“Ya Allah, pemerintah kok zalim betul sama rakyat…” begitu kicau kawan saya, pekerja kerah putih di perusahaan multinasional, melalui Twitter.

Kicauan ini muncul di lini masa pada Juli lalu, ketika pemerintah mengumumkan peraturan baru terkait BPJS dan JHT. Peraturan tersebut mempersulit pencairan dana kedua jaminan sosial ini. Sebagai kelas menengah yang gajinya pas-pasan untuk makan di resto dan belanja barang-barang branded, tentu ia ikut mengeluh. Ia pun tak berkomentar sinis ketika massa buruh turun ke jalan menolak aturan baru ini. Barangkali ia bahkan diam-diam turut menitipkan aspirasinya pada massa buruh yang berdemonstrasi.

Beberapa bulan kemudian, kawan saya itu berkicau lagi. “Memang paling enak jadi tukang protes!” kicaunya mengomentari aksi buruh menolak PP Pengupahan pada akhir Oktober lalu.

Saya terhenyak. Kali ini rupanya ia sama sekali tak simpatik pada aksi buruh. Sebagai pekerja kerah putih dengan gaji multinasional, isu upah minimum dan pelemahan serikat bukan perkara penting baginya. Mau buruh-buruh pabrik digaji pakai permen kembalian dari Indomaret pun bukan soal, yang penting rutinitas dinner cantik bareng kolega sekantor tak terganggu.

Lagipula, selain tak berfaedah bagi kawan kelas menengah saya itu, demonstrasi buruh menolak PP Pengupahan juga bikin jalan Jakarta jadi macet. Apalagi jika jalan menuju tempat fitness langganan ikut kena macet, komplit sudah alasan untuk sinis.

Seperti kawan saya ini, barangkali kita semua juga punya kecenderungan memosisikan diri sebagai “rakyat yang dizalimi” saat kepentingan kita diganggu. Itu lumrah dan demokratis. Persoalannya adalah ketika kita sinis terhadap kaum lain yang sedang merasa dizalimi. Seringkali sinisme kita itu dasarnya hanya karena kita tak merasa dizalimi dalam isu yang sama.

Ini mengingatkan saya pada ucapan Soe Hok Gie tentang kemunafikan: merintih ketika ditekan tapi menindas ketika berkuasa. Perilaku kelas menengah NKRI di era media sosial ini mirip-mirip begini, atau bahkan lebih pandir: berdoa ketika ditekan tapi ikut-ikutan menekan ketika orang lain yang ditekan.

Berikut adalah jurus-jurus kelas menengah ketika ikut-ikutan menekan kaum buruh yang sedang tertekan…

Menuduh Tuntutan Tak Realistis

“Pecat saja sekalian kalau menuntut yang tidak realsitis!” begitu biasanya omelan kelas menengah pengguna medsos, ketika menyambar berita yang perspektifnya memang mengundang komentar macam begini.

BACA JUGA:  May Day

Jadi, menurut mereka, PHK massal itu lebih realistis ketimbang tuntutan kenaikan upah di antara harga-harga yang terus melambung tinggi. Padahal upah buruh Indonesia termasuk yang paling rendah di Asia Tenggara, di bawah Malaysia, Filipina, dan Thailand. Bahkan di beberapa daerah, upah buruh Indonesia masih lebih rendah dari Vietnam, Kamboja, dan Myanmar. Perlu diingat, Myanmar termasuk dalam 23 negara paling miskin di dunia.

Khotbah Kinerja

Tuduhan bahwa tuntutan buruh tidak realistis ini biasanya diikuti pula dengan khotbah produktivitas. “Tingkatkan kinerja dulu dong!” begitu bunyi khotbah produktivitas. Memang paling enak ngemeng produktivitas karena bukan kita yang harus berdiri berjam-jam di depan assembly line. Paling enteng meremehkan kinerja buruh karena bukan kita yang terpapar zat kimia elektronik setiap hari. Paling gampang mengecilkan jerih payah buruh karena bukan kita yang dibentak-bentak, disetrap, dilecehkan secara seksual, dan direndahkan harga dirinya di pabrik.

Peduli setan jika banyak pabrik tak membayar upah lembur dengan benar, peduli setan jika banyak buruh muslim kesulitan menunaikan salat karena dihimpit jam kerja, atau pihak manajemen membiarkan toilet pabrik rusak sehingga buruh-buruhnya harus menahan kencing dan berak selama berjam-jam. Peduli setan semuanya, asalkan ndoro investor senang!

Khotbah Gaya Hidup

Ada pula yang menyertakan khotbah gaya hidup sehat dan hemat. “Makanya jangan merokok biar hemat dan sehat,” begitu katanya. Celaka betul jadi orang kere di Indonesia. Merokok diceramahi soal gaya hidup sehat, beli telepon genggam canggih dibilang tak mawas diri, beli motor jadi bahan gunjingan, ingin wisata ke Bali dijadikan bahan tertawaan. Beda tanggapan kita terhadap orang-orang kaya. Mau makan burger dan lasagna tiap hari pun tak bakal diceramahi gaya hidup sehat. Kalau mereka koleksi mobil mewah atau pelesir ke Singapura tiap minggu kita hanya terkagum-kagum.

Saya pun sepakat hemat itu penting, tapi menyuruh orang kere untuk berhemat itu sama saja menyuruh orang kelaparan untuk diet.

Kuliah Ekonomi yang Itu-itu Lagi

BACA JUGA:  Sarjana Abal-abal? Memangnya Anda Bukan?

Kadang dengan ilmu ekonomi seadanya, mereka yang sinis terhadap aksi buruh ini mencoba memberi kuliah yang itu-itu lagi. “Kalau gaji naik nanti inflasi,” misalnya. Jumlah gaji buruh yang hanya seuprit terus-terusan diaudit, sementara pendapatan para bos besar yang bisa sampai dua ratus kali lipat gaji buruhnya tak dibahas.

Ada juga yang menakuit-nakuti investor bakal hengkang ke negara lain jika buruh banyak menuntut. Padahal di negara lain pun kerap kali investornya mengancam akan hengkang ke Indonesia. Di Batam, investor sering mengancam akan relokasi ke Johor, sedang di Johor investornya sering mengancam akan relokasi ke Batam. Dengan begini, masing-masing pemerintah akan bersaing dalam race to the bottom, mengurangi kualitas hidup rakyatnya sendiri demi investasi. Inikah yang kita inginkan?

Kuliah Hukum yang Itu-itu Lagi

Selain “pakar” ekonomi, “pakar” hukum juga seringkali ikut berkomentar. Kuliah hukum ini kerap fokus pada batas-batas yang dilanggar massa buruh ketika demonstrasi, sementara para majikan yang sering dengan entengnya melanggar hukum ketenagakerjaan tidak disinggung.

“Dari dulu juga demo ada batas waktunya. Cerdas dikit dong!” katanya.

Karena saya menolak cerdas dikit dan maunya cerdas banyak, saya pakai cara berpikir lain. Belanda waktu dulu menjajah Indonesia juga bisa memeras pribumi tanpa melanggar hukum. Sedangkan Sukarno, Tan Malaka, dan Sudirman itu dianggap pelanggar hukum di zaman kolonial karena melawan penindasan. Apakah itu artinya penindasan Belanda dapat dibenarkan karena sesuai hukum kolonial sementara perlawanan terhadap penindasan itu salah karena melanggar hukum kolonial? Hukum tertulis tidak bisa dijadikan tolok ukur utama dari rasa keadilan.

***

Di alam kebebasan berpendapat, orang tentu bebas menyatakan suka atau tidak suka. Gerakan buruh pun bukannya tanpa kontradiksi. Gerakan buruh juga memerlukan kritik karena pegiatnya bukan malaikat. Kritik dari kelas menengah dapat bermanfaat bagi gerakan buruh, namun kritik yang dibutuhkan adalah kritik yang bermutu dan bukan sinisme asal-asalan. Sinisme kelas menengah yang penuh bias, dan kosong tanpa data, hanya mengingatkan saya pada nasihat Gus Mus yang pas sekali di era media sosial seperti sekarang: seandainya orang yang tidak tahu mau diam…

  • Reza p.o

    apik mas

  • Setiaji Purnasatmoko

    Iya emang ini kelas menengah ya ga peduli kok — jika ada kelas itu. Soalnya
    juga adalah ilusi tentang kelas menengah progresif, yang tampaknya udah ga ‘bunyi’ lagi.

  • Teguh

    Ini balesan buat tulisan satire tentang demo buruh ya? Mantap mas! Btw kalo kerja malem sering tidur di Pabrik ga mas? Wkwkwk

  • Pengusaha dan buruh sama-sama cenderung sebagai korban. Korban dari biaya-biaya siluman/pungli/TST(Tau Sama Tau). Biaya siluman untuk para “Kleptokrat Nasionalis” tak dimasukkan ke dalam ongkos produksi. Tarik ulur UMR antara pengusaha dan buruh tak akan pernah menemukan nilai ideal, sebab mereka berhitung dengan sumber data yang berbeda. Kita hanya bisa berharap pada kearifan para Kleptokrat agar sedikit malu pada Bung Karno, atau sedikit meluaskan nasionalisme mereka yang selama ini hanya sebatas antara perut dan selangkangan…!!

  • John Kresnata

    Logical fallacy untuk poin nomor 4, khotbah gaya hidup. Menurut saya
    wajar jika ada yang heran dengan mengapa orang berpendapatan rendah
    masih mau maunya mengeluarkan biaya yang tidak sedikit untuk keperluan
    yang bukan pokok macam merokok atau smartphone spek tinggi. Lah kalau
    orang yang uangnya berlebih mau makan burger tiap hari atau liburan ke
    luar negeri, apa masalahnya kan juga duitnya ada, masa mau dipendem aja.
    Dan lagi yang berada dalam posisi menuntut kan mereka yang
    pendapatannya kecil, masa iya disarankan mengubah gaya hidup aja ga mau.

    Dan lagi, analogi “tapi menyuruh orang kere untuk berhemat itu sama saja
    menyuruh orang kelaparan untuk diet.” ini bener-bener logika gagal.
    Orang kere diminta berhemat karena memang uangnya terbatas, hemat pun
    sebenarnya sudah merupakan sebuah keniscayaan jika nggak pengen tekor.
    Tentu ga selaras dengan perumpamaan orang kelaparan yang disuruh menata
    pola makan alias diet

    • asepp

      Kalau yg nyinyir adalah kelas menengah pejalan kaki dan pengguna angkutan umum sebenarnya masih wajar sih. Dilihat dari sudut pandang kelas menengah yg semacam ini, buruh penunggang moge yg berdemo menuntut kenaikan gaji memang terlihat absurd.

      • Lae

        Emang semua buruh naik moge yah..? Berapa persen sih buruh yang naik moge, jadi penasaran.. Jangan2 cuma dikit tapi itu yang disorotin melulu sama media..

        • jangan2 cuma dikit tapi mereka yang jadi provokator. yg laen jalan sambil teriak, mereka dapet angin sepoy2

          • Lae

            Nyocot nggak pake data gampang yak bos…

  • Memang kelas menengah inila biangnya…
    Hahaha

  • PalingBenarSeduniaAkhirat

    Jurus kelas menengah yang suka nyinyir minta serikat buruh diaudit dan menantang transparan sambil mengesankan bahwa serikat butuh itu cuma provokator yang mengeksploitasi kebodohan buruh sambil menggelapkan uang iuran itu kok tidak diangkat? Diungkap juga dong om.

    • Lae

      Betul nih.. Dukung serikat buruh iurannya diaudit..! Serikat buruh korup memang merusak gerakan dan kudu dibubarkan. Tapi audit juga pemasukan pajak yang seret dari pengusaha, audit juga kecurangan gaji yang marak terjadi. Inspeksi tenaga kerja juga jangan magabut, hukum yang ada dulu diterapin deh.. Jangan cuma moralis di depan orang miskin tapi oportunis di depan orang kaya..

  • Firmansyah Layla Puspitak

    khotbah no 3 soal ekonomi , kalau mau berbantahan soal ilmu pakai data dan teori . Anak baru kuliah juga tau kalo bos gede punya duit banyak ga bikin inflasi tapi kalo buruh punya duit banyak ya jelas bikin inflasi. Kebiasaan membantah suatu teori dengan pendapat pribadi

    • Lae

      Mau nanya dong.. Terus kalo bos gede penghasilannya gila2an sampai lebih dari 200 kali lipat nggak ada dampak buruknya gitu buat ekonomi..?

      • asepp

        Itu tergantung apakah penghasilannya dihabiskan untuk konsumsi/investasi.

        • Lae

          Mana yang bagus itu..? Kalau dipakai investasi sudah pasti bagus gitu..? Kalau investasinya ke kebun sawit terus bikin kebakaran hutan bagus juga..? Terus kalau buruh yang gajinya naik nggak mungkin buat buka usaha yah atau pendidikan yah? Pasti buat beli motor Ninja..?

          • Firmansyah Layla Puspitak

            anda kan ga minat nanya , tapi niat mencari pembenaran . Memangnyha apa salahnyha bos gede punya penghasilan 200 x lipat ? Dia nabungjadi investasi , dia konsumsi menguntungkan orang yg jualan dan berproduksi , dia buka usaha lagi nambah lapangan kerja . Kalo kebakaran ya karena dibakar atau bencana alam bukan karena kebun sawit . Kalo buruh gajinya naek ya gw seneng wong gw juga buruh . Yang dibahas bukan setuju apa ga setuju gaji buruh naik , cuma kalo ngomong make logika , ilmu dan data . Bukan make menurut saya, mending kelaut aja kalo make menurut saya .

  • Y O E D H

    SudahSudahkah anda minum kopi hari ini?

  • Adinegoro Choliq

    Hmm…di satu sisi emang agak keterlaluan perlakuan buruh kayak sweat shop.. barang harga jutaan mereka sehari produksi banyak, tapi digaji kecil, tapi afa resiko yang diambil oleh owner atau bos gede, kalau gak laku, kalau chain ekspor tiba riba putus dsb.. menjadi karyawan adalh tindakan bebas resiko, yg namanya bebas resiko wajar kecil untungnya.. dan tuntuan kalau dikabulkan apa akan selesai tuntutan ini? Segede gedenya gaji orang US 5-14dollar per jam masih nuntut ini itu..

  • Reza

    1. Serikat2 Buruh perlu lebih bekerja sama lagi, supaya lebih berasa lagi hentakan “power”nya pada saat turun ke jalan.
    2. Semoga suatu saat nanti akan ada kesempatan lagi untuk revolusi organik yang dapat “menyetrika” semua orang jadi tidak ada kelas2an lagi lah. Omong kosong itu yang namanya kelas, apalagi pake golongan “kerah putih” atau “biru”, sama-sama bekerja buat bikin bos-bos itu tambah keselek duit kok. Memang ada saja orang-orang (yang jumlahnya jaman modern ini alangkah banyak) yang lupa bangun kalau udah terlalu enak “dibuai mimpi” – jadi lupa hakikatnya jadi manusia.

  • Ben Pramana

    Data referensi di web yang dilansir salah tu. Minimum wage Indonesia sudah di atas tabel itu. Coba kalau sudah dikoreksi, Indonesia ada di peringkat berapa sekarang minimum wagenya ? 🙂
    Kalau cari referensi ya dicross-check dulu. Jangan asal ketemu referensi yang cocok langsung samber saja. Tujuan tulisan sih baik. Tapi untuk orang yang peduli tentang masalah in, betul tidak tahu kalau minimum wage Indonesia di tabel itu salah?
    Point yang lain subjektif, persepsi masing-masing bisa beda. Usaha yang bagus tapi 🙂

  • HS

    Maaf ya, data kalau upah minimum (minimum wage) di indonesia itu lebih murah dari vietnam, myanmar, laos, philipine itu dari mana? Anda salah, yg benar indonesia sdh termasuk tinggi. Kl mau tau cara bandingkan kepantasan itu tinggal minimum wage dibagi dgn GDP per capita, bisa dibandingkan bahkan dgn negara maju sekalipun. Mudah kok, tinggal search di google ada semua. Tidak semua pengusaha itu besar dan mampu, industri indonesia untuk ekspor juga sdh memble semua. Jgn tanya knp disaat skrg harga komoditas terpuruk ekonomi indonesia juga ikut, ekspor industri non migas indonesia sangat minim mas… Ga bs bersaing.

    • Firmansyah Layla Puspitak

      Lah orang kiri dan pro buruh mana mau melihat secara global dan makro . Maunya liat dari dirinya sendiri , mereka juga ga peduli pas USD menguat industri dengan pasar ekspor terpukul luar biasa, jadinya tinggal komoditas yang bisa diharapkanang pas harganya jatuh kaya sekarang jadinya memble .

  • Rex

    Mungkin yang nulis lelah

  • Arif Kurnia Raharja

    Ya mungkin penulis harus merasakan gimana rasanya jadi pengusaha kecil.
    Saat ini biaya hidup terus menanjak, sementara keuntungan terus tergerus. Ditambah pegawai-pegawai minta kenaikan upah.

    Jadi menurut saya jika tidak mau digaji rendah, jangan jadi buruh, jadi pengusaha. Dengan membuat mindset “jika menjadi buruh konsekuensinya ya gaji rendah”, otomatis akan banyak yg jadi pengusaha, toh saat ini indonesia juga kekurangan jumlah entrepreneur.

    • Firmansyah Layla Puspitak

      itu baru jawban yang bener , ga mau digaji kecil ya jgn mau kerja . Kalo ga ada yg ngasih gaji gede ya jd pengusaha , bukan maksa orang lain apalagi mengganggu hak orang lain yg ga ada sangkut pautnya

  • Arif Pamungkas

    Ngeliat komen2 kok saya berasa lagi di kaskus.

No more articles