Beban karyawan es teh jumbo
Beban akan semakin terasa karena harus menggaji karyawan. Pendapatan harian bisa habis hanya untuk membayar gaji karyawan. Karena kalau hitungannya harian, skema gaji karyawan yang 5 hari kerja dengan durasi waktu 8 hingga 12 jam kerja, upah yang umumnya diberikan adalah Rp50 ribu sampai Rp60 ribu per hari. Itu berarti dalam seminggu, gajinya bisa Rp250 ribu sampai Rp300 ribu.
Kalau membuat rata-rata per hari jualan, beban gaji saja sudah sekitar Rp50-Rp60 ribu. Begitu biaya operasional (sekitar Rp30 ribuan) dijumlahkan dengan gaji, maka beban minimal per hari bisa menyentuh Rp80 ribu sampai Rp95 ribu.
Dengan margin Rp1.500 per cup, kawan saya perlu menjual lebih dari 50 cup biar aman. Dan 50 cup per hari, apa nggak pening itu kalau kondisinya hujan?
Waralaba es teh jumbo
Kawan saya yang lain yang membuka usaha es teh jumbo melalui waralaba nggak kalah memprihatinkan. Di Benak orang, bisnis waralaba itu bisnis terima beres dan gampang cuan. Brand sudah terkenal, mereka menyediakan booth, SOP rapi dan detail, dan bahan baku disuplai. Tinggal buka dan jualan.
Walaupun modal awalnya nggak kecil, bisa sampai dua digit, tapi bagi sebagian orang termasuk kawan saya, harga itu setimpal. Ya karena mereka membeli sistem bisnisnya. Dia memegang erat anggapan itu sampai masalah pertama muncul, yaitu paradoks biaya.
Dari curhatan kawan saya, saya menyimpulkan begini. Bisnis es teh jumbo dari waralaba itu struktur biayanya kaku, yaitu modal awal, kewajiban beli bahan tertentu, standar tampilan, belum lagi sewa titik dan gaji orang yang jaga 8-12 jam.
Semua itu harus terus jalan meski pembeli sedang sepi. Di sisi lain, produk es teh itu minuman murah yang harganya mentok di Rp3.000-Rp3.500. Harga jual tidak bisa terlalu tinggi karena konsumen itu sensitif.
Akibatnya, jarak antara biaya dan pendapatan menjadi sangat jomplang. Karena kalau misalnya hari ini terjual 60 cup sementara esok harinya cuma 10 cup, tapi di sisi lain beban biaya yang dikeluarkan oleh teman saya tetap, nggak ikutan turun. Sedikit saja penjualan turun, usaha langsung megap-megap.
Rapuhnya usaha waralaba
Ini yang membuat bisnis waralaba itu begitu rapuh. Bangkrutnya bukan karena satu hari zonk, tapi karena penjualnya yang turun tak menentu sementara biayanya tetap. Ketika kondisi seperti itu, si penyedia waralaba tidak mau tahu.
Masalah kedua adalah mindset yang kurang tepat dari kawan saya. Banyak yang memegang prinsip bahwa brand terkenal selalu berarti brandnya dicari. Padahal tidak selalu begitu.
Banyak orang tau merek es teh jumbo tertentu karena sering muncul, bukan karena cinta. Konsumen membeli bukan karena loyalitas, tapi karena kebetulan lewat. Begitu ada lapak lain lebih dekat atau sedikit lebih murah, mereka pindah tanpa beban.
Masalah ketiga adalah tidak punya fleksibilitas. Sebab dalam usaha sendiri, kawan saya yang pertama bisa menyesuaikan rasa, mencari supplier yang lebih murah, atau menjual produk lainnya untuk menambal kebocoran biaya.
Nah, dalam waralaba, fasilitas itu tersandera. Alasannya ya karena bahan harus dari pusat, resep harus sama, kemasan harus standar. Ketika harga bahan naik atau pasokan terlambat, adalah pemilik gerai yang menanggung risiko, bukan pemilik merek.
Dari situ saya menyimpulkan bahwa bisnis waralaba, dengan standarnya yang seragam, justru membuat mitranya jadi tidak punya sentuhan lokal, tidak punya keotentikan personal. Akibatnya, banyak usaha yang bermula dari kemitraan waralaba mati konyol seperti es teh jumbo milik kawan saya.
Es teh jumbo waralaba kawan saya bahkan nggak bertahan sampai satu tahun. Dia sudah kelimpungan menyiasati gap antara biaya dan pendapatan harian.
Tips mengawali sebuah usaha biar lebih gampang cuan
Dari kisah dua kawan saya, saya jadi mengerti. Baik usaha mandiri maupun waralaba, bangkrutnya usaha es teh jumbo nggak selalu karena rasa yang buruk. Usaha yang “kelihatan sepele” ini gagal karena:
Pertama, kekeliruan membaca fenomena bisnis. Kedua, terlalu yakin bahwa produk sepele berarti pengelolaannya pun mudah. Ketiga, terlalu percaya kalau sudah punya nama besar, artinya aman dan cepat balik modal. Keempat, terlalu naif menganggap bahwa pasar besar artinya semua bisa kebagian.
Tapi kembali lagi, kisah dua kawan saya tidak lantas membuat es teh jumbo menjadi bisnis yang tak bakal cuan. Usaha ini memang nampak sederhana tapi menuntut pengelolaan dengan kepala dingin tanpa berharap semuanya bisa instan.
Nah, kalau pembaca ingin membuka bisnis es teh jumbo atau bisnis apa saja, terapkan prinsip 4P dalam marketing mix. Misalnya Place, di mana seseorang harus menemukan lokasi yang bukan sekadar ramai, tapi yang bikin orang berhenti (sekolah, kampus, lingkungan kosan, dan lain-lain). Price, yang mana harga ditentukan berdasarkan kapasitas dan modal yang dimiliki.
Kemudian soal Product, yang meski teh adalah produk yang sederhana, bukan berarti asal-asalan. Perhatikan konsistensi takaran, kebersihan, kerapian, dan kecepatan yang bisa jadi pembeda mikro, yang menentukan orang balik atau kapok.
Terakhir adalah Promotion yang sangat penting untuk menjaga es teh jumbo tetap eksis di telinga para pembeli. Jadi nggak sekadar mengandalkan “murah” untuk menarik kerumunan.
Pada akhirnya, es teh jumbo akan selalu menjadi minuman segar yang proses pembuatannya sederhana. Tapi, sebelum membuka lapaknya, pastikan kamu siap menghadapi hari-hari ketika yang terasa justru bukan kesegaran cuan, melainkan pahitnya warung sepi dan membuatmu menderita.
Penulis: Muhamad Iqbal Haqiqi Maramis
Editor: Yamadipati Seno
BACA JUGA Es Teh Jumbo Kalah Gimmick, tapi Akhirnya Tetap Jadi Pemenang karena Bisa Bertahan di Segala Musim dan artikel helpful lainnya di rubrik CUAN.















