MOJOK.CO – Tengku Zulkarnain komentari berita lawas tentang “razia pakaian perempuan” dari Taiwan News di Twitter. Tentu dengan bumbu kepsyen yang dahsyat dong.

Kita nggak pernah tahu (dan paham) persis apa yang sedang (dan sebenarnya) terjadi di Xinjiang sana.

Ada yang bilang, terjadi persekusi oleh pemerintah Komunis Cina pada minoritas Muslim, pemenjaraan massal di “kamp-kamp konsentrasi”, memaksa mereka makan babi dan pelarangan beribadah, mengenakan burqa dan menumbuhkan janggut.

Ada juga yang bilang sebaliknya. Begini dan begitu. Dsb, dst.

Apa yang disebut sebagai narasi “penderitaan Muslim” selalu laku keras, terutama, di kalangan sebagian faksi kelas menengah perkotaan yang gampang terenyuh oleh penderitaan saudara seiman.

Dari Suriah, Palestina, Rohingya, Eropa Barat hingga Xinjiang, bahkan Indonesia Timur sekalipun, minoritas Muslim “ditindas dan dibinasakan” oleh koalisi haram kafir sekuler, Kristen, Yahudi, Komunis dan Syiah. Jutaan orang di sini mengimaninya.

Setidaknya setahun belakangan, sepengamatan enteng-entengan saya, media sosial ramai perkara Uighur. Dari solidaritas lewat tagar hingga ulama kebanggaan kita, Tengku Zulkarnain, yang beberapa waktu silam membagikan berita lawas (setahun lalu) dari Taiwan News tentang “razia pakaian perempuan” dengan kepsyen khas:

Siapapun yang aktif di Twitter barang tentu paham benar sepak terjang serta kepakaran Tengku Zulkarnaen dalam bidang Komunisma Gaya Baru—suatu kepakaran khusus yang cuman dikuasai oleh para guru besar abad 21 sebangsa Alfian Tanjung, Taufik Ismail, Ryamizard Ryacudu, Kivlan Zen dan Gatot Nurmantyo.

Kesemua nama itu, konon diberkahi penglihatan dan penciuman yang tajam, sehingga dapat melacak komunisme dalam diri anak-anak muda yang lagi nongkrong sambil nyanyi-nyanyi sambil gitaran di kedai bubur kacang ijo—misalkan.

Baca juga:  Belajar Menghukum Koruptor Sampai Ke Negeri Cina

Dan Tengku Zulkarnain selayaknya memperoleh perhatian tersendiri, dalam kurun sebulan terakhir, dirinyalah dari sextet pakar komunisme di atas yang konsisten berjihad digital melawan ancaman PKI dan segala bentuk KGB hingga mengecam “kezaliman thagut Komunis Cina” terhadap perempuan Uighur, seperti tautan berita (lawas) yang ia bagikan dari portal Taiwan News dengan kepsyen sensasional tersebut.

Dalam artikel yang belio bagikan itu, disebutkan terjadi razia semena-mena di Xinjiang oleh polisi dan “kader Komunis” terhadap perempuan yang “berpakaian terlalu tertutup.”

Beritanya sendiri telah berumur setahun dari Taiwan News. Dalam artikel dari situs lain, terkait dugaan yang sama, ditulis bahwa gambar-gambar razia busana perempuan tersebut, yang bersumber dari Twitter, masih perlu dicek lagi otentisitasnya, sembari mengutip tanggapan jubir Kongres Uighur Sedunia Dilxat Raxit atas kabar tersebut sebagai “upaya TSM pemerintah RRC untuk menghapus identitas tradisional orang-orang Uyghur dan juga sebentuk asimilasi paksa.”

Oke, mari kita ulik.

Pertama, gambar-gambar yang beredar dan disebutkan sebagai kejadian A memang perlu dicek lagi, apa benar kejadiannya seperti yang diberitakan.

Soalnya, kan, udah keseringan, contohnya, gambar ada jutaan surat suara udah tercobolos dari Cina, eh jebul itu informasi hoax, sempet disebar Tengku Zulkarnain lagi. Dan, sekali lagi, kita yang ada di sini hanya tahu kabar dunia luar dari media, atau dari “katanya”, yang tak jarang bertentangan satu sama lain.

Kemudian, jika benar terjadi razia terhadap perempuan Uighur itu, Tengku Zulkarnain tak perlulah kaget dengan sebegitu lebaynya, tak perlulah kejauhan untuk mencontohkan kezaliman manusia.

Toh alur berpikir “polisi dan kader komunis yang laknat” di Xinjiang sana nggak jauh-jauh beda dengan laskar-laskar Islamis yang gemar merazia perempuan yang berbusana “tidak syar’i”, “tidak Islami”.  Sama-sama maksa ini kok. Terus beda dan uniknya ada di mana?

“Beda dong. Kan ormas-ormas Islam menegakkan amar ma’ruf nahi munkar!”

Yaelah Bro, kan beda bungkusan doang. Yang kaffah-kaffah menertibkan busana perempuan dengan dalih syariat, yang kom-kom brengsek menertibkan busana perempuan yang “kearab-araban” dengan dalih keamanan.

Baca juga:  SBY (Lagi-Lagi) Kultwit Setelah Disinggung oleh Jokowi

Dan, ya, saya kira tak pentinglah hal ini diperpanjang lagi, selain karena berita yang di-share Tengku Zul toh sudah basi dan masih samar-samar, pun sudah banyak tulisan serius tentang apa yang terjadi di Xinjiang.

Lagipula, yang dihebohkan Tengku Zulkarnain dalam cuitannya sebatas “ngerinya hidup di negara komunis” dan “bahayanya komunis bagi akidah umat Islam” karena korbannya “one of us”, alih-alih memulai dialog waras dengan ratusan ribu followersnya, misalkan, kenapa di depan teras rumah kita sendiri, yang sebegitu dekatnya, ada sekelompok kecil jemaat Ahmadiyah yang dauber-uber, dilarang beribadah, masjidnya diobrak-abrik, ada yang dibunuh dengan keji dan sebagian lain disuruh paksa untuk “tobat atau minggat” dan jutaan orang yang merasa lurus dan cinta Tuhan merayakan barbaritas itu?

Mundur sebentar ke abad silam. Kediktatoran Stalin memang membawa kesengsaraan dan kematian bagi banyak umat manusia yang jadi korban paranoia berlebihnya.

Sejarah kelam ini jadi bahan empuk buzzer-buzzer anti-komunis pro-Barat sepanjang era Perang DIngin untuk mengatakan pada dunia “ngerinya hidup di negara Komunis” dan “bahayanya komunisme bagi akidah penghamba kebebasan”—sambil pura-pura bego atas tindak-tanduk majikannya yang sama bejatnya dengan jadi sponsor tirani-tirani di Chili hingga Cendana.

Iya, Cendana, yang sekarang dirindukan dan yang disembah-sembah lantaran sakses membantai setengah juta lebih kelompok (yang dituduh) anti-agama dan anti-Tuhan—tapi menghapus sejarah dengan “Pembantaian Tanjung Priok” itu sekadar ocehan kaum gagal paham sejarah.

Selain itu, sepengamatan saya Tengku Zulkarnain ini kan lulusan kuliah negeri. Orang pinter, orang terkenal. Masa sosok sepintar itu gampang banget memoles isu kompleks yang terjadi bermil-mil jauhnya dan masih buram? Lalu berdiam saja saat jadi guyonan netizen di linimasa.

Duh, kadang heran saya, jadi guyonan kok ya bangga.



Loading...



No more articles