MOJOK.COKami banyak mendapatkan ilmu dan pengetahuan berharga soal pernikahan dari buku-buku panduan pernikahan. Salah satunya buku Fondasi Keluarga Sakinah yang diterbitkan Kementerian Agama.

Sebulan lagi saya dan kekasih saya, Kalis, akan menikah. Ini tentu saja pengalaman pertama buat kami. Membuat komitmen untuk hidup bersama, mengarungi kehidupan rumah tangga yang tentu saja bakal penuh dengan liku-liku kehidupan, juga bon tagihan.

Selayaknya calon manten, kami banyak melakukan serangkaian studi banding sederhana–tentu saja dengan anggaran yang sederhana pula–pada kawan-kawan kami yang sudah lebih dulu menikah.

Kami banyak meminta nasihat dan petuah dari mereka. Apa saja yang harus kami lakukan jika kelak kami mendapatkan masalah tertentu saat menikah. Apa saja strategi untuk terus menjaga perasaan cinta. Apa saja tips dan trik yang bisa kami jalankan untuk menjaga keharmonisan rumah tangga. Pokoknya sebangsa itulah.

Saya percaya, bahwa mempersiapkan pernikahan bukan melulu mempersiapkan diri untuk tidur di luar saat telat pulang karena kemalaman main kartu sama temen-temen di kantor. Bukan melulu mempersiapkan diri untuk menjaga Tupperware agar jangan sampai ketinggalan. Bukan melulu membiasakan menaruh handuk bukan di atas ranjang, melainkan di gantungan.

Lebih dari itu, ada banyak persiapan mental dan batin. Saya, dan juga Kalis harus siap bahwa masing-masing kami punya sikap menyebalkan masing-masing. Kami punya kebiasaan buruk masing-masing. Kami harus mulai sadar diri untuk bisa saling memaklumi, memperbaiki, dan mengerti.

Selain studi banding, hal yang kerap kami lakukan adalah membaca beberapa buku pandungan pernikahan. Ehm, untuk yang ini, Kalis sih yang lebih sering.

Jujur, kami banyak mendapatkan ilmu dan pengetahuan berharga soal pernikahan dari buku-buku panduan pernikahan. Salah satu buku yang kerap dibaca Kalis adalah buku Fondasi Keluarga Sakinah yang diterbitkan oleh Kementerian Agama.

Kalis mendapatkan buku tersebut dari kawannya yang kebetulan ikut menjadi salah satu tim penyusun buku tersebut.

Dari buku tersebutlah saya merasa sangat yakin bahwa saya dan Kalis adalah pasangan luar biasa, pasangan yang kelak bakal bisa menjadi keluarga yang sakinah.

“Mas,” kata Kalis, “Menurut buku Fondasi Keluarga Sakinah yang aku baca ini, disebutkan ada tiga komponen penting dalam perkawinan.”

Saya mendengarkannya dengan takzim. Kalis tampak serius membaca bab tentang tiga komponen penting tersebut.

“Apa saja?” saya penasaran.

“Pertama, komitmen. Kedua, gairah. Dan Ketiga, kedekatan emosi,” terangnya, “Ketiganya harus terpenuhi.”

Demi mendengarkan penjelasannya tentang tiga komponen penting dalam pernikahan tersebut, saya langsung gembira. Mata saya berbinar.

“Kalis,” kata saya, “Keluarga kita kelak insya Allah sakinah. Soalnya tiga-tiganya memenuhi.”

“Mas yakin?”

“Yakin sekali. Soal komitmen, aku tidak meragukan komitmen kita berdua. Soal gairah, ini aku juga yakin, soalnya aku lihat, kamu begitu bernafsu untuk menerjang dan menubrukku setiap saat. Soal kedekatan emosi, ini aku paling yakin, soalnya kalau deket kamu, aku bawaannya emosi melulu.”

BACA JUGA Bacaan Ringan Sebelum Menggugat Cerai Pasangan atau ocehan Agus Mulyadi lainnya.