus ala Eropa: Antara Visi Elite dan Realitas yang Sulit

10 April 2026
Kerja di Pabrik, Kuliah S2, dan Dihajar Asam Lambung MOJOK.CO
Esai

Kerja di Pabrik, Kuliah S2, dan Dihajar Asam Lambung

6 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Minyak wangi cap lang lebih bagus dari FreshCare. MOJOK.CO

Anak Usia 30-an Tak Ingin FOMO Pakai FreshCare, Setia Pakai Minyak Angin Cap Lang meski Diejek “Bau Lansia”

27 April 2026
Guru PPPK Paruh Waktu, honorer.MOJOK.CO

Guru, Profesi yang Dihormati di Desa tapi Hidupnya Sengsara di Kota: Dimuliakan Seperti Nabi, Digaji Lebih Kecil dari Kuli

23 April 2026
Keresahan Ibu-Ibu Usai Terbongkarnya Kasus Daycare Little Aresha: Gaji Ortu Semungil itu Harus Berhadapan dengan Absennya Negara dan Sesama WNI Jahat MOJOK.CO

Keresahan Ibu-Ibu Usai Terbongkarnya Kasus Daycare Little Aresha: Gaji Ortu Semungil itu Harus Berhadapan dengan Absennya Negara dan Sesama WNI Jahat

27 April 2026
Merintis Jastip ala Mahasiswa Flores Cuan Jutaan Tiap Bulan MOJOK.CO

Belajar dari Mahasiswa Flores yang Merantau di Jogja Merintis Usaha Jastip Kecil-kecilan Hingga Untung Jutaan Rupiah Setiap Bulan

23 April 2026
4 jenis pengendara motor di pantura seperti Rembang yang harus dilarang nyetir motor di jalan raya MOJOK.CO

4 Jenis Pengendara Motor di Pantura yang Harus Diwaspadai di Jalan Raya: Top Level Ngawur dan Tak Tahu Aturan!

23 April 2026
Kerja di Jakarta.MOJOK.CO

Jakarta Tak Cocok bagi Fresh Graduate yang Cuma “Pengen Cari Pengalaman”: Bisa Bikin Finansial dan Mental Layu Sebelum Berkembang

26 April 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.