Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Susahnya Jadi Ibu Kos: Tak Ingin Ada Kumpul Kebo, Tapi Ada Saja Anak Kos Ngaku-ngaku Nikah Siri demi Inapkan Pacar

Aisyah Amira Wakang oleh Aisyah Amira Wakang
30 Juli 2025
A A
Kos bebas berpotensi kumpul kebo. MOJOK.CO

ilustrasi - pengakuan ibu kos yang sering marah-marah. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Aturan soal “kos bebas” memengaruhi strategi bisnis pemilik kos di berbagai daerah. Seiring perkembangan waktu, pengertian kos bebas ikut berubah. Pemilik kos mengaku rugi jika membuat aturan yang terlalu ketat, tapi juga tak ingin ada masalah berkepanjangan seperti “kumpul kebo”.

***

Jika diartikan secara hafriah, kos bebas adalah jenis kos-kosan yang memberikan kebebasan pada penyewanya untuk menghuni kos tersebut. Misalnya, tidak ada aturan ketat soal jam malam atau memliki fleksibilitas untuk keluar masuk kos kapan saja. 

Bagi penyewa, khususnya pekerja atau anak kuliah yang memiliki kegiatan sampai malam, aturan kos bebas dapat menguntungkan. Namun, seringkali mereka jadi kebablasan mengartikan aturan kos bebas ini.

Karena diberi akses bebas atau punya kunci sendiri, tak jarang mereka bisa seenaknya membawa ‘orang lain’ ke kos tanpa izin pemilik bahkan sampai menginap. Masalahnya bakal lebih runyam jika penyewa membawa pacarnya, padahal belum menikah. 

Potensi kumpul kebo pun bakal lebih besar. Maka tak heran, pengertian kos bebas ini sering dikonotasikan negatif. Anak kos yang tinggal di kos bebas berpotensi melanggar norma sosial atau moral. Masalah ini juga yang menjadi kebimbangan pemilik untuk membuat aturan bebas atau sesuai syariat yang tak berpotensi menimbulkan kejadian kumpul kebo.

Pilih mengusir penyewa daripada pakai aturan kos bebas

Fally (33), salah satu pemilik kos di Kota Bandung mengaku jengkel saat ada orang yang bertanya tentang aturan di kosnya. Khususnya, pertanyaan soal ‘kos bebas’. Sebagai pemilik kos, Fally sendiri tidak ketat-ketat amat membuat aturan. 

Misalnya, boleh membawa pacar ke kos, asal tidak boleh lama-lama. Maksimal ya hanya kongkow-kongkow selama dua jam di kosan. Dan tidak boleh menginap. Namun, ada saja penyewa yang bandel dengan membawa pacarnya menginap, tanpa seizin Fally. 

Saat ketahuan dan sudah ditegur, penyewa tersebut malah tidak merasa bersalah karena melanggar aturan. Yang ada, Fally justru kena marah balik, alih-alih menuding si penyewa melakukan kumpul kebo.

“Dia sampai bilang ‘kan nggak pernah telat bayar’. Lah, bayar kan memang kewajiban. Kalau bisa ya jangan sampai telat. Nggak ada hubungannya bayar kos tepat waktu sama bawa pacar ke kos,” ujar Fally.

Alhasil, Fally jadi bete sendiri saat ada yang tanya soal aturan kos bebas atau tidak. Tanpa sadar, ia jadi sering menjawab dengan ketus: “Kalau mau bebas sewa apartemen saja”. Namun, Fally paham jika hal itu tidak baik.

“Akhirnya sekarang, kalau ada penyewa yang ketahuan pasti saya tegur dulu. Kalau sampai tiga kali ditegur dan masih seperti itu, langsung saya minta untuk cari kos lain,” kata Fally.

Kos bebas lebih diminati penyewa

Sebetulnya, kata Fally, menanyakan aturan kos bebas atau tidak sah-sah saja. Tapi lama-kelamaan ia jadi bimbang untuk melepas aturan-aturan yang berlaku. Fally mengaku pasarnya jadi menurun karena tidak menggunakan aturan kos bebas.

“Di zaman sekarang ya, kebanyakan penyewa ini ingin kos bebas tapi saya takut akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan,” kata Fally.

Iklan

Senada dengan Fally, Karina (28) yang juga seorang pemilik kos di Kabupaten Pasuruan mengaku akhir-akhir ini sering mendapat pertanyaan yang sama dari calon penyewa. Bukan lagi pertanyaan template seperti “Apakah ada kamar kosong?” atau “Berapa lebar kamarnya?” melainkan pertanyaan yang membuatnya risih.

“Di WhatsApp itu sering ada yang tanya, ‘Apakah bebas? Tidak ganti-ganti pasangan, kok’ atau ‘kalau nikah siri boleh nggak, Kak?’” kata Karina.

“Kalau aku jawabnya tidak bebas dan tidak boleh untuk penyewa dengan status nikah siri, biasanya mereka langsung menghilang,” lanjutnya.

Kos biasa tetap penuh, asal promosi jalan terus

Pertanyaan-pertanyaan di atas membuat Karina jadi sering menimbang ulang, untuk mengubah aturan di kosnya menjadi bebas. Mengingat, bisnisnya yang semakin sepi peminat karena kalah saing dengan kos bebas. 

Terlebih, Kabupaten Pasuruan merupakan pasar yang empuk untuk membuka kos-kosan, karena banyak pekerja industri di sana. Namun, baik Karina dan Fally tak mau mengambil jalan itu. Mereka percaya bahwa masih ada penyewa yang mau ngekos dengan aturan sesuai syariat. Bukan kos bebas.

“Ya kalau orientasinya hanya uang, bisa saja kosanku langsung penuh. Tapi Puji Tuhan, tanpa harus membuka peluang untuk para penyewa ‘hidup bersama’ (red: kumpul kebo), kosku tetap penuh walaupun harus promosi terus-menerus,” ujar Karina.

“Aku bukan sok tidak butuh uang, aku hanya peduli,” lanjutnya.

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Hari-hari Mahasiswa Malang yang Jalani Kumpul Kebo: Latihan Berumah Tangga, Hidup Layaknya Suami Istri meski Tak Siap Menikah atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan.

Terakhir diperbarui pada 30 Juli 2025 oleh

Tags: anak kosBandungIbu Kosibu kos galakkabupaten pasuruanKos BebasKos LVkumpul kebopacar menginap
Aisyah Amira Wakang

Aisyah Amira Wakang

Jurnalis Mojok.co asal Surabaya. Pernah menempuh pendidikan di S1 Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Menaruh perhatian pada isu pendidikan, sosial, perkotaan, dan kelompok-kelompok marjinal. Di luar rutinitas liputan mengisi waktu dengan berlari dan menjelajah alam.

Artikel Terkait

Rooftop kos kerap jadi tempat blangkrah, tapi jadi ruang healing terbaik bagi anak kos overthinking MOJOK.CO
Catatan

Tinggal di Kos dengan Rooftop, Meski Kemproh tapi Jadi Tempat Healing Terbaik dari Tekanan Hidup yang Bisa bikin Gila

3 Juni 2026
Gedebage, Bandung.MOJOK.CO
Urban

Bandung Kota Overrated dan Penuh Masalah, Anak Mudanya Tetap Waras karena Persib

24 Mei 2026
Kos di Jogja, kos campur, dapur.MOJOK.CO
Sehari-hari

Kos Induk Semang: Tempat Terbaik buat Mahasiswa Irit dan Kenyang, tapi Menyimpan Sisi Lain yang Bikin Penghuninya Tak Nyaman

13 Mei 2026
Kos di Jogja, kos campur, dapur.MOJOK.CO
Sehari-hari

Dapur Bersama Memang Membantu Anak Kos, Tapi Sering Menimbulkan Konflik kalau Ada Penghuni Jorok dan Suka Nyolong

12 Mei 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Event lari Merbabu Skyrace makin diminati banyak orang lintas negara, jadi potensi sport tourisme di Jawa Tengah dengan daya tarik lari lintas alam di Gunung Merbabu MOJOK.CO

Merbabu Skyrace: Event Lari Melintasi Keindahan Gunung Merbabu, Sport Tourism yang Bikin Sebuah Dusun Mendunia

6 Juni 2026
ilustrasi sepeda klaten.MOJOK.CO

Belajar Makna “Paseduluran” dari Penjual Onthel Lawas yang Sudah Tiga Dekade Hidup dari Pit Kebo

2 Juni 2026
Tren kalcer dan monopoli olahraga bikin gowes (bersepeda) jadi terlalu ambisius MOJOK.CO

Tren Kalcer dan Monopoli Olahraga bikin Gowes Jadi Terlalu Ambisius, Mau Sekadar Bersepeda tapi Malu Dicap Cupu

3 Juni 2026
Instruksi Belajar Bahasa Prancis: Taktik Genius Mengenal Perjuangan Rakyat Prancis MOJOK,CO

Instruksi Belajar Bahasa Prancis: Taktik Genius untuk Mengenal Perlawanan Rakyat Prancis

1 Juni 2026
Adegan horor tiap awal bulan di kehidupan dewasa. Gajian ludes seketika karena kebutuhan MOJOK.CO

Awal Bulan di Kehidupan Dewasa Itu Horor: Setelah Gajian Gaji Langsung Ludes di Kalkulator

2 Juni 2026
Katanya Sekolah Itu Tiket VIP Hidup Mapan, Ternyata Jadi Ibu Rumah Tangga yang Bikin Goyah Negara MOJOK.CO

Katanya Sekolah Itu Tiket VIP Hidup Mapan, Ternyata Jadi Ibu Rumah Tangga yang Bikin Goyah Negara

5 Juni 2026

Video Terbaru

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026
Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

17 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.