MOJOK.CO Dikit-dikit dikira lagi marah hanya gara-gara punya wajah jutek. Hadeeeeh, yang ada malah lama-lama kita marah beneran, nih!

“Kamu lagi marah, ya? Kenapa?”

Seorang teman menanyai dengan penuh hati-hati waktu saya lagi duduk santai di dalam kelas. Saya kaget dan refleks menjawab, “Nggak,” sambil keheranan. Pagi tadi saya bangun tepat waktu dan tidak ada hal menyebalkan yang terjadi, jadi kenapa saya malah dikira marah?

“Habisnya mukamu jutek gitu. Hehe.”

Jawaban si teman melempar ingatan saya ke banyak momen bertahun-tahun yang lalu. Yang paling saya ingat, di acara perpisahan SD, saya mendapat jatah untuk mengenakan pakaian tradisional bersama 9 orang teman saya. Kami di-plot untuk berdiri di depan panggung dan disalami oleh para guru, satu per satu.

Saat itu, seorang guru perempuan memeluk saya dan memberi kecupan di pipi kanan dan kiri sembari berkata, “Ayo senyum, Lia, jangan cemberut, ya.”

Refleks, saya tersenyum. Tapi dalam hati, saya jadi mangkel luar biasa. Lah gimana—orang saya nggak cemberut kok. Please, deh, Bu, saya tu cuma berdiri dengan normal seperti yang lainnya!!!!1!!1!!!!

Tapi, setelah beberapa hari kemudian foto saya selesai dicetak (iya, dulu belum ada foto pakai kamera hape, Gaes), saya jadi mengerti kenapa Bu Guru meminta saya untuk tersenyum dan jangan cemberut. Ternyata, saat dilihat-lihat, muka saya saat sedang diam memang…

…kelihatan galak banget, demi apa pun.

Wajah jutek yang menempel alami sejak kecil ini ternyata punya nama yang lebih keren: resting bitch face. Kenapa disebut demikian? Ya karena wajah jutek tadi memang membuat di pemilik wajahnya tampak lebih arogan, judes, dan—tentu saja—bitchy.

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh lembaga bernama Noldus information Technology pada tahun 2016 menjelaskan fenomena resting bitch face secara ilmiah. Jadi, menurut si Noldus ini, wajah kita semua setidaknya memiliki 500 titik berbeda yang menjadi dasar penentu lima emosi dasar: bahagia, sedih, marah, takut, terkejut, dan jijik.

Pada wajah normal, emosi jijik hanya ditemukan sebesar 3%. Sementara itu, pada wajah jutek kayak kita-kita ini (hah, kita???) emosi yang sama bisa mencapai angka 5,76%. Tanpa disadari oleh orang-orang berwajah jutek, emosi ini muncul begitu saja pada wajah, bahkan melalui beberapa isyarat kecil, seperti mata yang disipitkan atau menarik sudut bibir.

Jangankan ekspresi bergerak seperti itu, bentuk wajah atau fisiologi saja sudah berperan besar dalam menghasilkan wajah jutek. Kita-kita yang punya mata sipit dan sayu, bibir melengkung ke bawah, atau alis yang turun ke arah dalam (hidung), misalnya, bakal lebih sering dibilang jutek dibanding mereka yang fisiologinya berbeda. Hadeeeeeh, ribet banget emang!

Kenapa saya bilang ribet? Ya karena sebagai pemilik wajah jutek, saya sering banget disuruh senyum. Iya, iya, saya tahu, konon otot yang dipakai untuk tersenyum jauh lebih sedikit (dan berarti lebih baik) daripada saat kita cemberut. Tapi, kan, untuk “menjadi cemberut” itu saja sudah tampilan default—bukannya saya sengaja-sengajain! Huh!

Lagian, kenapa sih kalau saya kelihatan cemberut—padahal aslinya nggak kenapa-kenapa—langsung dituduh lagi punya masalah dan dipertanyakan setiap 15 menit? Memangnya orang cemberut itu cuma boleh dipakai oleh orang-orang yang punya masalah??? Bukannya orang-orang yang punya masalah biasanya malah pasang muka bahagia, biar bisa nulis status Aku  tersenyum, tapi dalam hati aku depresi dan menangis” di Facebook, Twitter, dan Instagram Story, ya??? Hmm???

Justru, ditanya-tanyaberulang kali perihal kecemberutan malah bikin saya jadi emosi sendiri dan, akhirnya, cemberut beneran.

Tuh, bayangin: udah mah mukanya muka cemberut, eh jadi cemberut beneran pula. Muka Thanos aja kalah nyeremin!

Meski menyebalkan, punya resting bitch face ternyata nggak bitchy-bitchy amat untuk ditanggapi. Setidaknya, kalau kita nggak suka sama suatu keadaan, kita nggak perlu repot-repot mengatur strategi agar tampang kita kelihatan garang: kita hanya perlu diam saja dan kekesalan kita akan langsung tampak dari jarak 3 kilometer.

Selain itu, sebuah penelitian memberi kabar baik pada pemilik wajah jutek sedunia. Konon, kita-kita dengan resting bitch face adalah seorang komunikator yang baik. Kenapa demikian?

Pasalnya, saat berkomunikasi, banyak orang berhasil menyampaikan perasaannya dengan mimik wajah yang memang sudah normal “dari sananya”. Nah, sementara itu, kita-kita yang berwajah jutek malah berhasil dengan cara yang lebih epic: mengekspresikan perasaan dengan cara berbeda karena muka kita sudah jutek duluan, meski aslinya kita sedang berusaha menyampaikan pesan yang jauuuuh dari kesan galak dan bitchy.

Yaaah, kurang lebih, meski kita berwajah jutek, kita tetep bisa kalau disuruh akting dan menunjukkan banyak emosi. Lumayan juga buat pilihan karier di masa depan. Raline Shah juga bakal lewat ini, mah. Mantap!



Loading...



No more articles