• 2.1K
    Shares

MOJOK – Bom Surabaya selama dua hari berturut-turut tidak cuma umat Kristen korbannya, saudara-saudara yang muslim pun juga sama, ujung-ujungnya mereka juga jadi korban. Sama.

Menjadi umat Muslim hari-hari belakangan ini saya kira tidaklah mudah. Tidak ikut berkomentar, dikira apatis. Bikin status ikut berduka, dibilang munafik. Komentar nyerempet dikit, dianggap temenan sama pelaku.

Yah, apalagi kalau bukan karena festival kematian yang digelar para teroris pada aksi bom Surabaya dua hari berturut-turut. Bahkan cuma menyuarakan kalau terorisme tidak punya agama pun disebut tindakan penyangkalan. Kasihan.

Setiap kali ada peristiwa-peristiwa seperti bom Surabaya ini, biasanya ada dua jenis penyakit yang sering kambuh. Pertama, penyangkalan. Kedua, generalisasi.

Ibarat orang sakit, yang pertama merasa dirinya baik-baik saja sehingga menolak diagnosis dan minum obat, sementara yang kedua merasa sekujur tubuhnya sakit sehingga kebanyakan minum obat. Keduanya, kalau kata saya, sama berbahayanya. Telepon Dokter Oz kalau nggak percaya.

Penyangkalan pada level terendah bisa dengan cara menyebut bahwa para teroris itu tidak beragama. Padahal, mau disanggah pakai tafsir secanggih apa pun, nyata-nyatanya salah satu bahan bakar terorisme memang ajaran agama. Bahwa tafsirnya melenceng, ya itu kan soal lain lagi.

Ini mirip institusi pemerintahan yang selalu menyebut anggotanya yang sedang bermasalah sebagai “oknum”. Mereka sih gampang, dikasih peringatan, sanksi, dipecat, beres. Lah kalau agama, gimana cara mecatnya? Mati? Udah tuh. Gitu aja masih sanggup ngajak-ngajak orang lain kok, gimana coba?

Saya ingat ketika masih mroyek di Bali dulu, ketika hari-hari persis seperti belakangan ini. Menatap matahari terbenam di pantai yang belum ada nama Indonesianya, Eco Beach, tukang saya berkata datar,

“Kalau mau lihat orang Islam, lihatlah waktu puasa. Menahan lapar dan haus, nggak boleh marah, nggak ngegosip, dan yang lainnya. Sedikit saja ada krentek di hatinya, batal puasanya. Islam juga begitu, sedikit saja ada keburukan di dalam hatinya, batal Islamnya….”

Saya tidak tahu apa ajaran seperti itu, meminjam istilah yang sering saya dengar, sahih atau tidak. Tapi, itu menenteramkan saya. Damai. Kecuali bagian penutupnya, “Pak, saya bisa kasbon nggak ini? Bisa ya? Plis?”

Baca juga:  Profesor Hukum Ditilang Polisi: Tak Seorang pun Mau Dipermalukan di Ruang Publik

Ingatan saya yang lain tentang Islam melemparkan saya pada kenangan tentang teman-teman kecil di Medan. Setiap kali bulan puasa tiba, kami jadi punya alasan untuk menambah jam main masyarakat. Mulainya lebih awal, sehabis sahur; selesainya lebih lama, seusai Tarawih. Belum lagi Lebaran dan bergelas-gelas es sirup yang bikin batuk. Batuknya ya sama-sama. Satu kompleks, satu sekolahan. Tidak peduli apa pun agamanya.

Kapan hari saya membawa anak saya ke lapangan di dekat rumah. Menyadari ada new kid on the block, seorang bocah mendatangi kami lalu melontarkan pertanyaan,

“Islam?”

Sumpah, saya nggak tersinggung, malah pingin ngakak. Waktu saya jawab, “Saya Katolik,” eladah, si bocah malah nanya lagi,

“Apa itu katolik?”

Di titik ini saya kena dilema. Mau dijawab, nanti dikira kristenisasi. Nggak dijawab, kok polos benar pertanyaan ini bocah.

“Agama juga, sama kayak Islam,” kata saya. Pol mentok sampai situ aja. Hambok tenan.

Tiba-tiba saya kepikiran, mungkin ini bisa jadi formula untuk menyembuhkan penyakit yang sedang mendera tubuh saudara-saudara umat muslim. Pertama, kita bisa mengakui kalau sedang sakit, lalu kita menahan diri, lalu batuk bareng-bareng.

Di sisi lain, penyakit yang juga mengintai setiap ada peristiwa seperti ini adalah generalisasi. Sebuah kelompok kalau mau dihukum, biasanya dengan cara dimusuhi berdasarkan ciri fisiknya.

Kalau emang begitu cara mikirnya, coba begini: itu teroris kan biasanya pakai ransel untuk membawa bom, apa kemudian orang-orang yang besok mudik pakai ransel juga harus dilarang naik bus? Apa anak-anak mapala kalau naik gunung disuruh bawa tas kresek aja, jangan tas ransel? Atau anak-anak sekolah itu, disuruh bawa koper aja kalau berangkat belajar? Kira-kira seperti itu analoginya.

Diskriminasi pada tampilan-tampilan luar menyebar secara masif di seluruh lapisan masyarakat, membuat perkara ransel mirip perbedaan warna kulit pada zaman dulu. Nah, saya pikir, penyakit yang satu ini juga bisa diselesaikan dengan minum es sirup dan batuk bersama. Bareng-bareng. Tidak cuma saudara-saudara muslim, tapi ajak-ajak yang lain juga.

Baca juga:  Awal Puasa Ramadan Kadang Kok Bisa Beda Gimana Logikanya sih?

Yang di luar dugaan saya, selain mengenai penyangkalan dan generalisasi, ada satu lagi yang tiba-tiba muncul dan ini lebih berbahaya dari sebelumnya, yakni semangat untuk balas dendam. Ada kutipan Mahatma Gandhi yang sering dibagikan orang, “Kalau mata dibalas mata, seluruh dunia akan berakhir buta. Kalau gigi dibalas gigi, seluruh dunia akan berakhir ompong.” Entah kenapa mendadak semua orang jadi lupa pada kutipan yang sering mereka bagikan itu.

Atau usulan agar Undang-Undang Anti Teorisme segera diteken. Undang-undang itu juga bukannya tidak bermasalah. Polisi memang butuh payung hukum, tapi kalau payungnya kayak payungnya Kagura di gim Mobile Legend yang bisa dipakai untuk menyerang orang lain, rasanya kita harus teliti dulu isinya. KontraS, seingat saya, pernah merilis catatan apa-apa saja dan bagaimana pasal-pasal di RUU itu bermasalah.

Menulis panjang-panjang begini, pada akhirnya saya cuma mau mengutip kata-kata Gogon setiap kali Tarzan atau Asmuni majikannya marah-marah: “Hati boleh panas, tapi kepala harus tetap dingin.”

Toh Paroki Surabaya sudah merilis pernyataan seperti sebagaimana orang Kristen yang saya tahu dengan mengutip doa yang diajarkan sendiri oleh Yesus.

“Ampunilah kesalahan kami seperti kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami….”

Kegilaan yang dipamerkan para teroris itu kemarin, yang mengajak anak-anaknya bunuh diri, yang melilitkan bom di paha anaknya, mengingatkan pada kita bahwa kita semua bisa jadi korbannya. Bukan hanya menjadi orang-orang yang tubuhnya tercabik-cabik ledakan bomnya, tapi juga menjadi orang yang terpapar ideologi kematian yang bahkan rela mengorbankan anak-anaknya sendiri. Dalam peristiwa bom Surabaya kemarin, kalau kata saya, orang Kristen jadi korban, umat muslim juga.

Jadi, umat muslim tidak perlu malu, orang Kristen tidak perlu takut. Musuh kita sama: teroris dan terorisme. Sialnya, mereka punya agama. Nggak usah disangkal, asalkan nggak digeneralisasi saja.

Akhir kata, untuk para teroris bom Surabaya, hanya ada satu kata buat kalian:

“Jancuk, Koen!”

Eh, itu kan dua kata.

Baca juga artikel terkait TEROR BOM SURABAYA atau ulasan menarik Cepi Sabre lainnya.