Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Urban

Usia 30 Harus Punya Rp100 Juta Pertama, Tapi Mustahil bagi Sandwich Generation yang Gajinya Pas-pasan dan Sudah Ludes di Tengah Bulan

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
10 Februari 2026
A A
Rp100 juta pertama, tabungan bersama pas pacaran itu bikin repot MOJOK.CO

Ilustrasi - Tabungan (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Sering terdengar anggapan bahwa saat menginjak usia 30 tahun, seseorang idealnya sudah harus mengantongi uang Rp100 juta pertama. Angka ini bisa berupa hasil tabungan, investasi, ataupun total aset yang dimiliki. Namun, bagi mereka yang terjebak dalam posisi sandwich generation (generasi yang menanggung hidup diri sendiri, orang tua, dan kadang adik-adiknya), target tersebut terasa seperti hal yang mustahil.

Jangankan bermimpi punya Rp100 juta pertama, sekadar bisa bertahan hidup sampai pertengahan bulan saja rasanya sudah kewalahan. Gaji bulanan sering kali sudah ludes tak bersisa hanya untuk membiayai berbagai kebutuhan keluarga yang menjadi tanggungannya.

“Belum sampai tanggal 20 saja gaji sudah habis, benar-benar tidak ada sisa,” ungkap Kania (25), salah seorang sandwich generation yang membagikan ceritanya kepada Mojok, Minggu (8/2/2026). “Yang bikin sedih, gaji itu habis begitu saja tanpa sempat kita nikmati, rasanya cuma numpang lewat.”

Benarkah usia 30 tahun harus punya Rp100 juta?

Banyak pakar keuangan memang berpendapat bahwa idealnya, seseorang di usia 30 tahun sudah memiliki aset minimal Rp100 juta. Perencana Keuangan, Andy Nugroho, menjelaskan bahwa nominal tersebut bisa dihitung dari gabungan jumlah tabungan dan dana darurat.

“Sebenarnya tujuan keuangan tiap orang itu berbeda-beda. Namun, secara umum yang sebaiknya dimiliki adalah tabungan dulu, baru kemudian dana darurat, itu poin pentingnya,” jelas Andy, dikutip Selasa (10/2/2026).

Mengenai tabungan, ia menyebutkan bahwa seseorang setidaknya memiliki simpanan sekitar Rp50-100 juta saat masuk usia kepala tiga. Menurut Andy, angka tersebut sebenarnya masuk akal dicapai dengan cara menyisihkan 15-25 persen penghasilan bulanan untuk ditabung.

Misalnya, seseorang dengan gaji Rp5 juta bisa menyisihkan Rp700 ribu hingga Rp1 juta per bulan sebagai simpanan. Dalam satu tahun, tabungan yang terkumpul sudah lebih dari Rp10 juta. Artinya, dalam kurun waktu 10 tahun, ia bisa mendapatkan Rp100 juta. Meskipun, kata Andy, membutuhkan usaha ekstra untuk menahan pengeluaran dan tidak membeli barang-barang yang kurang penting.

Lebih jauh, ia menambahkan bahwa seseorang yang memasuki usia 30 tahunan biasanya sudah mulai tertarik untuk berinvestasi. Sebagian orang lebih nyaman dengan investasi fisik seperti properti (tanah/rumah) dan emas, sementara ada juga yang memilih instrumen keuangan seperti reksadana, saham, atau aset kripto.

Jangankan Rp100 Juta, setengah gaji saja sudah habis untuk keluarga

Sayangnya, teori keuangan tersebut tidak bisa sepenuhnya diterapkan oleh semua orang. Kania, misalnya, setiap bulan merasa sangat kesulitan bahkan sekadar untuk menyisihkan sedikit gajinya. Boro-boro untuk menabung, untuk memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari saja terkadang masih kurang.

Kania mencoba merinci pengeluarannya. Sebagai pekerja dengan gaji setara UMR Jogja “lebih sedikit”, pada setengah bulan terakhir, uang di rekeningnya sering kali hanya tersisa kurang dari Rp500 ribu.

“Anggap saja gajiku 3 juta. Saat gajian, 750 ribu langsung habis untuk bayar kos. Satu juta wajib transfer ke orang tua di kampung, kadang malah lebih. Nah, sisanya tinggal berapa?” keluhnya.

“Jangankan Rp100 juta, bisa menyisakan Rp500 ribu di rekening pada akhir bulan untuk bertahan hidup saja rasanya sudah sangat bersyukur,” tambah perempuan tulang punggung keluarga ini.

Bagi sandwich generation, Gaji Rp6 Juta pun tetap sulit menabung

Mungkin sebagian orang berpikir Kania sulit menabung karena pendapatannya pas-pasan atau setara UMR Jogja. Namun kenyataannya, pekerja dengan standar gaji UMR Jakarta pun merasakan penderitaan yang sama.

Belum lama ini, di akun media sosial X (Twitter) @workfess, seorang warganet curhat mengenai beratnya menjadi sandwich generation, yang dituntut punya tabungan Rp100 juta pertama, meski sudah memiliki gaji yang layak. Ia bercerita bahwa gajinya di Jakarta mencapai Rp6 juta per bulan.

Akan tetapi, dengan besarnya pengeluaran—seperti membiayai kebutuhan orang tua dan biaya sekolah adik-adiknya—angka tersebut masih jauh dari kata cukup. Apalagi jika melihat biaya hidup di Jakarta yang memang terkenal mahal.

Di kolom komentar, banyak netizen yang membenarkan dan merasakan hal serupa. Para pekerja di Jakarta ini mencurahkan isi hatinya. Meski rata-rata bergaji Rp6 juta, sering kali mereka hanya bisa menikmati sekitar Rp2 juta saja untuk diri sendiri. 

Sisanya? Menguap begitu saja untuk kebutuhan lain yang kadang tidak terasa pengeluarannya.

“Ini bukan masalah kita boros atau tidak bisa menabung, ya. Tapi memang biaya hidup itu besar, ditambah kita punya tanggungan lain yang bernama keluarga,” tulis salah satu netizen membela diri.

Iklan

Ironisnya, uang habis tanpa sempat dinikmati sendiri

Jika pekerja dengan gaji Rp6 juta saja merasa uangnya “cuma numpang lewat”, bayangkan nasib mereka yang berpenghasilan separuhnya. Kania, yang bergaji Rp3 juta sebulan, mengakui bahwa di akhir bulan uangnya ludes tanpa ia merasa sempat menikmatinya untuk kesenangan pribadi.

Bagaimana mau menikmati, jika uang bersih yang ia pegang hanya sekitar Rp1 juta “lebih sedikit” untuk hidup selama satu bulan penuh. Mau tidak mau, Kania harus menekan habis-habisan segala pengeluaran di luar kebutuhan pokok.

“Dengan uang segitu, ya mau nggak mau harus memprioritaskan buat makan dan bensin saja. Fuck lah apa itu Rp100 juta pertama, ” ujarnya pasrah.

Akibatnya, dana untuk “senang-senang” nyaris tidak pernah ada. Terkadang, sekadar ingin menonton film di bioskop saja ia harus berpikir dua kali. Baginya, uang Rp35 ribu—harga tiket bioskop paling murah—terlalu berharga untuk “dibuang” begitu saja.

Ada kalanya saat teman-temannya mengajak jalan-jalan ke mal, ia memilih hanya menjadi “penonton”. Ia cuma melihat-lihat, tanpa membeli satu barang pun karena harganya dirasa terlalu mahal.

“Kadang ada rasa iri melihat teman-teman bisa beli sepatu baru, tas baru, atau baju baru. Tapi aku sadar diri, kebutuhan keluarga di rumah jauh lebih mendesak daripada kesenangan pribadiku,” ungkapnya.

Sudah susah, masih saja dinyinyiri

Sudah jatuh, tertimpa tangga. Kania merasa betul, sudah hidupnya susah karena menjadi sandwich generation dengan gaji pas-pasan, nyinyiran pun kerap dialamatkan kepadanya.

Misalnya, beberapa kali ketika pulang kampung, tetangga kerap membandingkan pencapaiannya dengan orang lain yang dianggap lebih sukses.

“Si A setahun kerja di kota sudah beli motor baru. Si B sudah renov rumah. Si C ini itu,” ujarnya, kesal.

“Tetangga itu pikirannya sempit, kalkulasinya terlalu menyederhanakan masalah. Mereka pikir gaji 3 juta itu banyak, soalnya di kepala mereka nggak pernah mikir kalau kita juga perlu makan.”

Alhasil, bagi Kania dan tulang punggung keluarga lainnya, Rp100 juta pertama di usia 30 tahun terasa seperti mimpi di siang bolong. Sekuat apapun mencoba bakal sulit tercapai; bukan karena kurang berusaha, tapi memang sistem yang menghalanginya.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Tabungan Itu Penting, Tapi Mahasiswa Jogja yang Masih Harus Gali Lubang Tutup Lubang Demi Makan Mana Bisa atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 11 Februari 2026 oleh

Tags: 100 juta pertamaGen ZInvestasipilihan redaksiRp100 juta pertamasandwich generationtabungantabungan anak muda
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Kebisingan-kebisingan di desa yang sebenarnya wajar tapi kini dipermasalahkan karena narasi desa sebagai tempat slow living ideal MOJOK.CO

Hal-hal Wajar di Desa Jadi Dianggap Mengganggu Gara-gara Narasi Slow Living, Padahal Jadi Bumbu Kehidupan

14 Agustus 2026
Makrab, Budaya senioritas dan bullying di kampus.MOJOK.CO

Setelah 4 Kali Ikut Makrab di Kampus, Saya Percaya Budaya Ini Lebih Baik Dihapus Saja: Bukan Bikin Akrab, Malah Meruncingkan Konflik “Senior” dan “Junior”

13 Agustus 2026
Mahasiswa baru (maba) rela jadi jongos abang-abangan kampus di organisasi mahasiswa ekstra (ormek) dan tidak pernah menyesalinya MOJOK.CO

Maba Rela Jadi Jongos Abang-abangan Kampus demi Relasi dan Diskusi Kiri Apa Salahnya? Tak Malu dan Tak Menyesalinya

13 Agustus 2026
Pegawai Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih pinggir kuburan harus dibekali dengan keahlian supranatural hingga ilmu sosial MOJOK.CO

Keahlian-keahlian Vital untuk Pegawai Kopdes Pinggir Kuburan, Berguna buat Diri Sendiri dan Pembeli

13 Agustus 2026
Slow living, Cara Beli Rumah di Desa Tanpa Dihantui KPR Puluhan Tahun MOJOK.CO

Tanpa Punya Rumah di Desa Tetap Bisa Slow Living Asalkan Memegang 3 Prinsip Ini

12 Agustus 2026
ngaji al-qur'an.MOJOK.CO

Promosi Miras Pakai Hafalan Al-Qur’an: Diklaim Lecehkan Agama, Berpotensi Mengulang Blunder Hollywings 

11 Agustus 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Wisata Perahu Kalimas di Taman Prestasi Surabaya jadi liburan mewah. MOJOK.CO

Kemewahan Wisata Perahu Kalimas Menyelamatkan Orang Haven’t Surabaya sebelum Dilanda Stres

11 Agustus 2026
Mahasiswa baru (maba) rela jadi jongos abang-abangan kampus di organisasi mahasiswa ekstra (ormek) dan tidak pernah menyesalinya MOJOK.CO

Maba Rela Jadi Jongos Abang-abangan Kampus demi Relasi dan Diskusi Kiri Apa Salahnya? Tak Malu dan Tak Menyesalinya

13 Agustus 2026
ilustrasi - PSEL DIY di dekat TPA Piyungan. MOJOK.CO

Pemda DIY Bakal Serap 1.000 Tenaga Kerja Khususnya Warlok untuk Olah Sampah Jadi Energi Listrik di Dekat TPA Piyungan

11 Agustus 2026
Apa Salahnya ASN Jualan Nasi Kuning? Gaji Tetap, Kebutuhan Terus Bertambah MOJOK.CO

Apa Salahnya ASN Jualan Nasi Kuning? Gaji Tetap, Kebutuhan Terus Bertambah

12 Agustus 2026
Pegawai Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih pinggir kuburan harus dibekali dengan keahlian supranatural hingga ilmu sosial MOJOK.CO

Keahlian-keahlian Vital untuk Pegawai Kopdes Pinggir Kuburan, Berguna buat Diri Sendiri dan Pembeli

13 Agustus 2026
Slow living boleh kalau tabunganmu nambah 1 miliar tiap bulan (Unsplash)

Slow living itu sekarang jatuhnya kemewahan tapi gaya hidup, yang hanya bisa dinikmati oleh mereka yang tabungannya nambah 1 miliar tiap bulan

13 Agustus 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.