• 112
    Shares

MOJOK.CO – Bagaimana jika “Orang Hutan” memberi kita perspektif baru dalam merespons kerusakan pembalakan hutan dari perkebunan sawit di Sumatra?

Ada candaan yang sering saya lontarkan ke beberapa teman saya waktu tinggal di Eropa. Kata saya, Pulau Sumatra itu kalau dilihat dari atas udara menggunakan pesawat, maka isinya akan terlihat hamparan hutan semua.

Karena saya berasal dari sana, maka saya ini sebenarnya termasuk “orang hutan” juga. Dan sebagai “orang hutan”, saya tentu lebih keren. Karena setiap hari masuk televisi. Dari Discovery Channel sampai National Geographic dibandingkan Anda.

Dari cerita tersebut saya seolah diingatkan kembali ketika melihat belakangan ini, berbagai posting-an mengenai sawit dan terancamnya kehidupan orangutan dan satwa-satwa lain seperti gajah atau harimau karena konversi masif hutan jadi perkebunan sawit memang menyesakkan dada.

Sayangnya, beberapa NGO Internasional sering hanya melaporkan yang sensasional saja, yang besar-besar saja, tapi luput melaporan berapa banyak satwa lain yang tak kalah penting karena habitatnya ikut terkena dampak. Habitat yang saya maksud adalah habitat ikan yang ikut hancur karena konversi lahan tersebut.

Persoalan ini tidak banyak yang mengekspos. Padahal ada begitu banyak anak sungai di daerah saya, di Sumatra sana, yang mengalami pendangkalan karena proses sedimentasi—akibat konversi lahan hutan menjadi kebun sawit.

Indikasi ini bisa dilihat dari rakyat pedalaman yang sudah tidak lagi bersampan menuju muara sungai untuk melakukan aktivitas ekonominya. Hal yang disebabkan anak sungai sudah jadi dangkal. Begitu dangkalnya, bahkan kita bisa berjalan kaki menelusuri anak sungai tersebut. Semakin menyedihkan, karena hanya itu satu-satunya infrastruktur alami yang menghubungkan daerah pedalaman dengan muara sungai.

Hilangnya anak sungai, otomatis menghancurkan habitat biota sungai. Rakyat pedalaman mengalami kekurangan asupan sumber protein alami seperti ikan (karena habitatnya rusak). Khususnya anak-anak kecil dalam usia pertumbuhan. Mereka terancam mengalami kekurangan protein dari sumber makanan alami. Ikan sungai sebagai salah satu asupan protein yang sangat mudah didapat sebelumnya, perlahan makin langka.

Kita memang tidak bisa menutup mata, bahwa industri sawit Indonesia saat ini sangat tidak ramah lingkungan. Masalahnya, industri ini terlanjur sudah jadi begitu besar. Bahkan Indonesia saat ini adalah produsen terbesar di dunia. Artinya, jutaan rakyat dari berbagai lapisan piramida, baik di dalam negeri maupun dunia luar telanjur bergantung dengan industri sawit di Indonesia. Hal ini menjadikan urusan boikot CPO Indonesia menjadi sedemikian kompleks dan tidak semudah solusi yang bisa ditawarkan NGO Internasional.

Negara-negara Eropa bukannya tanpa dosa dan ada baiknya tidak perlu sok-sokan overdosis beralih rupa jadi pengawal moral lingkungan. Karena mereka juga berkontribusi dalam sejarah hitam penghancuran lingkungan dalam skala masif dari waktu ke waktu di tanah mereka sendiri.

Baca juga:  Komentar Dulu Sebelum Anda Dikomentari

Contohnya? Batu bara dan teknologi tenaga uap yang digunakan di Inggris, karena negeri tersebut pada masa lalu pernah kehabisan kayu sebagai sumber energi. Pada akhirnya, mereka dipaksa mencari batu-bara, digali terus-menerus sampai ke bawah dan pada banyak kasus sampai terhalang air. Untuk mengatasinya, diperlukan pompa untuk mengeluarkan air agar aktivitas menambang batu-bara bisa lancar. Dari sana kemudian lahir teknologi mesin uap yang awalnya digunakan untuk memompa air keluar dari tambang batu bara.

Selain Inggris dengan batu baranya, ladang olive dan anggur di sepanjang negara Perancis, Spanyol, Italia, dan Yunani; dan juga ladang anggur di sepanjang Sungai Mossel di Jerman, juga terbangun secara masif dari hasil membabat hutan. Jika mereka sok-sokan jadi pengawal moral lingkungan, mereka sudah lebih dulu menghilangkan biodiversity. Dan itu semua menjadi sejarah, bagaimana manusia merusak lingkungan yang menghasilkan bisnis triliunan Euro hingga saat ini.

Kembali ke Indonesia. Perlu diketahui bersama, bahwa bukan penduduk asli yang menginisasi pengrusakan lingkungan pada mulanya. Semua diajarkan oleh Pemerintahan Kolonial Belanda. Lambat tapi pasti, mereka melakukan pembabatan hutan tropis secara brutal dan terstruktur dengan meminjam tangan-tangan pribumi.

Daerah Puncak yg kita anggap asri dengan kebun teh, awalnya adalah hutan tropis yang jauh lebih asri dari sekarang. Tentu saja itu juga termasuk semua perkebunan teh, kopi, dan karet di seluruh Indonesia. Semuanya merupakan hasil pembabatan hutan (deforestation) yang dilakukan Kolonial Belanda secara brutal.

Jadi, pertanyaan berikutnya; kalau memang sawit mau diboikot, kenapa tidak sekalian komoditi kopi, teh, cacao, dan karet diboikot? Bukankah penjaga moral lingkungan di Eropa sana seharusnya konsisten?

Akan tetapi, saya sangsi hal tersebut bakalan terjadi. Tentu saja saya ragu, sebab ada banyak Industri di Eropa yg bergantung dengan komoditas teh, kopi, coklat, dan karet dari Indonesia. Maka dari sana, tingkah hipokrit Eropa mulai kelihatan. Mereka berlagak jadi penjaga moral lingkungan hanya untuk kepentingan yang tidak menganggu mereka saja.

Nah, di sinilah persoalan semakin pelik. Baru-baru ini perang dagang dengan cara boikot-boikot produk sedang berlangsung antara Indonesia dengan beberapa negara Eropa. Kebanyakan negara Eropa memboikot produk CPO (minyak sawit mentah) Indonesia. Tidak mau dikadalain, kita pun tak mau kalah, setahu saya saat ini impor wine dari Perancis dilarang oleh Pemerintah Indonesia. Sebuah efek balasan karena Perancis memboikot CPO Indonesia.

Baca juga:  Sebagaimana Tidak Semua Nama Inggris itu Modern, Nama Arab Juga Belum Tentu Islami

Padahal kalau dilihat lagi dengan seksama, negara-negara Uni Eropa sebenarnya tidak harus memboikot dengan cara kontraproduktif semacam itu. Menurut hemat saya, lebih baik dibangun kemitraan saja. Kita “diajarin” bagaimana bikin ladang olive dan anggur yang sudah merusak lingkungan Eropa itu bisa dipersepsikan sebagai sektor yang sustainable dan legal. Berbagi tips agar industri sawit kita tetap tumbuh, sambil mengurangi atau memperbaiki dampak lingkungan yang tidak kita inginkan.

Jangan lupa, meskipun merusak lingkungan, industri sawit di Indonesia harus diakui sudah berkontribusi dalam mengentaskan kemiskinan jutaan orang (poverty alleviation). Ini nyata, terukur angka maupun indikatornya.

Ingat juga, dibandingkan pembalakan hutan, besarnya angka kemiskinan memiliki risiko yang lebih terasa dalam menggoyang stabilitas negara dengan 260 juta rakyat yang berada di lokasi strategis perdagangan dunia. Tentu saja, kekacauan sedikit saja soal ini di negara kita, akan memberikan dampak regional pada skala masif juga.

Jika ada hal-hal yang belum dikerjakan, maka salah satu yang bisa disebutkan adalah mengubah kerusakan lingkungan menjadi peluang multidimensi yang positif. Coba lihat, kerusakan lingkungan di Indonesia bahkan bisa jadi peluang NGO yang berbasis di negara-negara barat untuk cari uang. Melalui kampanye hitam untuk meraup donasi demi kepentingan perut mereka juga.

Terang sudah, kita harus melawan hal-hal begini. Jangan mau dijadikan ladang ekonomi pressure groups demi kepentingan perut segelintir manusia yg tidak pernah berpikir konstruktif dan benar-benar solutif.

Faktanya hutan sudah dibabat, lingkungan hancur, dan kita tidak bisa mengembalikan kerusakan ini dalam waktu dekat—atau  yang lebih buruk tidak akan pernah bisa kembali seperti sedia kala.

Meski begitu, potensi peluang dari masalah saat ini justru besar sekali. Misalnya ruang di antara pohon sawit kan bisa kita tanam solar panel. Lalu diberi nama programnya: solar energy paradise across nusantara palm plantation.

Saya yakin solar energy harvesting di kawasan yang sudah tak berhutan akan membuka peluang baru. Apalagi ditambah embel-embel “carbon neutral development”, makin mantap jiwa sudah. Bahkan kalau dihitung luas potensi arealnya, saya kira itu sudah bisa untuk mencukupi kebutuhan sebagian dari listrik kita. Sehingga mungkin kita tidak membutuhkan listrik berbasis nuklir seperti negara-negara Eropa.

Malah mungkin kita bisa menjadi best practice, dan benar-benar jadi “Macan Asia” dengan menawarkan solusi dari persoalan lingkungan yang begitu kompleks saat ini dengan berinovasi dan bekerja. Merespons kerusakan lingkungan jadi sesuatu yang semakin bernilai untuk ke depannya.

Jadi, daripada selalu mengutuk kegelapan, lebih baik menyalakan lilin untuk membuat peradaban yang lebih baik.

  • 112
    Shares


Tirto.ID
Loading...

No more articles