MOJOK.COMenarik waktu ke belakang hingga musim panas saat ini, manajemen Liverpool boleh disebut sebagai pemenang di kategori “lomba” jualan pemain.

Situsweb fandom.id punya kalimat yang bagus. Bunyinya begini: “Karena sepak bola tak selesai dalam 90 menit.” Kamu bisa menemukannya di bio Twitter mereka.

Dan memang itu yang terjadi. Sepak bola tak pernah hanya berbicara tentang pertandingan di atas lapangan. Ada banyak unsur yang membangun olahraga paling populer di dunia ini. Yang namanya “pertandingan” sudah terjadi sejak di lapangan latihan, di dalam ruang-ruang kecil tempat pelatih menyusun menu latihan, di antara para fans, dan di atas meja perundingan.

Aksi membeli dan menjual, di atas meja perundingan, bisa sangat menentukan masa depan klub. Terutama mereka yang punya dana untuk berbelanja, dan kemampuan untuk menjual pemain. Liverpool, pada titik tertentu, sudah bekerja dengan baik untuk area ini. Perlu saya tegaskan, tulisan ini hanya membahas Liga Inggris. Jika kita perlebar konteksnya, Borussia Dortmund di Bundesliga juga punya kemampuan yang hampir sama.

Mengapa Liverpool?

Sederhana saja, karena dari klub enam besar Liga Inggris, Liverpool yang paling bisa dan sering melepas pemain dengan harga yang menarik. Terutama para pemain yang tidak berkontribusi, Liverpool bisa melepas mereka dengan harga cukup tinggi.

Sebagai perbandingan, kita pakai aktivitas menjual Manchester City, Chelsea, dan Arsenal. Jika kamu mencermati deretan pemain yang dijual tiga klub di atas, dibandingkan dengan Liverpool, satu perbedaan mencolok langsung terlihat. Perbedaan yang saya maksud adalah kebiasaan Liverpool untuk menjual pemain ke sesama tim Liga Inggris.

Semenjak kesepakatan hak siar menjadi salah satu lumbung uang tim-tim Liga Inggris, harga pemain, terutama lokalan, langsung melonjak. Kemampuan finansial ini membuat tim-tim semenjana, seperti Aston Villa, Crystal Palace, Bournemouth, dan Southampton berani membeli pemain di atas harga rata-rata. Sasaran empuk untuk aktivitas menjual pemain The Reds.

Namun, tentu saja cara ini tidak berhasil tanpa atribut si pemain. Silakan cermati lagi dan kamu akan menemukan kalau pemain-pemain yang dilepas manajemen The Reds pernah bermain di Liga Inggris. Pengalaman akan keberhasilan di masa lalu bisa menjadi daya tawar. Klub peminat pasti paham bahwa jika sudah pernah sukses, pasti bisa diulangi lagi karena si pemain sudah kenal dengan atmosfer liga.

Baca juga:  Arsenal Dibantai Itu Sebuah Keniscayaan, Gooners: Liverpool Hobi Jadi Pecundang

Berikut beberapa contohnya.

Christian Benteke, pernah bermain di Aston Villa, dan menjadi salah satu penyerang berbahaya kala itu. Striker asal Belgia tersebut dibeli Liverpool dengan dana 41 juta paun. Ketika tidak cocok dengan cara bermain tim dan mengalami penurunan performa, Benteke dijual ke Crystal Palace dengan harga 28 juta paun.

Dominic Solanke, striker muda yang gagal memikul ekspektasi, jarang bermain dan mencetak gol, dibeli dari Chelsea U23 secara gratis. Solanke dijual satu musim kemudian. Klub tujuannya adalah Bournemouth. Berapa harga jual Solanke? Lebih dari 19 juta euro. Yakin sudah, Liverpool ini pakai jimat penglaris. Pemain-pemain yang mau dijual dijilatin dulu sama Mbak Kunti dan diludahi pocong.

Danny Ings. Kamu masih ingat dengan Danny Ings? Striker veteran yang saya sudah tidak ingat kapan blio bermain untuk Liverpool. Striker asal Inggris itu dibeli dari Burnley seharga hanya 7 juta paun.

Setelah menjadi anggota tetap bangku cadangan dan sempat pula dipinjamkan, Ings dilego ke klub akademi Liverpool: Southampton, dengan harga 19 juta paun! SEMBILANBELASJUTAfuckingPAUN! Dan masih ditambah bonus senilai 2 juta paun, plus sell-on clause 20 persen untuk The Reds jika Southampton kelak melego Ings.

Jordon Ibe! Ahh, kalau pemain ini kamu pasti masih ingat. Ibe adalah salah satu wonderkid Liverpool beberapa tahun yang lalu. Perkembangannya terhenti dan dijual ke Bournemouth dengan harga 16 juta paun.

Antara Ings, Solanke, dan Ibe, jika dikombinasikan, ketiganya berkontribusi HANYA 5 gol dari 76 penampilan. Dari ketiganya, kas klub menggelembung 66 juta paun. Jangan-jangan meja perundingan The Reds ini juga sudah dipipisin sama tuyul. Manjur betul. Ditambah Benteke, mereka bisa mengumpulkan 100 juta paun lebih dari pemain buangan itu.

Contoh di atas adalah para pemain yang sudah berpengalaman di Liga Inggris. Nah, Liverpool pun tak menemui kendala ketika menjual pemain yang dibeli dari luar Liga Inggris. Misalnya adalah Mamadou Sakho, dibeli dari Paris Saint-Germain seharga 25 juta. Setelah beberapa penampilan konyol dan konflik di dalam skuat, Sakho dilepas ke Crystal Palace seharga 26 juta paun! Liverpool masih untung 1 juta paun dari penjualan pemain komikal itu.

Baca juga:  Arsenal x Manchester United: Perlombaan Menjadi Pecundang Sejagat Raya

Sementara itu, penjualan tertinggi Manchester City ke sesama klub Inggris adalah Kalechi Iheanacho (27 juta paun) ke Leicester City. Sementara itu, Chelsea sedikit lebih baik ketimbang City. Mereka melego Romelu Lukaku ke Everton dengan harga 35 juta paun dan Nemanja Matic ke sebuah klub yang tak perlu disebutkan namanya seharga 44 juta paun.

Melihat beberapa contoh di atas, kamu pasti menemukan bahwa beberapa klub semenjana di Liga Inggris (mungkin) lebih kaya ketimbang “beberapa” tim papan atas Serie A. Itulah hasil kekuatan pembagian hak siar yang porsinya sangat besar, dan keberhasilan marketing Liga Inggris.

Beberapa alasan

Menjual pemain dengan harga tinggi itu sulit, apabila memenuhi tiga syarat ini. Pertama, kontrak pemain tinggal 12 bulan. Ketika masuk sisa 6 bulan, si pemain sudah bisa melakukan negosiasi dengan klub lain dan pergi secara gratis di akhir musim. Oleh sebab itu, sangat jarang ada pemain dengan sisa kontrak 12 bulan akan terjual di atas 30 juta paun.

Kedua, gaji si pemain sudah kadung tinggi. Misalnya Arsenal, yang payah betul urusan kontrak pemain. Saat itu, pemain-pemain seperti Theo Walcott hingga Jack Wilshere sudah mendapatkan gaji layak, untuk tidak menyebutnya tinggi, di Arsenal. Supaya bisa dijual, Arsenal harus bisa membujuk mereka untuk menurunkan gaji. Kemungkinan terburuk adalah klub harus menanggung sejumlah persen gaji. Pemain sudah pergi, tapi masih jadi beban.

Ketiga: sisa kontrak pemain tinggal 12 bulan, jarang main bagus, dan bergaji tinggi. Liverpool selalu bisa menghindarkan “investasi” mereka dari situasi tersebut. Tambahan satu alasan: kebanyakan pemain The Reds yang dijual berstatus home grown. Status ini membuat harga pemain sedikit terdongkrak. Memiliki sejumlah home grown adalah syarat berlaga di Liga Inggris.

So, Liverpool, silakan berbagi, di mana bisa menyewa servis dukun jualan yang bagus?



Loading...



No more articles