MOJOK.CO Sebagai anak, kita sering dianggap malu bilang sayang ke orang tua. Tapi, bener nggak, sih? Jangan-jangan ini semua karena sama-sama gengsi.

Saya pernah jadi bucin alias budak cinta. Tapi, sepanjang ingatan saya, ke-bucin-an ini selalu berpusat pada laki-laki yang menjabat sebagai pacar saya. Kalau pacar suka A, saya bakal coba mengerti tentang A. Kalau pacar ngambek, saya bakal kepikiran dan berusaha menghiburnya. Belum lagi waktu malam tiba, chat “selamat tidur” pun tak luput dari ucapan mesra nan sakral: “I love you”.

Hal yang sama tak pernah terjadi di suatu hari waktu saya sedang bertengkar dengan Bapak. Alih-alih langsung minta maaf, saya malah terlibat diam-diaman beberapa saat, sampai akhirnya saya kembali ke perantauan—meninggalkan Bapak di rumah.

Pada akhirnya, saya baru berani meminta maaf lewat WhatsApp, lalu berakhir dengan mengirimkan emoji love sebagai wujud rasa sayang yang, harus diakui, menempuh jalan panjang dan berbeda untuk ditunjukkan; tidak seperti ekspresi sayang saya pada pacar.

Sampai usia saya yang sekarang, saya masih merasa rikuh mendatangi Bapak dan Ibu hanya untuk berkata, “Aku sayang Bapak sama Ibu!” karena itu terasa sangat… cheesy.

Itu baru satu contoh. Saya rasa, kita semua bakal sama-sama tertunduk malu kalau mengingat “ketidakadilan” yang secara nggak langsung kita lakukan pada orang tua.

Maksud saya, kamu pernah, kan, telepon sampai satu jam sama pacar, tapi waktu ditelepon ibu 10 menit aja rasanya udah cukup lama? Kamu repot-repot bertanya apakah pacarmu udah makan dan kegirangan waktu ditanya balik, tapi kesal dan menjawab singkat waktu ibu bertanya hal yang sama. Kamu tak pernah lupa mengabari pacar soal keberadaanmu, tapi kamu bahkan lupa untuk mengirim pesan “Aku udah di kos” waktu baru kembali dari mudik ke orang tuamu.

Baca juga:  Perasaan Tuhan Saat Ini

Pertanyaannya: kenapa? Kenapa kalau bilang sayang sama pacar rasanya mudah, nggak kayak bilang sayang ke orang tua?

Penjelasan Psikolog tentang Kenapa Kita Malu Bilang Sayang ke Orang Tua

Dikutip dari Roslina Verauli MPSi, psikolog anak dan keluarga seperti yang tercantum di Kompas.com, hal ini terjadi—tidak lain dan tidak bukan—karena Indonesia, sebagaimana layaknya negara Asia lainnya, memiliki kecenderungan kesulitan untuk mengungkapkan rasa cinta secara verbal. Pernyataan ini rasanya cukup make sense kalau mengingat pengalaman saya yang lebih memilih meminta maaf dan menyatakan sayang pada bapak saya melalui pesan singkat.

Tapi, bukankah menyatakan perasaan sayang pada pacar secara verbal juga sering dilakukan??? Dan saat kita bilang, “Aku sayang kamu, Mas,” kita kan masih di Indonesia??? Pernyataan di atas jadi nggak mashoook dong???

Masih dijelaskan oleh Vera, faktor lain yang mendorong rasa malu bilang sayang pada orang tua adalah adanya jarak yang disebut power distance. Keadaan berjarak ini menggambarkan hubungan kita dengan seseorang yang derajat dan posisinya dianggap sangat tinggi, atau dalam hal ini adalah orang tua.

Dalam power distance, orang tua berada di atas anak sehingga perasaan sayang itu jadi agak kaku diungkapkan. Tapi, saya nggak tahu sih apakah budaya ini bakal berlanjut di tahun milenial, mengingat para orang tua muda zaman sekarang mulai membiasakan anak bayi mereka untuk bilang, “I love you, Buna. I love you, Baba.”

Baca juga:  Bahagialah Laki-Laki Yang Hidup di Indonesia

Alasan Sebenarnya Bilang Sayang ke Orang Tua Terasa Susah

Kalau dari segi psikologi ada penjelasan khusus kenapa kita sampai harus malu bilang sayang ke orang tua sendiri, rasanya agak nggak fair kalau tidak memperhitungkan banyak hal. Minimnya penyampaian rasa sayang ini kan sebenarnya bukan cuma karena kita yang malu, tapi…

…orang tua juga malu dan suka panik sendiri!!!

Masih ingat betapa banyak orang mengkritik ucapan-ucapan (mendadak) romantis saat Hari Ibu di 22 Desember atau Hari Ayah di 12 November tiba? Beberapa orang merasa bahwa perasaan sayang harusnya diungkapkan setiap hari, bukan hanya Hari Ibu atau Hari Ayah semata. Kayaknya, orang-orang ini belum ketemu bapak saya, deh.

Ha gimana lagi? Waktu Hari Ayah tiba, saya sudah mempersiapkan mental dan membuang gengsi untuk datang dan berkata, “Selamat Hari Ayah, Pak. Sayang deh sama Bapak!”, eh malah dibalas, “Hari Ayah apaan? Ngaco kamu, di dunia ini nggak ada Hari Ayah. Dah sana tidur aja.”

[!!!!!!!1!!!!!!1!!!!!]

Kalau mengungkapkan sayang di hari khusus aja kadang hasilnya memalukan, apalagi kalau setiap hari, ya kan??? Bayangin aja kamu bangun tidur, lalu masuk ke kamar ibumu dan berkata, “Bu, aku sayang Ibu.”

Bisa-bisa—kalau ibumu kebanyakan nonton sinetron—ibumu malah bakal panik dan nyerocos, “Astagfirullah, kamu kenapa, Nak? Kenapa? Ada masalah apa? Ayo jujur sama Ibu, jujur aja nggak apa-apa. Kamu ada rahasia, ya? Masalah hidup? Kenapa, Nak??? Jawab Ibu, Nak!!!”

Hadeh, Bu.



Tirto.ID
Loading...

No more articles