Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Cuan

Arti Sukses di Mata Pak Karjin, Petani Cabai Rawit dengan Lahan 1 Hektare: Cuan Puluhan Juta, Modalnya Bikin Jantung Copot

Winda Noviyanti oleh Winda Noviyanti
26 Maret 2026
A A
Arti Sukses dan Cuan di Mata Petani Cabai Rawit MOJOK.CO

Ilustrasi Arti Sukses dan Cuan di Mata Petani Cabai Rawit. (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Bagi petani cabai rawit, sukses bukan semata cuan dengan nominal besar. Asal cukup untuk keluarga, mereka sudah bersyukur.

Sebagai mahasiswa agribisnis, dulu saya percaya satu hal, yaitu semua usaha tani bisa dihitung rapi. Selama ada angka biaya, produksi, dan harga jual, maka kita bisa memprediksi untung dan rugi petani. Di kelas, kami belajar menghitung pendapatan dengan rumus yang jelas. Tinggal masukkan angka, tekan kalkulator, hasil keluar.

Tapi, keyakinan itu goyah saat saya datang langsung ke Desa Daya Utama, Kecamatan Muara Padang, Banyuasin, pada Agustus sampai September 2024. Saya datang membawa kuesioner penelitian dan bekal teori dari kampus. Niatnya ingin melihat berapa sebenarnya “cuan” petani cabai rawit di lapangan.

Yang saya temukan bukan sekadar angka. Saya menemukan bahwa cabai rawit tumbuh bukan hanya dari pupuk dan air, tapi juga dari harapan yang sering bikin petani deg-degan.

Dari jauh, kebun cabai rawit di desa itu terlihat cantik. Buahnya merah menyala, rapi berbaris. Kalau difoto, hasilnya pasti indah seperti latar belakang konten “pulang kampung” di media sosial. Tapi, begitu saya masuk ke dalam kebun, gambarnya berubah total.

BACA JUGA: Susahnya Jadi Petani di Indonesia: Refleksi dari Seorang Sarjana Pertanian yang Kini Jadi Petani Muda

Cuan cabai rawit berasal dari kerja yang begitu berat

Saya melihat petani mengikat batang cabai rawit satu-satu supaya tidak roboh tertiup angin. Mereka rutin memeriksa daun karena hama bisa datang kapan saja. Ember panen di sudut kebun warnanya merah pekat bukan karena cat, tapi karena getah cabai yang menempel bertahun-tahun.

Getah itu pedih. Kalau kena kulit terasa panas. Kalau tanpa sengaja kena mata, rasanya seperti tersiram api. Di situ saya sadar. Bumbu dapur yang kita anggap biasa ternyata lahir dari kerja yang tidak ringan.

Menyelidik rahasia cuan petani cabai rawit

Dari 12 petani yang saya wawancarai, satu nama paling sering muncul, yaitu Pak Karjin. Beliau bukan sarjana pertanian. Tidak pernah ikut pelatihan resmi. Tapi, lahan Pak Karjin paling luas di desa. Lahan cabai rawit miliknya mencapai satu hektar milik sendiri.

Bagi orang kota, satu hektar mungkin terdengar kecil. Tapi bagi petani cabai rawit, itu luas sekali. 

Kebanyakan petani di Desa Daya Utama hanya menggarap seperempat sampai setengah hektar. Bukan karena tidak mau lebih, tapi karena merawat cabai itu sangat menyita tenaga dan waktu.

Pak Karjin orangnya pendiam. Waktu saya tanya rahasia cuan dari cabai rawit, beliau tidak memberi penjelasan panjang. Beliau hanya mengajak saya berjalan di kebun, menunjuk buah cabai yang lebat, lalu tersenyum.

Namun di rumahnya, beliau punya catatan biaya dan hasil panen yang rapi. Dari catatan itu saya tahu, dalam satu musim tanam, lahannya menghasilkan sekitar 1.890 kilogram cabai rawit. Itu produksi tertinggi di antara responden penelitian saya.

Tapi Pak Karjin langsung mengingatkan:

Iklan

“Jangan cuma lihat banyaknya cabai rawit, Nak. Lihat juga uang yang masuk ke tanah dulu.”

Baca halaman selanjutnya: Arti sukses di mata petani.

Halaman 1 dari 2
12Next

Terakhir diperbarui pada 26 Maret 2026 oleh

Tags: cabai rawitcara menanam cabai rawitcuanharga cabai rawitharga cabai rawit hari inikeuntungan cabai rawitmodal cabai rawit
Winda Noviyanti

Winda Noviyanti

Lulusan Sarjana Pertanian yang senang membaca dan menulis cerita. Saya suka menulis hal-hal yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, terutama tentang makanan dan pangan.

Artikel Terkait

Derita S2 karena Dipaksa Ibu, kini Bahagia Menanam Cabai Rawit MOJOK.CO
Pojokan

Menyesal Kuliah S2 karena Dipaksa Ibu, kini Lebih Bahagia Menanam Cabai Rawit dan Berkebun

15 April 2026
Derita Pedagang Es Teh Jumbo: Miskin, Disiksa Israel dan Amerika MOJOK.CO
Cuan

Semakin Berat Perjuangan Pedagang Es Teh Jumbo: Sudah Margin Keuntungan Sangat Tipis Sekarang Terancam Makin Merana karena Kenaikan Harga

9 April 2026
Gaji Cuma 8 Juta di Jakarta Jaminan Derita, Tetap Miskin dan Stres MOJOK.CO
Cuan

Kerja di Jakarta dengan Gaji Nanggung 8 Juta Adalah “Bunuh Diri” Paling Dicari karena Menetap di Kampung Bakal Tetap Nganggur dan Miskin

19 Maret 2026
Burger Aldi Taher Juicy Lucy Mahalini Rizky Febian DUAR CUAN! MOJOK.CO
Cuan

Memahami Bagaimana Aldi Taher dan Jualan Burgernya yang Cuan Mampus dan Berhasil Menampar Ilmu Marketing Ndakik-Ndakik

17 Maret 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Mahasiswa muak dengan KKN di desa. Mending magang saja MOJOK.CO

Mahasiswa Sudah Muak dengan KKN: Tak Dapat Faedah di Desa, Buang-buang Waktu dan Tak Dibutuhkan Warga

9 April 2026
Gagal kerja di Jakarta sebagai musisi. MOJOK.CO

Nekat ke Jakarta Hanya Modal Ambisi sebagai Musisi, Gagal dan Jadi “Gembel” hingga Bohongi Orang Tua di Kampung

11 April 2026
Kekerasan seksual di FH UI. MOJOK.CO

Kebusukan Mahasiswa FH UI Membuka Luka Lama Para Penyintas, Tak Ada yang Lebih Aman dari “Rahim” seorang Ibu bagi Korban Kekerasan Seksual

15 April 2026
Tabiat penumpang KA Sri Tanjung yang bikin jengkel KA Sancaka. MOJOK.CO

User Kereta Eksekutif Jengkel dengan Tingkah Random User Kereta Ekonomi, Turun di Stasiun Langsung Dibikin “Prengat-prengut”

14 April 2026
Derita Pedagang Es Teh Jumbo: Miskin, Disiksa Israel dan Amerika MOJOK.CO

Semakin Berat Perjuangan Pedagang Es Teh Jumbo: Sudah Margin Keuntungan Sangat Tipis Sekarang Terancam Makin Merana karena Kenaikan Harga

9 April 2026
Warung nasi padang jual rendang khas Minang di Jogja

Nasi Padang Rp13 Ribu di Jogja Lebih Nikmat dan Otentik daripada Yang Menang Mahal, tapi Rasanya Manis

10 April 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.