Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Cuan

Tips Mengelola Gaji Jakarta yang Kelihatan Besar, tapi Nyatanya Bisa Bikin Pusing kayak Gaji Jogja yang Tiarap Itu

Muhamad Iqbal Haqiqi Maramis oleh Muhamad Iqbal Haqiqi Maramis
12 Februari 2026
A A
Tips Mengelola Gaji Jakarta yang Kelihatan Besar tapi Cuma Ilusi MOJOK.CO

Ilustrasi Tips Mengelola Gaji Jakarta yang Kelihatan Besar tapi Cuma Ilusi (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO –Banyak kawan dari Jogja merantau ke Jakarta demi perbaikan nasib. Namun stres sendiri karena gagal mengelola gaji yang lebih besar.

Beberapa kawan saya pernah bercerita. Bahwa meninggalkan Jogja dengan UMR-nya yang mengenaskan tidak semudah itu. Entah kenapa, kota ini bisa mengikat siapa saja dengan kuat. Sehingga, pindah ke Jakarta misalnya, yang mampu menyediakan gaji lebih besar, menyimpan tantangan tersendiri.

Iklan

Kalau misalnya berhasil meninggalkan Jogja, lalu menerima gaji lebih tinggi, sering membuat seseorang merasa naik levelnya. Tidak terkecuali saya.

Baca juga Gaji 18 Juta di Jakarta Menjanjikan Stabilitas, Gaji 9 Juta di Jogja, Menjanjikan Ketenangan

Merantau ke Jakarta dan dapat gaji lebih besar ternyata bikin kaget

Saya tidak berasal dari Jogja, tapi Kendal. Namun, tujuan saya ya sama, Jakarta. Soal gaji, sudah pasti lebih besar. Saya mendapatkan gaji Rp5 juta per bulan. Dan, perasaan mendapatkan nominal penghasilan 5 jutaan itu terasa sekali superiornya. 

Padahal, perasaan itu sebetulnya hanya ilusi. Secara angka memang lebih tinggi ketimbang kendal atau Jogja. Namun, secara value, apakah naik juga?

Ada sebuah kondisi yang saya yakin banyak menimpa teman-teman. Yang saya maksud adalah, meski sudah mendapatkan gaji lebih besar, tapi uang tetap saja cepat habis. Apa yang terjadi?

Kadang, setelah meninggalkan kampung halaman lalu pindah ke Jakarta, kita akan menghadapi banyak pengeluaran baru. Misalnya, biaya sewa tempat tinggal yang bikin kaget, ongkos transportasi, pengeluaran makanan, dan ajakan nongkrong. 

Akhirnya, di akhir bulan, baru sadar kalau gaji besar bisa saja habis dengan cara yang sama ketika masih menerima gaji kecil. Cepat, diam-diam, dan tiba-tiba muncul pertanyaan, “Gila, uang tinggal segini, buat apa aja sih?”

Nah, supaya nggak merasa superior dan kagetan, saya menyimpan dua tips. Khususnya untuk kamu semua yang akan meninggalkan Jogja dan UMR-nya yang terlalu tiarap. Tips ini terbagi menjadi dua, yaitu terkait mengelola keuangan dan soal mental.

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

#1 Gaji besar di Jakarta, pengeluarannya juga jelas lebih besar

Ketika menerima gaji yang lebih besar di Jakarta, kita harus perjelas dan tertibkan dulu soal pengeluarannya. Ketika menerima gaji, saran saya, langsung membaginya ke dalam pos-pos kecil. 

Misalnya, untuk kebutuhan seperti makan, biaya sewa, listrik, dan lain-lain. Pisahkan juga pengeluaran yang sifatnya keinginan. Ini adalah hal yang paling mendasar supaya nggak tiba-tiba merasa pengeluaran jadi membengkak begitu meninggalkan Jogja, pindah ke Jakarta, dan dapat gaji lebih besar.

Sebab, mau pindah ke mana saja, pengeluaran utama untuk kebutuhan pokok itu pada dasarnya tidak berbeda jauh jenisnya. Yang berbeda cuma nominalnya yang jadi lebih mahal. Kamu perlu menyadari perubahan nominal ini begitu pindah ke kota besar.

#2 Memprioritaskan tabungan dan dana darurat, baru gaya hidup

Punya gaji besar di Jakarta nggak akan membuat seseorang terbebas dari yang namanya risiko. Cara untuk mengantisipasi risiko, terutama soal keuangan itu ya punya tabungan dan dana darurat. Banyak yang mengabaikan aspek ini begitu meninggalkan Jogja, pindah ke kota besar, dan dapat gaji lebih besar.

Iklan

Mentang-mentang pindah ke Jakarta, gaji naik, kemudian gaya hidup ikutan naik. Jangan sampai seperti itu.

Sederhananya, alokasikan setidaknya 50% sampai 70% kenaikan pendapatan untuk tabungan, investasi, dan dana darurat. Jadi misalnya, di Jogja dapat gaji mepet Rp2 juta, kemudian pindah ke Jakarta dengan total gaji Rp6 juta. Artinya, ada kenaikan Rp4 juta. Dari angka kenaikan itu, setidaknya alokasikan Rp2 juta ke pos-pos dana yang sudah saya uraikan di atas.

#3 Begitu merantau, bikin batas untuk biaya kebutuhan inti

Seperti yang sudah saya jelaskan kalau pengeluaran atas kebutuhan relatif sama meski kamu pindah dari Kendal atau Jogja ke Jakarta. Relatif, ya, artinya tidak sama persis nominalnya. Kalau ada tambahan, paling satu atau dua pengeluaran baru.

Nah, perkara perubahan nominalnya ini, kamu perlu membuat batas. Hitungannya kayak gini:

Usahakan biaya hidup inti (sewa + listrik/internet + transport rutin + makan harian) nggak lebih dari 50% sampai 55% gaji bersih. Kalau tembus, kamu akan sulit untuk menabung.

Misalnya, cari kos-kosan di Jakarta yang kisaran Rp1 jutaan saja. Jangan malah nyari harga Rp2 sampai Rp3 jutaan sementara gaji cuma Rp6 jutaan per bulan. Jangan mengorbankan 50% gaji hanya untuk tempat tinggal. Ingat, kamu masih harus mengisi tempat tinggal itu dan memikirkan kebutuhan lain. Kalau kamu memaksa, pada akhirnya gajimu ya habis begitu aja buat kebutuhan tanpa simpanan.

#4 Hati-hati dengan pinjol dan paylater

Jangan berteman akrab dengan segala layanan pinjaman. Kalau memang mau menggunakannya, bikin batas cicilannya maksimal 10% sampai 15% persen dari gaji. 

Sebab, kalau memaksa lebih banyak, fitur pinjaman ini akan menjadi benalu yang membuat gaji hanya numpang lewat di rekening. Usahamu dapat gaji besat di Jakarta jadi percuma, dong.

#5 Menyisihkan nominal dari gaji untuk keluarga

Nggak jarang kalau pindah ke kota besar, keluarga dan tetangga mengira kita otomatis jadi mapan dan bergelimang uang. Padahal nggak gitu konsepnya. 

Makanya, penting untuk menentukan nominal bantuan yang sanggung kamu sisihkan setiap bulannya dari gaji. Setidaknya kalau memang mereka nggak minta, ya sisihkan aja dulu. Jadi kalau mereka minta dadakan, kamu sudah siap. Langkah seperti ini penting, apalagi kamu yang berstatus generasi sandwich.

Setelah memastikan lima aspek soal tips keuangan di atas, kita masuk pada tips mental dan pengendalian diri. Ini penting supaya cita-cita meninggalkan Jogja demi gaji besar berjalan dengan lancar. Ingat, kota besar punya berbagai cara untuk melahirkan tekanan mental. Nggak jarang perantau baru jadi depresi.

#1 Sebelum masuk Jakarta, siapkan diri untuk dua racun: pembuktian dan perbandingan

Kota besar itu semacam area kompetisi yang hadiahnya adalah kepuasan diri. Sayangnya, kompetisi ini seringnya diisi dengan proses pembuktian dan perbandingan yang nggak adil oleh sebagian orang di kota. Mereka akan menjegal, mencibir, dan lain sebagainya supaya mental kamu jatuh.

Selain itu, seseorang yang baru datang dari kota yang “dianggap kecil” kayak Kendal seperti saya akan berhadapan dengan banyak jenis sirkel pertemanan, teman kantor, teman nongkrong, teman main, temen julid, teman hobi, dan teman-teman lain. 

Semua sirkel itu menggoda seseorang untuk membuktikan diri. Padahal, kalau diikutin semuanya, kamu bakal capek sendiri. Selain itu, kebanyakan mengikuti sirkel pun membuat pengeluaran jadi nggak terkontrol.

#2 Punya ritual gajian biar tetap waras

Setelah menerima gaji, kita harus mengalokasikan semua sesuai pos pengeluaran yang sudah kamu rencanakan. Nah, nggak ada salahnya untuk mengalokasikan jatah have fun dari gaji bulanan tersebut. 

Mau main, nonton bioskop, nongkrong, beli makanan, atau apa saja, nggak masalah. Asal, semua itu nggak mengganggu pengeluaran lainnya. Penting untuk memanjakan diri. Badan, jiwa, pikiran butuh reward setelah bekerja untuk satu bulan lamanya. Jangan sampai, merantau di Jakarta cuma melahirkan stres baru karena gagal mengelola gaji.

Baca juga Momen Terima Gaji Pertama bikin Nangis dan Nyesek di Antara Perasaan Lega

#3 Mencari rutinitas lain di Jakarta

Biar hidup nggak terasa kosong dan hampa, cari rutinitas lain. Nggak harus mahal. Ini supaya mental yang kamu bawa ke Jakarta nggak hancur dengan cepat.

Misalnya, tiap akhir pekan, jalan-jalan ke ruang terbuka hijau kota. Ikut komunitas olahraga juga oke. Semua aktivitas tambahan itu bikin kehidupan jadi nggak monoton. 

Saya sering menjumpai orang yang hidupnya hanya soal kantor. Pada akhirnya, dia stres sendiri dan sulit dapat jodoh.

Itulah beberapa tips yang bisa kamu jadikan referensi setelah angkat kaki dari Jogja dan mendapatkan gaji besar. Intinya, pindah ke kota besar bukan hanya tentang naiknya angka di slip gaji, tapi juga soal kemampuan untuk menjaga dan mengendalikan diri dari langkah yang keliru. 

Gaji yang meningkat seharusnya membuat hidup jadi lebih aman. Bukan malah jadi sumber khawatir, cemas, bahkan depresi baru karena nggak mampu menertibkan uang dan menenangkan isi kepala.

Penulis: Muhamad Iqbal Haqiqi

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA Meninggalkan Pekerjaan Gaji Rp150 Ribu per Hari di Desa Demi Ego Merantau, Berujung Sesal karena Kerja di Jakarta Tak Sesuai Ekspektasi dan tips menarik lainnya di rubrik CUAN.

Terakhir diperbarui pada 13 Februari 2026 oleh

Tags: cuangajigaji jakartagaji jogjajakartaJogjamengatur keuanganNaik Gajitips keuangantips mengelola gajiUMR Jakartaumr jogja
Muhamad Iqbal Haqiqi Maramis

Muhamad Iqbal Haqiqi Maramis

Mahasiswa Magister Sains Ekonomi Islam UNAIR, suka ngomongin ekonomi, daerah, dan makanan.

Artikel Terkait

Senjakala Lapangan Sepak Bola di Jogja yang Makin Berjarak dengan Warganya.MOJOK.CO
Suara Bawah Tanah

Senjakala Lapangan Bola di Kota Jogja yang Makin Berjarak dengan Warganya

9 Juli 2026
kebun sayur di kota jogja.MOJOK.CO
Kabar

Cara Warga Wirobrajan Hadapi Keterbatasan Lahan: Mengubah Tembok Kampung Menjadi Kebun Sayur

8 Juli 2026
Lapangan Bola di Kauman, Jogja. MOJOK.CO
Suara Bawah Tanah

Lapangan Paving: Kemewahan yang Tersisa bagi Anak-anak Kota Jogja untuk Bermain Bola

7 Juli 2026
kebayoran baru, jakarta selatan, jakarta.MOJOK.CO
Urban

Punya Kos Murah di Kebayoran Baru adalah Kemewahan, Biar Berisik tapi Setidaknya Menyelesaikan 3 Masalah Besar Perantau di Jakarta

3 Juli 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Selain ke petugas Sensus Ekonomi, warga desa juga jengah dengan program sensus dari mahasiswa KKN MOJOK.CO

Warga Desa Juga Jengah dengan Sensus dari Mahasiswa KKN: Tak Nemu Gunanya, Tak Srawung tapi Korek Privasi Orang

8 Juli 2026
Polyworking (mencari pekerjaan tambahan atau sampingan) jadi pilihan rasional in this economy karena satu pemasukan gaji tak beri rasa aman MOJOK.CO

Polyworking: Pekerja Kurangi Waktu Luang demi Pekerjaan Tambahan dan Pesan untuk Lulusan Baru jika Sumber Gaji Tak Cukup 1

8 Juli 2026
Jumirah dan suami merupakan pemulung di TPA Troketon, Klaten. MOJOK.CO

“Nrimo ing Pandum” ala Ibu Jumirah: Berteman dengan Belatung dan Diabetes di Tengah 150 Ton Sampah Residu Warga Klaten

12 Juli 2026
Kesejahteraan Dosen dan Rasa Aman yang Masih Jadi Angan-angan MOJOK.CO

Kesejahteraan Dosen dan Rasa Aman yang Masih Jadi Angan-angan

6 Juli 2026
Tahlilan di desa. MOJOK.CO

Gen Z di Desa Ogah-ogahan Ikut Tahlilan Bikin Cemas Para Tetua: Bisa Hilang Budaya Srawung dan Peduli Tetangga

8 Juli 2026
Pertama kali beli mesin cuci di rumah desa, kena julid tetangga MOJOK.CO

Pertama Kali Beli Mesin Cuci di Rumah Desa: Terharu Ringankan Beban Ibu hingga Dianggap Buang Duit oleh Tetangga Julid

10 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.