Jadi dosen kalcer itu harus memiliki ketabahan tingkat tinggi
Menurut saya, untuk menjadi seorang dosen muda harus memiliki tingkat ketabahan yang lebih tinggi. Saya sering melihat mahasiswa yang berjuang dengan biaya pendidikan yang melonjak, sementara fasilitas yang mereka dapatkan sering kali tidak sebanding dengan janji-janji manis saat promosi kampus.
Pendidikan tinggi telah menjadi barang mewah yang eksklusif, menghancurkan fungsi universitas sebagai eskalator sosial bagi masyarakat kelas bawah. Pendidikan yang seharusnya membebaskan malah menjadi jeratan kecemasan bagi orang tua mahasiswa.
Ironisnya, saat mahasiswa berdemo menuntut transparansi, mereka sering kali dihadapi dengan narasi birokratis yang menyebut mereka tidak tahu berterima kasih. Padahal, justru di situlah inti pendidikan, membentuk kesadaran kritis, bukan sekadar kepatuhan teknis.
Kembali ke ruang kelas, saya mencoba memberikan materi tentang teori komunikasi persuasif. Saya melihat wajah-wajah lesu mahasiswa di barisan belakang.
Mungkin mereka baru saja membaca berita tentang kasus ijazah palsu pejabat atau ketidakadilan sistem rekrutmen di daerah. Bagaimana saya bisa meyakinkan mereka bahwa kejujuran intelektual adalah segalanya, sementara mereka melihat bahwa di dunia nyata, koneksi dan manipulasi sering kali lebih menentukan daripada kompetensi?
Ini adalah paradoks pedagogi yang menyakitkan. Saya yang disemati sebagai dosen kalcer oleh mahasiswa, sering kali harus melakukan perlawanan diam-diam melalui refleksi praktik.
Saya memodifikasi cara kerja saya agar lebih bermakna, membangun komunitas riset independen bersama mahasiswa. Terkadang mengabaikan sistem poin administratif demi memberikan bimbingan tugas akhir yang benar-benar substansial.
Beberapa dosen muda seperti saya, kami mencoba menciptakan ruang belajar alternatif di kedai kopi. Memanfaatkan budaya nongkrong sebagai katarsis intelektual agar mahasiswa tidak gila karena tekanan sistem.
Namun, seberapa jauh kreativitas individu bisa bertahan melawan tsunami kebijakan yang tidak berpihak pada kemanusiaan dan pendidikan?
Baca halaman selanjutnya
Jadi dosen kalcer bukan soal gaya hidup, tapi posisi politik
Di tahun 2026 ini, kesejahteraan dosen sendiri pun menjadi bahan sarkasme nasional. Tagar #JanganJadiDosen yang sempat menggema di media sosial adalah refleksi dari rendahnya apresiasi negara terhadap tenaga pendidik.
Kami dituntut untuk memiliki kualifikasi tinggi, publikasi di jurnal bereputasi, dan mahir teknologi, tetapi apresiasi finansial yang kami terima sering kali menghina akal sehat.
Pernyataan pejabat yang mengabaikan keluhan kesejahteraan dosen dinilai sangat tidak empatik. Kami dipaksa tampil elegan, bicara ilmiah, dan bersikap bijak, sementara dalam hati kami menghitung cukupkah gaji bulan ini untuk membeli paket data demi mengisi laporan sistem yang tak kunjung sinkron.
Eksistensi dosen kalcer pada akhirnya bukan hanya soal gaya hidup atau cara mengajar yang asyik. Ini adalah posisi politik.
Ini adalah upaya untuk tetap menjadi manusia di tengah mesin birokrasi yang mencoba mengotomatisasi segalanya. Kami memilih untuk tetap idealis karena kami percaya bahwa komunikasi adalah jembatan untuk memahami penderitaan orang lain, bukan sekadar alat untuk manipulasi opini.
Kami menggunakan pendekatan konstruktivis bukan karena itu tren dalam jurnal pendidikan, tapi karena kami ingin mahasiswa kami mampu mengonstruksi masa depan mereka sendiri di atas reruntuhan kebijakan yang berantakan.
Kami ingin mereka menjadi pribadi yang tidak hanya pintar, tapi juga memiliki integritas dan tanggung jawab sosial. Sehingga saat mereka menjadi bagian dari satu juta pengangguran itu, mereka tidak kehilangan harga diri dan integritasnya.
Menjadi dosen: Mengajar harapan di pagi hari, merasakan realitas yang menyesakkan di malam hari
Saat jam kuliah berakhir, saya melihat mahasiswa saya satu per satu meninggalkan kelas. Beberapa dari mereka mungkin akan pergi ke Story Coffee, Mary Coffee, atau Jack Coffee untuk sekadar melepas penat atau mengerjakan tugas yang menumpuk.
Saya hanya bisa berharap bahwa apa yang kami diskusikan tadi bukan sekadar angin lalu. Di tengah gempuran neoliberalisme pendidikan yang mengubah ilmu menjadi komoditas, saya ingin mereka tetap berani meragukan sesuatu.
Karena peradaban, seperti yang saya kutip dari para pemikir besar, tidak dibangun oleh mereka yang hanya patuh pada kebutuhan pasar. Melainkan oleh mereka yang berani mempertanyakan arah zaman bahkan jika mereka harus melakukannya sambil menyeruput kopi saset di pinggiran jalan Panjaitan Kota Gorontalo.
Tugas saya hari ini sebagai dosen belum selesai. Saya masih harus kembali ke meja kerja, berhadapan dengan tumpukan laporan yang menuntut untuk diselesaikan sebelum tengah malam.
Saya akan kembali menjadi “juru ketik” yang patuh, mengisi setiap kolom dengan bukti fisik yang valid, sambil sesekali tersenyum getir melihat ijazah saya sendiri yang tersusun rapi di dalam map.
Kita sedang berada dalam drama besar pendidikan Indonesia, dan saya hanyalah salah satu aktor yang mencoba tetap menjadi dosen kalcer meski skenarionya sering kali tidak masuk akal.
Tapi begitulah hidup sebagai dosen muda di tahun 2026, kita mengajar tentang harapan di pagi hari, dan bergulat dengan realitas yang menyesakkan di malam hari.
Namun, selama mahasiswa masih mau bertanya “mengapa” dan bukan sekadar “bagaimana cara kerjanya”, saya tahu bahwa perjuangan ini semelelahkan apa pun itu belum sepenuhnya sia-sia.
Kepada mahasiswa: Dunia memang sedang tidak baik-baik saja
Saya menutup laptop saya saat lampu-lampu kota Gorontalo mulai menyala. Dari kejauhan, sayup-sayup terdengar suara kehidupan yang berdenyut di halaman kampus.
Besok adalah hari yang lain, tantangan yang lain, dan mungkin kebijakan aneh yang lain lagi dari kementerian. Tapi saya akan tetap di sini, mengenakan sepatu “kalcer” saya, membawa idealisme yang mungkin sudah agak lecet, dan berdiri di depan kelas untuk memberitahu mahasiswa saya bahwa dunia memang sedang tidak baik-baik saja.
Namun, cara kita berkomunikasi dan berpikir secara kritis adalah satu-satunya senjata yang kita miliki untuk memperbaikinya. Karena pada akhirnya, pendidikan bukan soal mencetak satu juta tenaga kerja, melainkan soal memanusiakan manusia.
Penulis: Wardoyo Dingkol
Editor: Agung Purwandono
BACA JUGA Alasan Gelar Sarjana Tak Lagi Jadi Jaminan Mudah Dapat Kerja dan tulisan menarik lainnya di kanal Esai.














