MOJOK.COAda tiga pelajaran yang bisa dipetik setelah banjir Jakarta kembali terjadi. Pengguna Nmax, PCX, Aerox, dan maxi-scooters lainnya wajib baca.

Hujan deras yang mengguyur Jakarta dan sekitarnya dengan intensitas yang kolosal dan tiada mengenal belas kasihan pada hari Selasa kemarin menimbulkan genangan air dan banjir di beberapa titik strategis kota Jakarta.

Foto-foto motor dan mobil yang terendam air genangan banjir banyak berseliweran di sosial media. Ketinggian airnya nggak main-main. Beberapa motor yang diparkir sampai nggak ketahuan mereknya apa karena yang kelihatan cuma spionnya thok akibat terendam air.

Nah, selayaknya banjir Jakarta yang sudah-sudah, ia kemudian menjadi semacam bahan nyinyir bagi banyak orang. Nyinyiran yang kemudian ikut menyeret banyak nama yang memang punya keterkaitan dengan Jakarta, dari mulai Jokowi, Ahok, sampai tentu saja, Anies Baswedan.

Banyak yang menyalahkan Anies Baswedan karena dianggap gagal dalam menyelesaikan masalah banjir. Tak sedikit pula yang menyalahkan Jokowi karena dianggap punya kegagalan yang sama, sebab dulu ia pernah mengeluarkan pernyataan jika banjir Jakarta akan lebih mudah diatasi jika ia menjadi Presiden.

Nah, terlepas dari itu semua, sebenarnya ada beberapa pelajaran yang bisa  diambil dan direnungkan dari banjir Jakarta beberapa waktu yang lalu.

Teguran buat Nmax dkk.

Manusia memang selalu punya obsesi yang ganjil perihal kendaraan. Manusia sangat ingin mengendarai kendaraan darat di air, dan sebaliknya, mengendarai kendaraan air di darat. Mangkanya kita kenal begitu banyak jenis kendaraan amfibi.

Di game GTA, misalnya, ada kendaraan bernama vortex, kendaraan yang bisa melaju di darat dan juga di laut. Sampai-sampai kita bingung, vortex ini sebenarnya kapal apa mobil.

Nah, obsesi ini kelihatannya kian hari kian menjadi nyata. Di jaman sekarang, implementasi obsesi tersebut oleh banyak orang diejawantahkan melalui motor Nmax, PCX, Aerox, dan kendaraan-kendaraan jenis maxi-scooters lainnya yang sering diejek karena bentuknya besar dan lebar kayak speedboat.

Nah, kendati bentuknya kayak speedboat, toh kemarin pas banjir, motor-motor tersebut tetap saja ikut terendam. Dibilang motor kok bentuknya speedboat, dibilang speedboat kok nggak bisa ngambang.

Mungkin ini adalah teguran dari Tuhan kepada para pabrikan motor, biar kalau mau bikin motor, bentuknya sebisa mungkin ya selayaknya motor, jangan kayak speedboat

Motor ya motor, speedboat ya speedboat. Biarlah motor tetap pada khitahnya.

Berhenti saling menyalahkan

Banjir besar di Jakarta pasca hujan hari Selasa kemarin boleh dibilang adalah pertanda besar bahwa rakyat Jakarta memang sudah selayaknya berhenti menyalahkan gubernur mereka, sebab yang salah tiada lain dan tiada bukan adalah mereka sendiri.

Terendamnya banyak kendaraan saat banjir kemarin bukanlah salah hujan, salah sistem drainase, apalagi salah gubernurnya. Itu murni salah warga Jakarta dalam memilih kendaraan. Sudah tahu daerahnya rawan banjir, masih saja pakai mobil dan motor. Harusnya pakai sampan atau gondola. Contoh tuh warga Venesia. 

Bayangkan, betapa menyenangkannya menempuh perjalanan dari Senayan ke Pancoran dengan perahu bercadik.

Budaya bahari

Banjir Jakarta beberapa waktu yang lewat tiada lain tiada bukan sebenarnya adalah pengingat bagi kita akan budaya bahari yang semakin lama makin kian tergerus. Sebagai negara maritim, kita memang sebaiknya akrab dan mengakrabi air.

Indonesia adalah tanah air kita. Tapi kita terlalu banyak mengurusi tanah, tanpa sadar kita jauh dari air. Nah, banjir kemarin adalah momentum. Sudah saatnya kita mulai membaharikan diri. Dengan atau tanpa Susi Pudjiastuti.

Kita harus mulai belajar berenang, mulai banyak makan ikan, mulai berlatih mendayung, dan membaca arah angin. Kurangi tentara, kurangi polisi, perbanyak penjaga pantai.

Sudah saatnya pasar apung jaya kembali dan bukan hanya menjadi intro pembuka RCTI Oke.

Mengingat Nenek Moyang

Ini tak perlu kita bahas panjang-panjang. Banjir yang kemarin menenggelamkan jalanan Ibu kota itu seharusnya menjadi pengingat penting bagi kita bahwa nenek moyang kita adalah pelaut, bukan pembalap.

BACA JUGA Naik Yamaha Nmax kok Belinya Gas 3 Kg atau esai AGUS MULYADI lainnya.