MOJOK.CO Ibu tiri, Mak Lampir, sampai rival di kelas—semuanya adalah tokoh antagonis sinetron Indonesia. Meski berbeda profesi, yakin deh, karakter mereka sama aja!

Sejak zaman sinetron Tersanjung hingga Anak Langit, ada beberapa hal yang jelas-jelas bisa kita temukan dalam drama layar kaca Indonesia. Sinetron-sinetron ini setidaknya punya plot cerita yang hampir-hampir mirip: ada tokoh protagonis yang baik hati, yang selalu dijahatin sama karakter antagonis yang—anehnya—ngeselinnya setengah mati.

Tapi, pada akhirnya, si protagonis tadi akan bahagia, tentu saja setelah menempuh banyak drama, seperti ketabrak mobil di tengah jalan (lengkap dengan adegan teriak, “Aaaaaa!”), menerima kabar buruk via telepon (lengkap dengan adegan terkejut sembari berkata, “Apaaa?!”), atau bahkan diceritakan mengalami kecelakaan, tapi kemudian muncul kembali dalam keadaan amnesia.

Tentu saja, dengan alur cerita yang nyaris seragam, kita perlu mengacungkan jempol pada seluruh pemain untuk tokoh antagonis di setiap sinetron Indonesia. Soalnya, tanpa mereka, sinetron-sinetron ini bakal biasa-biasa saja, tanpa masalah.

Tanpa mereka, sinetron Indonesia cuma bakal terasa seperti Instagram Story seseorang: d-a-t-a-r.

Dalam rangka mengapresiasi kerja bagus seluruh tokoh antagonis di sinetron kita, Mojok Institute telah merangkum 5 ciri khas yang dimiliki mereka, yang sungguh ikonik dan legendaris. Mari kita kupas satu per satu~

1. Ketawa Setan

Mau dilakukan oleh Mak Lampir kek, ibu tiri kek, atau sekadar kakak kelas egois sekalipun, adegan ketawa tokoh antagonis pasti bisa ditemukan dalam setiap sinetron Indonesia. Biasanya tawa mereka ini adalah tawa yang penuh kemenangan, kebencian, dan sering disebut sebagai “ketawa setan” karena “hahaha”-nya terdengar lebih—apa, ya—picik.

Ketawa jahat mereka tidak melulu disuarakan langsung oleh si tokoh. Bisa juga, tawa ini terdengar sebagai sebuah voice over, lengkap dengan ekspresi songong level 3 juta si tokoh antagonis.

Baca juga:  Tren Latah Judul Sinetron dan FTV Indonesia yang Kian Memusingkan

2. Voice Over Rencana atau Doa Jahat

Sebelum tertawa-tawa penuh dosa, si karakter antagonis ini umumnya bakal diambil gambar wajahnya dari jarak dekat-jauh-tarif sama-dekat-jauh, sembari tersenyum menyebalkan, sebelum akhirnya sebuah voice over terdengar jelas, misalnya:

“Hmm, lihat saja, Agustina! Aku sudah mencampurkan obat nyamuk ke es kopimu itu! Pasti sebentar lagi kamu bakal terkapar, lantas Fernando akan jadi milikku selamanya. HAHAHAHAHAHA.”

Gimana, gimana? Udah familier?

3. Melotot Sambil Gerak-gerakin Kepala

Sambil memutar monolog penuh kebencian, karakter antagonis dalam sinetron Indonesia umumnya digambarkan dengan tampilan visual yang meyakinkan. Mata si tokoh bakal tampak melotot, alisnya naik-naik, dan dagunya terangkat. Inilah yang kemudian membuat kepalanya gerak-gerak ke atas-bawah.

Ribet banget, dah, pokoknya.

Herannya, dengan tampilan si antagonis tersebut, kok bisa-bisanya si tokoh protagonis nggak pernah sadar kalau si antagonisnya lagi marah dan nyumpah-nyumpahin dia, ya? Padahal, kalau ini terjadi di kehidupan nyata, kemungkinan kita bakal penasaran dan bertanya, “Kamu lagi pemanasan mau SKJ, ya? Kok palanya goyang-goyang?”

4. Punya Teman/Partner yang Nurut

Baik Mister Black dalam Saras 008 ataupun ketua geng motor di sinetron terkini, pasti punya teman atau partner dalam kelompoknya sendiri. Ah, bahkan, jangankan ketua geng motor—lah wong tokoh ibu tiri saja biasanya ditemani seorang anak bawaan yang nggak kalah jahatnya!

Baca juga:  Tren Latah Judul Sinetron dan FTV Indonesia yang Kian Memusingkan

Nantinya, si tokoh “bawahan” ini bakal digambarkan sebagai partner yang nurut dan mengikuti seluruh perintah tokoh antagonis utama. Pokoknya, si orang-orang jahat ini ujung-ujungnya bakal bertukar senyum penuh kemenangan karena berhasil menyiksa tokoh antagonis yang—anehnya—sering digambarkan tidak punya partner alias sebatang kara.

Duh, itu tokoh sinetron atau Hachiko, dah???

5. Pura-Pura Baik

Dalam menjalankan aksi kejahatannya, tokoh antagonis di sinetron Indonesia juga menunjukkan kelihaiannya dalam menipu tokoh protagonis: berpura-pura baik dan perhatian.

Meski alis mereka digambar tinggi-tinggi dan wajah mereka dibuat jutek level sejuta, selalu saja ada adegan di mana tokoh antagonis ini berpura-pura ramah dan menolong tokoh protagonis. Dan, selaluuuu saja hasilnya sama: tokoh protagonis ini bakal menerima kebaikan si antagonis tanpa rasa curiga, lantas berujung pada kesialan dan air mata karena hatinya jadi tersakiti.

Hadeeeh, kok familier, ya???



Loading...



No more articles