Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Mahasiswa Kota Malang Nekat Kumpul Kebo karena Haus Kasih Sayang tapi Berakhir Jadi Korban Kekerasan Pacarnya, Ada yang Hamil di Luar Pernikahan

Aprilia Dwi Rasdiyanti oleh Aprilia Dwi Rasdiyanti
24 September 2025
A A
Derita Mahasiswa Kota Malang Nekat Kumpul Kebo demi Perhatian MOJOK.CO

Ilustrasi Derita Mahasiswa Kota Malang Nekat Kumpul Kebo demi Perhatian (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Haus kasih sayang membuat Mirna “terjebak” dalam fenomena kumpul kebo. Sebuah fenomena yang menjadi tren mahasiswa Kota Malang.

Saya dan Mirna (23 tahun) mengobrol agak panjang tentang fenomena living together atau kumpul kebo. Fenomena ini pagi jadi tren di tengah mahasiswa Kota Malang. Mirna menganggap banyak mahasiswa yang nggak paham arti dari fenomena ini. Khususnya mahasiswa baru. 

Iklan

“Kalau mahasiswa baru kayaknya banyak yang nggak tahu (artinya),” kata Mirna. Sebetulnya saya hendak merekam pernyataan Mirna sebagai bahan tulisan ini. Namun, Mirna menolak. Pokoknya nggak ada merekam atau ngobrol via WhatsApp. Saya setuju saja. Dan sambil minum susu cokelat, Mirna melanjutkan kisahnya.

Kumpul kebo di kehidupan Mirna

Mirna dari keluarga yang biasa-biasa saja. Orang tuanya masih lengkap dan sehat, Alhamdulillah. Tapi dia mengaku tidak mendapatkan kasih sayang yang cukup dari mereka, khususnya dari bapak. Soal poin ini, Mirna nggak mau banyak cerita. Intinya, dia merasa kurang mendapat kasih sayang.

Dia bertemu dengan Rudi (22 tahun) saat ospek maba sebuah kampus di Malang, tiga tahun silam. Rudi berhasil menarik hati Mirna hingga mereka berdua memutuskan untuk berpacaran. 

“Saya mikir waktu pacaran. Saya bakal bisa mengenal dia lebih dalam kalau kumpul kebo, Mbak. Ya mulai ngekos bareng, masak bareng, dan belajar mengelola keuangan bareng. Saya terinspirasi teman-teman satu sirkel yang begitu juga, Mbak,” Kata Mirna kepada saya.

Sebelum memutuskan untuk kumpul kebo, Mirna sudah melakukan banyak survei kosan di Malang. Dia bahkan bisa menyebutkan beberapa nama kos di sekitar tiga kampus besar di Malang, yang mengizinkan penghuninya untuk kumpul kebo. Mulai dari lokasi sampai harga, Mirna tahu semua.

Memahami risiko

Obrolan kami soal risiko kumpul kebo bagi mahasiswa Malang berjalan datar. Saya merasa mereka sudah siap dengan segala risikonya. Salah satunya adalah menjadi korban kekerasan.

Mirna sendiri merespons soal risiko ini dengan wajah datar. Saya bertanya soal kasus kekerasan, bahkan pembunuhan, karena fenomena kumpul kebo di Kota Malang.

“Saya sudah paham rasanya, Mbak. Risikonya ya itu, saya sering jadi korban kekerasan Rudi. Pemicunya itu hal-hal kecil saja sebetulnya. Misalnya dia pulang malam banget alasannya nugas, sampai nggak bantu bayar beberapa kebutuhan,” aku Mirna.

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

Mirna sendiri mengaku belum bisa meninggalkan Rudi karena beberapa hal. Dia merasa masih sayang. Sudah begitu, Rudi sudah mengambil kesucian Mirna. Dua alasan ini yang sering menjadi alasan banyak mahasiswa di Malang nggak bisa melepaskan diri dari situasi kumpul kebo.

“Apakah nggak kepikiran untuk menikah saja?” Saya mencoba menyenggol topik pernikahan.

Mirna menjelaskan kalau tuntutan zaman sekarang itu berbeda. Dia merasa tidak akan mudah mendapatkan restu dari orang tuanya. Apalagi Mirna dan Rudi masih menyandang status mahasiswa di Kota Malang. Keduanya juga belum bisa menghasilkan uang sendiri.

Sudah begitu, kuliah di Malang membawa beban tersendiri bagi Mirna. Kedua orang tua Mirna menuntut dia untuk lulus kuliah, lalu lanjut daftar BUMN. Tuntutan ini terasa berat bagi Mirna. Nah, segala keluh kesah itu hanya bisa dia curahkan kepada Rudi ketika keduanya kumpul kebo.

Iklan

Kumpul kebo demi mendapatkan kasih sayang, tapi…

Salah satu tujuan Mirna mau kumpul kebo dengan Rudi adalah mendapatkan kasih sayang. Dia mengiyakan jika dengan kumpul kebo, tangki kasih sayang yang tidak dia dapatkan dari orang tuanya bisa didapatkan lewat Rudi. 

Banyak “perhatian kecil” dari Rudi yang membuat Mirna nyaman. Misalnya seperti perhatian yang Rudi tunjukkan ketika Mirna sakit. Perhatian seperti ini yang Mirna idamkan dari sosok seorang pria.

Mirna memang mendapatkan kasih sayang. Namun, di sisi lain, dia juga harus menanggung segala risikonya ketika ikut tren kumpul kebo di Kota Malang ini. Risiko yang kita bahas di sini adalah kekerasan.

Jadi, Rudi memang belum matang secara emosional. Hal ini diakui Mirna sendiri. Banyak pertengkaran berasal dari masalah sepele seperti yang saya singgung di atas.

Masalahnya, kekerasan yang terjadi bagi dua mahasiswa Malang ini sudah sampai ke taraf main fisik. Rudi pernah memukul Mirna karena masalah sepele. Namun masalahnya, Mirna juga melakukan kekerasan kepada Rudi.

Kondisi ini yang membuat Mirna dilema. Dia memang mendapatkan kasih sayang dari Rudi. Namun, dia harus menderita karena kekerasan. Suatu kondisi di mana Mirna tak pernah merasakannya dari kedua orang tuanya.

Sudah begitu, kekerasan yang terjadi selama kumpul kebo ternyata berdampak ke psikologis Mirna. Salah satunya berdampak ke prestasi Mirna selama kuliah di Malang. Sering bertengkar, bahkan main fisik, membuatnya kesulitan fokus dan tidak semangat untuk mengerjakan tugas kuliah.

Fenomena kumpul kebo di Kota Malang

Tentu saja, segala tindak kekerasan bisa dilaporkan ke polisi. Namun, bagi anak muda yang menjalani fenomena kumpul kebo di Kota Malang, tidak semudah itu.

Salah satu teman Mirna pernah melapor kepada polisi. Kasusnya adalah dia hamil di luar nikah dan pacarnya tidak mau tanggung jawab. Yang dia kejar hanya tanggung jawab.

Mirna sendiri sangat ragu jika menempuh jalur yang sama. Kalau melapor, kerugian terbesar ada di dirinya. Selain karena ini kesalahannya dari awal, dia bisa mendapat masalah dengan orang tuanya. Kosannya juga kena karena yang kumpul kebo di sana nggak hanya dia dan Rudi.

Yang terjadi kemudian adalah Mirna nggak mau mempermasalahkan kekerasan dari Rudi. Meski dia juga sadar kalau situasinya bisa semakin parah.

Hasil akhir

Niat awalnya Mirna memilih kumpul kebo adalah supaya bisa mendapatkan kasih sayang. Dia juga ingin mengenal Rudi lebih dalam. Katanya sembari berkelakar, ini bisa menjadi simulasi pernikahan.

Namun, pada akhirnya, Mirna tidak akan menikahi Rudi. Kasih sayang itu ada, tapi diiringi oleh kekerasan. Makanya, dia tidak mau terjebak ke dalam sebuah kondisi yang mengikat.

Saya sempat bertanya soal penyesalah dan untung/rugi living together. Mirna tidak banyak berkata. Dia hanya menjawab pendek, “Resikoku wesan, Mbak.”

Mirna menutup obrolan dengan sebuah harapan. Saat ini, dia ingin segera lulus, lalu pergi dari Kota Malang. Dia ingin menata hidup dan menjalani kehidupan tanpa kehadiran Rudi.

Penulis: Aprilia Dwi Rasdiyanti

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA Hari-hari Mahasiswa Malang yang Jalani Kumpul Kebo: Latihan Berumah Tangga, Hidup Layaknya Suami Istri meski Tak Siap Menikah dan catatan keresahan lainnya di rubrik ESAI.

Terakhir diperbarui pada 24 September 2025 oleh

Tags: kampus malangkohabitasikos-kosan malangKota Malangkumpul keboliving togethermahasiswa malangMalang
Aprilia Dwi Rasdiyanti

Aprilia Dwi Rasdiyanti

Mencintai bunga melati.

Artikel Terkait

Malang Santai Sayang, tapi Kritik Tak Lagi Santai MOJOK.CO
Esai

Malang Santai Sayang, tapi Kritik Tak Lagi Santai 

26 Juni 2026
Efek rutin olahraga gym, dulu dihina gendut dan jelek kini banyak yang mendekat MOJOK.CO
Sehari-hari

Efek Gym: Dari Dihina “Babi” karena Gendut dan Jelek bikin Lawan Jenis Gampang Mendekat, Tapi Tetap Sulit Nemu yang Tulus

11 Mei 2026
Kuliah menjadi mahasiswa di PTN PTS Malang bikin merasa tersesat karena fenomena menginapkan pacar di kos hingga kumpul kebo MOJOK.CO
Urban

Kuliah di Malang karena Label Kota Pelajar: Berujung “Tersesat” karena Menormalkan Perilaku Tak Wajar Mahasiswa

4 Mei 2026
Sigura-gura, Malang, slow living.MOJOK.CO
Urban

Omong Kosong Slow Living di Malang: Pindah Kerja Berniat Cari Ketenangan Malah Dibikin Stres, Nggak Ada Bedanya dengan Jakarta

11 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Koperasi Kelurahan di Banjarsari, Surakarta, bukukan omzet ratusan juta MOJOK.CO

Cerita Koperasi di Banjarsari Surakarta: Berawal dari Garasi, Bukukan Omzet Ratusan Juta?

12 Juli 2026
Dalam Final Nasional Essay Contest Beswan Djarum, Najwa Shihab berpesan pada para mahasiswa penerima Djarum Beasiswa Plus agar terus menulis (esai) apapun profesinya MOJOK.CO

Pesan untuk Gen Z: Menulislah Apapun Kelak Profesinya, Tak Lupa Akar di Manapun Posisinya

7 Juli 2026
SSB MAS merawat bibit-bibit muda sepak bola Kota Jogja meski dari Lapangan Minggiran yang tidak rata MOJOK.CO

SSB Tertua di Kota Jogja Merawat Bibit-bibit Muda Meski dari Lapangan Bola Tidak Rata

11 Juli 2026
Selain ke petugas Sensus Ekonomi, warga desa juga jengah dengan program sensus dari mahasiswa KKN MOJOK.CO

Warga Desa Juga Jengah dengan Sensus dari Mahasiswa KKN: Tak Nemu Gunanya, Tak Srawung tapi Korek Privasi Orang

8 Juli 2026
Rekonstruksi kasus penganiayaan pelajar berujung meninggal di Jalan Yos Sudarso, Gondokusuman, Kota Jogja (depan SMA 3 Yogyakarta) MOJOK.CO

Gambaran Jelas Penganiayaan Pelajar di depan SMA 3 Yogyakarta dalam 21 Adegan Rekonstruksi

9 Juli 2026
Pertamina Patra Niaga Pastikan Penyaluran BBM di Jawa Tengah dan DIY Berjalan Normal dan Lancar MOJOK.CO

Pertamina Patra Niaga Pastikan Penyaluran BBM di Jawa Tengah dan DIY Berjalan Normal dan Lancar

8 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.