MOJOK.COEl Clasico masa silam sudah tinggal kenangan. Sebuah ingatan akan Rakitic yang kreatif, tenang, sekalius bernyali. Saatnya Barcelona menjualnya?

Saya sudah tidak ingat lagi jumlah laga el Clasico yang sudah saya saksikan. Mungkin puluhan. Salah satu pertandingan La Liga yang paling dinantikan oleh penonton netral antara Barcelona vs Real madrid yang saya ingat betul terjadi di tahun 2017.

Bukan, bukan karena Lionel Messi yang masih sanggup mengirim asis meski sepatu sebelah kanan lepas yang saya ingat. Yang justru membuat saya terkesan adalah pilihan cara bermain Ernesto Valverde dan ketenangan Ivan Rakitic.

Saya tahu, saat ini, banyak fans Barcelona yang sengit betul kepada Rakitic. Pemain asal Kroasia itu memang mengalami penurunan performa yang terlalu dalam. Antara tahun 2017 hingga 2019, penurunan itu sangat terasa. Lantas, mengapa Valverde masih suka menggunakan tenaga mantan pemain Sevilla itu?

Menerka isi hati seseorang bukan perkara mudah. Untuk mengetahui kenapa sih pelatih asal Spanyol masih menggunakan Rakitic meski bikin fans Barcelona getun, kita perlu menengok ke tahun 2017.

Setidaknya Rakitic memberi rasa aman

Tiap-tiap pelatih punya ide. Masing-masing berbeda. Terkadang, pelatih mengubah ide secara signifikan demi rasa aman. Rasa aman terkait situasi di atas lapangan, hingga masa depannya sebagai seorang pelatih. Tentunya tidak ada pelatih yang berjudi begitu saja ketika menukangi klub seperti Barcelona.

Valverde perlu memikirkan kelangsungan sumber rezekinya ini. Pemikiran seperti itu punya korelasi dengan cara bermain. Ujungnya, adalah status “tidak kalah”. Valverde rela dirinya dianggap sebagai pelatih yang tidak punya rasa akan seni. Persetan dengan narasi berbunga-bunga itu, yang penting menang.

El Clasico 2017, di kandang Real Madrid, Rakitic berduet dengan Sergio Busquets dalam bentuk dadar 4-4-2. Kiri dan kanan diisi Paulinho dan Andres Iniesta. Paulinho menjadi seperti “jangkar” yang menyeimbangkan lini tengah, sementara Iniesta sifatnya lebih advance. Ketika bertaha, keempat pemain itu berdiri rapat, hampir sejajar.

Baca juga:  Hasil PSG vs Real Madrid Menyiratkan, Piala Liga Champions Masih akan Jadi Milik Madrid

Hampir sepanjang pertandingan Barcelona dibuat bertahan. Rata-rata menit penguasaan bola sangat minim. Ketika rata-rata menit penguasaan terbatas, Barca harus memanfaatkannya seefektif mungkin. Umpan antarpemain harus presisi dan diberikan dengan intensi yang jelas, bukan sekadar umpan ke rekan yang kosong.

Meski membencinya, kamu perlu mengakui kalau kemampuan umpan Rakitic cukup bagus. pun, (seharusnya), Rakitic punya kemampuan off the ball yang cukup bagus. Gol pertama yang dicetak Luis Suarez diawali visi Busquets, dipadukan dengan off the ball Rakitic yang melihat lapangan tengah seperti jalan tol.

Isitlahnya adalah breaking the lines, Rakitic bergerak meninggalkan pemain Madrid yang me-marking dirinya dan masuk ke lingkaran tengah. Busquets melihat intensi itu dan memberikan umpan vertikal sederhana. Setelah menerima umpan, Rakitic berinisiatif membawa bola mendekati kotak penalti.

Ia melihat Suarez di sisi kiri yang siap berlari masuk mendekati titik penalti, sementara di sisi kanan, Sergi Roberto tak terkawa. Saya berani bertaruh, di dalam kepala Rakitic sudah terbentuk skenario. Umpan datar ia berikan di depan jalur lari Sergi Roberto. Karena ditekan pemain Madrid, Sergi Roberto tak punya pilihan selain memberikan umpan tarik ke tengah, ke arah lari Suarez, dan gol pertama tercipta.

Selain kemampuan umpan untuk keperluan mengamankan penguasaan bola, Rakitic juga tidak panik ketika membawa bola keluar dari kotak penalti. Ia tidak terburu-buru membuang bola ke depan, ke arah Messi dan Suarez yang dipepet pemain Madrid. Jika panik, bola liar yang Rakitic buang akan terlalu mudah diantisipasi.

Tapi, itu dulu…

Panggungnya adalah Liga Champions, di kandang Liverpool. Sudah unggul 3-1 secara agregat, Barcelona justru ditampar habis dengan empat gol. Rakitic, yang sepanjang pertandingan dibuat “tercekik” tidak bisa bernapas karena pressing intensitas tinggi Liverpool membuat banyak kesalahan, dan salah satunya berbuah gol bagi Liverpool.

Ketika mendapatkan kesempatan melakukan progresi ke depan, Rakitic seperti kehilangan nyali untuk melepas umpan. Yang ia lakukan justru memberikan umpan ke belakang (lagi) karena rekannya lebih kosong. Tak punya nyali mengambil risiko dibayar mahal oleh Barcelona. Sangat kontras dengan laga el Clasico masa silam, ketika Rakitic berani mengambil risiko tetapi tetap tenang dan semuanya terukur.

Baca juga:  Leroy Sane Bukti Kegagapan Strategi Transfer Barcelona, Beda Jauh dengan Real Madrid

Kesabaran Barcelona tentu punya batas

Valverde sempat membela Rakitic yang kini tak lagi bernyali. Seorang pesepak bola yang mentalnya dihajar, lalu gagal bangkit, akan sulit memprediksi kebangkitan di masa depan. Sulit sekali melihatnya, persis seperti kesabaran sebuah klub dengan sejarah panjang seperti Barcelona.

Paham kalau lini tengahnya kehilangan mental dan imajinasi, manajemen mmembeli Frankie De Jong dari Ajax. Komposisinya menjadi jelas. Valverde, seharusnya, memainkan Busquets, Arthur, dan De Jong bersama-sama. Memang, di atas kertas, trio ini punya keseimbangan yang bagus. Mereka controller dan creator, pun bisa menjadi breaker sejak lini pertama.

Komposisi sempurna untuk menopang Messi, Suarez, dan Antoine Griezmann di depan. Namun, selama pra-musim ini, Valverde masih memberi kesempatan kepada Rakitic untuk bermain. De Jong, sebagai pemain baru, harus memulai semuanya dari bangku cadangan.

Sayangnya, ketika kalah dari Chelsea, untuk kesekian kali, Rakitic justru mengecewakan. Ia bahkan tak berani menghadap ke depan setelah menerima bola dari kiper atau bek. Yang ia lakukan justru mengumpan balik ke belakang ketika ditekan pemain Chelsea. Bahkan, di salah satu kesempatan De Jong nampak marah betul karena dirinya sudah menyediakan diri sebagai tujuan umpan bagi Rakitic.

Sebuah pemandangan yang bisa menjadi kesimpulan kalau Rakitic tak bakal punya masa depan ketika Busquets, De Jong, dan Arthur sudah bisa beradaptasi satu sama lain.

El Clasico masa silam sudah tinggal kenangan. Sebuah ingatan akan seorang pemain yang kreatif, tenang, sekalius bernyali. Seorang pemain yang kini kehilangan imajinasi dan kekuatan mental. Memang sudah saatnya untuk pergi.