• 2
    Shares

MOJOK.COTangis Dul Jaelani ketika konser Dewa 19 bukan untuk bapaknya, Ahmad Dhani yang dipenjara karena tuduhan ujaran kebencian.

Sebelum satu nomor itu didendangkan, Ari Lasso meminta semua lighting panggung dimatikan. Ari lantas meminta penonton menyalakan flashlight di gawai masing-masing. “Pasti ada yang merekam dan nanti akan kita tunjukkan kepada Ahmad Dhani,” kata Ari dengan latar belakang Dul Jaelani pemanasan di atas keyboard.

Setelah Stadion Malawati dibanjiri sinar flashlight, Ari Lasso mulai masuk satu nomor andalan Dewa 19: “Hadapi dengan Senyuman”. Begitu lagu dimulai, para penonton ikut bernyanyi. Menjadi seperti sebuah himne, nuansa stadion menjadi begitu syahdu. Lagu itu menjadi sebuah doa, kepada Ahmad Dhani, yang masuk penjara karena tuduhan ujaran kebencian.

Seiring lagu berjalan, layar di belakang panggung menampilkan kolase foto-foto lawas Dewa 19 dan Ahmad Dhani. Masuk bagian tengah lagu, layar sebelah kiri menangkap ekspresi kesedihan dari Dul Jaelani, putera ketiga dari Ahmad Dhani bersama Maia Estianty.

Relakanlah saja ini
Bahwa semua yang terbaik
Terbaik untuk kita semua
Menyerahlah untuk menang

Hadapi dengan senyuman
Semua yang terjadi biar terjadi
Hadapi dengan tenang jiwa
Semua ‘kan baik-baik saja

Isak Dul Jaelani semakin kuat ketika masuk lagu berikutnya: “Cinta ‘kan Membawamu Kembali”.

Tiba saat mengerti, jerit suara hati
Letih meski mencoba
Melabuhkan rasa yang ada

Bait pertama lagu itu diiringi oleh kolase foto Ahmad Dhani dengan anak-anaknya. Tentu saja, salah satunya adalah Dul Jaelani. Menjelang akhir lagu, Ari Lasso mendekati Dul Jaelani, memeluk pundaknya, seperti tengah memberi kekuatan untuk menyelesaikan lagu dan tidak terlalu bersedih setelah bapaknya dibui.

Para fans menangis, media-media ikut menangis lewat headline yang mereka buat. “Dul Menangis Ingat Bapaknya”, “Tak Bisa Menahan Air Mata, Dul Kangen Dhani”, “Doa dan Tangisan Dul Untuk Bapaknya yang Dipenjara”. Selama beberapa bulan, kita semua ikut merasa–meminjam istilah SBY: PRIHATIN–setelah menonton Dul Jaelani menangis ketika konser Dewa 19.

Baca juga:  Cara Menangis Palsu yang Ternyata Bisa Dipelajari

Namun, apa yang sebetulnya terjadi? Seperti kebiasaan banyak “media ikan hiu”, langsung beringas memangsa berita tanpa pikir panjang dan konfirmasi, ternyata tangisan Dul Jaelani bukan untuk bapaknya. Putera ketiga itu tidak menangisi bapaknya yang dipenjara, melainkan ingat dengan mantan.

“Waktu saya bawa “Cinta ‘Kan Membawamu” saya menangis sebenarnya bukan menangis karena ayah saya, saya menangisi mantan saya. Ya jadi itu saya rasa hal yang wajar untuk seniman yg menghayati,” ucap Dul Jaelani seperti dikutip oleh Tribun. Saya curiga, Dul Jaelani sedang melakukan perlawanan kepada bapaknya sendiri, Ahmad Dhani.

Begini lho. Pada dasarnya, tidak ada laki-laki yang suka dibanding-bandingkan. Dalam konteks pacaran, laki-laki akan malas mendengarkan ketika pasangannya mulai membahas teman laki-laki. Ya soal hobi, kepintaran, prestasi. Bahkan dibandingkan dari caranya kentut pun laki-laki ogah. Kentut itu signature dan kesunyian masing-masing. Sangat tidak sehat diperbandingkan.

Selain di dalam konteks pecaran, laki-laki paling sering diperbandingkan dengan kakak dan adik. Kakak yang lebih pintar, adik yang lebih penurut, sementara kamu anak punk yang kalau pulang membawa bau comberan. Nah, tahukah kamu, laki-laki juga bisa kesal ketika ia diperbandingkan dengan bapaknya sendiri.

“Dulu, Bapakmu ini bla bla bla.” Bagi laki-laki yang masih bocah, cerita model kayak gitu bikin segan dan kagum pada awalnya. Namun, semuanya berubah ketika si Bapak menambahi ceritanya dengan: “Kami itu, kayak Bapak saja nggak bisa, mau jadi apa?”

Baca juga:  Ricuh Deklarasi #2019GantiPresiden di Surabaya, dari Hotel Ahmad Dhani Hingga Masjid

Makin terasa menyengat ketika si Bapak adalah musisi sohor dan punya kontur wajah mirip kamu. Itulah yang (mungkin) dirasakan Dul Jaelani ketika ia menangis. Ia tak mau menangisi ayahnya, mungkin karena sadar dengan: “Kamu akan menuai sesuatu yang kamu tanam!”

Dul Jaelani bahkan secara tegas bilang kepada wartawan kalau dirinya bukan bapaknya. Ia tak mau diperbandingkan. “Ya saya bukan Ahmad Dhani, saya ABDUL QODIR JAELANI!” seru Dul Jaelani. Mending wartawan hati-hati ketika yang kalian wawancara sudah marah-marah sambil menyebutkan nama lengkapnya “secara penuh”. Untuk nggak ditambahi nomor KTP dan tanggal lahir.

Selain ogah diperbandingkan dengan “alpha male” lainnya, laki-laki juga lebih dekat kepada ibu ketimbang bapak.

Ibu mempunyai karakter yang kuat, tapi tetap lembut saat mendidik. Anak laki-laki yang dekat dengan ibu akan menjadi lebih kuat dan percaya diri. Secara alamiah, sikap ibu dan ayah kepada anak tentu berbeda. Ayah sangat protektif pada anak perempuan. Ibu yang akan mendidik anak laki-lakinya menjadi pemberani dan gentleman.

Jika tidak dekat dengan ibu sejak kecil, anak laki-laki akan tumbuh menjadi dewasa yang sulit dikontrol, agresif, dan cenderung membuat masalah. Kedekatan dengan ibu baik untuk perkembangan kesehatan mental anak laki-laki, terutama ketika masuk ke remaja. Mereka akan lebih terbuka, lebih mudah memahami perasaan orang, dan hangat.

Apakah Dul Jaelani lebih dekat kepada Maia ketimbang Dhani? Kalau itu, silakan dijawab sendiri-sendiri. Namun, bagi saya, jarak yang diciptakan oleh Dul dengan persona bapaknya adalah sebuah kontens tersendiri, yang terbangun setelah pengalaman traumatis ketika masih kanak.

Tangis bukan hanya ekspresi kesedihan. Tangis adalah perlawanan.