[MOJOK.CO] “Bagi pembaca Das Kapital, apa yang dikisahkan dalam artikel kami tentang buruh pabrik es krim Aice bukan tak berdasar.”

Di peringatan Hari Aksara Sedunia 8 September lalu, dua penulis, Intan Paramaditha dan Geger Riyanto, menyampaikan godaan menantang berupa buku-buku yang perlu dibaca sebelum kita mencapai usia tertentu.

Intan mencantumkan menampilkan 8 buku fiksi yang perlu dibaca sebelum berusia 30 tahun. Sedangkan Geger, ia menderetkan 9 buku nonfiksi wajib baca sebelum usia kita masuk kepala empat.

Sebagai orang yang telah melampaui kedua deadline usia tadi, tulisan mereka membuat saya kecut. Ada sejumlah karya yang tidak masuk daftar baca saya selama ini dan bahkan belum pernah saya sentuh fisiknya.

Sebagai upaya menghibur diri agar tidak bergelimang dalam keresahan, saya mencoba mencari alternatif lainnya. Di sinilah ada rahmat tersembunyi yang turut hadir.

Selang beberapa hari setelah Hari Aksara Sedunia, 14 September lalu masyarakat dunia merayakan satu setengah abad kelahiran buku berjudul Das Kapital: Kritik der politischen Oekonomie, Buch I: Der Produktionsprocess des Kapitals. Inilah buku legendaris karangan sosok yang di Indonesia sangat terkenal sekaligus paling jarang dibaca karya-karyanya (karena isinya pelik). Bahkan baru-baru ini, sosoknya salah dipertukarkan dengan sembrono dengan pemikir anarkisme terkenal, Mikhail Bakunin, hanya karena kesamaan aksesori rambut wajah yang di masa mereka memang populer. Tidak lain dan tidak bukan dialah Karl Heinrich Marx alias Karl Marx alias Mbah Marx (1818—1883).

Das Kapital Buch I yang terbit di Hamburg pertama kali pada 1867 adalah buku pertama dari tiga jilid. Ketiganya telah diterjemahkan ke bahasa Indonesia, dengan jilid pertama berjudul Kapital: Sebuah Kritik Ekonomi Politik, Buku I: Proses Produksi Kapitalis.

Umur Kapital yang tua dan bagaimana dampak yang ia timbulkan di seluruh penjuru dunia berabad-abad membuat saya tidak perlu membahas banyak buku, cukup satu saja. Karena buku ini ditulis Marx ketika ia tidak lagi muda, buku ini dapat menjadi buku yang layak Anda baca sampai Anda tua.

Kapital adalah buku lawas yang membuat pembacanya akan mengamini sejumlah postulat yang disampaikan Marx. Buku ini adalah risalah mentereng ekonomi politik yang membahas cara dasar manusia agar bisa bertahan hidup di dunia. Meski terasa pahit, tetapi saya jamin Anda akan tetap terhibur karena Marx memberikan banyak kekayaan metafor dunia kesusastraan—hal yang menjadikan ilmuwan sosial yang malas membaca sastra sedikit banyak tergerak hatinya.

***

Setelah satu setengah abad terbit, buku ini tetap mengundang sejumlah pertanyaan menggelitik: mengapa sejumlah pandangan dalam buku ini justru semakin nyata di depan mata kita sekarang dibanding di masa penulisnya hidup? Ekonom dan pialang di bursa saham Wall Street—dengan sedikit malu-malu akibat sepak terjang yang mereka buat sendiri—mengakui bahwa dalam buku ini dapat ditemukan sejumlah uraian yang menjelaskan mengapa sepanjang satu dekade terakhir ekonomi dunia menjadi porak-peranda.

Baca juga:  Buka-bukaan soal PKI bareng Amerika Serikat

Pengalaman saya pribadi menegaskan, membaca karya ini membantu menjelaskan secara masuk akal mengapa gaji bulanan kebanyakan orang hanya cukup untuk bekal hidup sepertiga bulan (setelah separuh gaji yang diterima habis menutup utang membeli gula, kopi, dan rokok di warung tetangga yang membuat pendapatan sebulan tidak pernah sama dengan nominal gaji yang diterima).

Memang penulis buku ini cukup keji dengan menyatakan bahwa keberadaan Anda di dunia tidak lain sekadar mengisi barisan tenaga kerja demi kelestarian kapital. Jadi, ketika Anda sudah memasuki usia akil balig, mau tidak mau Anda perlu siap berhadapan dengan jeruji dan taring gigi sang modal yang akan mengisap seluruh energi kehidupan Anda. Kenyataan hidup memang keji, sebanding dengan duka lara yang biasa muncul dalam kisah-kisah film India dan Korea.

Memang ada nasihat umum dari motivator, analis usaha kecil, sampai tips-tips kecil yang diambil dari contoh sukses beberapa orang yang berhasil dalam mengatasi pendapatan rumah tangga yang minim. Anda disarankan untuk lebih kreatif dan giat bekerja mencari tambahan. Salah satunya dengan membuka usaha kecil-kecilan, mulai dari berdagang pulsa, berjualan pakaian online, dan juga makanan. Namun, saat Anda mulai menjalankan nasihat-nasihat itu, Anda harus bersiap menghadapi kekecewaan bila usaha kecil-kecilan yang Anda rintis dengan menyisihkan penghasilan bulanan yang dengan cepat gulung tikar, terlepas berapa banyak buku “cara cepat menjadi kaya” sempat Anda baca.

***

Duka lara kehidupan menyebabkan buku ini menjadi semakin relevan dalam menjelaskan mengapa pengalaman pahit itu mesti Anda alami. Penulis buku ini sudah meramalkan laku zaman tempat kita hidup sekarang yang menampilkan periode krisis ekonomi yang dalam setiap zaman semakin pendek saja rentang waktunya.

Duka lara itu bisa Anda temukan dalam satu bagian buku berjudul “Ketamakan akan Kerja Lebih Pengusaha Manufaktur dan Boyar”. Di sini Marx mengabadikan kisah Mary Anne Walkley, seorang gadis miskin berusia 20 tahun di London yang bekerja sebagai penjahit di perusahaan busana Elise. Bersama buruh perempuan lainnya, Mary Ann bekerja rata-rata selama 16,5 jam. Pada musim sibuk bahkan ia dan rekan-rekannya harus bekerja 30 jam tanpa henti untuk menyediakan busana yang harus disiapkan cepat sehingga nyonya-nyonya bangsawan dapat hadir di pesta dansa kerajaan.

Tuntutan ini menyebabkan pada Juni 1863 Marry Ann terpaksa bekerja selama 26,5 jam tanpa henti. Bersama enam puluh buruh perempuan lainnya, ia tinggal dalam ruang pengap dengan sedikit ventilasi. Pada Jumat bulan itu, Marry Ann jatuh sakit. Hari Minggu kemudian ia meninggal.

Dokter yang memeriksa kematiannya mengatakan bahwa “Mary Anne Walkley meninggal karena jam-jam kerja yang panjang, dalam ruang kerja yang penuh sesak.” Surat kabar serikat buruh, Morning Star, melaporkan kematian tersebut dengan mengatakan bahwa “Mereka mempekerjakan budak-budak putih kita menuju kuburan.”

Baca juga:  Dari Twitwar ke Twitwar: Medioker Mana Saja yang Dituding Arman Dhani?

Sifat kerja berlebih sebagai syarat utama daya hidup kapital tetap dapat ditemui pada abad ke-21 seperti dalam fenomena karoshi. Karoshi adalah fenomena kematian di Jepang akibat kerja berlebihan yang rata-rata korbannya bekerja selama 14 jam sehari selama seminggu penuh.

Di Indonesia, seorang copywriter muda bernama Mita Diran meninggal dunia setelah bekerja 30 jam tanpa henti. Ia diketahui terus bekerja dan tidak tidur selama tiga hari berturut-turut. “30 jam bekerja dan tetap kuat,” tulisnya di akun media sosial sebelum kematiannya.

Kapital mengecam standar moral borjuis tentang “etika kerja” yang menjadikan kerja keras sebagai norma umum.

Ia menegaskan bahwa buruh bukan siklop atau raksasa bermata satu. Mereka adalah orang biasa yang akan segera binasa ketika dimakan kerja berlebih.

Selayaknya buku klasik, jika Anda tidak bisa membaca versi aslinya dalam bahasa Jerman, terjemahannya telah tersedia dalam berbagai bahasa. Terjemahan Indonesia cukup baik, dengan ketebalan buku mencapai 929 halaman atau 129 halaman lebih banyak dibanding buku aslinya.

Anda bisa membacanya sambil tiduran di atas kasur. Ketika mengantuk, buku ini bisa dijadikan bantal. Ini adalah manfaat lain buku ini. Siapa tahu sejumlah kata-kata merasuk dalam benak dalam tidur Anda yang lelap.

Anda pun tidak perlu mengkhawatirkan dampak buku ini bagi spiritualitas pribadi. Sejumlah tokoh pendiri republik seperti Sukarno, Hatta, Sjahrir, Tan Malaka, Wahid Hasjim, Haji Agus Salim, dan Gus Dur telah membuktikannya. Mereka tetap menjadi pribadi yang santun, suka memikirkan persoalan orang banyak, dan tetap memiliki kesalehan pribadi dan sosial walau sudah mengkhatamkan buku ini.

***

Sebagai catatan akhir, kurang pas memang bila kita menguraikan sebuah buku tanpa menyebut kelemahan di dalamnya. Pepatah lama bahwa tidak ada gading yang tidak retak juga berlaku untuk buku ini. Kelemahan buku ini yang utama, meski judulnya menyinggung soal uang, adalah ketidakmampuannya menjelaskan cara cepat menjadi kaya seperti banyak buku yang berserakan di toko-toko buku Indonesia sekarang. Ini akan menjadi masalah besar jika buku ini ingin masuk pasar buku Indonesia (itulah mengapa pembaca Indonesia kesulitan mencarinya sekarang).

Andaikata penulis dan penerjemah buku ini masih hidup, saya ingin menyarankan untuk memberi polesan terkait anak judul buku ini, untuk menyesuaikan dengan kebiasaan dan selera pembaca Indonesia. Saya mengusulkan mengganti anak judul menjadi Kapital: Cara Menjadi Pengusaha Kaya dalam Waktu Singkat. Dengan cara ini, barangkali akan lebih banyak orang Indonesia membaca buku ini.

Komentar
Add Friend
No more articles