Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Cuan

Arti Sukses di Mata Pak Karjin, Petani Cabai Rawit dengan Lahan 1 Hektare: Cuan Puluhan Juta, Modalnya Bikin Jantung Copot

Winda Noviyanti oleh Winda Noviyanti
26 Maret 2026
A A
Arti Sukses dan Cuan di Mata Petani Cabai Rawit MOJOK.CO

Ilustrasi Arti Sukses dan Cuan di Mata Petani Cabai Rawit. (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Jebakan biaya yang tidak terlihat

Banyak orang kota kaget saat harga cabai rawit di pasar sering tembus Rp100.000 per kilo. Mereka membayangkan petani langsung cuan dan kaya mendadak. Kenyataannya tidak sesederhana itu.

Saat penelitian saya berlangsung, harga cabai rawit di tingkat petani sekitar Rp40.000 per kilogram. Bagi petani di desa, harga ini sudah bagus dan aman. Mereka tidak terlalu berharap harga sangat tinggi tapi hanya sebentar. Mereka lebih butuh harga yang stabil supaya tidak stres.

Kalau menghitung dari produksi Pak Karjin, nilai penjualan cabai cabai rawit miliknya dalam satu musim sekitar Rp61 juta per hektar. Angka ini memang terlihat besar. Tapi sebelum panen, petani sudah lebih dulu mengeluarkan biaya besar. 

Jauh sebelum bisa panen, petani harus membeli benih, pupuk kandang, pupuk kimia, pestisida, plastik mulsa, dan tali penyangga tanaman. Mereka membayarnya di awal.

Dari hasil perhitungan 12 petani responden, rata-rata biaya produksi mencapai sekitar Rp24,26 juta per hektar. Artinya, setelah penjualan dikurangi biaya, sisa pendapatan sekitar Rp36 jutaan per musim. 

Musim cabai berlangsung sekitar delapan bulan. Jika membaginya per bulan, pendapatan itu sebenarnya tidak jauh berbeda dengan gaji pekerja biasa di kota. Bedanya, petani bekerja di bawah panas matahari, hujan, lumpur, dan risiko gagal panen.

Jangan mengejar kaya mendadak

Hal yang paling saya ingat dari Pak Karjin adalah cara beliau menyebut keuntungan. Beliau tidak pernah bilang “untung besar” atau “cuan”. Kalimat yang sering keluar justru sederhana yaitu “Yang penting lebihnya ada.”

Artinya begini. Setelah biaya dibayar dan utang lunas, masih ada sisa untuk makan keluarga dan biaya sekolah anak. Itu sudah mereka anggap berhasil.

Petani cabai rawit tidak mengejar kaya mendadak. Mereka mengejar hidup yang terus berjalan. Selama masih ada sisa, musim depan mereka akan menanam lagi.

Logika menjual cabai rawit

Cara mereka menjual hasil panen cabai rawit juga punya logika sendiri. Banyak teori mengatakan petani harus menjual langsung ke pasar supaya untung lebih besar. Tapi di desa, petani lebih memilih menjual ke pengepul. Alasannya sederhana, yaitu pasti laku dan langsung dibayar.

Cabai adalah barang yang cepat rusak. Telat menjualnya sehari saja, beratnya bisa susut dan kualitas turun. Bagi petani, uang tunai hari ini jauh lebih berharga daripada menunggu harga tinggi yang belum tentu terjadi.

Angka pendapatan Rp36 juta per musim memang terlihat lumayan di atas kertas. Tapi bagi petani, angka itu tidak pernah pasti. 

Selain itu, cabai rawit juga sangat bergantung kepada cuaca. Kalau hujan terlalu sering, bunga rontok dan penyakit datang. Kalau panas terlalu panjang, tanaman layu. 

Hama juga bisa menyerang tiba-tiba dan merusak satu kebun dalam waktu singkat. Ada musim ketika petani tidak mendapat sisa sama sekali. Modal habis, tenaga habis, panen gagal, tidak mungkin cuan.

Iklan

BACA JUGA: Indonesia Juga Krisis Petani Muda!

Perspektif cuan dari mata petani cabai rawit

Musim saat saya meneliti termasuk musim yang cukup baik. Tapi bagi petani, musim baik itu bonus, bukan jaminan. 

Meski begitu, mereka tetap menanam cabai rawit. Semata karena kalau menanam pagi, panennya lama sementara cabai rawit memberi uang bertahap. Petani bisa panen berkali-kali, biasanya dua minggu sekali. Cuan yang masuk sedikit-sedikit itulah yang menjaga dapur tetap hidup.

Perjalanan penelitian di Muara Padang membuat saya sadar. Menghitung usaha tani di kertas ternyata jauh lebih mudah daripada menjalaninya.

Di kampus, pendapatan petani terlihat jelas lewat angka. Di lapangan, pendapatan petani adalah hasil dari kerja keras, risiko, dan harapan yang terus diuji. 

Bagi Pak Karjin, keberhasilan bukan berarti cuan besar. Keberhasilan adalah ketika setelah semua biaya dibayar, masih ada sisa untuk keluarga. Selama sisa itu masih ada, beliau akan terus menanam cabai rawit di lahan satu hektarnya. Karena di balik rasa pedas cabai rawit, selalu ada harapan yang ditanam bersama benihnya.

Penulis: Winda Noviyanti

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA Curahan Hati Petani Cabai dan perspektif menarik lainnya di rubrik CUAN.

Halaman 2 dari 2
Prev12

Terakhir diperbarui pada 26 Maret 2026 oleh

Tags: cabai rawitcara menanam cabai rawitcuanharga cabai rawitharga cabai rawit hari inikeuntungan cabai rawitmodal cabai rawit
Winda Noviyanti

Winda Noviyanti

Lulusan Sarjana Pertanian yang senang membaca dan menulis cerita. Saya suka menulis hal-hal yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, terutama tentang makanan dan pangan.

Artikel Terkait

Merintis Usaha Rumahan Tanpa Utang, Raup Omzet Puluhan Juta MOJOK.CO
Cuan

Cerita Saya Memulai Usaha Rumahan Kecil-kecilan Tanpa Utang Hingga Raup Omzet Puluhan Juta per Bulan, Kamu Mau Coba?

5 Mei 2026
Derita S2 karena Dipaksa Ibu, kini Bahagia Menanam Cabai Rawit MOJOK.CO
Pojokan

Menyesal Kuliah S2 karena Dipaksa Ibu, kini Lebih Bahagia Menanam Cabai Rawit dan Berkebun

15 April 2026
Derita Pedagang Es Teh Jumbo: Miskin, Disiksa Israel dan Amerika MOJOK.CO
Cuan

Semakin Berat Perjuangan Pedagang Es Teh Jumbo: Sudah Margin Keuntungan Sangat Tipis Sekarang Terancam Makin Merana karena Kenaikan Harga

9 April 2026
Gaji Cuma 8 Juta di Jakarta Jaminan Derita, Tetap Miskin dan Stres MOJOK.CO
Cuan

Kerja di Jakarta dengan Gaji Nanggung 8 Juta Adalah “Bunuh Diri” Paling Dicari karena Menetap di Kampung Bakal Tetap Nganggur dan Miskin

19 Maret 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

papua.MOJOK.CO

Harga yang Harus Dibayar dari Pembangunan di Papua: Hutan Rimbun Diratakan Alat Berat, Alam dan Masyarakat Adat Terancam

3 Mei 2026
Mayday 2026: Buruh tuntut 8 poin. MOJOK.CO

8 Tuntutan “Jujur” Buruh di Mayday 2026: Ciptakan Lapangan Kerja, Kendalikan Dampak AI, hingga Lindungi Pekerja Platform Digital

2 Mei 2026
Arta Wahana, pensiunan UGM isi waktu dengan berkebun selada (dok. UGM)

35 Tahun Mengabdikan Diri di UGM, Kini Pilih Budidaya Selada Hidroponik Malah Hasilkan Omzet Harian Rp750 Ribu

3 Mei 2026
WHV di Australia ternyata berat. MOJOK.CO

Kerja Mati-matian di Australia, Tabungan Sampai Setengah Miliar tapi Nggak Bisa Dinikmati dan Terpaksa Pulang usai Kena Mental

4 Mei 2026
Hidup anak perempuan pertama dibebankan ekspektasi orang tua

Anak Perempuan Pertama di Keluarga Korbankan Kebebasan Masa Muda demi Penuhi Tuntutan Jadi Orang Tua untuk Adik, padahal “Sengsara” Sendirian

3 Mei 2026
Pelatihan skill digital IndonesiaNEXT Telkomsel berdampak bagi kesiapan kompetensi untuk terjun industri MOJOK.CO

Pelatihan SKill Digital IndonesiaNEXT Ubah Mahasiswa Insecure Jadi Skillfull, Bisnis Digital pun Tak Kalah Saing

1 Mei 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.