Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Batal Golput Berkat Nasionalisme Prabowo dan Jokowi pada Debat Capres

Randi Reimena oleh Randi Reimena
18 Februari 2019
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Debat capres kedua kemarin ternyata menunjukkan betapa nasionalisme Prabowo dan Jokowi, sehingga berhasil membuat seseorang batal golput.

Kemarin saya masih golput. Sekarang tidak lagi. Begini ceritanya.

Sebagai orang apolitis saya tidak terlalu peduli dengan pilpres. Pada pilpres yang lalu saya ketiduran dan sama sekali tidak merasa bersalah. Belakangan ini teman-teman sering mengatai saya sebagai seseorang yang tidak berguna, cuma tahu bersih, tidak nasionalis, dan seterusnya. Walau hanya dalam dua jam saja, saya sudah melupakannya.

Karena iseng, akhirnya saya menonton debat capres tadi malam—berharap mendapatkan hiburan. Semuanya biasa saja, sampai saya menyaksikan Pak Prabowo mengatakan bahwa ia akan mengembalikan 340 ribu hektar lahan yang ia kuasai pada negara kapan pun negara meminta. Lantas dalam satu hentakan pasti ia mengakhiri perkataannya: karena saya nasionalis dan patriotik!

Tiba-tiba ada yang menyelinap ke dalam sanubari saya. Dada saya bergemuruh. Saya merasa darah mengalir cepat sampai ujung jari. Dalam momen tersebut, tiba-tiba saya sadar, bahwa inilah nasionalisme yang sesungguhnya.

Selama ini saya kira nasionalisme itu artinya mencintai tanah air, hidup damai dan berbagi dengan orang-orang, tidak membedakan ras, suku, maupun agama. Ternyata saya salah kaprah. Pikiran saya terlalu dangkal. Nasionalisme menurut Pak Prabowo tadi, artinya tidak sedangkal itu. Menjadi nasionalis artinya juga boleh mengelola sampai 340 ribu hektar lahan.

Dengan semua gejolak tersebut seolah membuat saya sanggup hormat ke merah putih selama 6 jam tanpa henti atau melakukan apa pun demi negara. Membuat saya akhirnya memutuskan untuk nggak golput dan memilih Pak Prabowo.

Tapi entah setan apa yang tiba-tiba hinggap di kepala saya. Ia membisikkan, “Ini pilpres pertamamu, tak usah terburu-buru menentukan pilihan”. Jangan-jangan masih ada yang lebih nasionalis dan patriotik dibanding Pak Prabowo. Kita saja yang terkejut dengan kenyataan betapa nasionalisnya Pak Prabowo. Untuk Anda ketahui, orang nasionalis dan patriot itu tidak riya. Tidak pamer. Kalau semalam Pak Prabowo ketahuan nasionalismenya, itu bukan dia yang pamer. Pak Jokowi aja yang rese.

Tapi, bagaimana kalau Pak Prabowo bukan yang paling nasionalis dan patriotik, tapi saya terlanjur memilih dia. Maka saya pun mencari-cari informasi, siapa lagi kira-kira yang nasionalisme dan patriotismenya melebihi Pak Prabowo?

Ternyata Pak Prabowo bukan apa-apa! Masih banyak yang lebih nasionalis dibanding dia.

Ada yang namanya Pak Martua Sitorus yang nasionalismenya berlipat-lipat dibanding Pak Prabowo. Pada 1991 saja beliau sudah punya 7100 hektar lahan sawit, setelah perusahaannya berduet dengan perusahaan asing, lahannya malah sudah mencapai 169.725 hektar. Bayangkan, seratus enam puluh sembilan ribu tujuh ratus dua puluh lima hektar! Betapa luas dan lapangnya nasionalisme bapak ini. Membacanya saja membuat mata saya berkaca-kaca.

Di luar itu, ada lagi kelompok-kelompok nasionalis yang nasionalismenya juga tak main-main. Di antaranya kelompok Marison Nusantara, yang punya 7000 hektar lahan sawit sebagai bukti nasionalisme kelompoknya. Selain itu, ada pula yang lainnya, meski kadar nasionalismenya nggak tinggi-tinggi amat.

Itu semua informasi dari tahun 2011, sementara informasi terbaru tak bisa saya dapat. Tampaknya Kementerian yang berwenang masih malu-malu untuk mengumumkan siapa sebetulnya yang paling nasionalis di negeri ini. Namun melihat nasionalisme orang Indonesia yang pakai mati, dapat dibayangkan sejak 2011 kadarnya pasti terus bertambah.

Tapi orang-orang dan kelompok-kelompok nasionalis ini tidak mau tampil ke depan. Tidak mau mengayomi rakyat banyak secara langsung. Mereka mungkin lebih nyaman berada di belakang layar. Mengendalikan arah nasionalisme agar tidak tersesat ke jalan yang salah.

Iklan

Mereka ini tidak ingin disorot tidak seperti Pak Luhut, misalnya. Walau wujud nyata nasionalismenya memang tidak tampak—karena susah mencari datanya—tapi ia justru rela bolak-balik ke luar negeri untuk memperjuangkan sawit Indonesia. Lha terus, apa hubungannya dengan sawit? Oooh, jelas ada hubungannya.

Begini, Saudara-saudara. Telah terang benar bagi saya, nasionalisme itu tak dapat dipisahkan dengan sawit. Seperti jari ibu dan jari telunjuk. Ratusan ribu hektar lahan tadi tidak ada artinya kalau tidak ditanami sawit. Dengan kata lain, jika nasionalisme itu wujudnya dalam lahan-lahan luas, maka sawit adalah buahnya.

Nah, Pak Luhut ini nasionalismenya sungguh luar biasa. Mulai dari sungkem ke Paus di Roma sampai menggertak Perancis pun ia lakoni demi sawit Indonesia, demi buah nasionalisme tadi. Siapa yang bisa menandingi patriotisme Pak Luhut kalau begitu. Pak Prabowo saya perhatikan cuma merawat nasionalisme di lahan-lahan luasnya saja, sementara Pak Luhut berjibaku di tataran global.

Saya jadi ingat, kalau Pak Luhut adalah bawahan Pak Jokowi. Saya juga ingat bagaimana dalam debat tadi malam Pak Jokowi nampak optimis dengan masa depan sawit Indonesia. Saya tiba-tiba tersadar, ke mana saja saya selama ini. Lha wong dalam pemerintahannya, Pak Jokowi telah mendorong tumbuh kembangnya nasionalisme sampai ke rawa-rawa di Papua, sehingga saudara saya di sana dapat menikmati buah nasionalisme tersebut.

Sementara, apa yang sudah dilakukan Pak Prabowo? Di luar 340 hektar nasionalismenya itu, ia hanya beretorika tentang pentingnya sawit. Sementara Pak Jokowi sudah duluan bekerja. Menciptakan ribuan hektar perkebunan plasma untuk rakyat dan telah melibatkan 16 juta petani dalam industri sawit.

Kalau pun ada video-video seperti karya Watchdoc yang menyatakan perkebunan sawit rakyat itu tidak menjamin kehidupan petani lebih baik, atau berbagai laporan tentang konflik lahan, maupun hasil riset tentang betapa berbahaya sawit bagi lingkungan, nasionalisme yang kuat ini telah membendung propaganda tersebut. Masak nasionalisme kok berbahaya?

Saya kini tercerahkan, merasa gagah dan pasti. Nasionalisme Pak Prabowo belum ada apa-apanya. Mulai saat ini, saya teguhkan diri memilih Pak Jokowi.

Terakhir diperbarui pada 18 Februari 2019 oleh

Tags: debat capresgolputjokowiNasionalismePemilu 2019prabowo
Randi Reimena

Randi Reimena

Artikel Terkait

Instruksi Belajar Bahasa Prancis: Taktik Genius Mengenal Perjuangan Rakyat Prancis MOJOK,CO
Esai

Instruksi Belajar Bahasa Prancis: Taktik Genius untuk Mengenal Perlawanan Rakyat Prancis

1 Juni 2026
Museum Ibu Marsinah jangan berhenti sebagai simbol, tapi negara harus serius pikirkan kesejahteraan kaum buruh MOJOK.CO
Tajuk

Museum Ibu Marsinah Jangan Berhenti sebagai Simbol, Tapi Kesejahteraan Buruh Harus Benar-benar Dipikirkan

18 Mei 2026
Mens Rea, Panji Pragiwaksono sebagai Anak Abah, dan Bahaya Logika Fanatisme MOJOK.CO
Esai

Mens Rea, Pandji Pragiwaksono sebagai Anak Abah, dan Bahaya Logika Fanatisme

12 Januari 2026
kapitalisme terpimpin.MOJOK.CO
Ragam

Bahaya Laten “Kapitalisme Terpimpin” ala Prabowonomics

21 Oktober 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Derita Bisnis Laundry: Cuan 15 Juta Hilang karena Kebodohan MOJOK.CO

Pengalaman Bisnis Laundry yang Cukup Menyedihkan, Berharap Cuan Besar 15 Juta per Bulan tapi Cuma Dapat 3 Juta: Boncos karena Kebocoran-Kebocoran Sepele

4 Juni 2026
Katanya Sekolah Itu Tiket VIP Hidup Mapan, Ternyata Jadi Ibu Rumah Tangga yang Bikin Goyah Negara MOJOK.CO

Katanya Sekolah Itu Tiket VIP Hidup Mapan, Ternyata Jadi Ibu Rumah Tangga yang Bikin Goyah Negara

5 Juni 2026
Meski tanpa sosok ayah (fatherless), tapi tidak hilang arah MOJOK.CO

Hidup Tanpa Sosok dan Peran Ayah Nyatanya Tak bikin Hilang Arah, Bisa Cari Arah Sendiri dan Malah bikin Orang Lain Iri

9 Juni 2026
Evakuasi anjing terbuang dari tangan para jagal di Jogja MOJOK.CO

Evakuasi Anjing Terbuang dari Operasi Senyap Para Jagal di Jogja, Kebal Intimidasi dan Caci Maki

10 Juni 2026
Harga Pertamax Naik Lagi, dan Kali Ini Kita Tidak Boleh Diam dan Pasrah Lagi

Harga Pertamax Naik Lagi, dan Seperti Biasa, Kelas Menengah Jadi Korban, Lagi dan Lagi

10 Juni 2026
Proyek pengelolaan sampah menjadi listrik (PSEL) Semarang Raya dilirik dunia MOJOK.CO

Proyek Sampah Jadi Listrik (PSEL) Semarang Raya Dilirik Dunia, Jadi Solusi Masa Depan Kota

5 Juni 2026

Video Terbaru

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026
Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

17 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.